
Setengah jam kemudian akhirnya Reya sudah sadar dan Reya duduk di atas tempat tidur dengan penuh kebingungan tempat keberadaannya yang ada di mana dan Sean sendiri berdiri di sampingnya yang mengeluarkan kotak makanan dari dalam kantung plastik.
" Makanlah!" titah Sean memberikan Reya kotak makanan tersebut. Reya masih diam dengan melihat Sean dengan heran, tumben sekali Sean mau bicara padanya dan dengan lembut pula.
" Kenapa kau masih belum mengambilnya. Ayo makan!" jangan membuang waktu di sini!" perintah Sean menegaskan dengan suaranya yang begitu dingin.
" Tidak usah!" tolak Reya yang mengalihkan wajahnya untuk tidak melihat makanan itu.
" Jangan keras kepala. Aku bisa memaksamu. Jika kau tidak memakannya," tegas Sean. Reya menghela napasnya dan akhirnya mengalah mengambil makanan itu dari tangan Sean dan membukanya langsung.
" Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Reya tanpa melihat makanan itu.
" Kau pingsan. Dan aku harus kasihan kepadamu. Sekarang aku sadar jika kemanusiaan yang di miliki mama. Turun padaku. Yang sudah di hancurkan berkali-kali. Masih punya hati nurani, memaafkanku perbuatan ibumu dan juga menerima dirimu. Karena rasa kasihan yang pasti masih menolongmu tidak membiarkan mu di sana," ucap Sean dengan penuh sindiran.
Reya yang sejak tadi menunduk. Hanya diam dengan melihat makanan.
" Jadi jangan banyak drama. Yang membuatku harus simpatik kepadamu. Aku menolongmu dan memberimu makan. Bukan karena kesempatan yang kuberikan. Jika kau masuk kedalam keluargaku. Tapi karena aku tidak mau ada sejarah di dalam perusahaan ada karyawan yang mati!" tegas Davin dengan sinis yang kata-kata itu begitu menusuk sampai ke hatinya paling dalam.
" Habiskan makananmu, aku menunggumu di mobil. Jangan berpikir apa-apa. Aku hanya menggunakan kemanusiaan ku untuk membawamu pulang!" tegas Sean dengan singkat dan langsung pergi begitu saja.
Mendengar suara pintu yang tertutup. Barulah Reya mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu yang sudah di tutup.
" Aku tau kau membenciku. Karena kesalahan ibuku. Tetapi aku juga tidak menginginkan semua ini," batin Reya dengan air matanya yang menetes kembali.
**********
Tidak tau apakah Reya memakan makanan yang sebelumnya di berikan Sean atau tidak sama sekali. Tetapi sekarang Sean dan Reya sudah berada di dalam mobil yang sama.
Sean mungkin tidak perlu membawa Reya untuk pulang bersamanya. Namun karena tadi sudah malam dan supir juga tidak ada jadi mau tidak mau Reya harus ikut bersamanya.
Di dalam mobil Kayra dan Sean hanya diam tanpa ada obrolan sama sekali. Tidak Sean ataupun Lea sendiri. Dari perusahan dan sampai menuju rumah.
__ADS_1
Citra yang berada di kamarnya melihat kejendela kamar saat mendengar suara mesin mobil kakaknya dan melihat Citra terkejut saat melihat Reya keluar dari mobil Sean.
" Kak Sean dan Reya satu mobil!" Pekik Citra begitu terkejut melihatnya.
" Sial, apa yang di lakukannya sampai mereka bisa pulang bersama?" umpat Citra dengan kesal dan langsung keluar dari kamarnya dengan tangannya yang terkepal yang dapat di pastikan Citra sedang mengamuk.
Reya pun masuki rumah dan Sean menyusul. Begitu memasuki rumah. Citra yang sudah keluar dari kamarnya langsung menghampiri Reya dan mendorong bahu Reya, membuat Reya terkejut dengan tubuhnya yang mundur dan hampir jatuh. Kalau tidak ada Sean menahan tubuhnya di belakangnya dan membaut Citra lebih terkejut lagi.
" Kau berani menyentuh kakakku!" teriak Citra yang tidak terima dan langsung menarik paksa tangan Reya dan menyingir langsung dari Sean dan Reya juga hampir saja terjatuh.
" Citra!" Bentak Sean yang begitu panik melihat Reya yang memang begitu lemas. Mendapat bentakan dari kakaknya membuat Citra menoleh ke akar kakaknya yang begitu schocknya dengan apa yang terjadi.
" Kak Sean membelanya?" tanya Citra dengan suara tertahan yang tampak tidak percaya.
Sean menelan salivanya dan terlihat bingung.
" Bukan begitu Citra!" sahut Sean yang merasa serba salah. Dia tau Reya sedang tidak baik-baik saja dan Citra begitu kasar pada Reya.
" Lalu apa namanya. Kenapa kakak membentakku. Saat aku mendorongnya?" tanya Citra yang langsung marah.
" Sudah kamu jangan membuat keributan. Kita istirahat," Sean memegang tangan Citra dan membawa Citra menjauh dari Reya.
" Kak lepas! Aku belum selesai bicara padanya!" Berontak Citra yang masih ingin memaki Reya. Namun Sean tidak ingin adiknya itu membuat masalah dan memaksa Citra sampai kekamarnya.
" Kak Sean!" gertak Citra yang melepas tangannya dari Sean. Ketika sudah sampai di kamarnya, " apa yang kakak lakukan. Kakak melindunginya?" tanya Citra.
" Kamu jangan berlebihan Citra. Kakak cuma tidak ingin kamu membuat keributan. Papa dan mama akan keluar dan yang nantinya kamu juga yang akan di salahkan. Kakak hanya tidak ingin kamu melakukan hal itu Citra," ucap Sean yang memberikan penjelasannya.
" Lalu kenapa kakak bisa pulang bersamanya?" tanya Citra dengan mengintimidasi.
" Ceritanya panjang," jawab Sean yang tidak bisa menjelaskan apa-apa.
__ADS_1
" Sepanjang apa ceritanya. Apa kakak sudah mulai masuk ke dalam perangkapnya dan akhirnya luluh sampai bisa pulang bersamanya," tuduh Citra yang pasti tidak menerima hal itu. Jika benar-benar terjadi.
" Kamu jangan bicara sembarangan. Tidak ada yang masuk perangkapnya. Jadi jangan menuduh kakak yang tidak-tidak," tegas Sean
" Lalu apa kah. Kakak harus jelaskan pada Citra?" tanya Citra dengan suara yang meninggi.
" Citra cukup!" gertak Sean yang seolah tertekan dengan desakan dari Citra yang membuat kepalanya sakit.
" Kamu dulu yang jelaskan pada kakak. Kenapa kamu dan Barra bisa berpacaran. Sementara hubungan kalian masih baru?" tanya Sean dengan mengintimidasi yang pasti tidak menyukai hal itu. Apa lagi Citra tidak mengatakan apa-apa kepadanya.
" Kenapa jadi mengalihkan pembicaraan," sahut Citra.
" Tidak ada mengalihkan pembicaraan. Jawab saja pertanyaan kakak. Kamu benar-benar sudah berpacaran dengan dia?" tanya Sean lagi.
" Iya aku pacaran dengannya," jawab Citra dengan pelan yang mengalihkan pandangannya yang tidak berani melihat kakaknya.
" Citra kamu sungguh melakukan itu. Bisa-bisanya kamu pacaran dengan pria seperti itu. Dia itu tidak baik Citra!" tegas Sean yang pasti tidak menyetujui Citra dengan Barra.
" Apa yang kakak katakan. Barra dan Citra sudah saling mengenal lama dan Barra orang yang baik," ucap Citra yang membela Barra.
" Kamu jangan tertipu dengan wajahnya. Kamu harus tau mana Pria yang baik dan tidak dan untuk Barra dia bukan laki-laki baik. Jika dia baik dia tidak mungkin lebih memilih Reya dari pada kamu. Padahal dia baru bertemu dengan kamu!" tegas Sean membuat Citra terkejut.
" Apa maksud kakak?" tanya Citra dengan menekan suaranya.
" Bukannya laki-laki brengsek itu lebih membela Reya di bandingkan kamu saat malam itu dan sewaktu di Reya di antarkan oleh nya dan sama sekali tidak ada penjelasan untuk kamu. Apa kamu masih tetap mengatakan jika dia baik," jelas Sean.
" Itu memang terjadi dan semua itu terjadi. Karena Reya yang menggodanya," sahut Citra yang membela Barra. Walau dia masih kesal dengan Barra dan sama sekali Barra tidak mengabarinya sampai detik ini.
" Apapun itu. Citra kakak tidak mau kau berhubungan dengannya. Jika kakak sudah menuruti semua permintaanmu. Maka kau juga harus menuruti permintaan kakak," tegas Sean yang langsung pergi dari hadapan Citra.
" Kaka Sean. Apa maksud kakak?" tanya Citra ketika Sean sudah menghilang dari pintu.
__ADS_1
" Argh sial. Kenapa jadi aku yang di salahkan. Semua ini gara-gara Reya dia memang selalu saja menjari gara-gara. Awas kau Reya. Kau lihat Reya apa yang akan aku lakukan kepadamu. Bukan hanya kakakku yang semakin membencimu. Tetapi juga papa!" batin Citra dengan penuh emosi yang mengepal tangannya yang penuh dengan dendam kepada Reya.
Bersambung