Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 238


__ADS_3

Reval dan Sean yang berada di dalam mobil yang mana Sean yang menyetir dan Reval berada di sampingnya. Mereka terlihat menyetir dengan buru-buru.


"Ayo Sean lebih kencang lagi. Kita harus cepat sampai Bandara," desak Reval.


"Iya aku tau, aku juga sudah menyetir begitu kencang," sahut Sean yang sudah melajukan mobilnya dengan kencang dan bahkan sudah menyalip banyak mobil agar bisa sampai tepat waktu.


"Apa polisi masih ada di sana?" tanya Sean.


"Iya polisi masih ada di sana dan bahkan ada yang melihat Tante Erina ada di sana," jawab Reval.


"Semoga saja polisi secepatnya menemukan dan dia tidak bisa kabur sama sekali," ucap Reval dengan doanya.


"Aku juga sangat berharap seperti itu, kita doakan saja yang terbaik," sahut Reval yang terus melihat kedepan dan Sean harus lebih fokus untuk menyetir agar cepat sampai Bandara dan bisa membantu polisi untuk menemukan Erina.


Tidak lama akhirnya mereka sampai bandara dan ke-2nya sama-sama buru-buru membuka sabuk pengaman dan tanpa ada basa-basi di antara keduanya langsung buru-buru keluar dari mobil dan memasuki Bandara.


Erina yang sudah menyamar dan bahkan tidak membawa kopernya yang ingin keluar Bandara tiba-tiba melihat Reval dan Sean yang memasuki Bandara dan membuat Erina langsung bersembunyi. Erina menyamar menjadi wanitanya muslimah yang menutup auratnya dengan memakai pakaian syarii dengan memakai cadar. Namun walau sudah menyamar dengan sempurna Erina masih saja takut ketahuan dan lebih baik bersembunyi dari pada nanti dia benar-benar akan ketahuan Reval dan Sean.


"Ayo kesana!" tunjuk Sean. Reval mengangguk dan mereka langsung berlari mengarah kiri. Dan Erina yang bersembunyi di bagian kanan yang berada di balik Villar.


"Sial, ternyata Reval ikut-ikutan Sean untuk mencariku. Dia jelas-jelas tau jika aku ibu kandungnya. Bukannya melindungiku malah membantu Sean. Aku tidak akan membiarkan kalian semua menangkapku hal itu tidak akan terjadi," batin Erina dengan tangannya yang terkepal.


"Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini," batin Erina yang langsung buru-buru bertindak dengan keluar dari bandara dan begitu melihat ada Taxi kosong Erina langsung menaikinya. Baru saja Erina pergi dengan Taxi itu tiba-tiba Reval dan Sean keluar dari Bandara.


"Ada apa Sean?" tanya Reval yang ternyata mengejar Sean yang keluar dari bandara.


"Aku seperti melihatnya!" ucap Sean dengan kepalanya yang berkeliling mencari di setiap arah.


"Maksud kamu Tante Erina?" tanya Reval.

__ADS_1


"Iya aku melihatnya," jawab Sean. Reval pun jadi ikut-ikutan melihat di sekitarnya di luar Bandara. Bagaimana mau melihatnya Erina sudah pergi menaiki Taxi dan tidak ada yang tau kemana dia.


"Tidak mungkin dia keluar Sean. Bukannya polisi sudah menyebar di luar dan bahkan sudah mengarah satpam untuk memeriksa siapa yang keluar dan sangat mustahil jika dia sudah keluar dari Bandara," ucap Reval yang berkacak pinggang yang tetap melihat di sekitarnya.


"Iya kamu benar juga, aku pasti hanya salah lihat saja. Ya sudah kita cari kedalam lagi," ajak Sean. Reval mengangguk dan mereka memutuskan untuk masuk kembali ke dalam Bandara untuk mencari Erina.


Sangat tidak mungkin di temukan karena Erina sudah pergi menaiki Taxi dan pasti akan bersembunyi di tempat yang aman lagi.


***********


Reval dan Sean kembali kerumah sakit dengan wajah mereka yang lesu dan bahkan tidak bersemangat sama sekali yang terlihat penuh beban.


"Itu kak Sean!" sahut Reya yang melihat suaminya. Citra dan Anggika yang tadinya duduk langsung berdiri dan mereka ber-3 menghampiri Sean dan Reval.


"Kak bagaimana apa mama sudah ditemukan?" tanya Reya dengan panik.


"Iya kak bagaimana apa dia sudah di masukkan kedalam penjara?" tanya Citra yang juga sangat penasaran.


"Dia memang akan melakukan penerbangan ke Paris. Polisi menemukan kopernya di kamar mandi, namun ponsel, paspor dan barang-barang penting lainnya di bawa pergi dan lagi-lagi di berhasil meloloskan diri tanpa ada yang tau," kelas Reval.


"Erina wanita yang sangat licik dan juga pintar. Jelas dia sangat mudah untuk kabur," sahut Anggika.


"Lalu bagaimana selanjutnya kak?" tanya Citra.


"Polisi masih tetap melakukan pencarian. Dan kita berdoa saja semoga polisi bisa menemukannya secepatnya dan Tante Erina bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya," sahut Sean yang pasti apa-apa hanya bisa berdoa saja yang terbaik.


"Ya sudah kalau begitu. Kalian berdua pasti lelah, ayo kita makan dulu," ajak Anggika yang tau bagaimana Sean dan Reval yang sudah berusaha begitu banyak.


Mereka mengangguk dan melangkah mengikuti Anggika. Namun tiba-tiba Citra menghentikan langkahnya dengan memegang kepalanya yang tiba-tiba saja Citra merasa sakit di bagian kepalanya dan pandangannya juga buram.

__ADS_1


"Citra," sahut Reval yang menyadari perubahan Citra dan berlari mendekat Citra dengan memegang bahu Citra.


"Ya ampun Citra," sahut Reya yang akhirnya semuanya tau kalau Citra tidak baik-baik saja dan menghampiri Citra yang di rangkul Reval.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reval yang sangat khawatir pada Citra. Citra menggelengkan kepalanya yang jelas dia sangat tidak baik-baik aja sampai wajahnya pucat seperti itu.


"Bagaimana mungkin kamu tidak apa-apa Citra. Kamu sangat pucat. Apa kamu sakit?" tanya Anggika.


"Tidak mah, Citra hanya pusing saja," sahut Citra dengan suara lemasnya.


"Ya sudah bawa Citra kedalam saja," sahut Reya yang ikut khawatir.


Reval langsung bertindak dengan menggendong Citra ala bridal style yang membuat Citra kaget dengan hal spontan yang di lakukan Reval.


"Reval turunkan aku! apa yang kamu lakukan?" ucap Citra yang merasa tidak suka.


"Kamu harus istirahat," tegas Reval yang membawa Citra pergi dan yang lain tidak ada yang melarang Reval yang menggendong Citra. Yang mana Reya dan Sean pun mengikuti Citra dan Reval yang mungkin Reval membawa Citra untuk menemui Dokter. Karena tau kondisi Citra tidak baik-baik aja.


Anggika masih berdiri di tempatnya dengan pemikiran Anggika yang tidak bisa di tebak sama sekali.


"Aku tau kalian saling mencintai. Namun ada jarak yang membuat kalian harus terpisah dan ini yang terjadi di antara kalian berdua. Mama minta maaf Citra belum bisa menceritai kan semuanya. Tetapi mama yakin kamu akan kuat dan akan bersabar untuk menghadapi semua ini," batin Anggika dengan menghela napasnya dan melangkahkan kakinya mengikuti Citra dan yang lainnya.


Reval membaringkan Citra di salah satu tempat tidur yang ada diruang perawatan untuk di periksa oleh Dokter.


"Apa yang kamu lakukan Reval. Kamu tidak seharusnya melakukan ini kepadaku," ucap Citra dengan kesal.


"Sudahlah Citra, kamu itu jangan komplain terus, sekarang aku akan panggil Dokter. Biarkan Dokter yang memeriksa kamu," tegas Reval.


"Tidak perlu aku tidak apa-apa," sahut Citra menolak.

__ADS_1


"Jangan keras kepala," tegas Reval yang meninggalkan Citra untuk memanggil Dokter dan Citra tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut saja.


Bersambung


__ADS_2