
Reval dan Citra berpelukan dengan erat di bawah guyuran air hujan yang mana keduanya pasti saling merindukan dan memutuskan tidak menerima kenyataan di dalam hidup mereka. Sama-sama ingin melawan takdir ya ada dan itu jauh lebih baik. Melawan takdir untuk mempersatukan cinta mereka.
Sean dan Reya yang duduk di ruang tamu dengan gelisah pastinya Sean yang tidak kunjung pulang dan padahal di luar sedang hujan deras. Sean hanya berusaha untuk menenangkan sang suami dengan beberapa kali mengusap bahu suaminya untuk memberikan Sean ketenangan.
Tidak lama Citra pun pulang dan dia tidak sendirian. Dia bersama dengan Reval dengan Citra dan Reval yang basah-basahan.
"Citra!" lirih Reya yang langsung berdiri untuk menghampiri Citra. Sean melihat ke dua orang itu dan pasti masih melihat Reval dengan penuh amarah.
"Citra dan kak Reval ingin bicara pada kak Sean," ucap Citra dengan pelan yang takut-takut dengan Sean dan Sean hanya diam yang tidak menjawab apakah di ijinkan bicara atau tidak.
"Citra kamu habis terkena hujan, sebaiknya kamu ganti baju dulu. Nanti kamu masuk angin," ucap Reya yang berusaha untuk mencairkan suasana sebentar.
"Tapi aku ingin bicara sebentar saja dengan kak Sean," ucap Citra.
"Iya. Pasti kok, kamu pasti bicara. Kalian berdua ganti baju dulu. Ayo Citra kamu kekamar ganti baju dan kamu Reval. Aku akan membawakanmu baju ganti, tunggu di kamar tamu," ucap Citra.
Reval mengangguk dan Citra pun sepertinya setuju. Sean juga tidak banyak protes dan bahkan tidak bicara sama sekali. Setelah Citra kekamarnya dan Reval di antar bibi ke kamar tamu. Reya menghela napasnya perlahan ke depan dan langsung menghampiri suaminya dengan kembali duduk di samping suaminya dan memegang tangan suaminya.
"Sayang dari aku lihat Citra kembali bersama Reval. Kamu sudah tau apa yang terjadi. Aku tidak punya hak untuk ikut campur. Ayu memihak pada dan itu. Aku tau ini keputusan sangat berat untuk kamu. Tapi aku percaya kamu sangat bijak dan menyayangi Citra. Aku yakin kamu bisa mengatasinya dan memberi keputusan yang sewajarnya," ucap Reya yang memberi masukan terlebih dahulu pada suaminya. Sebelum nanti Citra dan Reval akan berbicara.
"Kamu tenang ya dan jangan emosi," ucap Reya memberi ingat.
"Apa jika aku menantang Citra akan mendengarkanku?" tanya Sean, "aku menantang juga salah. Karena aku juga dulu seperti itu dan terlebih lagi hak ku sepenuhnya kepada Citra sudah tidak seperti dulu lagi. Karena kamu bukan saudaraan kandungan," ucap Sean yang bingung yang harus bersikap apa.
Ingin keras tapi takut Citra akan merasa tertekan dan mungkin Citra tidak akan peduli dengan apa-apa lagi. Dia akan memilih Reval di bandingkan Sean. Karena Sean bukan kakak kandungnya. Sedangkan Sean saja dulu seperti itu memilih Reya di bandingkan keluarganya. Padahal saat itu Sean belum mengetahui identitasnya.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh mengatakan seperti itu. Kamu tetap menjadi kakak yang baik untuk Citra dan semua keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang tepat dan demi kebahagiaan Citra," ucap Reya yang hanya mencoba untuk meyakinkan suaminya.
"Kak Sean!" suara Citra terdengar membuat Reya dan Reval melihat ke arah suara itu yang ternyata Citra sudah selesai ganti baju dan ada Reval di samping Citra yang juga selesai mengganti bajunya.
Sean tetap diam. Reya menganggukkan kepalanya seakan memberikan kode pada Citra agar Citra sebaiknya duduk saja bersama Reval. Citra dan Reval saling melihat dan akhirnya mereka duduk bersama di hadapan Sean.
"Kak Sean aku dan Reval memutuskan untuk bersama!" ucap Citra yang langsung pada inti dalam pembicaraannya membuat Sean menutup matanya sebentar yang tidak mengerti apa maksudnya.
"Benar Sean. Aku mencintai Citra dan aku tidak peduli dengan Dia yang menjadi ibu kandungku. Aku tidak pernah peduli," sahut Reval yang meyakinkannya keputusan mereka dan sangat kelihatan Reval begitu membenci Erina sampai tidak ingin menyebutkan namanya.
"Citra tau apa Citra putuskan akan membuat kakak kaget dan pasti shock dengan keputusan Citra. Mungkin sangat tidak pantas Citra menjalin hubungan dengan saudara Citra sendiri," sahut Citra dengan suaranya yang serak karena air matanya sudah mulai keluar.
"Citra ini bukan permasalahan dia dan kamu satu darah, atau dia anak papa. Ini bukan permasalahan itu Citra," sahut Sean dengan nada suara yang bervolume sedikit.
"Tetapi yang menjadi Maslaah adalah dia," tunjuk Sean pada Reval. " kamu tau apa yang di lakukannya. Dia hanya menggibah kamu sebagai alat untuk balas dendam, dia menyakiti kamu dan apa kamu pikir sangat mudah bagi kakak menerimanya hanya karena dia berlutut dan minta maaf," ucap Sean.
"Kak Sean!"
"Jika saja dia tidak berniat apa-apa kepada kamu. Situasinya juga tidak seperti ini Citra. Kamu dia mempunya hubungan dengan dia. Jika dia tidak menjawab kamu dan membuat kamu jatuh Citra kepadanya. Semuanya tidak akan seperti ini Citra. Tidak akan, tidak akan dan tidak akan terjadi hal ini dan jika terbongkar siapa dia. Mungkin itu tidak akan berpengaruh sampai detik ini kepada kita," tegas Sean dengan menekan suaranya.
"Aku tau aku salah...."
"Itu memang kesalahan mu," sahut Sean langsung menyambar omongan Reval, "semuanya memang kau yang menyebabkan," tegas Sean.
"Kak Sean aku tau ini tidak mudah bagi kakak. Tapi aku hanya ingin bersama dengan kak Reval, memulai semuanya dari awal," ucap Citra.
__ADS_1
"Dan bagaimana Citra. Jika dia menyakitimu lagi. Apa kamu yakin akan bisa tidak terluka lagi dan mungkin lukanya akan sangat parah Citra," ucap Sean yang pada intinya dia hanya takut adiknya akan terluka lagi.
"Tapi aku juga sangat terluka kak, sangat tersiksa jika seperti. Jika mencinta tetapi tidak bersama. Ini juga sangat menyiksaku dan jujur aku sudah nerusaha untuk melupakan kak Reval, membuangnya dari pikiranku. Tetapi aku tidak bisa kak. Semakin aku berusaha aku semakin sakit kak," ucap Citra dengan air matanya yang mengalir deras dan Sean terdiam.
"Aku mohon kak Sean. Tolong jangan halangi kami. Tolong kak Sean," ucap Citra dengan penuh permohonan.
"Aku tau apa yang kamu rasakan Sean. Aku tau pikiran tidak akan tenang dengan keputusan Citra. Kerena kamu sangat menyayangi Citra dan kamu juga takut menggunakan kata tantangan dengan alasannya mereka bersaudara. Karena kamu juga tau rasanya. Karena kita berdua ada di posisi itu," batin Reya yang melihat kebimbangan suaminya.
"Citra hanya punya kak Sean. Citra sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi Citra mohon kak tolong biarkan Citra bahagia dengan kak Reval," ucap Citra dengan suaranya yang penuh dengan permohonan yang meminta belas kasihan dari sang kakak.
"Kalau begitu aku hanya ingin dia membuktikannya," sahut Sean dengan keputusannya.
Reya, Citra dan Reval pasti kaget dengan keputusan Sean yang tidak di duga-duga.
"Maksud kak Sean?" tanya Citra.
"Kamu sudah dewasa dan kamu bisa menemukan jalan kamu sendiri. Dan dia juga orang dewasa dan kalian bisa berpikir untuk kehidupan kalian. Jika memang kamu bahagia bersamanya. Maka kakak tidak bisa menjadi penghalang untuk kebahagiaan kamu," ucap Sean dengan keputusannya yang akhirnya memberikan restu pada Reval dan Citra. Reval dan Citra tampak terkejut mendengar keputusan Sean dan sama dengan Reya yang juga tidak percaya.
"Aku tidak menyakiti Citra. Aku akan menebus semua kesalahanku," ucap Reval.
"Aku tidak perlu ucapan. Tetapi pembuktian. Aku sudah memberikan mu kesempatan dan jika kau tidak menggunakan kesempatan itu dan menyakiti adikku. Maka kali ini aku akan membunuhmu tanpa memberikan mu satu detik kesempatan untuk bicara," ucap Sean dengan penuh ancaman pada Reval.
"Aku akan melakukan apa saja demi Citra," sahut Reval dengan yakin.
Sean tidak bicara lagi dan langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi.
__ADS_1
"Kak Sean!" Reya langsung menyusul sang suami.
Bersambung