Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 132.


__ADS_3

"Barra!" lepaskanlah aku! lepaskan aku Barra. Kau benar-benar brengsek Barra! lepaskan aku!" teriak Citra yang berteriak-teriak.


Namun Barra tidak mempedulikannya dan bahkan membungkam bibir Citra dengan ciuman kasar yang membuat Citra tidak mengeluarkan suara lagi dan Barra juga dengan kasar merobek pakaian Citra yang membuat Citra benar-benar pasrah dan hanya berteriak di dalam hatinya saja yang berharap ada yang menolongnya.


Barra seperti orang kesetanan yang melakukan ke biadabnya yang memaksa Citra untuk memenuhi nafsu bejatnya.


Namun tiba-tiba suara dobrakan pintu terdengar kuat yang ternyata 2 teman Barra yang berjaga di luar tadi yang sudah di tendang masuk kedalam dan membuat Barra menghentikannya kegiatannya yang tangguh dan melihat kebelakang. 2 tamannya itu tergelatak dengan memegang perut mereka yang telah di tendang dan membuat Barra terkejut saat melihat siapa yang menendangnya yang pasti Reval.


"Kurang ajar!" Reval mengumpat emosi dengan melihat perlakuan Barra pada Citra dan langsung mengambil kayu dan tanpa ampunan langsung memukul Barra.


Citra merasa lega dengan kehadiran Reval. Air matanya yang keluar begitu banyak saat pasrah akan hidupnya. Namun dia masih selamat karena Reval telah datang dan sekarang sedang menghajar Barra dan bahkan Barra juga melawan meski itu adalah dosennya sendiri. Namun Barra tidak peduli dan sama-sama baku hantam dengan Reval.


Sampai akhirnya Reval bisa memberi pelajaran untuk Barra yang mana Barra terluka parah di bagian wajahnya.


"Brengsek! aku tidak akan memberimu ampunan dengan perbuatanmu yang hina itu," umpat Reval dengan kemarahanya yang berdiri di depan Barra yang tergelatak di aspal.


Reval menoleh kearah Citra yang juga masih terbaring di sana, Barra langsung menghampiri Citra, "kamu tidak apa-apa Citra?" tanya Barra yang membantu Citra untuk duk dan membuka jaketnya dengan menutup kan pada tubuh Citra yang sedikit terbuka.


"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Barra lagi memegang ke-2 pipi Citra Menganti wajah Citra yang banjir dengan air mata dan terlihat berantakan. Citra tidak mampu mengeluarkan 1 patah katapun dan Barra langsung memeluknya dengan erat.


"Jangan khawatir Citra. Aku sekarang ada di sini. Aku berjanji kamu akan baik-baik saja setelah ini. Aku tidak akan membiarkan ada yang menyakitimu, aku berjanji Citra," ucap Barra memeluk erat Citra untuk menenagkan Citra yang pasti masih shock dengan apa yang terjadi padanya sementara di sisi lain terlihat Barra masih terluka parah mengepal tangannya saat melihat Dosen yang barusan saja menghajarnya itu memeluk Citra membuat emosinya menggebu-gebu.

__ADS_1


"Kamu jangan Khawatir ya," ucap Barra yang terus menenagkan Citra. Citra menganggukan kepalanya dengan terdengar suara tangisan yang terisak.


Tidak ingin berlama-lama di tempat itu Barra langsung membawa Citra keluar dari tempat itu dengan menggendong tubuh Citra ala bridal style dan sebelum keluar dari tempat itu. Reval masih saling melihat dengan Reval dengan tatapan yang saling menantang. Namun Reval tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Reval langsung pergi membawa Citra.


"Kurang ajar, rencanaku berantakan dan Dosen sialan itu beraninya memukulku!" umpat Barra dengan penuh emosinya.


"Auhhhhh!" lirihnya saat dia telah kesakitan dengan luka di wajahnya yang terasa begitu perih. Bagaimana tidak perih wajah tampan Barra malah sudah tidak terlihat lagi.


***********


Reval terus berjalan dengan menggendong Citra di dalam hutan dan tidak satupun Barra bertemu dengan mahasiswa yang lainnya yang pasti mencari Citra.


Sementara Citra yang di gendongan Barra terus melihat wajah Barra dengan tangannya yang di kalungkan di leher Reval. Citra sudah tidak menangis lagi dan merasa benar-benar sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Apa lagi karena ada Reval di dekatnya.


"Tidak apa-apa, aku lebih baik menggendongmu," sahut Reval.


"Tapi kak Reval. Apa Citra Tidka berat?" tanya Citra.


"Jangan khawatir tidak sama sekali," jawab Reval. Citra hanya mengangguk dengan wajahnya yang mengeluarkan senyum tipis. Meski masih ketakutan. Namun Citra masih bisa tersenyum yang mungkin karena ada Reval di sisinya yang bisa di rasakannya sangat melindunginya.


Tiba-tiba langka Reval berhenti yang sepertinya ada tetesan jatuh dari langit yang ternyata hujan turun yang datang tiba-tiba.

__ADS_1


"Hujan!" pekik Reval. Citra juga melihat ke atas yang mana tampak langit mendung dan Reval tidak ingin membuang-buang waktu yang langsung berjalan cepat untuk mencari tempat berteduh.


Sampai akhirnya tidak berapa lama Citra dan Reval menemukan tempat berteduh di pondok-pondok kecil untuk berlindung dari derasnya hujan yang datang tiba-tiba. Karena memang untuk kembali ke perkemahan sangat tidak mungkin dan untung saja ada tempat berteduh ya tidak tau juga di hutan kenapa ada seperti itu.


"Kamu tidak basahkan?" tanya Reval yang khawatir pada Citra yang memang sejak tadi berusaha di lindunginya agar Citra tidak basah.


"Tidak kak Reval Citra tidak apa-apa kok," jawab Citra. Citra bersandar pada dingding gubuk tersebut dengan merapikan pakaiannya yang tadi belum sempat di rapikannya dan Reval duduk di sebelahnya dengan menghela napas kedepan dengan pandangannya yang kesakitar hutan yang memang terlihat sangat sepi.


"Kenapa kamu visa terpisah dengan teman 1 kelompok mu?" tanya Barra.


"Aku juga tidak tau mereka tiba-tiba tidak tau di mana. Aku hanya mengikat tali sepatu dan setelah itu aku tidak melihat lagi di mana mereka dan aku ingin menyusul karena aku juga tau jalan. Namun aku mendengar suara teriakan meminta tolong dan dengan cepat tanpa berpikir apa-apa aku mencari suara itu dan aku sangat terkejut saat menemukan Regina yang di ikat di pohon," jelas Citra membuat Reval mendengarnya dengan mengamati dan terkejut dengan penjelasan Citra.


"Kamu melihat Regina di pohon?" tanya Reval.


"Iya kak, aku tidak tau siapa yang mengikatnya dan aku ingin menolongnya namun tiba-tiba kau merasa punggungku sakit yang seperti ada yang memukulku dan aku tidak tau apa lagi yang terjadi setelah itu. Karena aku juga tidak sadarkan diri dan bangun-bangun sudah ada Barra yang berniat kurang ajar kepadaku," jelas Citra yang mengingat perlakuan Barra membuatnya takut dan bahkan kembali mengeluarkan air mata.


"Aku sudah mencurigai dari awal semuanya. Barra memang benar-benar pintar mengalihkan situasi dia benar-benar sangat licik," umpat Reval.


"Maksud kak Reval?" tanya Citra.


"Saat Rose dan Edo kembali ketenda. Di sana juga ada Barra, 2 telannya dan ada Regina yang seolah-olah mereka sengaja untuk ada di sana. Agar tidak ada yang mencurigai mereka," ucap Reval.

__ADS_1


Citra mendengarnya begitu terkejut yang lagi-lagi Regina ikut membantu Barra.


Bersambung.


__ADS_2