
"Jangan gila Reval dengan semua perkataan kamu. Itu sangat tidak mungkin," sahut Citra.
"Apa yang tidak mungkin. Kita berdua saling mencintai bukan. Jadi apa yang tidak mungkin," sahut Reval.
"Tapi kita adik kakak. Kamu anak dari wanita yang menghancurkan keluarga kami. Kamu anak wanita itu dan juga anak papa," tegas Citra yang menegaskan status mereka berdua yang mana mereka berdua adalah adik kakak.
"Wanita itu bukan ibuku. Aku tidak akan menganggap wanita iblis itu adalah ibuku dan Om Argantara bukan ayahku," tegas Reval yang membantah semua status asal-usulnya.
"Mau kamu membantah atau melakukan ini dan itu. Tidak ada gunanya Reval semuanya telah di tetapkan dan itu kenyataan. Jika mereka adalah orang tuamu," tegas Citra.
"Aku tidak menginginkan mereka sebagai orang tuaku dan aku tidak akan pernah mengakui hal itu. Aku mencintaimu Citra dan kamu sedang mengandung anakku," tegas Sean dengan penuh penekanan dan keyakinan.
"Cukup!" bentak Citra dengan suaranya yang keras, "jangan bicara lagi dan jangan membawa-bawa anak ini. Kita adik kakak dan itu tidak akan mengubah apa-apa. Sebaiknya kamu pergi dari sini," usir Citra yang tidak ingin bicara lama-lama pada Citra.
"Tapi Citra!" sahut Reval. Citra tidak peduli dengan Reval dan memilih untuk masuk. Namun saat melewati Reval. Reval menahan tangannya membuat posisi berdiri mereka bersebelahan dengan arah yang berlawanan.
"Katakan kepadaku. Jika kamu tidak mencintaiku. Jika kamu mengatakannya . Maka mungkin aku akan pergi," ucap Reval yang membuat Citra terdiam. Seolah tidak ada jawaban yang di keluarkannya.
"Citra jawab pertanyaan ku apa kau tidak mencintaiku?" tanya Reval lagi.
"Kita adik kakak Reval," ucap Citra.
__ADS_1
"Aku tidak menyalakan hal itu yang aku tanya apa kau mencintaiku apa tidak?" tanya Reval yang sangat ingin jawaban dari Citra. Walau dia tau jawaban Citra pasti mencintainya. Tetapi tetap dia sangat mencintai Reval.
"Jawab aku Citra!" ucap Reval lagi yang benar-benar sangat menunggu jawaban Citra.
"Aku harus masuk Reval. Aku sudah janji dengan kak Sean hanya sebentar saja. Jadi aku harus masuk!" ucap Citra yang memilih untuk melepas tangannya dari Reval dan memilih untuk masuk dari pada harus menjawab pertanyaan dari Reval.
"Kamu tidak menjawab pertanyaan ku yang artinya kamu tidak mencintaiku," teriak Reval yang membuat langkah Citra terhenti mendengar kata-kata Reval.
"Aku sangat mencintaimu Citra dan ini akan kujadikan sebagai balasan di mana aku tidak bisa mendapat kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Ini akan menjadi balasan dengan aku yang tidak mendapat kesempatan apa-apa dari mu," ucap Reval dengan suaranya yang lemah yang terlihat putus asa.
"Sangat hancur Citra. Jika tau aku anak dari wanita yang tidak punya hati dan dengan sengaja membiarkan ku hidup dalam dendam dan mengahancurkan kamu. Bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan itu Citra. Jika kita adalah adik kakak. Aku anak yang lahir dari wanita jahat itu. Apa aku harus menerimanya Citra," ucap Reval.
"Citra kamu wanita yang sangat baik yang hadir di dalam hidupku dengan memberikan banyak warna kepadaku. Kamu wanita yang sangat hebat yang sampai detik ini bertahan. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf dengan semua kejahatan yang aku lakukan. Aku ingin menebusnya. Namun tidak ada kesempatan dan maka tidak apa-apa. Jika tidak ada kesempatan. Aku akan menebus sendiri dengan tidak membuatmu pernah melihatku lagi," ucap Reval.
"Aku sangat mencintaimu dan bagiku kamu bukan adikku. Kamu adalah muridku yang berhasil membuatku jatuh cinta," ucap Reval tersenyum lirih.
Air mata Citra menetes kembali mendengar kata-kata Reval. Sepenjang Reval bicara dia hanya diam saja. Citra membayangkan bagaimana sedikit keindahan yang di alaminya bersamaan Reval. Citra penuh dengan kebingungan dengan status dia dan Reval. Apakah ada ujung jika mereka melawan takdir dengan menutup mata kalau mereka bukan adik kakak.
Entahlah pemikiran itu membuat Citra menagis terisak-isak dengan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya. Dan suara Reval sudah tidak terdengar lagi yang ternyata Reval pun harus menyerah dan pergi dengan langkah yang putus asa.
Reya dan Sean yang berada di teras kamar di lantai atas. Melihat Citra dan Reval yang seperti itu mengingatkan pada kejadian yang mereka alami. Tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya, bagaimana posisi yang di hadapi Citra dan Reval yang sama dengan Sean dan Reya.
__ADS_1
Tangan pasangan suami istri itu saling bergenggaman dengan erat. Dengan mata mereka berkaca-kaca dan mereka berpelukan yang sama-sama saling menguatkan yang sama-sama tau apa yang di rasakan Citra dan Reval.
Namun Citra dalam tangisnya melihat kebelakang dan tidak ada sosok Reval lagi.
"Kak Reval!" teriak Citra yang langsung mengejar Reval dan membuat Sean di atas sana terkejut dan ingin pergi menyusul Citra. Namun Reya menahannya dengan Reya menggelengkan kepalanya.
"Jika sudah cinta akan sangat sulit dan kita tau rasanya. Jangan menghalangi. Jika mereka berdua sama-sama ingin melawan takdir," ucap Reya dengan lembut yang berusaha untuk menenagkan suaminya.
"Tapi Reya!" ucap Sean yang tampak ragu dengan keputusan Reya.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan," ucap Reya dengan memeluk erat suaminya dan Sean pun tampaknya luluh dan tidak bisa menghentikan Citra. Apa mungkin Sean harus membiarkan adiknya memilih jalannya sendiri dan iya harus di biarkan nya dan Citra sudah dewasa dan tau mana yang terbaik untuknya.
Hujan deras datang tiba-tiba apa di waktu yang salah atau justru di waktu yang tepat. Namu mau hujan deras petir menyambar tidak mengubah keputasan Citra untuk mengejar Reval yang sudah kau di sana.
"Kak Reval!" teriak Citra yang berdiri di pinggir jalan dengan kendaraan yang melintas begitu banyak di jalan raya. Reval yang sudah di sebrang sana mendengar suara teriakan Citra membalikkan tubuhnya dan melihat Citra yang berlari sembarangan menyebrang jalan tanpa memperdulikan kendaraan yang sejak tadi membunyikan klaksonnya yang hampir berkali-kali ingin menabrak Citra.
"Citra!" Reval langsung bertindak dengan berlari menuju kearah Citra dengan Reval yang juga menyebrang menahan mobil yang melaju kencang dan tepat di tengah-tengah jalan raya mereka yang sudah saling berdekatan dan berhadapan langsung berpelukan dengan erat.
"Aku mencintaimu," ucap Citra dengan napasnya yang terengah-engah di dalam pelukan Reval yang akhirnya menjawab pertanyaan Reval.
Bersambung
__ADS_1