Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 40 pertanyaan mengintimidasi.


__ADS_3

Sean mendekati ranjang Reya dan menyelimuti Reya, Sean melihat di leher Reya banyak bekas merah yang pasti perbuatannya Sean pun menutupnya dengan memperbaiki rambut Reya. Sean menghela napas dan langsung berbalik badan namun di kagetkan dengan Rose yang berdiri dengan memegang segelas air putih.


" Rose!" lirih Sean.


" Hmmm, ini kak, hanya mengantarkan air putih. Tadi Om menyuruh Rose membawakannya ke kamar Reya," ucap Rose dengan gugup.


" Kamu letakkan saja di nakas," sahut Sean yang langsung pergi. Rose mengangguk dan melihat ke pergian Sean.


" Kenapa kak Sean melarang Dokter untuk memberitahu masalah obat apa yang di minum Reya sebelumnya dan obat apa itu sebenarnya. Citra juga tidak mengatakan apa-apa masalah obat itu," batin Rose kebingungan.


" Tapi tidak apa-apa. Kalau kak Sean melarang Dokter mengatakannya dengan begitu Om Argantara atau yang lainnya tidak tau kalau aku dan Citra mengerjai Reya," batin Rose yang merasa untung.


" Argghhh sudahlah. Yang penting hari ini masih aman," ucap Rose yang langsung meletakkan air mineral itu pada nakas.


*********


Sean menuruni anak tangga dan langsung di hadang Anggika dengan Anggika yang melihatnya dengan mengintimidasi.


" Mah!" Lirih Sean.


" Kamu bersama Reya semalaman atau hanya baru bertemu dan pulang bersamanya?" tanya Anggika dengan penuh mengintimidasi.


" Apa maksud mama?" tanya Sean.


" Jawab saja Sean apa yang mama tanya kan pada kamu," ucap Anggika.


" Mah!" lirih Sean.


" Baiklah mama tidak menyakannya itu. Sekarang katakan pada mama kenapa kamu bisa pulang bersama Reya?" tanya Anggika mencoba untuk menenangkan dirinya dengan mengubah pertanyaannya.

__ADS_1


" Aku tidak sengaja bertemu Reya tadi pagi dan dia tidak tau alamat Villa kita karena bodyguard yang menemaninya tidak tau di mana. Makanya aku pulang bersamanya," jawab Sean bohong. Dia mana mungkin mengatakan apa yang terjadi.


Sean tau apa yang di pikirkan mama sebenarnya. Karena mamanya selalu memperingatkannya.


" Hanya itu saja?" tanya Anggika yang merasa tidak percaya dengan kata-kata Sean.


" Apa lagi mah. Aku tidak tau harus mengatakan apa sama mama dan jawaban apa apa yang mama inginkan. Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan," ucap Sean yang lama-kelamaan kesal dengan mamanya yang terus mengintimidasinya dengan banyak pertanyaan.


" Mama hanya bertanya Sean, kenapa langsung marah," sahut Anggika.


" Dan aku sudah menjawabnya. Hanya kerena aku pulang bersama Reya. Kenapa jadi di permasalahkan dan banyak pertanyaan dan di pastikan mama mencurigai ku melakukan yang tidak-tidak," ucap Sean yang tau jalan pikiran mamanya.


" Karena kau dan Reya tidak pantas dekat-dekat denganmu. Kau harus menjaga jarak dengan Reya. Mama tidak mau Sean perasaan mu berkembang padanya. Ingat Sean Reya itu adikmu!" tegas Anggika yang mengingatkan Sean.


" Sudahlah Sean capek. Sean mau mandi masih banyak yang harus Sean urus. Masalah Sean bukan hanya untuk mengurusi Reya saja," ucap Sean yang langsung meninggalkan mamanya yang terus melihatnya dengan penuh kecurigaan.


********


Setelah bertemu dengan mamanya dan tepat Sean berpapasan dengan Karin. Karin menghentikan langkahnya dan begitu takut dengan Sean. Karin tersenyum kaku dan langsung beralih dari hadapan Sean. Namun Sean menarik tangannya dan memutarnya ke belakang Karin dengan Sean mencengkram tangan Karin yang berada di punggung Karin.


" Sean apa yang kau lakukan sakit Sean!" keluh Karin saat tangannya di cengkram Sean.


" Kau pikir aku cepat lupa dengan apa yang kau lakukan. Kau tidak tau gara-gara kecerobohan aku samapai..." Sean yang menekan suaranya tidak jadi melanjutkan kalimatnya membuat Karin heran.


" Apa yang kau lakukan Sean?" tanya Karin. Sean semakin emosi dengan mencengkram kuat pergelangan tangan Karin.


" Sean aku mohon lepaskaan tangamu! Sakit Sean. Aku minta maaf," ucap Karin dengan suara memohon. Sean mencoba mengendalikan dirinya dan melepas cengkraman tangan dengan kasar. Sampai tubuh Karin hampir melayang.


" Aku minta maaf Sean," lirih Karin yang sudah di hadapan Sean. Di mana Karin memegang lengannya yang begitu sakit.

__ADS_1


" Aku peringkat kepadamu untuk tidak melakukan ini lagi. Kau harus tau tindakan murahanmu itu bisa mencelakai orang lain. Jadi kau harus ingat apa yang ku katakan. Ini yang terakhir kalinya kau melakukan ini. Aku tidak mengampuni mu. Jika kau berani melewati batas mu lagi," ucap Sean menegaskan dengan menunjuk tepat di wajah Karin.


Karin hanya mengangguk dengan ketakutan di wajahnya. Melihat ke marahan Sean kepadanya. Setelah mengeluarkan semua apa yang di katakannya. Sean pun akhirnya pergi dari hadapan Karin.


Hhhhhhhh, suara hembusan napas panjang Karin terdengar yang membuat Karin begitu lega.


" Untung saja Sean tidak membunuh ku," ucap Karin mengusap-usap dadanya yang begitu dek-dekan. Karena Sean yang sangat kasar padanya.


" Memang dia kemana sih tadi malam, siapa coba wanita yang beruntung yang di tidurinya," gumam Karin yang penasaran.


" Argggghhh, sudahlah Karin. Kau sebaiknya jangan mencampuri urusan Sean lagi. Karin kau harus mengubur mimpimu dalam-dalam untuk menjadi istrinya. Karena semua itu sudah tidak mungkin lihat dia. Dia semakin membencimu. Karena kecerobohanmu. Jadi stop untuk bermimpi menjadi istriny stop menggodanya," ucap Karin dengan yakin dengan mengetuk-ngetuk kepalanya agar dia sadar sendiri. Jika sangat mustahiq Sean akan di dapatkan.


" Hhhhhhhh, aku mulai move on dari dia," ucap Karin dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Rencana ingin main-main panas di atas ranjang dengan Sean juga gagal. Karena Sean tidak sebodoh yang di pikirnya.


*********


Setelah sadar dari pingsannya. Reya berada di dalam kamar mandi yang menagis terisak-isak yang begitu kuat. Menangis duduk di lantai di bawah guyuran air shower dengan Reya yang memeluk tubuhnya dan bahkan mencakar kulitnya sendiri yang merasa begitu kotor.


Kotornya mungkin berkali-kali lipat. Karena sudah melakukan hubungan itu dengan kakaknya sendiri yang adanya hubungan darah di antara keduanya.


" Kenapa harus kak Sean. Kenapa kakak ku sendiri yang harus melakukannya. Kenapa? Apa aku begitu tidak berharganya sampai harus tidur dengan kakakku sendiri. Kenapa aku begitu hina dan sangat menjijikkan," umpatnya yang menagis terisak-isak menyesali apa yang terjadi.


Walau dalam pengaruh obat masih ada yang teringat di kepala Reya, di mana dia dan Sean yang berciuman panas di atas ranjang, Sean menyentuhnya dan Reya terlihat menikmati dengan suara-suara indah yang keluar dari mulutnya. Ingatan itu membuat Reya merasakan sakit, semakin jijik yang bisa-bisanya bercinta dengan kakaknya sendiri.


Ternyata isakan tangis dan umpatan perasaan Reya terdengar di telinga Sean yang berdiri di depan pintu kamar mandi dan mendengar semuanya.


Sean tadinya ingin mengecek kondisi Reya. Namun. Sean mendengar suara tangisan yang akhirnya membuat Sean berdiri di depan kamar mandi yang hanya menjadi pendengar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2