Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 95


__ADS_3

Hotel.


Hotel yang di salah satukan tempat acara untuk kampus dan sekalian peresmian Reval sebagai Dosen tetap sudah di siapkan dengan sedemikian rupa salah satu ruangan yang sangat luas yang di penuhi dengan meja-meja bulat dengan kursi-kursi yang satu meja ada 6.


Tempat acara tersendiri begitu luas yang menampung banyak tamu yang pasti dari mahasiswi, dosen dan juga tamu-tamu yang diundang dari luar secara pribadi.


Banyak pelayan-pelayan yang berkeliling yang membawa nampan dengan berisi minuman yang di berikan kepada penghuni ruangan itu. Selain itu banyak juga makanan yang terhidang dengan dengan lezat dari makanan berat sampai masakan ringan.


Acara tersebut sudah berjalan yang di iringi musik DJ sejak tadi dan bahkan sudah ada beberapa mahasiswa yang menaiki lantai ballroom untuk ikut berjoget mengikutiku alunan musik.


Di sisi lain ternyata Barra juga sudah datang yang berdiri do hadapan Regina yang mana sepertinya mereka berbicara dengan serius.


"Regina ingat jangan sampai rencana kita berantakan. Ini kesempatan kita untuk menjebak Citra dan urusanku dan teman-teman ku akan selesai dan kita juga bisa melanjutkan hubungan kita sesuai dengan apa yang kamu mau. Yang mana kamu menginginkan menjadi satu-satunya kekasihku," ucap Barra yang terus mempengaruhi Regina untuk melancarkan niat jahatnya pada Citra.


"Tetapi aku sangat gugup Barra," sahut Regina dengan wajah paniknya.


"Kamu tidak boleh gugup Regina. Kamu harus Rileks, demi hubungan kita dan Citra akan mendapat karma dari apa yang di lakukannya tempo lalu dan ingat dengan seperti ini. Citra akan sama denganmu dan dia tidak akan bisa menghinamu dan dia akan merasa tidak sangat berarti. Jadi kita harus melakukannya untuk membuatnya menderita," ucap Barra yang terus menjelaskan dengan kata-kata lembut pada Regina yang seolah meyakinkan Regina.


"Baiklah kalau begitu. Apa yang akan aku lakukan?" tanya Regina yang masuk kedalam jebakan Barra.


"Aku akan mencoba mendekati Citra. Dia pasti masih marah denganku dan aku coba membujuknya, begitu juga dengan kamu dan setelah rencana kita berhasil. Baru kita menjalankan tugas utama kita dengan kamu memasukkan obat yang aku berikan kepadamu kedalam minuman Citra," jelas Barra.


"Lalu bagaimana dengan Rose. Dia bukannya kama terus bersama Citra. Bagaimana jika dia mencurigai kita?" tanya Regina yang juga khawatir pada Rose. Karena Rose merupakan wanita yang teliti dan penuh dengan pengamatan.


"Aku akan mengurusnya. Jadi jangan khawatir. Kamu hanya perlu tenang dan semua kita lakukan untuk hubungan kita," ucap Barra yang terus meyakinkan Regina. Regina menghela napasnya dengan mengangguk saja.


"Ehemmm!" tiba-tiba terdengar suara deheman dan membuat Barra dan Regina terkejut dan melihat ke arah suara deheman itu yang ternyata adalah Rose.

__ADS_1


"Rose," ucap Barra yang terlihat gugup dan Regina sendiri pasti panik


"Kalian lagi bicara apa sih, kok serius amat kelihatannya?" tanya Rose dengan tatapan mengintimidasi pada dua orang itu.


"Kok pada diam dan gugup gitu?" tanya Rose yang merasa ada yang aneh.


"Siapa juga yang gugup. Aneh kamu Rose. Kita itu lagi membicarakan Citra," sahut Barra.


"Iya benar kita lagi bicarakan Citra," sahut Regina ya sebenarnya Barra dan Regina memang tidak bohong karena mereka memang membicarakan Citra.


"Oh iya memang ada apa dengan Citra?" tanya Rose heran.


"Kami hanya menunggu Citra saja," sahut Barra.


"Oh begitu. Itu Citra!" tunjuk Rose yang tidak sengaja melihat ke pintu masuk dan menampilkan Citra yang sangat cantik dan pasti mencuri perhatian orang-orang di sana.


"Ayo sini!" ajak Rose yang melambaikan tangannya yang melihat Citra bengong. Citra menghela napasnya dan akhirnya mau menghampiri Rose dan Barra dan juga Regina.


"Hay!" sapa Citra dengan wajahnya yang terlihat tidak semangat sama sekali.


"Citra kamu itu cantik sekali!" puji Rose.


"Kamu itu bisa aja," sahut Citra.


"Tetapi memang benar kok. Kamu cantik sekali sayang malam ini," sahut Barra yang mulai membujuk Citra dan terlihat Citra tidak menanggapi sama sekali pujian dari Barra dan itu membuat Barra tampaknya kesal.


"Sombong sekali kau Citra. Kau lihat saja. Malam ini aku akan mendapatkan mu dan aku akan melihat apa kau bisa se ketus ini kepadaku setelah aku menikmati tubuhmu," batin Barra dengan menahan amarahnya pada perlakuan Citra.

__ADS_1


"Hmmm, kita cari minum yuk!" ajak Citra pada Rose.


"Oh ayo, aku juga haus," sahut Rose.


"Sayang kita bicara sebentar ya," ucap Barra dengan lembut yang memegang tangan Barra. Citra hanya diam saja yang memang sangat muak dengan Barra.


"Citra sudahlah tidak apa-apa. Jangan ngambek terus, sana bicara dulu dengan Barra," ucap Rose. Citra melihat kearah Barra dan seperti biasa Barra akan menunjukkan wajah penuh dengan penyesalan yang ingin di kasihani.


"Baiklah hanya sebentar," sahut Citra yang akhirnya mau. Barra mengangguk tersenyum.


"Ayo Regina, kita di sana!" ajak Rose.


"Baiklah!" sahut Regina yang akhirnya mengikuti Rose yang meninggalkan Citra dan Barra yang akan membahas masalah mereka yang sudah berlarut-larut tanpa ada penyelesaian.


"Sayang aku harap kamu tidak salah paham dengan aku dan Regina. Aku benar-benar tidak sengaja bertemu dengannya di lift," jelas Barra yang langsung pada intinya.


"Barra kamu sadar tidak. Kamu belakangan ini sangat aneh. Bukan hanya sekali aku menemukanmu bersama Regina. Aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari ku," ucap Citra.


"Gawat. Jadi Citra selama ini mencurigaiku dan aku tidak menyadari hal itu," batin Barra yang mulai panik.


"Apa yang aku sembunyikan Citra. Tidak ada Citra yang aku sembunyikan dari kamu. Tidak ada sama sekali. Citra aku sama Regina tidak ada apa-apa dan memang kami hanya tidak sengaja bertemu dan lagian kamu juga sangat paham dengan Regina. Dan mana mungkin dia seperti itu Citra," ucap Barra yang mencoba mempengaruhi pikiran Citra agar percaya kembali padanya.


"Hey sayang," Barra memegang pipi Citra dengan menatap mata Citra dalam.


"Kamu sedang marah dengan Regina. Karena permasalahan kalian dengan pak Reval dan kamu merasa sedikit salah dengan Regina kamu mengaitkan dengan hal yang tidak masuk akal. Sayang aku itu mencintai kamu mana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Kamu harus percaya kepadaku. Semua yang aku lakukan hanya demi hubungan kita dan aku tidak pernah menghiyanati mu. Aku sangat mencintaimu Citra," ucap Barra dengan lembut yang terus mempengaruhi Citra.


"Kamu jangan marah lagi ya padaku," ucap Barra. Citra hanya diam. Dia merasa Pria di depannya ini tidak dapat di percaya lagi dan merasa Pria itu menyembunyikan hal yang besar sampai membuat Citra penuh dengan keraguan atas Barra yang memang baginya sudah berubah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2