
Setelah mengurus Citra. Reya kembali kekamarnya dan saat membuka pintu Reya langsung di kejutkan dengan Sean yang ada di depan pintu yang membuat Reya tersentak kaget dengan tangannya yang memegang dadanya.
"Sayang kamu ini ngagetin aja," ucap Reya mengatur napasnya dan langsung masuk kedalam kamar dengan menutup pintu kamar.
"Apa Citra sudah tidur?" tanya Sean.
"Iya dia sudah tidur dan dia baik-baik aja," jawab Reya yang berjalan menuju lemari untuk mengambil paksa tidurnya.
"Kamu sangat dekat dengan-nya dan seakan mengerti apa yang di alaminya," ucap Sean membuat Reya heran dengan perkataan itu.
"Maksudnya apa sayang. Bukannya aku sama-sama wanita dengan Citra dan pasti aku lebih mengerti perasaannya dan terlebih lagi dia juga hamil dan perasaannya sangat sensitif," ucap Reya mengeluarkan baju tidur dari lemarinya.
"Reya apa yang kamu ketahui sebenarnya?" tanya Sean yang membuat Reya menghentikan pekerjaannya dan melihat ke arah Sean.
"Apa yang kamu bicarakan?" Reya kembali bertanya.
"Apa ada rahasia yang tidak aku ketahui yang kamu sembunyikan dan Citra juga menyembunyikannya dan kamu tau semuanya dan tidak memberitahu apa-apa kepadaku," ucap Sean yang membuat Reya menelan salivanya yang sekarang Reya menjadi panik apalagi melihat wajah Sean yang begitu serius.
"Kak Sean ini bicara apa. Sudahlah Reya mau mandi dulu," sahut Reya yang berusaha menghindar dan melangkahkan menuju kamar mandi dan pasti melewati Sean. Dan Sean menghentikannya dengan memegang pergelangan tangan Reya membuat Reya semakin panik dengan semuanya yang menatapnya begitu serius.
"Katakan apa yang terjadi sebelum aku mencari tau apa yang terjadi dan pasti aku akan sangat marah Reya. Jika kamu menutupinya sesuatu dari ku. Aku tidak peduli itu mau demi siapa. Citra atau keluarga ku, atau sahabatmu Reval yang penting aku hanya ingin tau apa yang terjadi sebenarnya," tegas Sean dengan wajah seriusnya yang menatap istrinya dalam-dalam.
"Kak Sean," lirih Reya.
"Kamu tidak ingin memberitahu ku?" tanya Sean yang melepaskan tangan istrinya dari genggamannya.
"Aku cari tau sendiri," ucap Sean menegaskan yang langsung pergi membuat Reya panik.
"Kak mau kemana?" tanya Reya menahan suaminya.
"Katakan dengan jujur. Jika anak yang di kandung Citra adalah anaknya Reval!" ucap Sean menekan suaranya yang langsung menarik kesimpulan dengan cepat.
"Kak Sean!" lirih Reya.
"Katakan Reya!" bentak Sean dan Reya tidak mampu berkata-kata sama sekali.
__ADS_1
"Baik jika kamu tidak mau mengatakannya. Aku akan mencari tau sendiri dan kamu dengarkan aku. Aku tidak akan peduli. Dia sahabat mu atau tidak sama sekali," tegas Sean yang langsung pergi dari dalam kamar.
"Kak Sean!" panggil Reya yang menahan tangan Sean agar tidak pergi.
"Kak Sean mau apa?" tanya Reya dengan wajah paniknya.
"Aku sudah memberimu kesempatan dan kau tidak memberitahu apa-apa yang artinya aku harus mencari tau sendiri," ucap Sean.
"Kak dengarkan aku dulu. Kakak tidak boleh gegabah. Kakak harus ingat bagaimana Citra di dalam sana," ucap Reya.
"Kamu tau sesuatu tetapi tidak ingin memberitahu ku dan kamu menyuruhku untuk mendengarkan mu. Apa yang harus aku dengarkan Reya. Karena semua masalah yang terjadi sebenarnya kamu tau tapi tetap menyembunyikannya dari ku yang artinya kamu tidak ingin aku tau dan baiklah aku akan mencari tau sendiri," tegas Sean yang langsung pergi meninggalkan Reya.
"Kak Sean tapi!" panggil Reya yang tidak bisa menghentikan Sean sudah pergi saja.
"Bagaimana ini kak Sean mau kemana dan apa yang akan di lakukan kak Sean," batin Reya panik yang tidak tau harus apa dan Reya pun memilih untuk mengikuti Sean yang mana Sean sudah memasuki mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Kak Sean!" panggil Reya yang kebingungan dengan wajah paniknya.
"Mau kemana kak Sean. Aku harus menyusulnya," ucap Reya yang langsung pergi memasuki mobil yang lain dan langsung menyusul Sean. Reya sangat takut akan terjadi sesuatu nantinya. Jadi lebih baik dia menyusulnya.
Anggika sampai kerumahnya dan melihat ada mobil yang parkir di depan rumahnya yang sangat di kenalinnya.
"Bukannya ini mobil papa? kenapa papa ada di sini?" tanyanya bingung yang mengenali mobil tersebut yang ternyata adalah mobil papa mertuanya dan Anggika pun langsung masuk ke dalam rumah.
Ternyata kakek Sean memang sedang berkunjung kerumah itu dan berbicara dengan Argantara.
"Jadi Citra juga sekarang sedang bermasalah?" tanya Kakek. Argantara hanya diam yang tidak mampu menjawab apa-apa.
"Masalah di rumah ini tidak akan pernah selesai. Baik dari Citra maupun dengan Sean," sahut Argantara.
"Argantara kenapa kamu sebagai ayah tidak pernah tegas dalam menghadapi masalah yang terjadi, kamu hanya bersantai dan membiarkan cucu-cucu ku mengalami penderitaan," ucap Kakek yang menyalahkan Argantara.
"Apa yang papa bicarakan!" sahut Argantara, "papa sekarang menyalahkan ku. Pah masalah yang terjadi juga di mulai dari papa dengan papa menyetujui pernikahanlo Sean dan Reya dan sehingga aku hanya fokus pada mereka berdua dan aku tidak bisa mengontrol atau mengawasi Citra. Semua masalah ini terjadi karena papa," tegas Argantara yang menyalahkan papanya.
"Kamu jangan beralasan dengan menyalahkan pernikahan Sean dan Reya. Mereka saling mencintai dan pernikahan mereka tidak salah dan kamu justru yang menyulitkan mereka berdua," tegas kakek yang mungkin sudah mengatakan itu berkali-kali.
__ADS_1
"Bagiku pernikahan mereka tetap salah pah," tegas Argantara dengan menguatkan volume suaranya.
"Salah di mana Argantara, mereka bukan saudara kandung Sean dan Reya bukan kakak beradik. Karena Sean bukan anak kandung kamu dan juga Anggika. Sean hanya anak yang di adopsi saat anak kamu dan Anggika lahir dengan tidak selamat," tegas kakek yang mengingatkan kejadian itu.
"Apa maksudnya?" tiba-tiba terdengar suara lirihan suara yang tampak terkejut membuat Argantara dan Kakek langsung melihat ke arah suara tersebut yang ternyata Anggika yang tampak schok mendengarnya.
"Anggika!" lirih Argantara dengan wajah terkejutnya.
"Apa yang papa katakan barusan, apa Sean. Sean bukan anak kandung ku. Dia di adopsi dan anak yang aku lahirkan sudah meninggal. Apa semua itu pah. Apa yang papa katakan?" tanya Anggika yang terlihat begitu terkejut mendengarnya dan Argantara tampaknya harus pasrah dengan apa yang di dengar istrinya.
"Anggika kamu tenang dulu!" ucap Argantara yang menghampiri istrinya yang mencoba untuk menenagkan sang istri yang begitu schok dengan wajah paniknya dan merasa dia hanya salah dengar saja tadi.
"Anggika!"
"Katakan apa yang terjadi. Sean adalah putraku kan, katakan jika Sean adalah anakku. Tidak mungkin dia bukan anakku," ucap Anggika dengan memegang kepalanya yang tidak terima jika itu kejadian yang sebenarnya.
"Mas kenapa diam saja, katakan sebenarnya," ucap Anggika yang mendesak suaminya untuk jujur padanya dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Anggika apa yang kamu dengar adalah kenyataan. Jika Sean bukan anak kandung kamu dan Argantara," sahut kakek yang mengambil alih bicara dengan ahli itu yang membuat Anggika bertambah kaget dengan Anggika yang langsung terduduk lemah dengan tidak berdaya.
"Tidak mungkin!" ucap Anggika yang tidak akan terima dengan kenyataan itu.
"Maafkan papa Anggika. Jika tidak mengatakan ini sejak awal kepada kamu. Alasannya hanya satu karena papa tidak ingin kamu kecewa dan waktu itu kondisi kamu tidak stabil dan anak yang kamu lahirkan harus pergi dan papa dan Argantara bertindak seperti itu hanya ingin melihat kamu bahagia dan tidak kenapa-kenapa saat itu," ucap Argantara dengan apa adanya.
"Anak yang kamu lahirkan tidak dapat di selamatkan dan ketika kamu tau kejadian itu. Kamu pasti akan semakin hancur dan karena itu aku dan Argantara memutuskan untuk mengadopsi Sean dari wanita yang meninggal saat melahirkannya dan merahasiakan semua ini dari kamu," jelas Kakek yang tidak menutupi apa-apa lagi. Anggika yang mendengarnya geleng-geleng kepala yang seolah tidak terima dan mau mendengar apa-apa lagi.
"Tidak Sean adalah anakku. Mana mungkin dia bukan darah dagingku," ucap Anggika.
"Itu adalah kenyataannya Anggika dan kamu harus terima kenyataan itu dan itu alasan ku untuk merestui pernikahan Reya dan Sean karena mereka berdua tidak ada hubungan darah sama sekali dan jika kamu tau mereka tidak ada hubungan darah papa yakin kamu juga akan merestuinya dan tidak akan menyulitkan hubungan mereka berdua," ucap Kakek yang berbicara dengan lembut.
"Lalu apa menurut papa dengan merahasiakan semua ini membuatku tidak gila," sahut Anggika.
"Papa mengerti perasaan mu. Tetapi lebih baik kamu tau dari pada seumur hidup kamu tidak akan pernah tau apa-apa," ucap Kakek menegaskan.
Bersambung
__ADS_1