Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 199


__ADS_3

Reya dan Sean masih berada di taman dengan Reya yang masih setia untuk menemani suaminya di sana dengan Reya yang terus menggenggam tangan Sean untuk memberikan Sean kekuatan.


"Reya!" lirih Sean.


"Iya kenapa?" tanya Reya.


"Aku bahagia sekarang," ucap Sean tersenyum melihat kearah Reya.


"Kenapa bahagia?" tanya Reya.


"Kita bukan sedarah, kita bukan adik kakak dan pernikahan kita sudah jelas tidak salah, bukannya perasaan kita jauh lebih lempang sekarang. Walau pada awalnya kita tetap mengakui diri kita bukan adik kakak dan tetapi tidak akan pernah menerima takdir itu. Tetapi aku yakin aku dan kamu tidak pernah tenang dan pasti merasa salah. Kita berdua hanya membohongi perasaan kita yang mana kita sama-sama sadar. Tetapi sekarang sudah berubah aku dan kamu sekarang sudah bukan saudara lagi kita benar-benar orang yang tidak ada ikatan darah. Jadi ini kabar bahagia untukku yang mana cinta kita tidak pernah salah," ucap Sean dengan tersenyum.


Tetapi sangat jelas senyum di wajah Sean sangat mengandung arti yang sebenarnya Sean hanya menutupi rasa sakitnya. Dia hanya menghibur dirinya sendiri yang mana sangat terluka.


Reya memegang pipi Sean dengan menatap Sean dalam-dalam, "jangan mencoba untuk tersenyum. Jika hati kamu masih terasa sakit. Aku tau kamu hanya berpura-pura saja," ucap Reya.


"Tapi aku benar-benar bahagia Reya. Aku sangat bahagia dengan semua kenyataan ini," ucap Sean.


"Tapi aku tidak melihat itu, aku melihat kamu sangat kecewa saat tau kamu bukan anak papa dan juga Tante Anggika. Aku melihat kamu marah dan bahkan aku bisa melihat kamu rasanya ingin memutar waktu untuk tetap berdiam di rumah dan maka kamu tidak akan mendengar apa yang terjadi tadi," ucap Reya yang bisa membaca perasaan suaminya.


"Mau aku kecewa, marah atau apapun. Apa itu sekarang penting. Karena kenyataannya itu sudah ada. Jika aku benar-benar bukan anak kandung dan apa gunanya lagi untuk kecewa," ucap Sean.


"Aku tau dan memang tidak ada yang harus di sesali. Tetapi seperti yang aku katakan. Kamu tetap anak papa dan juga Tante Anggika," ucap Sean.


"Jangan katakan ini dulu pada Citra," ucap Sean tiba-tiba membuat Reya mendengarnya heran.


"Kenapa?" tanya Reya.


"Citra sedang mengalami banyak masalah, aku tidak ingin Citra sampai punya pikiran ketika dia tau aku bukan kakak kandungnya. Maka Citra akan merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Aku takut Citra akan berpikiran jika aku akan meninggalkannya," ucap Sean yang mengkhawatirkan Citra adiknya.


"Aku mengerti Sean dan kamu jangan khawatir, aku tidak akan membahas ini dulu dengan Citra. Karena aku tau Citra pasti juga akan schok dengan kabar ini," ucap Reya yang mengerti apa yang di takutkan suaminya.

__ADS_1


"Iya Reya," sahut Sean.


"Kalau begitu sekarang kita pulang ya. Citra pasti menunggu kita dan nanti aku takut Citra kenapa-kenapa," ucap Reya yang membujuk suaminya untuk pulang.


"Baiklah, Terima kasih Reya kamu sudah bersamaku, aku merasa jauh lebih tenang sekarang ini, makasih ya Reya," ucap Sean dengan wajahnya masih di penuhi dengan rasa kesedihan.


"Sama-sama, ayo kita pulang!" ajak Reya dengan lembut Sean menganggukkan kepalanya dan akhirnya mereka meninggalkan tempat itu.


********


Sementara Citra berada di kamarnya yang duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya yang mana Citra yang juga berlinang air mata dengan napasnya yang beberapa kali di tarik panjang dan buang dengan perlahan kembali.


"Reval, dia benar-benar keterlaluan, berani sekali dia mengawasi ku dan juga menciumku. Aku tidak akan membiarkan dia yang seenaknya kepadaku. Dia sudah cukup menghancurkan hidupku dan aku akan membuatnya menyesal melakukannya," ucap Citra dengan tangannya yang terkepal yang sangat dendam pada Reval.


"Bukan aku yang menderita Reval. Tetapi kau. Aku akan membuatmu terus merasa bersalah dengan semua yang kau lakukan. Kau lihat saja Reval apa yang akan aku lakukan kepadamu nanti," batin Citra dengan sorot matanya yang tajam yang penuh dengan dendam pada Reval.


Tadinya Citra begitu lemah dan pasrah dengan hidupnya. Namun dia kembali bangkit dan ingin membuat Reval di penuhi dengan rasa bersalah dan Citra ingin Reval juga merasakan apa yang di rasakannya. Karena Citra tidak bisa terima yang di perlakuan dengan seenaknya.


Citra berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar suara mesin mobil dan Citra langsung berjalan menuju jendela membuka tirai jendela.


"Kak Sean dan Reya akhirnya pulang," gumam Citra yang merasa lega dan Citra buru-buru langsung keluar dari kamar yang mana Citra menuruni anak tangga yang menghampiri Reya dan Sean yang sudah memasukkan rumah.


"Kak Sean!" sapa Citra yang langsung mendekati Sean, "kakak kenapa?" tanya Citra yang bisa melihat sang kakak ada sesuatu terlihat dari wajah Sean yang di tekuk. Reya dan Sean saling melihat.


"Kak Sean!" lirih Citra yang belum mendapatkan jawaban apa-apa dari kakaknya itu.


"Kakak tidak apa-apa Citra. Kakak hanya mau istirahat saja. Kamu jangan khawatir," ucap Sean yang apa adanya.


"Kakak benar tidak apa-apa?" tanya Citra yang tidak percaya.


"Iya Citra kak Sean tidak apa-apa kok, hanya lelah saja. Aku kekamar dulu ya. Kamu juga istirahat sebaliknya," ucap Reya.

__ADS_1


"Ya sudahlah kalau begitu," sahut Citra. Reya tersenyum dan langsung membawa Sean untuk memasuki kamar mereka.


"Semoga saja memang benar tidak terjadi apa-apa pada kak Sean dan semoga hubungan kak Sean dan Reya juga baik-baik aja. Aku hanya berharap semuanya kembali seperti semula. Reya sangat baik dan sangat banyak membantuku, dia juga banyak menderita selama ini dan bahkan apa yang terjadi padanya juga karena perbuatan ku, dan mungkin apa yang terjadi padaku adalah balasan dari perbuatanku di masa lalu dan tidak apa-apa sekarang aku jadikan ini pelajaran dan aku harus kuat yang tidak akan lemah. Aku harus bangkit demi membuatnya menyesal melakukan semua ini kepadaku," batin Citra dengan keyakinan yang penuh untuk bangkit dan penuh dengan semangat karena semua yang telah di dapatkannya.


*********


Sementara Reval yang baru saja menghampiri Citra tadi, mengawasi Citra karena penasaran dengan keadaan Citra dan ternyata malah ketahuan Citra.


Reval yang berada di dalam mobilnya yang berhenti di pinggir jalan yang mana Reval yang duduk di kursi pengemudi hanya hanya diam dengan wajah yang terlihat menahan amarah.


Tidak tau apa yang di pikirkannya. Tetapi pasti Citra dan semua perkataan Citra tadi teringat di dalam dirinya.


"Terserah apa yang ingin kau lakukan kepadaku. Tapi kau harus ingat jika aku wanita yang sedang mengandung anakmu dan terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak akan peduli sama sekali,"


"Kau hanya akan menyesali semua yang kau lakukan,"


"Dasar pengecut. Kau adalah laki-laki yang paling brengsek dan paling kejam yang pernah aku temui,"


Semua kata-kata Citra teringat di kepalanya membuat Reval memegang kepalanya dengan ke-2 tangannya sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Argghhh!" teriak Rafa yang histeris sendiri dengan mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini. Kenapa aku harus terus memikirkan Citra. Tidak seharusnya aku memikirkan Citra. Aku tidak seharusnya datang kepadanya, aku tidak seharusnya peduli keadaannya," umpat Rafa yang gila sendiri karena tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"Hamil dia mengandung anakku, kenapa Citra harus mengandung anakku. Kenapa!" ucap Reval dengan suara rendahnya.


"Reval tidak ada yang kau dapatkan dari dendammu selama ini. Kau tidak mendapatkan apa-apa Reval tidak Citra dan apapun. Kau bahkan tidak puas dengan penderitaan yang di alaminya. Jika kau puas kau tidak akan khawatir padanya, kau tidak akan menyelamatkan nya dari nekat yang di lakukannya saat ingin melenyapkan dirinya. kau tidak akan mengawasinya di rumah sakit Reval dan semua kebodohan yang kau lakukan tadi juga tidak akan terjadi,"


"Jadi semuanya dendammu kepada Citra hanya sia-sia. Karena pada dasarnya. Kau telah jatuh cinta kepadanya dan justru bukan dia yang menderita dengan semua ini. Tetapi justru kau Reval yang telah menderita. Benar apa kata mama kau lah yang menderita jika melibatkan Citra yang tidak tau apa-apa dalam dendammu," ucap Reval yang menyadari semuanya.


Karena memang apapun itu dendam hanya merugikan kita bukan orang lain dan ini yang telah di dapatkannya dari dendamnya menghancurkan wanita yang tidak tau apa- dan tadi Reval sudah mengakui jika dia mencintai Citra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2