Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 300


__ADS_3

Citra yang membuatkan kopi untuk Reval menghampiri Reval yang duduk di taman belakang sembari bermain ponsel.


"Sayang!" tegur Citra.


"Hei," sahut Reval yang tersenyum. Citra juga tersenyum dan duduk di samping Reval.


"Ini kopinya," ucap Citra memeberikan pada Reval.


"Makasih ya," sahut Reval mengambilnya dan langsung meneguk kopi buatan istrinya itu.


"Bagaimana pekerjaan kamu seharian ini?" tanya Citra.


"Lancar aja. Tetapi namanya juga memulai bisnis kadi pasti masih ada kesulitan. Tetapi kamu tenang aja. Karena kak Sean sangat baik. Dia tidak pelit ilmu dan bisa di katakan dia banyak membantuku," jawab Reval dengan sedikit penjelasan.


"Alhamdulillah kalau begitu aku benar-benar senang mendengarnya semoga bisnis yang kita mulai dari nol ini berkembang dengan cepat," ucap Citra dengan dosanya.


"Amin sayang, doa istri sangat berpengaruh. Makasih ya kamu sudah doain aku," ucap Reval yang merasa beruntung punya Citra.


"Memang sudah menjadi kewajiban istri untuk mendoakan suaminya," ucap Citra.


"Iya-iya deh," sahut Sean.


"Oh iya sayang kamu sendiri bagaimana hari ini. Tadi aku dengar-dengar kamu ke rumah sakit bersama Reya. Apa kandungan Reya baik-baik aja?" tanya Reval.


"Kak Reya baik-baik aja. Hanya saja dia mengeluh karena bayinya sudah mulai aktif. Kalau aku sih justru sudah tidak sabar dengan kelahiran bayi kak Reya. Rasanya menunggu 3 bulan itu sangat lama," ucap Citra yang malah menjadi orang yang tidak sabaran.


"Kamu itu ada-ada aja sayang. Siapa yang hamil siapa yang tidak sabaran," ucap Reval.


"Ya namanya juga tidak sabaran," sahut Citra.


"Sayang semoga kita juga segera di berikan anak ya," sahut Reval.


"Hmmm, kamu sudah tidak sabar ya, mau jadi orang tua?" goda Citra menatap selidik suaminya.


"Memang kamu tidak ingin jadi orang tua?" tanya Reval.


"Menanti kelahiran anak kak Reya saja aku sudah sangat bahagia. Jadi bagaimana mungkin aku tidak bahagia dengan kelahiran bayiku sendiri nanti. Jadi jelas aku juga tidak sabar," ucap Citra.


"Ya sudah kita doakan saja. Semoga kita secepatnya di berikan kepercayaan," ucap Reval.


"Amin," sahut Citra dengan kencang-kencang aminnya. Karena memang dia sangat bahagia.


"Oh iya sayang tadi saat di supermarket aku dan kak Reya bertemu dengan teman kamu," ucap Citra yang tiba-tiba ingin memberikan informasi.


"Teman! teman siapa?" tanya Reval bingung.


"Namanya Renita. Kata kak Reya kamu sama dia sudah berteman sangat lama. Kalian teman kuliah kalau tidak salah," ucap Citra yang mengingat pertemuan itu.


Reval tampak mengingat-ingat wanita yang bernama Renita tersebut.


"Oh Renita," sahut Reval yang ternyata mengingatnya.


"Iya benar," jawab Citra.


"Bukannya setauku dia ada di Paris," ucap Reval.

__ADS_1


"Ya aku dengar ceritanya saat dia mengobrol dengan kak Reya. Katanya sih dia sedang bertugas di rumah sakit yang ada di Jakarta," ucap Citra yang menyampaikan apa yang di dengarnya saja.


"Jadi dia Dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta?" tanya Reval.


"Kamu tau dia menjadi Dokter?" tanya Citra.


"Ya tau dong Citra. Hanya saja terakhir berkomunikasi dia mengatakan akan di pindahkan. Namun Renita belum mengatakan akan di pindahkan kemana," jawab Reval.


"Komunikasi. Apa selama ini kamu sering komunikasi dengannya?" tanya Citra.


"Tidak sering. Hanya saja aku sama Renita tidak pernah putus komunikasi. Dan bahkan aku sampai lupa memberitahu pernikahan kita," jelas Reval.


"Ohhh, begitu rupanya. Soalnya aku lihat kak Reya dengan Renita seperti baru bertemu dari sekian lama. Tidak ada komunikasi setelah mereka lulus kuliah. Tetapi kamu tidak demikian," ucap Citra.


"Iya sayang, aku dengan Renita masih menjalin komunikasi sama dengan teman-teman yang lain dan mungkin saja Reya tidak seperti itu karena Reya sibuk dan kamu kan tau sendiri semenjak pulang dari Paris dia penuh masalah," ucap Reval.


"Iya juga sih," sahut Citra.


"Tetapi heran juga ya. Kenapa coba dia tidak mengabariku saat tiba di Indonesia," ucap Reval.


"Memang harus dia melapor," sahut Citra dengan wajah datarnya.


"Nggak juga sih sayang," sahut Reval yang tersenyum.


********


Reya berada di dalam kamar yang sedang dandan. Dengan menggunakan dress ping di bawah lututnya dan perutnya yang lucu yang sudah membuncit di mana Reya sekarang sedang memberi lipstik di bibirnya.


"Sayang kamu sudah selesai?" tanya Sean yang memasuki kamar yang mengecek istrinya.


"Sudah sayang," ucap Reya.


"Ya sudah sekarang kita turun ya. Mama, papa , Citra dan Reval sudah menunggu," ucap Sean.


"Lalu bagaimana dengan aku. Apa aku cantik?" tanya Reya yang ingin mendapatkan pujian dulu.


Reval mendekati istrinya itu dengan membelai rambut Reya.


"Kamu sangat cantik sayang," puji Sean.


"Apa aku tidak gemuk?" tanya Reya.


"Namanya hamil. Kalau kurus itu baru jadi pertanyaan," ucap Sean.


"Tetapi kamu tidak masalahkan. Kalau misalnya istri kamu yang satu ini gemuk seperti Hulk," canda Reya yang membuat Sean tertawa-tawa.


"Bagaimana mungkin istriku yang cantik ini seperti Hulk. Sayang kamu jangan aneh-aneh deh. Kamu itu cantik, mau gemuk ataupun tidak," ucap Sean.


"Benar?" tanya Reya. Sean hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Sudah-sudah sekarang kita sebaiknya pergi ya. Yang lain sudah menunggu," ucap Sean. Reya mengangguk dan mereka pun keluar dari kamar.


***********


Reya, Sean, Reval, Citra, Argantara dan Anggika ternyata makan malam di luar. Tidak ada acara apa-apa hanya makan malam seperti biasa saja yang boring jika makan di rumah terus.

__ADS_1


Mereka juga sudah memulai menikmati setiap pesanan yang mereka pesan dan iya pasti sangat banyak.


"Oh iya Reya kapan kamu membuat acara 7 bulan untuk kandungan kamu?" tanya Anggika.


"Masih cari tanggal yang tepat mah," jawab Reya.


"Memang ada kendala apa kak Reya. Kenapa harus cari tanggal. Apa kak Sean terlalu sibuk. Makanya harus cari tanggal?" tanya Citra.


"Nggak juga Citra. Bukannya hari baik itu di lakukan di tanggal yang baik juga. Jadi aku sama kak Sean masih mencari moment yang tepat," jawab Reya.


"Ya semoga saja kalian menemukan momen yang tepat," sahut Argantara.


"Dan kalau ada apa-apa. Bilang aja sama mama, nanti mama akan bantuin kamu dan kalau ada yang tidak tau bisa di tanyakan sama mama," ucap Anggika.


"Iya mah, kalau itu pasti," sahut Reya.


"Citra juga akan bantu dengan sebisa Citra," sahut Citra.


"Tidak mau ketinggalan ya Citra," canda Sean.


"Reya!" tiba-tiba ada yang menegur Reya sampai Reya melihat kebelakang.


"Renita!" sapa Reya yang langsung berdiri ketika melihat temannya yang baru di temuinya itu.


"Kamu ada di sini juga," ucap Renita.


"Iya aku lagi makan sama keluarga aku dan ada Reval juga," jawab Reya. Renita melihat ke arah Reval dan Reval tersenyum pada Renita.


"Kamu apa kabar Renita?" tanya Reval.


"Baik Reval," jawab Renita.


"Oh iya mah, kenalin ini Renita teman aku sama Reval waktu zaman kuliah dulu," ucap Reya.


"Renita, ini suami aku kak Sean dan ini mertua aku," ucap Reya yang memperkenalkan keluarganya.


"Hallo saya Renita senang sekali bisa bertemu dengan keluarga besar Reya," ucap Renita.


"Kami juga senang kok bertemu dengan kamu," sahut Anggika.


"Hmmm kamu di sini sama siapa Renita?" tanya Reya.


"Hanya sendiri saja. Kebetulan ingin makan di luar. Jadi pengen ke Restauran aja," jawab Renita.


"Kalau begitu kamu makan bersama kami saja," sahut Reval menwarkan. Ajakan Reval itu membuat Citra menoleh ke arah Reval.


"Oh tidak usah aku takut tidak enak," ucap Renita.


"Tidak apa-apa Renita dari pada makan sendirian lebih tidak enak. Jadi kami juga akan sangat senang jika kamu makan bersama kami," ucap Anggika dengan ramah.


"Iya Renita, ayo kamu duduk," sahut Reya yang langsung mempersilahkan temannya itu.


"Baiklah kalau begitu," sahut Renita yang akhirnya mengambil tempat duduk di samping Reya yang berhadapan dengan Reval.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2