
Reya duduk di sofa yang sudah kembali ke Apartemennya. Di mana Reya duduk dengan ke-2 tangannya yang saling bertautan yang terlihat sangat gugup dan penuh ketakutan dan di atas meja sudah ada tespeck yang masih baru.
Reya mengikuti saran pelayan itu untuk membelinya namun tidak berani mencobanya dan hanya menganggur begitu saja. Wajahnya penuh dengan ketakutan. Rasa panik dan pasti pikirannya sudah entah kemana-mana.
Sejak tadi jantungnya berdebar dengan kencang, 10 kali lipat dari biasanya yang dapat di pastikan perasaannya sedang tidak enak.
"Ya Allah bagaimana ini. Jika memang terjadi. Jika aku hamil. Apa yang akan terjadi. Tidak mungkin jika itu terjadi. Mana mungkin," ucap Reya dengan suara beratnya yang sangat berharap apa yang di takutkannya tidak akan terjadi padanya.
Bruk.
Pintu Apartemen terbuka dengan kuat membuat Reya melihat ke arah pintu yang ternyata Sean yang datang dengan napas Sean yang naik turun uang di pastikan Sean pasti habis lari-larian.
"Reya!" ucap Sean dengan napasnya yang tidak stabil dan langsung menghampiri Reya. Berjongkok di depan Reya, melihat wajah Reya yang begitu panik.
"Sean," sahut Reya dengan suara bergetarnya.
Sean bisa melihat ketakutan di wajah Reya. Sean juga melihat tespeck tersebut. Pikiran Reya yang buntu akhirnya membuat Reya untuk menelpon Sean. Dan Sean mendengar cerita Reya kaget dan langsung buru-buru menemui Reya. Dia sangat mengkhawatirkan Reya dan takut wanita itu kenapa-kenapa dan benar Reya sangat takut dengan wajah pucat yang di penuhi dengan kecemasan.
"Aku takut. Aku takut Sean, bagaimana ini. Aku sangat takut," ucap Reya dengan air matanya yang akhirnya keluar karena begitu takut.
"Kamu tenang ya. Tidak terjadi apa-apa, aku ada di sini. Jangan takut Reya. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Sean menenangkan Reya dengan b memegang tangan Reya yang begitu dingin.
Sean juga sebenarnya tidak tenang dan juga panik. Namun kalau dia panik. Reya akan semakin panik.
"Lalu bagaimana jika terjadi, aku tidak bisa berpikir lagi. Pikiranku sudah buntu,"ucap Reya.
"Jangan berpikiran yang lain dulu. Kamu harus tenang. Kamu tenangkan diri,"ucap Sean dan melihat tespeck itu.
"Kamu belum menggunakannya?"tanya Sean.
__ADS_1
Reya menggelengkan kepalanya. "aku tidak berani mencobanya. Aku benar-benar takut Sean, aku takut melihat hasilnya. Makanya aku menunggumu. Aku sangat takut," ucap Reya semakin panik dengan suaranya yang bergetar.
"Kita kerumah sakit. Supaya lebih jelas hasilnya. Jangan menggunakan benda ini belum tentu jelas," ucap Sean memberi saran.
"Tapi..." Reya merasa itu bukan ide yang baik.
"Tidak ada tapi-tapian Reya. Ayo kerumah sakit. Jangan menduga-duga yang membuat pikiran kamu tidak tenang. Ayo! jangan membuang-buang waktu," ajak Sean memegang tangan Reya dan membawa wanita itu pergi. Untuk mengecek kebenarannya.
Sean merasa lebih baik kerumah sakit. Karena menggunakan tespeck bisa saja salah. Sejujurnya Sean begitu takut jika sampai Reya benar-benar hamil. Sama dengan Reya dia juga tidak tau harus memikirkan apa untuk hal itu. Jika kehamilan itu benar terjadi otomatis semua keluarga harus tau.
Reya yang tadinya tidak mau kerumah sakit akhirnya mau setelah merasa memang itu lebih baik.
********
Dokter akhirnya memeriksa Reya. Sejak di mobil Reya tidak tenang dan sampai sekarang Dokter memeriksanya membuatnya semakin ketakutan, gugup cemas dan perasaannya yang benar-benar campur aduk. dan Sean juga yang menunggu di luar juga sangat gelisah. Dia tidak tenang, sebelum mendengar hasilnya dari Dokter.
Setelah Reya di periksa Dokter Sean dan Reya di panggil Dokter dan di mana mereka duduk di depan Dokter dan tangan Reya yang terus saling bertautan yang benar-benar begitu ketakutan.
" Bagaimana Dokter hasilnya?"tanya Sean.
"Bu Reya yang telat datang bukan. Karena memang sedang mengandung. Selamat ya Bu Reya. Ibu positif hamil 5 Minggu," ucap Dokter membuat Reya dan Sean terkejut dengan air mata Reya yang jatuh yang benar-benar shock mendengar kenyataan itu.
Dunianya semakin runtuh kala mendengar kehamilannya. Sean semakin menggenggam tangan Reya untuk menenangkan Reya yang Sean mengerti perasaan Reya yang seperti apa.
"Bu Reya jaga kesehatan ya. Jangan stres agar kandungannya tidak apa-apa, untuk ibu muda kandungan yang masih muda sangat tentan. Jadi mohon untuk di jaga kesehatannya. Mengurangi aktifitas yang berat-berat dan pasti jangan kelelahan," ucap Dokter memberi saran.
Tidak tau apa di dengarkan Reya atau tidak. Karena sekarang pikirannya sudah entah kemana-mana setelah mengetahui kehamilannya dan itu adalah darah daging Sean.
*********
__ADS_1
Setelah memeriksakan ke Dokter dan tau hasilnya. Reya dan Sean kembali ke Apartemen dan sejak tadi Reya hanya diam yang tidak tau harus berpendapat seperti apa.
Wanita mana yang tidak bahagia jika hamil. Namun dirinya yang hamil di luar pernikahan dan yang lebih memalukannya anak yang di kandungannya adalah anak dari saudaranya sendiri. Hal itu membuat Reya kembali down yang merasa tidak berati.
"Pulanglah! Aku mau istirahat," ucap Reya yang langsung pergi dari hadapan Sean. Namun Sean menarik tangannya dan langsung memeluknya dengan erat.
Air mata Reya kembali jatuh di pelukan Sean. Bahkan terdengar suara isakan yang menggambarkan bagaimana perasaannya.
"Apa yang harus kita lakukan. Kenapa semuanya bisa seperti ini?" ucap Reya yang menagis sengugukan.
"Tenang lah Reya. Semua akan baik-baik saja. Aku akan terus di sisimu. Janin di dalam kandungan mu tidak tau apa-apa. Jangan menyalahkak ke adaan ini. Tetapi aku yang harus di salahkan. Semua ini terjadi karena perbuatanku," ucap Sean.
"Lalu bagaimana selanjutnya?"tanya Reya dengan suaranya yang bergetar.
"Aku akan memikirkannya," ucap Sean. Reya melihat ke arah Sean dengan melonggarkan pelukannya.
"Apa kamu akan mengatakannya kepada papa?"tanya Reya yang menakutkan hal itu terjadi.
"Bertanggung jawab adalah pilihannya dan mungkin itu harus," jawab Sean yang memang tidak bisa memikirkan apa-apa. Selain hal itu.
"Tidak Sean. Kamu jangan bilang sama papa. Sean papa akan kecewa. Ini sangat tidak masuk akal Sean. Jadi jangan mengatakannya papa," ucap Reya yang penuh ketakutan.
"Kita tidak punya pilihan lain Reya. Aku harus bertanggung jawab atas dirimu dan anak itu," ucap Sean.
Reya menggeleng-gelengkan kepalanya yang tidak setuju dengan Sean memikirkannya saja Reya sudah bisa gila dan bagaimana jika sesungguhnya terjadi. Reya tidak tau bagaimana tanggapan papanya nanti.
Sean yang mengerti dengan perasaan Reya yang ketakutan dengan hak itu. Kembali memeluk Reya untuk memberikan Reya ketenangan. Agar Reya tidak takut dengan hal apapun.
"Maafkan aku Reya semua terjadi karena kesalahanku," ucap Sean yang hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Bersambung