
Reya yang kondisinya sudah semakin baik terlihat berdiri yang menggendong bayinya di depan rumahnya yang seperti biasa mencari matahari yang cerah.
"Kak Reya ini susunya," ucap Citra yang menghampiri Reya.
"Makasih ya Citra sudah membuatkan Devan susu," sahut Reya yang mengambil dari tangan Citra.
"Sama-sama, Devan pasti haus ya kasihan keponakan tampan ku ini," ucap Citra yang mengajak bayi itu bermain.
"Dia sangat sulit untuk tidur. Karena jam 3 pagi sudah bangun. Gara-gara kak Sean yang pergi mendadak bersama Reval," ucap Reya.
"Mungkin mereka ada panggilan dari Polisi," jawab Citra.
"Memang bagaimana perkembangan kasusnya Citra?" tanya Reya.
"Memang kak Sean tidak cerita apa-apa pada kak Reya?" tanya Citra heran. Reya menggelengkan kepalanya yang memang tidak mendapatkan cerita apa-apa dari suaminya.
"Memang ada masalah besar?" tanya Reya jadi penasaran.
"Kok Sean belum cerita ya," jawab Citra heran dengan garuk-garuk kepala dengan jarinya.
"Ada apa Citra ada sesuatu yang besar?" tanya Reya lagi.
"Hmmmm," Citra bingung harus memulai dari mana dan tiba-tiba mobil BMW berhenti di depan rumah mereka yang ternyata itu Sean dan Reval yang akhirnya pulang setelah pergi pagi-pagi sekali.
"Sayang," sapa Sean.
"Kalian ngapain di luar?" tanya Reval.
"Cari matahari untuk Devan," jawab Reya.
"Kalian habis dari kantor Polisi ya?" tanya Reya.
"Iya benar," jawab Sean.
"Sayang kamu sepertinya tidak menceritakan apa-apa kepadaku. Aku jadi bingung dan tidak tau apa-apa," ucap Reya.
Sean melihat ke arah Citra dan wajah Citra hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Ya sudah kita kekamar yu. Aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahu apa-apa. Aku hanya belum sempat saja. Sekarang kita kekamar aku akan menceritakan semuanya," ucap Sean dengan lembut memegang bahu istrinya itu.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Reya.
"Sini biar aku aja yang temani Devan," sahut Citra. Reya menganggukkan kepalanya dan memberikan Devan pada Citra.
"Kakak masuk dulu ya Citra," ucap Reya.
__ADS_1
"Iya kak," jawab Citra.
"Kalau dia menangis kamu bawa melamar saja," ucap Sean.
"Aman kak Sean," sahut Citra.
Sean pun merangkul pinggang sang istri dan membawa istrinya masuk kedalam yang akan menceritakan kepada istrinya tentang apa yang terjadi.
"Sayang bagaimana prosesnya?" tanya Citra pada suaminya.
"Polisi sudah mencoba untuk memanggil Renita sebagai saksi. Namun dia tiba-tiba menghilang," jawab Sean.
"Dia kabur begitu maksud kamu?" tanya Citra.
"Semacam itu. Mungkin dia sudah tau dia sedang di cari Polisi," ucap Reval.
"Wanita itu benar-benar ya bisanya bikin susah semua orang. Memang dia mau lari kemana sih. Kemana pun dia lari Polisi pasti juga akan menemukannya," ucap Citra.
"Kita berdua saja sayang," sahut Reval.
"Kamu benar, semoga saja manusia yang satu itu cepat tertangkap dan langsung di penjara," ucap Citra dengan menahan kekesalannya pada Renita yang mencari masalah.
"Ya sudah kalau begitu aku masuk dulu ya. Aku mau mandi sebentar," ucap Reval.
"Iya sayang," sahut Citra yang menganggukkan kepalanya dan langsung pergi memasuki rumah.
**********
Sean dan Reya yang berada di dalam kamar yang terlihat keduanya mengobrol dengan serius.
"Jadi Renita yang melakukan hal itu?" tanya Reya yang benar-benar terkejut ketika mendengar pengakuan Sean atas informasi terbaru yang belum di ketahuinya sama sekali.
"Kamu benar Reya, Renita yang masuk kekamar perawatan kamu dan menggunting selang pernapasan kamu," ucap Sean.
"Apa buktinya sangat jelas?" tanya Reya yang tidak mudah percaya begitu saja.
"Polisi menunjukkan rekaman Cctv dan terlihat seorang Dokter yang masuk ke dalam ruangan kamu dengan gerak-gerik mencurigakan dan bisa di pastikan dia ada Renita. Karena ciri-ciri sama dan Reval juga meyakini itu. Walau memakai masker. Reval sangat yakin dan dia juga memakai gelang yang sama dengan kamu gelang persahabatan kalian," ucap Arga yang menjelaskan dengan detail.
"Ya ampun kenapa Renita sampai setega itu," gumma Reya yang tidak percaya.
"Aku juga tidak tau. Kenapa dia begitu jahat. Pertama dia mengganggu Citra dan juga mengganggu pernikahan kita dan setelah semuanya ketahuan aku pikir dia akan berubah. Tetapi ternyata tidak. Dia semakin menjadi-jadi dan bahkan ingin mencelakakan kamu," ucap Sean.
"Lalu bagaimana dengan penyelidikan selanjutnya?" tanya Reya yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kami tadi kantor Polisi dan Polisi berniat ingin memanggil Renita untuk di periksa. Tetapi ternyata Renita tidak bisa di hubungi dan Polisi juga sedang mengecek kerumahnya," jawab Sean.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Renita tau. Jika apa yang di lakukannya sudah tercium oleh Polisi dan maka dari itu dia sengaja pergi untuk melarikan diri," ucap Reya yang menduga-duga.
"Itu bisa jadi. Dan semakin dia seperti itu. Keyakinan Polisi jika dia pelakunya akan semakin besar," ucap Sean.
"Ya ampun Renita kenapa sih dia sampai sejahat itu. Dia mempunyai dendam besar kepadaku sampai ingin melenyapkanku dan dia juga sebelumnya mengganggu rumah tangga ku kenapa Renita setega itu," ucap Reya dengan wajah senduhnya yang tidak percaya dengan apa yang di lakukan sahabatnya itu.
"Sayang dia pasti gelap mata dan hatinya di penuhi dengan dendam dan juga iri. Aku juga tidak tau apa yang membuatnya sangat terobsesi denganku," ucap Sean membuat Reya mengkerutkan dahinya.
"Maksud kamu apa?" tanya Reya.
"Saat kamu di rumah sakit. Dia selalu berusaha untuk mendekatiku dan diam-diam aku juga sering memperhatikan dua berada di depan kamar kamu. Aku juga tidak tau apa yang di lakukannya. Tetapi dia seperti wanita yang begitu terobsesi denganku dan bahkan aku sering memperingatinya. Tetapi dia tidak mendengarkannya dan malah semakin menjadi-jadi dan beberapa kali dengan jelas mengatakan ingin kamu mati dan sudah jelas dia menginginkan itu sampai semuanya dia lakukan hal yang sangat kejam itu," ucap Sean.
"Aku sampai tidak habis pikir dengan Renita yang menjadi orang yang sangat kejam dan begitu jahat seperti iblis," ucap Reya.
"Sudahlah sayang. Kita serahkan semuanya kepada Polisi dan aku yakin Polisi akan secepatnya menangkapnya," ucap Sean dengan yakin.
"Iya kamu benar dan aku hanya berharap hal itu," sahut Reya.
"Sekarang bagaimana apa kamu lega karena aku sudah menceritakan semuanya?" tanya Sean.
"Iya aku lega dan tidak penuh tanda tanya lagi," jawab Reya.
"Maaf ya aku sudah membuat kamu bingung, penasaran dan gelisah," ucap Sean dengan memegang pipi istrinya itu.
"Tidak apa-apa sayang," sahut Reya tersenyum tipis.
"Kak Reya tolong!
"Kak Reya!"
"Kak Sean!"
"Kak Reval!"
Tiba-tiba Sean dan Reya di kejutkan dengan suara Citra yang berteriak.
"Itu suara Citra buka ?" tanya Reya.
"Iya sayang kamu benar itu Citra," sahut Sean
"Citra kenapa? kenapa dia teriak-teriak?" tanya Reya dengan panik.
"Aku juga tidak tau. Citra kenapa ya?" jawab Sean ikut panik yang jelas mendengar suara teriakan itu dari luar yang team lain adalah suara adiknya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Reya dengan wajahnya yang penuh kecemasan. Sean terdiam yang memang tidak tau apa yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung