
Reya, Citra sedang berada di ruangan Chandra melihat kondisi Chandara yang sekarang dengan alat medis yang menempel di tubuhnya. Bagian kepalanya juga di balut dengan perban. Citra dan Reya hanya melihat saja bagaimana Argantara yang terbaring lemah dan tidak berdaya sama sekali.
"Aku terkadang bingung Reya. Apa aku harus membenci papa. Ya aku sangat membenci papa. Tetapi melihatnya tidak berdaya seperti ini. Mana mungkin aku bisa membenci papa. Walau sangat banyak yang sudah di lakukan papa dan mengorbankan kita semua," ucap Citra dengan wajahnya yang senduh.
"Tidak Citra. Papa memang salah. Tetapi mama yang begitu terobsesi dengan papa yang membuat semuanya jadi begini, kita semua ada dan menjadi korban dan sebenarnya. Itu karena mama," sahut Reya.
"Kamu sudah tau Reya. Jika kamu bukan anak kandung dari Tante Erina. Apa kamu masih menyayanginya?" tanya Citra. Reya tidak langsung menjawab dan diam sejenak.
"Aku tidak bisa menjawabnya dan juga tidak tau harus mengatakan apa. Hubungan kami tidak ada ikatan darah, baik aku dan juga papa dan juga dengan mama. Namun tidak bisa di pungkiri. Jika selama ini aku mendapatkan kasih sayang hanya dari mereka dan pertanyaan kamu sangat sulit di jelaskan," jawab Reya yang benar apa adanya dengan perasaan yang di rasakannya.
"Aku tau perasaan mu Reya. Kamu pasti sangat bingung," ucap Citra. Reya mengangguk dengan mengeluarkan senyumnya yang merasa dia hanya. baik-baik saja.
"Kita doakan saja yang terbaik untuk papa," ucap Reya. Citra menganggukkan kepalanya.
"Raya aku putus dengan Reval," ucap Citra tiba-tiba membuat Reya kaget dan melihat ke arah Citra.
"Kamu sama Reval putus?" tanya Reya untuk memastikan sekali lagi dan Citra menganggukkan kepalanya dengan mengeluarkan senyum tipisnya.
"Apa ini karena omongan kak Sean tadi pagi?" tebak Reya.
"Aku sudah memikirkannya dan lebih baik untuk mengakhirinya. Reya aku dan Reval sama-sama tau kami adalah saudara. Ada darah yang sama di tubuh kami dan sangat aneh. Jika kami berdua melanjutkan hubungan kami ketahap yang tidak masuk akal. Jadi lebih baik untuk mengakhiri saja," ucap Citra yang begitu santai.
"Reya aku jalan pikiran kita berbeda. Tetapi posisi yang aku alami pernah kamu alami dan aku yang sekarang tidak bisa mengikuti apa yang kamu dan kak Sean lakukan dulu. Aku memutuskan ingin mengakhiri nya karena tidak ingin membuat masalah dengan semakin banyak dan jika di tanya apakah tidak mencintai. Jika aku menjawab tidak maka pasti bohong. Tetapi biarlah cinta itu seperti itu. Toh juga nanti akan semakin memudar, yang penting aku tidak menambah kesalahan dengan menjalin hubungan dengan saudaraku sendiri," ucap Citra.
__ADS_1
"Kamu yakin?" tanya Reya.
"Aku sangat yakin," jawab Citra tersenyum.
"Apa itu artinya kamu akan menerima kenyataannya. Jika Reval dan kamu adalah adik kakak?" tanya Reya.
"Aku mana mungkin mudah untuk menerima semuanya. Aku tidak bisa menerima semuanya. Dan aku punya hak untuk tidak menerima kenyataan itu," jawab Citra.
"Baiklah Citra. Semua keputusan kamu dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Kamu yang menjalaninya dan seperti yang kamu bilang, semuanya sudah kamu pikirkan baik-baik," ucap Reya yang tidak bisa ikut campur urusan Citra.
Ternyata Sean yang sudah selesai melihat TKP ingin memasukkan ruangan Argantara. Namun saat ingin menekan kenopi pintu dia mendengar pembicaraan Citra dan Reya yang membuatnya tidak jadi masuk. Wajah Sean berekspresi tidak terbaca dengan mendengar apa yang barusan terdengar di telinganya.
***********
"Anggika!" tegur Kakek yang ternyata papa mertuanya yang menghampirinya.
"Pah," sahut Anggika yang tersenyum.
Ternyata selama ini Anggika tinggal di rumah mertuanya untuk menenangkan dirinya dan tanpa ada siapa-siapa yang mengetahuinya.
"Kamu sedang apa?" tanya kakek.
"Melihat foto anak-anak saat masih kecil," jawab Anggika tersenyum dan kakek pun duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Tidak terasa pah, Sean dan Citra sudah sangat besar. Dulu mereka masih kecil-kecil dan sangat menggemaskan," ucap Anggika.
"Dan kamu ibu yang hebat yang bisa membesarkan mereka berdua dengan kasih sayang kamu dan sampai mereka besar," ucap kakek.
"Aku sangat kecewa. Jika tau Sean bukan anakku. Dan anakku ternyata sudah tiada dan aku sangat bahagia dengan Sean yang sayang sama Citra dan aku selalu bingung bagaimana nanti kalau Sean tau Citra bukan adiknya. Eh tapi ternyata Sean juga bukan lahir dari rahimku," ucap Anggika dengan tersenyum geleng-geleng.
"Datangnya Sean dalam kehidupan kita memberi warna dan semangat untuk kamu Anggika. Papa mengambil keputusan itu untuk kebahagiaan kamu dan Citra juga adalah hadiah terindah yang di berikan dan papa juga melakukan itu. Agar Argantara tidak menganggap kamu wanita yang tidak bisa mempunyai anak," ucap kakek.
"Aku mengerti pah. Papa memang selalu berusaha demi kebahagiaan dan keutuhan keluargaku. Saat mas Argantara mengurus perusahaan di luar Negri. Sat itu aku hamil dan ternyata aku harus keguguran karena masalah yang di ciptakan nya di negara orang. Aku rasanya ingin mati dengan semua kejadian waktu itu, ingin menyerah pada pernikahan dan apa lagi Dokter mengatakan akan mengangkat rahimku dan aku berpikir untuk apa kehidupan ini,"
"Tapi papa memberiku semangat dengan melanjutkan dan tidak memberitahu apa yang terjadi pada mas Argantara. Agar Argantara bisa kembali kepadaku, karena dia harus perihatin pada istrinya yang sedang mengandung. Papa melakukan semuanya, menutupi apa yang terjadi dan saat bulannya tiba. Papa menghadirkan Citra untuk melanjutkan kehidupanku dan kesempurnaan ku sebagai seorang istri," ucap Anggika tersenyum dengan air matanya yang keluar.
"Papa merasa bersalah karena menjodohkan Argantara dengan kamu Anggika yang membuat kamu juga terpisah dengan orang yang kamu cintai dan juga Argantara yang masih mencintai wanita lain dan papa tidak ingin pernikahan kamu dan Argantara berakhir dan apa lagi dengan kamu yang mengalami masa-masa sulit waktu itu," ucap Kakek.
"Karena papa tau kan saat itu pasti sangat mudah Argantara meninggalkan kamu. Jika dia tau anak yang kamu kandung sudah tidak ada dan bahkan kamu Operasi pengangkatan rahim dan Sean juga bukan anak kandung kamu. Jadi papa tidak ingin Argantara akan pergi dan kamu akan menderita. Papa menghadirkan Citra untuk kebahagiaan kamu," ucap kakek yang sepertinya begitu sangat menyayangi menantunya.
"Meski Sean dan Citra bukan anak kandungku. Aku sangat menyayangi mereka dan tidak pernah menganggap mereka orang asing," ucap Anggika dengan menangis. Kakek mengangguk dan memeluk Anggika yang pasti sudah di anggap anaknya sendiri dan bukan menantu lagi.
"Maafkan papa Anggika. Papa egois yang memaksa kamu menikah dengan Argantara dan menyebabkan semua ini. Maafkan papa," Kakek merasa bersalah dengan kejadian puluhan tahun lalu dan dia menjadi saksi. Tidak sekalipun wanita yang di inginkannya menjadi istri anaknya hidup bahagia.
Padahal Anggika orang yang sangat kaya dari keluarga terpandang sangat pantas mendapatkan kebahagiaan yang layak.
Bersambung
__ADS_1