Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 105


__ADS_3

Citra dan Reval berjalan berduan di koridor kampus yang melangkah serentak.


"Kenapa memanggil saya pak?" tanya Citra dengan gugup.


"Saya ingin menagih tugas yang saya berikan kepada kamu dan saya rasa seharusnya sudah selesai," jawab Sean.


"Oh itu. Oh sudah kok pak. Sudah selesai, sebentar!" Citra langsung membuka tasnya dan langsung mengambil flashdisk dan memberikan pada Reval.


"Ini pak, saya sudah menyimpannya di sini," ucap Citra.


Reval mengambilnya dari tangan Reval, "semoga hasilnya tidak mengecewakan," ucap Reval.


"Iya semoga saja," sahut Citra yang tiba-tiba merasa canggung bicara dengan Reval.


"Hmmm oh iya Pak, saya ingin mengatakan sesuatu pada bapak," ucap Citra yang begitu gugup bicara.


"Mengatakan apa?" tanya Reval menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Citra. Tatapan Reval begitu dalam membuat jantung Citra tiba-tiba berdebar tidak menentu.


"Hmmm, apa nanti bapak ada kegiatan lagi atau ada kelas?" tanya Citra sembari tangannya menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal sama sekali.


"Kenapa bertanya seperti itu tiba-tiba?" tanya Sean heran dengan pertanyaan Citra.


"Bapak kan sudah menolong saya dan itu adalah hutang bagi saya. Karena jika tidak ada napak. Saya tidak tau bagaimana nasib saya. Jadi saya ingin meneraktir pak Reval sebagai balasannya dan mungkin tidak ada apa-apanya," jelas Citra dengan gugup. Tangannya di bawah sana saling mengatup yang terlihat Citra sangat grogi mengajak Reval.


"Kalau bapak tidak keberatan. Maaf pak kalau saya lancang," ucap Citra yang takut salah bicara.


"Saya masih banyak kelas," sahut Reval.


"Oh ya sudah tidak apa-apa pak. Mungkin lain kali saja," sahut Citra yang sebenarnya sangat kecewa.


"Saya permisi dulu!" ucap Reval pamit Citra mengangguk dengan tersenyum kaku. Namun Reval tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat Citra kembali.


"Jadwal saya malam kosong. Jika kamu benar-benar ingin meneraktir saya. Nanti malam saya jemput kamu," ucap Reval Citra terkejut dan bahkan tidak bernapas mendengarnya dengan senyum Citra yang keluar.


"Jadi bapak mau?" tanya Citra yang masih tidak percaya. Reval hanya mengangguk saja.


"Saya permisi!" Reval pamitan.

__ADS_1


"Makasih pak Reval," sahut Citra berteriak yang sepertinya sangat happy. Reval yang berjalan juga mendengus dengan mengeluarkan senyum tipis yang seakan-akan ada artinya.


"Apa sih Citra, kenapa kau sebahagia itu," ucap Citra tiba-tiba yang merasa dirinya sangat aneh yang begitu bahagianya.


************


Malam hari Citra keluar dari kamarnya dengan memakai dress pink dengan lengan yang turun yang berada di bahunya dan rambutnya di gerai yang bagian bawahnya di berinya keriting yang terlihat Citra sangat cantik.


"Mau kemana kamu Citra?" tanya Sean yang juga keluar dari kamar dan heran melihat adiknya itu.


Citra tersenyum dan langsung memeluk Sean dengan erat membuat Sean mengkerutkan dahinya, "apa Citra cantik?" tanya Citra melonggarkan pelukannya dan mengangkat kepalanya melihat kakaknya.


"Iya kamu cantik," jawab Sean dengan menaikkan alisnya, "dan kenapa berpenampilan seperti ini. Mau ketemu Barra!" tebak Sean.


"Issss bukan. Citra sudah putus dengannya," jawab Citra.


"Oh iya," sahut Sean yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Citra.


"Iya tepat sekali. Citra sudah membuangnya ke tempat sampah. Jadi dia sudah tidak ada di hidup Citra lagi. Jadi kakak jangan menyebut namanya lagi," ucap Citra yang sekarang benar-benar move on dan Sean mendengarnya tersenyum. Karena itu yang di inginkannya. Adiknya itu sadar diri dan tau apa yang benar.


"Maafkan Citra kak. Karena Citra tidak pernah mendengarkan ala yang kakak katakan. Tetapi sekarang Citra sudah sadar dan tidak akan pernah dekat dengan Barra lagi maupun Regina," ucap Citra yang tersenyum lebar.


"Jadi sekarang ini kamu mau kemana?" tanya Sean.


"Mau makan malam. Ya sudah Citra pergi dulu. Bye," sahut Citra buru-buru yang tidak mau Sean banyak tanya lagi. Sean hanya geleng-geleng melihat kelakuan Citra. Namun Sean sangat lega dengan Citra yang benar-benar sudah mengakhiri hubungannya dengan Barra.


"Aku juga harus pergi. Reya sudah menungguku," batin Sean dengan tersenyum.


*********


Citra keluar dari rumah dan Reval sudah datang yang benar-benar menjemputnya yang berdiri di samping mobilnya. Begitu Citra keluar. Penampilan Citra mencuri perhatian Reval yang terus melihat Citra dan Citra kembali begitu gugup. Apa lagi di tatap seperti itu membuat Citra ingin berhentilah bernapas.


"Pak Reval maaf menunggu!" ucap Citra gugup yang berdiri di depan Reval.


"Tidak apa-apa. Masuklah!" ucap Reval membukakan pintu mobil untuk Citra. Hal itu sangat manis.


"Ehem!" suara deheman membuat Citra tidak jadi masuk dan tiba-tiba panik dengan menelan salavinanya. Citra melihat ke arah suara orang berdehem itu dan apa yang di pikirkannya kenyataan dia adalah Sean.

__ADS_1


"Aduh bagaimana ini. Kak Sean lagi. Bagaimana kalau dia bicara yang akan menyinggung pak Reval. Aduh bisa berabe ini," batin Citra yang takut. Karena memang Reval begitu sensitif dengan Citra yang bersama Pria. Citra jadi mengingat masalah Sean dan Barra.


"Kak Sean," lirih Citra gugup. Sean langsung melihat ke arah Reval, menatap dengan mengintimidasi.


"Ini Dosen Citra," sahut Citra yang mengenalkan.


"Saya Reval," ucap Reval dengan ramah mengulurkan tangannya dan Citra sudah dek-dekan dengan Sean yang pasti cuek.


"Sean, kakaknya Citra," sahut Sean menerima ukuran tangan itu dan itu justru membuat Citra terkejut.


"Ya sudah Citra kamu hati-hati ya. Jangan pulang malam-malam," ucap Sean yang tampak ramah dan bahkan menepuk bahu Reval seolah menitipkan Citra pada Reval.


Sean juga langsung pergi menuju mobilnya dan Citra malah kaget dan bengong dengan apa yang di katakan Sean.


"Kak Sean tidak marah," batin Citra yang tidak percaya dengan Sean bisa ramah pada Reval. Sangat di luar dugaan Citra.


"Citra!" tegur Reval yang melihat Citra melamun.


"Iya pak," sahut Citra.


"Ayo masuk!" ajak Reval.


"Oh iya baik pak," sahut Citra tersenyum dengan gugup dan langsung memasuki mobil.


Citra dan Reval sudah berada di dalam mobil dan terlihat tidak ada obrolan di antar mereka berdua.


"Kita makan di mana," ucap Citra dan Reval secara bersama dan keduanya menjadi canggung yang bisa-bisanya bicara dengan berdua.


"Kamu mau makan di mana memangnya?" tanya Reval.


"Kalau bapak mau di mana?" Citra kembali bertanya.


"Kamu yang meneraktir. Jadi saya ikut kamu," sahut Reval.


"Tetapi bapak saja yang menentukannya," sahut Citra gugup.


"Baiklah kalau begitu," sahut Reval. Citra mengangguk dengan tersenyum.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2