
Reya dan Sean berada di dalam kamar. Mereka sudah sah menjadi suami istri dan sudah bisa tinggal satu kamar. Reya tertidur lelap di pelukan Sean sembari Sean mengusap-usap lembut pucuk kepala Reya.
Namun ada apa dengan Sean yang malah tidak tertidur dan bahkan wajah nya terlihat mengkhawatirkan sesuatu yang membuatnya gelisah. Reya yabg tertidur bisa merasa kegelisahan itu sehingga membuat Reya membuka matanya kembali.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Reya dengan suara seraknya.
"Aku belum mengantuk, kamu tidurlah," jawab Sean.
"Tapi aku merasa kamu memikirkan sesuatu," ucap Reya yang bisa melihat dari wajah Sean.
"Perasaan ku tidak enak Reya. Aku tiba-tiba memikirkan Citra, aku takut terjadi sesuatu padanya," ucap Sean jujur.
Perasaan seorang kakak akan sangat kental pada adiknya. Adiknya memang tidak baik-baik saja, selain di kurung Anggika ternyata adiknya juga dalam masalah besar yang mana Citra sudah menyerahkan kesuciannya pada pria yang di cintainya dan selama ini Sean berusaha mengingatkan Citra namun terjadi di luar kendali Sean.
"Bagaimana kalau besok pagi kita menelponnya, menayakan kabarnya," ucap Reya mengambil ide. Dia tau Sean sangat menyayangi Citra dan pasti sangat khawatir pada Citra.
"Baiklah," sahut Sean.
"Kalau begitu jangan memikirkan apa-apa lagi. Citra pasti baik-baik saja," ucap Reya berpikiran positif.
"Aku juga ingin tidak memikirkan Citra Reya. Namun ada satu yang tidak di miliki Citra dari kamu," ucap Sean.
"Maksud kamu?" tanya Reya.
"Citra kelihatan wanita yang kuat. Namun dia sangat rapuh dan dia tidak sekuat kamu Reya dan aku khawatir jika dia dalam masalah besar dan tidak bisa menghadapinya," ucap Sean yang menyadari kelemahan sang asik yang membuatnya semakin khawatir karena tidak bisa mengawasi Citra lagi.
"Tapi aku yakin setiap masalah yang di hadapi Citra pasti akan bisa di selesaikan. Kamu jangan takut dia akan menjadi sangat kuat dan bukannya kita hanya di sini sementara saja. Kita juga akan kembali ke Jakarta, kembali menemui Citra dan kamu tetap bisa bersama dengan Citra," ucap Reya yang sejak tadi berusaha untuk memberikan Sean ketenangan.
"Iya kamu benar, alangkah baiknya aku berpikir positif saja. Aku yakin Citra orang yang pintar dan kuat," ucap Sean. Reya mengangguk-angguk dan memeluk Sean lebih erat lagi.
"Iya kamu harus percaya jika Citra baik-baik saja," ucap Reya.
__ADS_1
"Oh iya Reya menurut kamu bagaimana Reval?" tanya Sean tiba-tiba.
"Kenapa menanyakannya Reval?" tanya Reya heran.
"Aku hanya ingin tau saja pendapat kamu bagaimana dia?" tanya Sean.
"Aku berteman dengannya cukup lama dan dia juga orang yang baik, yang humbel dan sangat bertanggung jawab," jawab Reya apa adanya. Sean diam yang tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Ada apa Sean. Apa kamu meragukan hubungan Citra dan juga Reval?" tanya Reya.
"Aku juga tidak tau hubungan mereka sejauh apa. Tetapi saat pertama kali aku melihat Reval dan melihat Citra sangat terlihat Citra begitu bahagia dan berbeda saat dia bersama Barra. Sampai aku yang biasanya sangat sensitif pada Citra. Tetapi ketika ada Reval aku terlihat lempang saja," ucap Sean.
"Itu artinya kamu menyukai Reval, karena memang dia sangat baik dan aku juga yakin Citra dan Reval pasti punya hubungan special," ucap Reya.
"Aku juga kepikiran seperti itu. Tetapi aku hanya takut jika aku yang terlihat tenang dan tidak tegas lada Citra masalah dengan Reval membuat aku takut salah," ucap Sean dengan wajahnya yang cemas.
"Jangan berlebihan Sean, tidak akan ada apa-apa. Reval sangat baik, percayalah dia akan menjaga Citra," ucap Reya dengan yakin.
"Kalau begitu jangan memikirkan apa-apa lagi ayo istirahat," ajak Reya. Sean menganggukkan kepalanya.
"Maaf Reya aku sudah membuatmu jadi terbangun," ucap Sean.
"Tidak apa-apa yang penting sekarang kita tidur," ucap Reya. Sean mengangguk dan mulai memejamkan matanya, dengan perkataan Reya sedikit memberinya ketenangan yang harus mempercayai sang asik. Jika sang asik pasti baik-baik saja. Walau tidak sebenarnya.
"Semoga kamu baik-baik aja Citra, kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu dan akan selalu melindungi kamu," batin Sean.
************
Mentari pagi kembali tiba di mana Citra yang masih berada di atas kamar dan masih tertidur di atas ranjang membuka matanya perlahan ketikan sinar matahari menusuk matanya yang ternyata Reval sedang membuka gorden jendela.
Dengan perlahan mata Citra terbuka dan merasa tubuhnya pegal-pegal, mungkin karena kegiatan tadi malam. Citra merasa sakit di area sensitifnya dan mencoba untuk duduk dengan memegang selimut agar tidak melorot.
__ADS_1
Waja Citra melihat di sekitarnya dan juga melihat tubuh polosnya di dalam selimut. Ya Citra menyadari apa yang terjadi tadi malam dan tidak tau dia menyesal atau tidak melakukannya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Reval yang menghampiri Citra dan duduk di samping Citra. Citra hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu mandilah, lalu kita sarapan," ucap Reval dengan memegang pipi Citra. Dan Reval tidak banyak bicara yang ingin berdiri. Namun Citra menahan Reval.
"Apa kak Reval mencintai ku?" tanya Citra tiba-tiba.
Tidak tau kenapa Citra harus menanyakan hal itu. Setelah dia memberikan kehormatannya pada Reval dia merasa ada sesuatu dan tiba-tiba ragu dengan perasaan Reval dan bagaimana tidak ragu karena sekarang Reval masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Citra.
"Kak Reval!" tegur Citra.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Reval.
"Lalu kenapa tidak menjawabnya?" tanya Citra.
"Apa kamu bertanya seperti itu. Karena menyesal dengan apa yang terjadi tadi malam?" tanya Reval. Citra terdiam apa harus menjawab menyesal atau tidak.
"Kamu meragukanku Citra?" tanya Reval.
"Bukan begitu, tetapi tadi malam kak Reval mengatakan sesuatu yang mengganjal di pikiran Citra," ucap Citra mengingat kata-kata Reval.
"Sudahlah Citra, kita jangan membahas masalah itu. Sekarang yang terpenting kamu dan aku ada di sini. Ayo cepat kamu harus mandi," ucap Reval yang sengaja mengalihkan pembicaraan. Citra pun yang tidak mau pikirannya negatif akhirnya mencoba untuk turun dari tempat tidur.
"Auhhhhj!" lirih Citra saat merasakan sakit di area sensitifnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reval. Citra geleng-geleng yang padahal dia sangat sulit untuk turun dari ranjang. Namun Reval langsung bertindak dengan menggendongmu Citra ala bridal style menuju kamar mandi dan Citra tidak menolak sama sekali dengan mengalungkan tangannya ke leher Reval dan terus melihat wajah Reval yabg terlihat sangat dingin.
Ketika memasuki kamar mandi Reval memasukkan Citra kedalam bathub.
"Kamu mandilah!" ucap Reval. Citra mengangguk dan Reval langsung keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung