
Citra yang masih berada di rumah orang tuanya memilih masuk kedalam kamar mamanya. Kamar itu sangat berantakan yang terlihat pasti Anggika histeris dan meluapkannya ke dalam kamar.
"Apa yang mama rasakan kenapa semuanya seperti ini dan di mana mama sekarang?" tanya Citra dengan jarinya yang lirih melihat isi kamar yang melebihi kapal pecah dan Citra Tidka tau apa yang harus di lakukannya.
"Citra!" tiba-tiba terdengar suara yang tidak asing bagi Citra. Citra membalikkan tubuhnya dan ternyata suara Argantara.
"Papah!" sahut Citra.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Argantara.
"Aku ingin melihat keadaan mama setelah apa yang terjadi dan kata bibi mama tidak ada di sini. Di mana mama pah?" tanya Citra.
"Papa juga tidak tau," jawab Argantara.
"Papa tidak tau apa tidak mencarinya dan juga tidak mau tau?" tanya Citra.
"Citra kamu tau apa yang terjadi dan butuh ketengan untuk mama dan papa," ucap Argantara.
"Tapi semuanya bukan sepenuhnya salah mama pah dan lihat kamar ini pah. Bukannya kamar ini sudah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dan menjelaskan bagaimana mama pah," ucap Citra dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ayo kita bicara!" ajak Argantara dan Citra menghela napasnya yang menuruti sang papa yang tidak tau apa yang mau di bicarakan Argantara padanya
Citra dan Argantara memasuki ruangan keluarga di mana Citra yang duduk langsung setelah Argantara duduk. Namun di atas meja Citra melihat ada dokumen yang terbuka dan melihat di atasnya ada bacaan surat perceraian yang mengejutkan Citra dan langsung melihat serius pada Argantara.
"Papa berniat untuk menceraikan mamah!" pekik Citra dengan wajah kagetnya.
"Pah apa yang papa lakukan kenapa melakukan semua ini. Pah papa banyak melakukan kesalahan dan mama hanya melakukan 1 kesalahan saja dan itu juga tidak benar. Papa ada di sana saat semua masalah terungkap di mana benar-benar pada kenyataannya mama tidak bersalah, tidak berselingkuh sama sekali pah. Jadi kenapa papa tega menceraikan mama saat mama sedang mengalami hal ini pah?" tanah Citra yang tidak habis pikir dengan tindakan Argantara yang ingin menceraikan sang mama.
__ADS_1
"Tidak ada yang ingin menceraikan mama kamu Citra!" ucap Argantara.
"Tidak ada bagaimana? jadi ini maksudnya apa?" tanya Citra.
"Citra. Kamu bisa baca. Itu udalah gugatan cerai dari mama kamu sendiri. Sebelum pergi mama kamu mengirim pengacara dan menggugat papa," jelas Argantara. Citra dengan buru-buru langsung mengambil surat gugatan cerai itu dan langsung membacanya yang ternyata benar apa adanya jika Anggika yang memang tidak main-main yang akan bercerai dari suaminya.
"Mama kamu yang ingin bercerai Citra bukan papa. Papa melakukan banyak kesalahan, gagal menjadi suami dan juga gagal menjadi ayah untuk kamu dan Sean dan papa hanya berusaha untuk memperbaiki segalanya dengan kesempatan yang di berikan mama kamu. Tetapi ternyata kesempatan itu tidak berarti apa-apa dan papa juga gagal dalam menjalankan kesempatan dan membuat luka semakin banyak," ucap Argantara dengan mengakui kesalahannya.
"Jadi papa akan diam saja dengan mama menggugat papa?" tanya Citra.
"Citra mama kamu seperti ini karena papa," jawab Argantara.
"Kalau papa tau seharusnya berjuang lagi pah. Mama pergi dari rumah karena bertengkar dengan papa setelah kejadian itu kan. Bagaimana mama tidak kecewa dengan papa yang bisa-bisanya datang bersama wanita itu untuk memastikan apakah mama bohong apa tidak dan bagaimana tidak perasaan tidak hancur pah," ucap Citra.
"Kamu benar perasaan mama kamu sudah begitu hancur dengan semua kebohongan, penghiyanatan yang papa lakukan. Masalah datang bertubi-tubi dari pernikahan Sean dan juga Reya dari mama kamu yang merasa gagal yang tidak bisa menghentikan pernikahan itu. Yang dia sudah berusaha membuat Sean dan Reya tidak kembali dalam masa lalu. Tapi papa terlalu santai yang akhirnya membuka kesempatan untuk Sean dan Reya semakin memperdalam perasaan mereka yang akhirnya mereka menikah,"
"Apa yang terjadi membuat mama kamu merasa gagal dan bisa menghentikannya, kecewa karena bertolak belakang dengan papa dan masa lalu mama kamu yang kembali timbul dengan permasalahan ini dan itu dan mungkin yang lebih parah saat tau. Jika Sean bukan anak kandungnya?" ucap Argantara dengan penjelasan yang panjang lebar.
"Apa yang papa katakan barusan, kak Sean, kak Sean bukan anak kandung, apa itu pah?" tanya Citra dengan suaranya yang tertahan dan napasnya yang tampak tidak teratur dengan kata-kata yang terdengar itu.
Argantara menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan ke depan dengan menatap Citra yang penuh dengan rasa kaget.
"Tidak ada lagi yang harus di sembunyikan. Papa tau ini sangat mengejutkan bagi kamu. Tapi itu kebenarannya jika Sean bukan anak kandung papa dan juga mama, bukan saudara kamu melainkan dia anak yang kami adopsi sejak lahir," jelas Argantara yang membuat Citra terkejut sampai menutup mulutnya dan matanya langsung berkaca-kaca ketika mendengar apa yang di katakan papanya.
"Citra tidak salah dengarkan?" tanya Citra dengan napasnya yang terasa begitu sesak.
"Tidak Citra itu adalah benar," sahut Argantara.
__ADS_1
"Tidak mungkin pah, tidak mungkin kak Sean bukan kakak kandung Citra, itu tidak mungkin pah," ucap Citra yang membantah dan tidak akan terima kenyataan itu.
"Papa mengerti perasaan kamu dan mungkin kamu sama seperti mama kamu yang sangat terkejut dengan rahasia yang papa sembunyikan selama ini," ucap Argantara.
"Jadi ini maksud dari kata-kata kakek waktu itu?" tanya Citra.
"Iya," jawab Argantara.
"Jadi ini alasannya kenapa kakek tidak menentang pernikahan kak Sean dan Reya. Karena mereka memang bukan sedarah?" tanya Citra. Argantara menganggukkan kepalanya kembali.
"Pah kenapa mengapa menyembunyikan rahasia ini pah dan bagaimana kak Sean?" tanya Citra mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Papa sangat paham dengan apa yang kamu rasakan Citra. Namun inilah kenyataannya. Jika Sean bukan kakak kandung kamu!" tegas Argantara.
"Lalu bagaimana dengan kak Sean. Apa kak Sean tau semua ini?" tanya Citra.
"Dia sudah tau dan pasti terluka. Rahasia yang papa sembunyikan membuat kamu, mama kamu dan Sean dan terluka," jawab Argantara dan Citra langsung menangis dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Pasti dia begitu shock dengan kenyataan sang kakak bukanlah kakak kandungnya Citra tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaannya.
Dan Argantara lagi-lagi hanya menyesal dengan semua perbuatannya yang melukai keluarganya dan sekarang anak perempuannya yang menangis dengan luka yang sama.
*********
Setelah mendapat beberapa kenyataan yang tidak mudah di terima. Citta kembali kerumah sakit. Citra yang berdiri di depan ruangan Reya melihat dari pintu yang terbuka sedikit dan melihat bagaimana Sean yang tertidur terduduk yang menjaga Reya dengan baik.
"Bagaimana mungkin kak Sean bukan kakak Citra. Itu sangat tidak mungkin kan kak," batin Citra dengan air matanya yang mengalir dengan kenyataan yang tidak mudah untuk di terimanya.
"Dan kak Sean setelah tau hal itu, tidak ingin memberi tahu Citra karena kak Sean takut Citra akan kenapa-kenapa. Kak Sean selalu peduli pada Citra, pada perasaan Citra dan kehidupan Citra. Jadi bagaimana mungkin kak Sean bukan anak mama dan papa. Kak Sean tidak mungkin bukan kakak kandung Citra," batin Citra yang benar-benar di banjiri dengan air mata.
__ADS_1
"Kak Sean Citra sangat menyayangi kakak. Mau kita sedarah mau tidak. Kita tidak satu ayah tidak satu ibu Citra tetap adik kandung kak Sean. Bagi Citra kak Sean tetap kakak kandung Citra dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun selama ini yang Citra hanya kakak saja. Citra tidak punya siapa-siapa yang bisa mengerti Citra dan darah tidak menentukan apa adik kakak atau bukan, apa kita sekandung atau bukan. Apapun itu kita tetap adik kakak sekandung," batin Citra.
Bersambung