
"Tidak akan kubiarkan lagi wanita itu hadir di kehidupan ku. Aku sudah tenang dan aman selama ini. Jadi jangan harap kau bisa kembali ke dunia ku dan juga kak Sean," batin Citra yang mau sampai kapanpun dia sangat membenci Reya mau dan tidak adanya Reya.
"Huhhhhhh, kenapa juga aku harus mengingat-ingat Reya. Untung saja aku tidak keceplosan lagi. Bisa-bisa Barra dan Citra berantem lagi. Mereka padahal baru baikan. Kamu sih Rose cari masalah aja," batin Rose dengan bergerutu sendiri.
"Citra kenapa sih sangat membenci Reya dan aku juga sampai detik ini tidak tau. Sebenarnya Reya itu siapa Citra. Kenapa Reya ada di rumah Citra. Apa itu saudara Citra," batin Barra dengan rasa penasarannya.
Ya dia sangat penasaran. Karena memang tidak tau mengenai Reya. Jika bertanya pada Citra sama saja akan membuat kegaduhan, mereka akan perang dunia ke-3 nantinya.
************
Orang yang di pikirkan Rose sekarang sedang makan bersama Sean. Di mana ke-2nya terlihat santai yang duduk saling berhadapan dengan makanan yang mereka makan yang sudah selesai di masakkan Reya.
"Kamu bisa memasak juga ternyata," ucap Sean sembari menikmati makan itu.
"Tidak juga hanya masakan biasa saja," sahut Reya dengan tersenyum tipis yang juga sedang mengunyah makanan tersebut.
"Ini di katakan masakan biasa. Aku tidak sabar akan memakan masakan yang luar biasa itu seperti apa," ucap Sean membuat Reya tersenyum tipis membuat Sean rasanya sangat bahagia melihat Reya yang tersenyum.
"Hmmmm, oh iya apa aku boleh nanti makan di sini lagi?" tanya Sean.
"Ini Apartemen kamu. Jika aku melarangnya itu sangat tidak mungkin," jawab Reya yang sudah memberi jawaban bahwa Sean boleh datang kapan saja dan makan kapan saja.
"Walau begitu. Aku juga tidak akan mengganggumu setiap hari," sahut Sean. Reya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh iya Sean. Apa tempat ini tidak akan di datangi Tante Anggika atau Citra?"tanya Reya yang tiba-tiba kepikiran.
"Jangan khawatir Reya. Apartemen ini jarang di kunjungi dan kalaupun Citra atau mama datang tiba-tiba. Pasti mengabariku terlebih dahulu. Jadi aku rasa ini tempat yang nyaman untukmu dan apa yang kamu khawatirkan tidak akan terjadi," ucap Sean dengan yakin.
"Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya. Aku hanya tidak ingin mencari masalah. Jika pergi dari Paris membuatku bisa nyaman maka aku akan bertahan. Tetapi jika pergi dari Paris justru semakin membuatku tidak nyaman. Aku memilih untuk kembali saja," ucap Reya.
__ADS_1
"Jangan mengatakan itu Reya. Aku tidak mau kamu harus pergi lagi. Jangan melakukan hal yang tidak aku mau. Aku tidak ingin melihatmu tersiksa," ucap Sean dengan ketakutannya.
Sean memegang tangan Reya yang berada di atas meja membuat Reya melihat ke arahnya.
"Maafkan aku Reya jika aku pernah kasar dan berkata yang tidak-tidak kepadamu. Maafkan jika aku seperti itu kepadamu. Tetapi sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan dan aku mohon padamu untuk tetap berada di sini. Aku akan membuatmu senyaman mungkin berada di sini," ucap Sean dengan tulus yang berbicara kepada Reya.
"Berjanjilah padaku Reya. Jika kamu tidak akan pernah pergi!"ucap Sean dengan menatap dalam-dalam Reya. Reya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sean tersenyum dengan merasa penuh kelegaan.
**********
Citra dan Barra berada di dalam mobil yang mana sudah malam hari mereka baru pulang dan sekarang Barra menyetir dengan fokus ke depan.
"Kamu capek sayang?" tanya Barra menoleh ke arah Citra yang terlihat begitu lelah.
"Lumayan. Tugas kuliah begitu banyak. Walau di kerjakan rame-rame. Tetapi tetap saja tidak selesai juga," jawab Citra dengan memijat bekang lehernya yang terasa pegal.
"Kamu sih terlalu buru-buru sayang, seharusnya kamu santai saja dalam menghadapi mata kuliah," ucap Barra.
"Aku heran dengan kakakmu. Dia selalu menekan mu," ucap Barra sembari mendengus.
"Barra kak Sean tidak pernah menekanku, dia melakukan itu untuk kebaikanku. Lagian dia itu justru sangat memperhatikanku. Jika kak Sean terus mengingatkan masalah kuliahku dan harus ini itu. Semuanya demi kebaikanku. Kalau aku lulus dengan nilai yang terbaik kan aku juga yang untung. Jadi apa yang di lakukan kak Sean tidak merugikaku sama sekali," ucap Citra yang memahami semua arahan dari kakaknya yang bertujuan baik untuknya.
"Tetapi menurutku dia itu terlalu berlebihan,"sahut Barra yang sepertinya tidak menyukai Sean.
"Sudahlah Barra jangan membahas kak Sean. Dia tidak berlebihan sama sekali dan aku tidak mempermasalahkan hal itu," ucap Citra.
Barra hanya menghela napasnya saja yang dia mau bicara apa saja pasti Citra akan membela kakaknya.
Tiba-tiba mobil Barra berhenti di pinggir jalan yang sepi membuat Citra heran.
__ADS_1
"Kok berhenti?" tanya Citra heran.
"Aku ada sesuatu untukmu," ucap Barra tersenyum membuat Citra heran. Barra mengambil sesuatu dari laci di mobilnya dan Citra hanya melihat saja apa yang di lakukan Barra. Ternyata Barra mengambil kotak kecil dan Barra melepas sabuk pengamannya lalu menghadap Citra.
"Apa itu?" tanya Citra penasaran.
Barra pun membuka kotak itu tepat di hadapan Citra yang ternyata adalah gelang yang indah. Hal itu membuat Citra heran.
"Gelang?" tanya Citra heran.
"Untukmu. Aku membelinya sewaktu di luar Negri ini khusus untuk wanita yang aku cintai," ucap Barra membuat Citra tersenyum.
Barra pun langsung mengeluarkan gelang itu dari tempatnya dan langsung memasangkan ke lengan Citra.
"Jangan marah-marah lagi. Aku ingin hubungan kita terus akur dan kita saling mencintai selamanya," ucap Barra dengan menatap dalam-dalam Citra. Citra tersenyum mengangguk dengan kemanisan Barra.
"Kamu suka gelangnya?" tanya Barra.
"Sangat suka ini sangat cantik," ucap Barra dengan tersenyum.
Barra tersenyum dengan memegang pipi Citra sembari mengusap-usapnya dan mendekatkan wajahnya kepada Citra.
"Aku mencintaimu Citra," ucap Barra dengan menatap dalam-dalam mata Citra.
"Aku juga mencintaimu Barra," jawab Citra. Barra langsung menautkan bibirnya pada bibir Citra yang langsung mencium dalam-dalam Citra membuat Citra memejamkan matanya.
Barra semakin memperdalam ciumannya dengan memegang ke-2 tengkuk Citra dengan memberi kenikmatan dalam ciuman yang terlihat menuntut itu.
Citra terlihat pasrah dengan ciuman yang menggebu-gebu Barra dan seperti sangat memburu sampai membuat Citra bersandar di pintu mobil dan Barra semakin memajukan dirinya seperti menindih Citra yang kewalahan menghadapi Barra.
__ADS_1
Ciuman itu berpindah pada leher Citra yang terdengar kecupan dan tangan Barra yang terlihat menurunkan lengan dress Citra membuat Citra yang di penuhi gairah merasa ada yang tidak beres dengan Barra yang semakin berani dan bahkan satu tangannya membelai pahanya yang sudah masuk kedalam dressnya.
Bersambung