
Mentari pagi kembali tiba. Hujan deras tadi malam akhirnya berhenti dan meninggalkan tetesan yang jatuh dari genteng. Ternyata sejak tadi malam Reval dan Citra tidak pulang dan mereka tetap berada di gubuk itu yang sekarang bersandar pada dinding yang sama-sama terduduk dengan sama-sama tertidur.
Yang mana Reval merangkul bahu Citra dan Citra yang sangat lelap tertidur di dada bidang Reval. Sampai sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela tidak membangunkan mereka berdua yang tertidur lelap seperti layaknya pasangan kekasih yang sangat dekat dan begitu sangat sweet.
Dratt-dratt-Dratttt.
Ponsel Reval berdering yang membuat Reval mengerjakan matanya dengan perlahan. Reval memegang pelepisnya yang terasa berat. Lalu setelah itu Reval langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya.
"Hallo!" sapa Reval pada panggilan itu.
"Jadi mobilnya sudah selesai?" tanya Reval.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih," ucap Reval yang langsung menutup panggilan itu. Reval menghela napasnya dan melihat ke arah Citra yang masih berada di pelukannya yang tertidur dengan lelap yang membuat Reval tersenyum tipis.
Tidak tau kenapa bisa mereka sedekat itu. Jika di tanya aneh atau tidak. Ya pasti sangat aneh. Tetapi seperti itu lah.
"Citra!" lirih Reval dengan lembut membangunkan Citra dan Citra masih betah untuk tertidur.
"Citra!" Reval kembali membangunkan Citra. Membuat mata Citra pertama-tama mengkerut dan sampai membuka matanya perlahan dan menyadari jika wajahnya berada di dada bidang seseorang yang tampaknya Citra sudah tau siapa itu dan membuat Citra kaget dan langsung dengan cepat melepas dirinya.
"Kak Reval maaf," ucap Citra yang canggung dan salah tingkah dengan apa yang di lakukannya.
"Tidak apa-apa," jawab Reval tersenyum.
Citra juga ikutan tersenyum dan semakin malu di depan Reval. Citra beberapa kali membuang napasnya perlahan kedepan dan mengusap wajahnya yang mana Citra masih mengumpulkan nyawanya karena memang masih sangat mengantuk.
"Tidak terasa sudah pagi saja," ucap Citra dengan kepalanya yang berkeliling melihat sudah begitu terang.
"Iya kita ber-2 ketiduran dan tidak tau jam berapa hujan selesai," ucap Sean.
"Mungkin karena dingin. Jadi sangat asyik untuk tertidur," ucap Citra.
"Bisa jadi," sahut Reval dengan tersenyum.
"Maaf ya kak Reval. Jika Citra merepotkan kakak," ucap Citra yang merasa tidak enak.
"Kamu terus meminta maaf. Padahal kamu tidak ada salah sama sekali," ucap Reval. Citra hanya mengangguk tersenyum.
"Ya sudah sebaiknya kita pergi. Orang tua kamu pasti khawatir pada kamu," ucap Reval.
"Oh iya. Tapi mobilnya bagaimana?" tanya Citra.
__ADS_1
"Jangan Khawatir. Mobilnya sudah baik-baik saja. Kita sekarang pergi saja!" ajak Reval yang mana Reval langsung berdiri terlebih dahulu.
Reval menjulurkan tangannya lada Citra agar Citra menyambutnya. Citra tersenyum dan menyambut uluran tangan itu. Saat berdiri Reval menarik terlalu kuat dan empat Citra menabrak dada bidang Reval dan membuat kedekatan di antara mereka dan mereka kembali saling melihat dengan tatapan yang lagi-lagi penuh dengan arti yang membuat Citra jantung lagi-lagi berdetak tidak menentu.
"Kita pulang!" ucap Reval dengan suara lembutnya.
"Citra menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lebar. Dan akhirnya mereka berdua sama-sama keluar dari gubuk itu yang terlihat sama-sama canggung.
Waktu yang singkat membuat kedekatan di antara mereka tidak bisa di artikan dan ada momen-momen yang mereka lalui di waktu yang singkat itu.
**********
Tidak lama akhirnya Citra sampai kerumahnya yang pasti di antarkan oleh Reval.
"Makasih ya kak, sudah mengantarkan saya," ucap Citra membuka sabuk pengamannya.
"Sama-sama," jawab Reval, "maaf ya Citra saya tidak bisa mampir. Soalnya harus mengajar pagi ini," ucap Reval.
"Tidak apa-apa kak," sahut Citra.
"Kamu sendiri bagaimana. Apa ada kuliah hari ini?" tanya Sean.
"Kebetulan tidak ada kuliah hari ini," jawab Citra.
"Ya sudah saya masuk dulu dan makasih ya kak untuk semua masukannya," ucap Citra.
"Iya. Saya harap kamu bisa bijak menghadapinya," sahut Sean. Citra mengangguk-anggukan kepalanya.
"Citra masuk ya," ucap Citra lagi yang sudah tidak tau untuk keberapa kalinya dia pamitan pada Sean dan Sean juga sudah tidak tau berapa kali dia mengangguk.
"Masuklah Citra!" sahut Sean. Citra mengangguk. Sepertinya Citra memang tidak ingin turun dari mobil itu. Makanya sejak tadi ada saja yang di bicarakannya.
"Kamu belum masuk Citra?" tanya Reval.
"Oh iya kak. Saya masuk. Permisi! hati-hati di jalan!" ucap Citra dengan gugupnya dan Reval hanya mengangguk kembali.
Dengan sangat berat hati Citra turun dari mobil Reval dan Reval hanya geleng-geleng melihat kelakuan Citra. Setelah Citra turun Reval pun langsung melakukan mobilnya dengan kecepatan santai dan Citra tersenyum dengan melambaikan tangannya.
Aura-aura wajah Citra terlihat berseri-seri dengan senyumnya yang lebar yang di pastikan hatinya berbunga-bunga.
"Huhhhh, Citra kenapa kau seperti orang gila," gumam Citra geleng-geleng dengan menyadarkan dirinya dan langsung memasuki rumahnya dengan suasana hatinya yang berbunga-bunga.
__ADS_1
************
"Kamu baru pulang Citra?" tanya Anggika yang menghampiri Citra yang baru masuk rumah.
"Iya mah," jawab Citra.
"Siapa yang mengantar kamu?" tanya Anggika.
"Oh itu dosen Citra," jawab Citra.
"Kamu menginap di mana tadi malam?" tanya Anggika.
Citra kelihatan panik menjawabnya. Karena tidak mungkin mengatakan di tempat gubuk bersama Reval.
"Citra!" tegur Anggika yang melihat Citra bengong.
"Oh di rumah Rose mah. Kan Citra sudah bilang tadi malam," sahut Citra dengan bohong.
"Lalu kenapa dosen kamu yang mengantar?" tanya Anggika.
"Hmmm, itu, anu, oh jadi tidak sengaja saja bertemu dan kebetulan satu arah. Jadi menumpang pada dosen Citra," jawab Citra dengan gugup. Namun berusaha untuk tenang agar sang mama tidak curiga.
"Hmmmm, begitu ternyata," sahut Anggika yang kelihatan percaya-caya saja.
"Iya mah, begitulah," sahut Citra.
"Huffff semoga mama tidak banyak tanya lagi," batin Citra yang sangat gugup.
"Ya sudah sana kamu mandi," ucap Anggika yang melihat anaknya itu tampak sangat kucel.
"Baik mah," sahut Citra tersenyum dan langsung pergi dari hadapan Anggika. Saat menaiki anak tangga Citra berpapasan dengan Sean yang menuruni anak tangga dan mereka berdua saling melihat..
Citra jadi teringat dengan kejadian semalam dan pasti kakaknya itu akan membicarakan masalah itu saat ini. Namun pertanyaannya sekarang apa dia siap. Walau sudah mendapat arahan dari Reval. Namun Citra tetap sangat gugup.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sean dengan lembut.
"Iya kak, Citra baik-baik saja," jawab Citra.
"Mandilah, kita akan bicara setelah ini," ucap Sean dengan lembut.
Citra menganggukan kepalanya dengan membuang napasnya perlahan kedepan. Lalu melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga dan pasti melewati Sean.
__ADS_1
"Semoga Citra bisa mengerti semuanya," batin Sean yang hanya penuh dengan harapan saja.
Bersambung.