
" Bagaimana menurut kamu rose malah diam aja," ucap Citra.
" Isssss, Citra mana ada hubungan seperti itu," sahut Rose dengan wajahnya yang menunjukkan rasa jijiknya.
" Citra saudara sedarah itu saling mencintai dan mengasihi mungkin wajar saja. Tetapi untuk saling mencintai dalam arti yang lain cinta seperti kekasih itu mana mungkin. Itu sangat aneh dan tidak masuk akal," ucap Rose yang merasa geli.
" Jadi menurut kamu itu tidak mungkin?" tanya Citra.
" Ya nggak mungkinlah. Kamu itu aneh. Itu sangat tidak manusiawi dan juga tidak ada moral dan sudah sangat melenceng dari moral dan agama," jelas Rose dengan bijaknya memberikan masukan.
Citra terlihat berpikir keras dengan apa yang di katakan Rose.
" Kamu kenapa sih tiba-tiba harus mempertanyakan hal itu?" tanya Rose heran dengan Citra.
" Tidak apa-apa kok. Aku hanya tiba-tiba saja ingin membahas itu. Tadi soalnya aku menonton film di mana adik kakak 1 ayah beda ibu yang saling berciuman. Kalau hanya kecupan bibir saja mungkin sangat biasa adik kakak. Namun ini terlihat berciuman, memeluk seperti seorang kekasih yang mempunyai perasaan yang lain," ucap Citra yang menceritakan masalah Sean dan Reya. Namun di simpulkannya dalam tontonan televisi yang tidak di tontonnya sama sekali.
" Itu kan hanya film saja. Ya mana ada yang masuk akal, kamu ini aneh," sahut Rose.
" Ya aku juga berharap hal itu tidak terjadi di dunia nyata," ucap Citra.
" Ya sudahlah, kamu ini bahasannya aneh-aneh saja. Ya sudah sekarang sebaiknya aku keluar dulu. Aku mau main-main di pantai. Kamu ikut tidak?" tanya Rose.
" Kamu saja duluan. Nanti aku akan menyusul kamu," jawab Rose.
" Baiklah kalau begitu. Bye aku duluan," ucap Rose yang langsung keluar dari kamar Citra. Citra hanya menghela napasnya dengan kasar.
" Apa sih Citra yang kau pikirkan. Mana mungkin juga hal itu terjadi. Tetapi apa yang aku lihat adalah benar," batin Citra yang tidak bisa menganggap hal itu tidak serius sama sekali.
***********
Malam hari tiba Reya keluar dari kamarnya setelah sudah selesai mandi. Reya di panggil untuk menghadiri makan malam dengan keluarganya.
__ADS_1
Hari ini hari terakhir mereka ada di Bali. Besok akan kembali ke Jakarta dan sebelumnya tadi Reya sudah beres-beres barang-barangnya agar besok tidak terlalu buru-buru kali.
Saat menuruni anak tangga Reya bersamaan dengan Sean yang juga ingin menuruni anak tangga. Keduanya sama-sama menghentikan langkah dan saling melihat yang seolah menyuruh siapa yang duluan turun. Namun tidak lama tiba-tiba Citra datang dan langsung merangkul lengan Sean.
" Ayo kak kita makan malam!" ajak Citra. Sean mengangguk pelan dan pergi bersama Citra di mana Citra yang nempel-nempel dengan Sean dan Reya masih berdiri melihat adik kakak itu yang sudah melewati beberapa anak tangga. Reya menghela napasnya dan langsung menuruni anak tangga menyusul Citra dan Sean.
Mereka tiba di meja makan. Selain ada Argantara, Anggika, Rose dan Karin ternyata ada seorang wanita sekitar berusia 30 tahunan yang tidak di ketahui siapa itu.
" Kalian sudah turun ayo makan!" Ajak Argantara. Sean, Citra dan Reya mengambil kursi masing-masing untuk makan bersama.
" Ayo Bu Regina kamu juga silahkan makan!" ucap Argantara.
" Terima kasih pak," sahut Regina tersenyum. Namun Reya terlihat terkejut mendengar nama itu dan memperhatikan wanita itu.
" Regina!" Lirih Reya yang tiba-tiba mengeluarkan suara membuat semua orang melihat ke arahnya.
" Ada apa Reya. Kamu terlihat terkejut dan iya kenapa kamu tidak menyapa manager hotel kita?" sahut Argantara yang bertanya pada Reya.
" Pak Argantara mungkin Reya tidak mengenal saya. Karena kami memang tidak jadi bertemu. Saya hanya bertemu Citra saja untuk membicarakan masalah pesta kemarin," sahut Regina.
" Jadi kamu manager hotel yang seharusnya bertemu denganku?" tanya Reya. Regina mengangguk dan menjulurkan tangannya.
" Saya Regina semoga lain kali kita bisa saling bicara lagi. Kemarin karena kamu berhalangan jadi tidak apa-apa. Lain kali kita akan bertemu," ucap Regina. Reya terlihat begitu terkejut mendengarnya.
" Manager hotel. Lalu Regina yang kutemui kemarin siapa?" tanya Reya bertanya-tanya di dalam hatinya.
" Gawat. Bagaimana ini. Bagaimana jika Reya mengingat kejadian malam itu. Bagaimana jika Reya bertanya," batin Citra yang ketakutan jika apa yang di lakukannya akan terbongkar.
" Aisss mampus. Citra sih. Bisa berabe kalau akhirnya Reya tau. Regina yang di temuinya itu bukan Regina manager hotel, melainkan Regina teman ku dan Citra," batin Rose semakin keringat dingin yang sudah bergetar dengan penuh ketakutan.
" Reya kamu tidak menyambut uluran tangannya!" sahut Argantara membuat Reya tersentak kaget dan langsung menyambut uluran tangan itu.
__ADS_1
" Aku Reya," sahut Reya.
" Iya saya sudah mengenal kamu," sahut Regina.
" Ya sudah sekarang kita sebaiknya makan malam dan semoga nanti kalau ada apa-apa. Kamu bisa konsultasi masalah bisnis dengan Regina Reya. Karena dia sudah bekerja dengan papa sangat lama bahkan sebelum Sean berada di perusahaan," ucap Argantara. Reya hanya mengangguk saja.
" Siapa yang aku temui malam itu. Ada apa ini sebenarnya. Citra bertemu dengan Regina yang sekarang di depanku dan aku menemui siapa. Kenapa aku merasa ada yang aneh," batin Reya dengan eksperesi wajahnya yang terlihat memikirkan sesuatu.
" Ada apa dengan Reya. Kenapa dia terlihat khawatir. Apa yang di pikirkannya. Kenapa pertemuannya dengan Regina terlihat sangat menegangkan. Padahal kan ini pertama kali dia bertemu Regina. Ada apa sebenarnya," batin Sean yang terus melihat ekspresi Reya.
Namun tatapan Sean pada Reya membuat Anggika memperhatikan hal itu.
" Sean apa mungkin kamu tidak bisa menghilangkan perasaanmu padanya. Kenapa kau menatapnya begitu lain," batin Anggika yang penuh dengan kecemasan.
" Apa yang harus aku katakan pada Tante Anggika mengenai Sean. Aku bingung harus melaporkan apa. Sean juga sudah mengancamku terus," batin Karin yang punya masalah sendiri yang juga penuh dengan kebingungan.
Semuanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Yang mempunyai masalah sendiri.
***********
Reya berada di kamarnya yang duduk di pinggir ranjang. Reya terlihat resah yang terlihat memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya memecahkan isi kepalanya.
" Jadi manager hotel yang aku temui itu bukanlah manager hotel yang sebenarnya dan itu ternyata palsu. Lalu siapa dia dan untuk apa mengakui hal itu. Pantesan saja dia terlihat bingung dan tidak jelas, mengulur waktu dan terkesan seperti tidak tau apa-apa,"
" Lalu kenapa berpura-pura. Apa tujuannya?" Reya kebingungan dengan bertanya-tanya.
Reya kembali mengingat pertemuannya dengan wanita yang mengaku Regina tersebut. Dari caranya bicara dan bahkan saat memberikannya minuman.
" Apa bertemu di Club. Adalah suatu alasan dia untuk berpura-pura. Ini seperti di sengaja. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Jangan-jangan alsan sesungguhnya hanya untuk tujuan supaya aku minum," batin Reya yang dengan cepat menyimpulkan.
" Aku harus menemukan siapa wanita itu. Aku tidak bisa hanya membiarkan masalah itu selesai begitu saja. Apa yang terjadi adalah awal mulanya aku dan Sean melakukan hal itu dan jika tidak terjadi hal itu aku dan Sean tidak akan pernah melakukan hal itu. Aku harus mencari tau siapa wanita itu dan apa tujuannya," batin Reya yang dengan yakin dengan apa yang di pikirkannya.
__ADS_1
Bersambung