
Regina yang berada di dalam ruang ganti pakaian yang sedang di depan loker yang mengikat rambutnya. Regina mengganti pakaian berenang dengan pakaiannya. Karena tadi Regina sehabis berenang.
"Ehem!"tiba-tiba terdengar suara deheman yang membuat Regina langsung melihat ke arah belakangnya.
"Barra!"pekik Regina yang terlihat kaget yang melihat Barra di belakangnya yang bersandar pada loker dengan kakinya di silangnya dan ke-2 tangannya di lipat di dadanya.
"Kamu sejak kapan di sana?"tanya Regina dengan wajah paniknya.
"Sejak kamu mengganti pakaian," jawab Barra.
"Kok bisa. Kamu kenapa bisa masuk?" tanya Regina dengan panik.
Barra tersenyum miring dan melangkah mendekati Regina membuat Regina mundur dan bersandar pada loker dengan Barra meletakkan satu tangannya di loker yang menghimpit Regina yang membuat Regina menjadi panik dan jantungnya berdetak kencang.
"A-a-ada apa Barra?" tanya Regina dengan gagap.
Barra tersenyum dengan memegang dagu Regina dan menatap dalam-dalam mata Regina.
"Kau jauh lebih cantik dari pada Citra,"ucap Barra dengan lembut dan Barra menempelkan bibirnya pada Regina membuat Regina terkejut dengan matanya yang melotot mendengar perkataan Barra.
"Seharusnya aku pertama kali menyukaimu. Kenapa aku tidak melihat dirimu," ucap Barra setelah selesai melepas kecupan itu. Sementara Regina terdiam dengan wajahnya yang terlihat shock.
"Regina aku meninggalkan buku ku," panggil Citra yang tiba-tiba masuk membuat Barra dan Regina terkejut dan Regina langsung mendorong Barra dan Citra yang masuk heran melihat Barra dan Regina yang berdiri berhadapan membuat Citra penuh dengan tanya.
"Sayang!" lirih Barra yang panik dan begitu juga dengan Regina.
"Kamu ngapain di sini?"tanya Citra heran dengan melihat Barra bersama Regina.
"Aku tadi mencarimu,"sahut Barra yang mencari alasan dan Regina menelan salivanya yang terlihat gugup.
__ADS_1
Citra merasa ada sesuatu dan memperhatikan gerak-gerik Regina. Barra memperhatikan Citra yang mencurigai sesuatu langsung menghampiri Citra.
"Sayang aku tadi tau kamu sedang berenang. Jadi aku mencarimu keruang ganti," ucap Barra memegang tangan Citra.
"Apa harus ke ruang ganti. Ini kan ruang ganti wanita,"ucap Citra yang terus melihat kearah Regina.
"Iya aku tau. Ini ruang ganti wanita. Ya tapikan aku hanya mencarimu dan Regina bilang kamu sudah keluar. Makanya aku mau keluar mencarimu lagi," ucap Barra memberikan alasannya.
Citra seperti tidak yakin dan melihat 2 orang itu secara bergantian.
"Benar Citra. Barra mencarimu," sahut Regina yang berusaha untuk tenang.
"Hmmm, begitu ya sudah. Buku ku ketinggalan, aku hanya mengambilnya," ucap Citra mengambil bukunya yang ada di dekat Regina.
"Ayo keluar!"ajak Citra pada Regina. Regina mengangguk-angguk dengan cepat dan Barra merasa lega yang hampir saja Ketahun Citra kalau dia macam-macam dengan teman Citra.
**********
" Ehegk, Ehegk, Ehegk," Reya yang tiba-tiba mula lagi langsung berlari kekamar mandi. Sejak tadi ini yang di rasakannya. Mual terus menerus.
"Ada apa denganku. Apa aku salah makan,"ucap Reya memegang perutnya yang terasa mual. Dia melihat wajahnya di cermin yang begitu pucat.
"Sejak tadi aku selalu pusing, aku tidak mungkin salah makan. Nafsu makan ku saja hilang," ucap Reya kebingungan sendiri dengan apa yang pikirkannya.
"Oh iya di depan Apartemen bukannya ada ya minimarket. Pasti ada obat pusing di sana. Sebaiknya aku beli saja. Biar pusing di kepalaku hilang dan rasa mual ku tidak terus menggangguku. Kau mana bisa tidur dalam keadaan seperti ini," ucap Reya yang begitu gelisah karena terus mual-mual dan bahkan tidak bisa beraktivitas seharian. Karena kondisinya yang tidak stabil.
Reya mengambil kardigannya dan langsung keluar dari Apartemen tersebut. Saat berjalan melewati koridor-koridor hotel tiba-tiba Reya melihat di ujung sana Barra dan Regina. Di mana Barra merangkul pindang Regina membuat Reya terkejut dan Reya langsung bersembunyi di balik tembok agar tidak terlihat Barra dan Regina.
"Bukannya itu Barra. Pacarnya Citra dan itu Regina wanita yang menjebakku. Kenapa mereka berduaan dan terlihat mesra seperti itu dan di Apartemen ini. Kenapa mereka ada di sini," batin Reya yang penuh tanya yang terus bersembunyi dan Regina maupun Barra terus berjalan yang hampir melewati Reya.
__ADS_1
"Tapi jika Citra tau. Aku habis Barra,"ucap Regina.
"Jangan takut Regina. Jika dia macam-macam kepadamu. Aku akan membelamu. Regina aku pacaran sama Citra. Supaya terlihat keren saja di kampus yang bisa pacaran dengan Citra. Aku tidak pernah menyukainya dan hanya kamu. Jadi jangan khawatir. Dia tidak akan tau apa-apa. Karena dia wanita bodoh dan sangat kolot," ucap Barra membuat Reya terkejut mendengarnya.
"Kamu tenang saja. Jangan khawatir. Ayo di sana Apartemenku," ucap Barra menunjuk Apartemennya.
Reya memegang dadanya yang benar-benar terkejut dengan apa yang di dengarnya. Jika Barra yang bisa-bisanya bicara seperti itu.
"Apa maksudnya. Jadi Barra bukan laki-laki yang baik. Pantas saja Sean tidak menyukainya. Ternyata Barra sangat jahat dan hanya mempermainkan Citra dan wanita itu. Dia adalah temannya Citra lalu kenapa tega menghiyanati Citra. Aku kasih tau Citra semua ini," ucap Reya yang khawatir pada Citra.
"Tidak mungkin Reya kau memberitahunya itu artinya kau memberitahu keberadaanmu dan akhirnya akan membuat keributan dan semuanya kembali lagi. Tidak Reya kau tidak bisa memberi tahu Citra. Jika tidak memberitahunya Citra akan di tipu terus oleh Barra dan bagaimana jika Barra melakukan yang tidak baik kepadanya," batin Reya dengan penuh rasa khawatir.
"Arghh Reya kau sebaiknya ke mini market dulu. Baru setelah itu kau memikirkannya. Kau bisa bicarakan pada Sean," ucap Reya dengan memijat kepalanya yang terasa berat. Semakin memikirkan Citra, Regina dan Barra. Reya semakin sakit kepala.
**********
Citra berada di kamarnya yang belajar di depan jendela yang di luar sedang hujan deras. Citra harus belajar dengan cepat agar bisa lulus dengan IPK terbaiknya.
Tiba-tiba Citra melihat hanphonnya di sampingnya dan langsung mengambilnya.
"Tumben sekali Barra tidak menelponku," batin Citra yang tiba-tiba kepikiran Barra. Citra menghela napasnya dan bersandar pada kepala bangku.
"Kenapa kak Sean tidak menyukai Barra. Memang dia sedikit menyebalkan akhir-akhir ini. Tetapi aku mencintainya dan laki-laki pertama yang membuatku bisa jatuh cinta. Dia juga cinta pertamaku dan mampu meluluhkan hati ku," batin Citra dengan melihat wallpaper di handphonenya yang mana melihat foto dia dan Barra.
Citra memikirkan Barra. Yang ternyata kekasihnya itu bersama temannya sendiri yang berduaan di Apartemen yang berada di dalam kamar di mana Regina berdiri di depan Barra yang Regina terlihat dek-dekan.
"Kamu gugup?"tanya Barra mendekati Regina dengan memegang pipi Regina.
Bersambung
__ADS_1