Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 57 Terkena imbas.


__ADS_3

Citra dan Rose berada di kafe di dekat kampus mereka. Mereka berdua menikmati makan siang saat jam kuliah sedang kosong.


" Belakangan ini aku melihat kamu itu happy banget. Wajah kamu sudah tidak cemberut lagi, apa ada sesuatu?" ucap Rose sembari memakan makanan yang di pesannya.


" Bagaimana aku tidak happy. Kamu tau sendiri. Anak dari wanita selingkuhannya papa sudah pergi. Jadi hidupku sangat damai," ucap Citra dengan tersenyum bahagianya.


" Iya deh. Tapi ya Citra kenapa sih kamu itu benci banget sama dia sampai melakukan hal yang pernah kita lakukan yang membuat kak Sean marah dengan kamu dan juga memarahiku setelah kejadian itu," ucap Rose.


" Sudahlah Rose. Kamu ngapain ungkit masalah itu. Biarkan saja masalah itu seperti itu saja. Aku tidak peduli sama sekali dan iya anggap saja itu pelajaran untuknya," sahut Citra.


" Tapikan kak Sean bukannya membelanya waktu itu dan kalau aku lihat-lihat kak Sean itu perhatian padanya. Dan sangat khawatir. Aku hanya melihat saja. Karena dari matanya terlihat sangat mengkhawatirkan Reya," ucap Rose.


Citra seketika menghentikan makannya dan malah terlintas di pikirannya saat mendapati Sean yang mencium Reya di pantai dan mereka berpelukan. Citra juga bisa melihat jelas rasa khawatirnya Sean pada Reya.


" Aku benar tidak?" tanya Rose.


" Apasih," sahut Citra membuyarkan lamunannya, " itu tidak mungkin Rose jadi jangan berpikir yang aneh-aneh. Kak Sean itu sangat membencinya," tegas Citra.


" Aku hanya menduga saja," sahut Rose makan dengan santai.


" Tetapi sampai detik ini aku memang tidak mengerti dengan kak Sean dan Reya. Aku juga memergoki kedekatan mereka berdua dan bahkan terlihat sangat dekat," batin Citra yang jadi kepikiran.


" Oh iya Citra kamu tau tidak kalau Barra sudah pulang," ucap Rose Tiba-tiba.


" Pulang dari mana? Memang dia pergi kemana?" tanya Citra bingung.


" Astaga kamu ini ya benar-benar. Kamu itu masa tidak tau sih kalau Barra itu kan lagi di Luar Negri dan sekarang sudah kembali lagi. Kamu sih pacarnya. Tapi tidak tau apa-apa," ucap Rose geleng-geleng.


" Bagaimana aku mau tau. Dia saja tidak pernah menghubungiku," sahut Citra.


" Itu karena kamu terus marah kepadanya," sahut Rose.


" Ya jelas aku marah. Dia itu berusaha mendekati Reya dan Reya sengaja menggodanya," sahut Citra.


" Tetapi kan belum tentu Citra. Kamu itu nggak boleh berpikiran buruk dan lagian nggak ada buktinya juga," ucap Rose.


" Argggghhh sudahlah kepalaku sakit. Jangan membahas masalah yang tidak penting itu. Aku pusing," ucap Citra yang melanjutkan kembali makannya.


Rose pun tidak bicara lagi dan sama-sama melanjutkan makan bersama Citra.

__ADS_1


**********


" Mah Citra pulang!" sahut Citra berteriak di ruang tamu saat sampai kerumahnya.


" Citra pelankan suara kamu apa harus berteriak-teriak memanggil mamah. Seperti di hutan saja," sahut Anggika dengan geleng-geleng kepala.


" Iya maaf mah," sahut Citra.


" Kamu pulang tumben sore?" tanya Anggika.


" Katanya kak Sean tadi nggak bisa jemput. Karena kak Sean pergi katanya ada pekerjaan mendadak di Luar Negri, makanya Citra pulang sama Rose. Harus nungguin Rose yang masih ada kuliah," jawab Citra.


" Luar Negri!" pekik Anggika.


" Iya mama tidak tau?" tanya Citra heran karena mamanya malah bertanya.


" Tidak mama justru baru tau sekarang kalau mama kamu itu pergi," sahut Anggika.


" Mungkin karena mendadak. Jadi kak Sean nggak sempat pamit sama mama," ucap Citra.


" Iya mungkin saja," sahut Anggika.


" Sean pergi ke Luar Negri aneh sekali. Kenapa dia pergi tanpa pamitan. Kalau dia ada perjalanan bisnis biasanya mengabari dulu. Dan ini kenapa tidak. Apa dia pergi sangat terburu-buru. Walau seperti itu biasanya juga selalu mengabari," batin Anggika dengan penuh kebingungan.


" Argggghhh sudahlah mungkin nanti Sean akan mengabariku," batin Anggika yang tidak mau pusing.


*********


Argantara berada di dalam mobilnya yang di setiri oleh Diki.


" Apa Sean jadi pergi?" tanya Argantara pada Diki.


" Jadi tuan pesawatnya akan take off 1 jam lagi," jawab Diki.


" Syukurlah jika Sean bisa membantuku. Aku sangat berharap anak itu bisa membujuk Reya. membawa Reya kembali ke padaku. Aku tidak bisa melihat Reya menderita terus," ucap Argantara dengan penuh harapannya.


Diki hanya mengangguk saja dengan fokus menyetir dan Argantara yang beberapa kali membuang napasnya dengan kasar. Dia tetap cemas namun sangat lega sedikit dengan Sean yang pergi menjemput Reya.


**********

__ADS_1


Reya yang berada di Paris yang berada di rumahnya berada di dalam kamarnya. Reya membuka mantelnya karena di dalam kamarnya ada penghangat ruangan yang maklum saja di luar sedang musim salju.


" Ahhhhhhh," lirih Reya merasa perih saat melepaskan mantel itu dari tangannya yang mana ternyata terdapat luka memar di lengan Reya.


" Kenapa semakin perih," ucap Reya yang meringgis menahan rasa sakit di lengannya. Yang akhirnya mantel itu terlepas dari tubuhnya dan memperlihatkan luka itu masih saja memerah yang sepertinya baru saja di alaminya.


" Kenapa mama tidak pernah berubah, dia mudah emosian dan melakukan ini semua kepadaku. Mama memiliki tempramental semenjak mama di ceraikan oleh papa," batin Reya meneteskan air matanya mengingat perlakuan dari mamanya yang sering kasar kepadanya.


Pranggg.


Suara pecahan barang mmebuat Reya tersentak kaget.


" Ada apa lagi itu!" batin Reya yang merasa takut dan langsung berdiri buru-buru untuk melihat apa yang terjadi.


Reya keluar dari kamarnya menuruni anak tangga dan melihat sang mama yang melempari barang-barang sehingga berpecahan.


" Mama!" ucap Reya yang langsung buru-buru menuruni anak tangga.


" Mama apa yang mama lakukan mah, hentikan mah!" ucap Reya yang kepanikan.


" Ini semua gara-gara kamu. Kamu yang menyebabkan semua ini terjadi!" teriak Erina dengan melempar pas bunga kepada Reya dan untung saja Reya mengelak kalau tidak kepalanya menjadi sasaran.


" Apa maksud mama Reya tidak mengerti?" tanya Reya yang semakin panik.


" Kamu datang kerumah ini membawa sial. Aku harus kehilangan uang banyak karena di tipu orang-orang brengsek itu. Jika kau tidak pulang aku tidak akan sial seperti ini. Kau itu pembawa sial!" teriak Erina yang melempari Reya.


" Mah Reya mohon tenanglah mah, Reya akan berusaha untuk mengganti uang mama. Jadi tolong jangan lakukan ini lagi. Mama bisa melukai Reya," ucap Reya sudah menangis mencoba untuk menenangkan mananya.


" Diam kamu!" bentak Erina yang mendekati Reya dan langsung menarik rambut Reya membuat kepala Reya mendongak keatas.


" Seharusnya kamu tidak kembali kerumah ini. Jika kamu tidak kembali semua masalahku tidak akan bertambah," ucap Erina menekan suaranya.


" Mah, Reya tidak mau jauh-jauh dari mama. Ini rumah Reya dan mama orang satu-satunya yang Reya punya. Jadi Reya hanya ingin bersama mama," ucap Reya dengan merendahkan suaranya yang air matanya terus keluar menahan sakit dari perlakuan mamanya.


" Tapi aku tidak menginginkanmu. Kau sebaiknya pergi dari kehidupan ku. Kembali ke Jakarta!" teriak Erina.


" Tidak mah. Reya tidak akan kembali ke Jakarta sampai kapanpun itu," ucap Reya dengan yakin.


Tangan Erina yang semakin kuat memegangnya semakin geram dengan penolakan Reya. Matanya yang seperti monster menatap Reya rasanya ingin melenyapkan Reya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2