
Raya berada di kamarnya yang tampak sangat gelisah. Dia berbaring di atas ranjang yang sebentar-sebentar menutup wajahnya di dalam selimut dan membukanya lagi. Berbaring kekiri dan kekanan dan ada-ada saja yang di lakuaknnnya yang dia memang tampak sangat gelisah yang tidak bisa tidur sama sekali.
"Argggghhh!" teriak Reya yang akhirnya duduk dengan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa tidak tidur sih Reya. Kau itu kenapa sih memikirkan Sean terus menerus. Lagian tadi pagi kalian juga bertemu. Apa maksudnya. Tidak mungkin kan Reya kau merindukannya. Kau jangan aneh-aneh. Apa kau gila merindukannya," Reya menepuk-nepuk pipinya yang menyadarkan dirinya agar tidak berpikiran tentang Sean.
Hal itu yang membuat tidurnya tidak nyaman dan terus gelisah. Ternyata Sean yang menghantui pikirannya dan mungkin karena bawaan dari bayinya yang ingin bersama dengan papanya. Namun Reya masih menolak keras hal itu yang akhirnya hanya membuat dirinya sendiri tersiksa karena gengsi.
Tiba-tiba saja dia memang sangat merindukan Sean, yang beberapa kali memikirkan sean dan juga menyebut nama pria itu. Namun tetap saja mulutnya masih membantah hal itu. Namun hatinya menginginkan hal itu sangat sulit kalau sudah saling bertolak belakang seperti itu.
"Arggh jangan memikirkannya! jangan memikirkannya, Reya cukup! Reya!" teriak Reya berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari Sean.
Reya menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu mengambil handphonenya yang mengscroll tiktok untuk mengalihkan pikirannya pada Sean.
Namun apa tiktok yang di scroll tiba-tiba kontak yang tertekan dan memencet panggilan pada Sean.
Hal itu di sadari Reya yang membuat Reya sangat terkejut dengan matanya yang melotot dan seketika menjadi panik karena ulahnya yang sembrono.
"Reya kau gila!" pekik Reya panik dan buru-buru ingin mematikan panggilan telpon itu.
"Ada apa Reya?" tanya Sean yang mana Reya tidak sempat memutuskan panggilan itu Sean sudah terlebih dahulu menjawabnya. Hal itu semakin membuat Reya gugup dengan wajahnya yang panik. Kebingungan harus melakukan apa.
"Mampus sudah sempat di angkat lagi. Bagaimana ini," batin Reya yang menjadi begitu gugup. Karena masalah yang telah terjadi.
"Reya!" tegur Sean yang tidak mendapatkan respon dari Reya.
"Oh itu anu, anu itu!" Reya yang terlihat sangat gugup penuh dengan kebingungan bahkan bicara tidak menentu yang membuat Sean yang berada di kamarnya kebingungan.
"Itu apa Reya?" tanya Sean heran dan bahkan sangat cemas pada Reya yang menelpon malam-malam.
"Tidak apa-apa Sean. Aku hanya tiba-tiba merindukanmu," sahut Reya keceplosan membuat Sean yang di kamarnya menelpon kaget mendengarnya dengan alisnya yang bertautan.
"Reya apa yang mau ucapkan," batin Reya yang menjadi gugup.
"Bukan itu maksudku. Maksudku me-me- menanyai kabarmu saja, hanya itu saja. Sungguh aku hanya bertanya itu saja," jawab Reya dengan panik.
Bahkan beberapa kali memukul mulutnya yang sangat lantang bicara. Namun Sean yang di menelpon di sana tersenyum mendengarnya. Meski tidak melihat Reya. Dia yakin wajah Reya sekarang sedang memerah.
__ADS_1
"Sean kau masih di sana?" tanya Reya yang tidak mendengar Sean menyahutnya.
"Iya aku masih di sini," jawab Sean berdiri dari tempat kerjanya dan menuju teras kamarnya.
"Aku hanya menelponmu hanya mengatakan itu tidak ada yang lain," ucap Reya yang sudah begitu malu.
"Hmmm begitu rupanya," sahut Sean yang menyunggingkan senyumnya.
"Hmmm, hanya itu saja," sahut Reya.
"Kau mau jalan-jalan?" tanya Sean yang menawarkan.
"Jalan-jalan. Kemana?" tanya Reya.
"Kemana saja. Sepertinya kau sedang bosan sendirian. Aku akan menemanimu," ucap Sean.
Reya tersenyum mendengarnya. Ya dia memang sangat aneh belakangan ini.
"Reya kau mendengarku?" tanya Sean yang tidak mendapat respon dari Reya.
"Jangan khawatir. Hal itu tidak akan terjadi. Jika kamu mau aku akan ke sana sekarang," ucap Sean.
Reya tampak diam yang tidak tau harus menjawab apa. Di takut. Namun dia sangat merindukan Sean.
"Reya!" tegur Sean.
"Hmmm, baiklah!"sahut Reya.
Sean tersenyum mendengarnya, "baiklah kamu tunggu aku ya," ucap Sean. Reya hanya menjawab iya dan mematikan telpon itu.
Reya seketika tersenyum yang sepertinya sangat bahagia. Sama dengan Sean yang juga tersenyum. Mungkin karena dapat transferan energi dari Reya yang mengatakan merindukannya. Walau Reya meralat kata-katanya. Karena kata-kata yang pertama lah yang benar.
Sean menghela napasnya dan mengambil sweaternya. Lalu buru-buru keluar dari kamarnya. Layaknya seorang pria yang merindukan kekasihnya.
**********
Sean menuruni anak tangga dan di sana ada Citra dan juga Barra membuat wajah Sean yang tadi berseri-seri menjadi hilang dengan cepat.
__ADS_1
"Kak Sean!" lirih Citra menyenggol Barra, memberi kode pada Barra untuk menyapa Sean.
"Selamat malam kak Sean," sahut Barra yang langsung berdiri dengan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangannya. Namun Sean tampak acuh yang tidak peduli dengan Barra.
"Kamu cepat tidur Citra. Jangan membuang waktu untuk bicara yang tidak bermutu," ucap Sean dengan ketus mengingatkan Citra.
"Iya kak," sahut Citra dengan suara pelan.
"Sombong sekali. Memang dia pikir. Dia sudah paling hebat apa," batin Barra yang terlihat kesal dan tidak bisa mengeluarkan kekesalannya.
"Kakak pergi dulu!" ucap Sean pamit.
"Kakak mau kemana?" tanya Citra.
"Ada urusan sebentar,"jawab Sean yang langsung pergi dan sama sekali tidak ada senyum-senyumnya pada Barra.
"Barra maaf ya dengan kata-kata kak Sean," ucap Citra.
"Aku tidak tau Citra mau sampai kapan kakakmu tidak menyukaiku," ucap Barra yang masih kesal dan kembali duduk.
"Mungkin karena kamu tidak ramah padanya," sahut Citra.
"Kamu malah menyalahkanku. Apa masih kurang ramah aku kepadanya, aku sudah berusaha. Tetapi lihat. Kakakmu itu sangat sombong," ucap Barra dengan kesal.
"Barra apa yang kamu katakan. Jangan mengatakan kak Sean sombong. Dia tidak seperti itu," ucap Citra pasti membela Sean.
"Dia kakakmu. Sangat wajar kau membelanya. Citra seharusnya kau melihat apa yang terjadi barusan. Kau lihat dia sama sekali tidak menganggapku ada," ucap Barra dengan kesal.
"Aku tau Barra. Tetapi memang kak Sean itu orangnya sangat dingin dan pasti ada sebabnya kenapa dia tidak langsung menyukaimu," ucap Citra.
"Jadi menurutmu itu kesalahanku," sahut Barra yang semakin marah.
"Bukan begitu Barra, Argh sudahlah jangan memikirkan kak Sean lagi. Intinya kamu harus berjuang untuk mengambil hatinya," ucap Citra.
"Tidak perlu berjuang untuk mengambil hatinya aku juga tidak peduli sama sekali. Tujuanku hanya memiliki mu seutuhnya bukan untuk mencari muka darinya," batin Barra.
Bersambung
__ADS_1