Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 142


__ADS_3

Reya yang terduduk di lantai hanya terdiam dengan menangis yang tidak tau harus apa. Dia butuh Sean dan menghadapi Anggika yang penuh amarah tidak bisa dengan seperti itu.


"Kau itu sama dengan ibumu Reya hanya berusaha untuk menghancurkan keluargaku!" teriak Anggika.


"Tidak Tante, saya tidak pernah berniat seperti itu," sahut Reya dengan suara seraknya yang membantah tuduhan Anggika padanya.


"Kau masih berani bicara!" teriak Anggika yang ingin melayangkan tangannya kembali ke pipi Reya.


"Mah!" teriak Citra yang datang tepat waktu yang menghentikan perbuatan sang mama. Citra dan Reval sampai di tempat itu dan kaget melihat Reya seperti itu. Mereka berdua langsung menghampiri Reya yang terduduk di lantai.


"Reya kamu tidak apa-apa?" tanya Reval yang begitu panik dengan Reya. Reya hanya menggelengkan kepalanya yang padahal dia sakit.


"Kamu baik-baik saja kan Reya?" tanya Reval lagi yang begitu khawatir dan membantu Reya berdiri.


"Apa yang mama lakukan?" tanya Citra berdiri di depan Reya.


"Citra. Apa yang sudah di katakannya kepada kamu. Sampai kamu juga ikut-ikutan menyembunyikannya dan membohongi mama?" tanya Anggika yang terlihat masih sangat kecewa dengan Citra.


"Mah, Citra tidak ada bermaksud untuk menyembunyikan Reya. Citra hanya tidak mau ada keributan," sahut Citra memberi alasan.


"Alasan kamu Citra. Mama selama ini melakukan segalanya, menahan sakit hati dan melupakan semuanya. Hanya ingin kamu dan Sean bahagia. Tetapi ternyata semua sia-sia. Kamu, kakak kamu dan juga papa kamu menyembunyikan dia dan ibunya. Apa kamu sudah ingin mempunyai ibu ke-2," ucap Anggika dengan dadanya kembang kempis yang berbicara.


"Mama salah paham mah, aku tidak tau menau masalah itu mah. Aku juga baru tau mah. Kalau Reya ada di Jakarta dan aku juga bingung harus apa mah dan aku hanya capek jika harus ribut mempermasalahkan Reya dan satu lagi mah. Aku tidak menginginkan ibu lain selain mama dan Tante Erina tidak tinggal bersama Reya atau menjalin hubungan kembali dengan papa," jelas Citra berusaha membuat mamanya percaya.


"Cukup citra! cukup! kamu jangan terus membela mereka. Kamu pikir mama datang kemari itu karena pemberitahuan siapa. Itu karena Erina dan kamu masih mengatakan dia tidak tinggal bersama Reya. Itu hal yang tidak masuk akal di mana dia dengan bangganya tanpa rasa berdosa mengumumkan kepada mama. Bahwa kalian semua memihak padanya dan menghiyanati mama," teriak Erina.


"Tapi itu tidak benar mah," sahut Citra masih membantah.


"Apa yang di katakan Citra benar Tante. Jika aku juga tidak tau kalau mama ada di sini dan Citra juga tidak salah apa-apa," sahut Reya.


"Diam kamu Reya!" sentak Anggika. Semakin Reya berbicara. Semakin Anggika marah.

__ADS_1


"Kamu bilang kamu tidak tau apa-apa. Baiklah kami sekarang jelaskan berdampingan dengan ibumu, kamu pamerkan apa saja yang sudah kalian dapatkan selama di belakangku. Aku ingin mendengar kebanggaan kalian sebagai ibu dan anak yang sama-sama tidak punya hati!" teriak Anggika yang menghampiri Reya dan menarik tangan Reya.


"Mah apa yang mama lakukan?" tanya Citra panik.


"Tante cukup!" Reval berusaha untuk melerai Anggika yang menari Reya.


"Diam kamu jangan ikut campur!" bentak Anggika pada Reval.


"Aku akan membawamu ke tempat ibumu dan akan menunjukkan bagaimana kalian berpura-pura tidak tau dan bersandiwara," ucap Anggika menarik paksa Reya.


"Mah hentikan mah! jangan melakukan hal itu mah!" Citra berusaha menepis tangan mamanya.


"Jangan membelanya Citra!" teriak Anggika yang tanpa sadar mendorong Citra sampai dahi Citra terbentur sikut meja.


"Citra!" teriak Reval yang kaget melihat Citra. Reval pun langsung menghampiri Citra dan Anggika tidak peduli lagi yang menarik Reya dengan paksa keluar dari rumah tersebut.


"Citra kamu tidak apa-apa?" tanya Reval dengan khawatirnya pada Citra.


"Tante lepaskan Reya Tante!" ucap Reya berusaha melepaskan diri. Namun Anggika terus menyeretnya paksa sampai akhirnya Anggika yang benar-benar penuh dengan amarah mendorong Reya keluar rumah.


Reya hampir saja jatuh kembali dan mungkin tadi bisa lebih parah. Namun tubuh itu jatuh kepelukan seseorang yang datang dari pintu.


Sean dan Argantara datang tepat waktu dan Sean yang pasti mengkhawatirkan Reya langsung memeluk Reya jatuh kepelukannya.


"Reya!" ucap Sean begitu khawatirnya dengan Reya.


"Apa yang kamu lakukan Anggika?" sentak Argantara.


"Oh jadi ini panitia sesungguhnya yang akhirnya datang juga. Lalu mana wanita yang satu lagi yang kau simpan kembali," ucap Anggika sini saat melihat kedatangan suaminya yang membuat Anggika menahan rasa sakit hati.


"Apa maksudmu Anggika, simpanan apa yang kau bicaraka?" tanya Argantara.

__ADS_1


"Sama-sama suka bersandiwara. Kau memang sungguh hebat mas. Bisa-bisanya kau membawanya kembali kemari dan kau Sean yang malah menjemput wanita itu!" tunjuk Anggika kembali marah.


"Maafkan aku mah, aku punya alasan untuk semua ini," sahut Sean yang masih memeluk Reya yang wajah Reya berlindung di dada bidangnya.


"Anggika. Apa yang terjadi tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku membawa Reya ke Jakarta hanya karena dia tidak mungkin tinggal di Paris bersama Erina dan iya aku juga berusaha untuk mendekatkan anak-anak kita dan hasilnya Citra dan Sean bisa menerimanya dan aku juga berniat untuk memberitahunya kepadamu," jelas Argantara.


"Kau masih berbohong mas. Kau selalu menggunakan Reya hanya ingin bersama wanita itu!" teriak Anggika.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Argantara.


"Kau bukan hanya menyembuyikan Reya tapi juga menyimpan wanita itu dan mempengaruhi anak-anak ku untuk menerima wanita itu juga yang sudah menghancurkan keluarga kita," teriak Anggika.


"Anggika hubungan ku dengan Erina sudah berakhir dan aku tidak tau jika dia juga ada di sini. Kami semua juga ingin memastikan keberadaannya. Aku hanya berurusan dengan Reya. Tanggung jawabku hanya Reya," tegas Argantara.


"Kamu pikir aku percaya dengan apa yang kamu katakan," teriak Anggika.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Tetapi pada intinya aku hanya bertanggung jawab untuk Reya. Karena dia juga anakku dan juga darah dagingku dan sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah berubah. Reya, Sean dan Citra anakku yang tanggung jawabku rata kepada mereka," ucap Argantara dengan penuh penegasan dan penekanan pada istrinya.


Anggika menanggapinya dengan tersenyum.


"Kamu sadar tidak mas, jika selama ini aku tidak menginginkan Reya dengan keluarga kita itu punya alasan yang besar. Aku tau ini bukan kesalahannya dan aku berusaha menerima dia. Tetapi kamu tau apa yang aku takutkan selama ini dan aku sering mengingatkan mu. Mas apa kamu belum bisa melihat Sean dan Reya bagaimana. Apa kamu bisa melihat mereka akan menjadi adik kakak!" ucap Anggika.


Sean dan Reya saling melihat dan saling melepas dekapan masing-masing. Karena ternyata apa yang mereka lakukan telah di sadari Anggika.


"Apa maksud kamu Anggika?" tanya Argantara yang melihat kearah Sean dan Reya.


"Lihat mereka berdua. Dan tanya pada mereka apa hubungan mereka adik kakak?" ucap Anggika yang melempar pada Argantara.


Pasrah ini adalah waktunya pasrah untuk Reya yang tidak akan bisa menyembunyikan apa-apa lagi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2