
Dalam keadaan hami besar tidak menghalangi Reya untuk mampir kekantor suaminya untuk mengantarkan makan siang bersama suaminya. Reya yang pasti di temani oleh Citra yang seperti biasa Citra yang menyetir.
"Ya sudah Citra kakak masuk dulu ya. Kamu tidak ikut masuk?" tanya Reya.
"Nggak kak. Kakak masuk aja. Citra nunggu di sini aja," jawan Citra.
"Ya sudah kalau begitu kakak masuk dulu," ucap Reya. Citra menganggukkan kepalanya dan langsung keluar dari mobil dan Citra yang menunggu di dalam mobil.
"Kak Reval sudah makan belum ya?" batin Citra yang bertanya yang mengambil ponselnya yang ingin bertanya pada suaminya. Karena suaminya yang yang lagi ada di Luar Kota.
..."Sayang kamu sudah makan?" tanya Citra mengirim pesan text dari Wa....
..."Sudah sayang! kamu sendiri bagaimana?"...
..."Aku belum. Baru mau makan sama kak Reya nanti. Tetapi masih anterin makan buat kak Sean,"...
..."Lalu makan siang ku tidak di antarkan?"...
..."Sayang ya kan nggak mungkin kamu kan lagi di Palembang,"...
..."Iya-iya aku hanya bercanda. Jangan langsung di bawa serius seperti itu. Ya sudah kamu langsung makan ya nanti. Jangan di tunda-tunda makannya. Nanti anak kita kelaparan lagi di dalam perut kamu,"...
..."*Iya sayang. Kamu baik-baik ya kerjanya. Jangan lama-lama pulangnya*,"...
..."Iya sayang,"...
..."Ya sudah kalau begitu sadar sayang. I Love you,"...
..."I Love you too sayang,"...
Citra mengakhiri pesannya bersama dengan suaminya dengan raut wajah Citra yang tersenyum. Begitulah kalau sudah chatting dengan suaminya bawaannya pasti sangat happy sekali.
Namun tiba-tiba Citra yang berada di dalam mobil melihat mobil yang berhenti di depannya yang mana yang keluar dari mobil itu yang ternyata adalah Renita.
"Renita? Ngapain dia di sini?" tanya Citra dengan kebingungan yang melihat Renita yang memasuki Perusahaan kakaknya itu. Citra tidak keluar dari mobil dan hanya melihat saja Renita yang masuk Perusahaan itu.
Bruk.
Tiba-tiba pintu di sebelah Citra sudah di buka saja yang ternyata Reya sudah masuk. Hal itu membuat Citra tadi terkejut.
"Kamu kenapa Citra?" tanya Reya heran dengan wajah adiknya yang tiba-tiba kaget dan ternyata Reya tidak berpapasan dengan Renita.
"Nggak apa-apa kok kak," jawab Citra yang merasa tidak perlu mengatakan tentang Renita ya mungkin saja ada keperluan dengan orang lain di Perusahaan kakaknya itu. Lagian Perusahaan itu juga besar dan banyak orang.
"Oh iya kakak sudah selesai?" tanya Citra.
"Iya sudah!' tadi kak Sean ada rapat jadi tidak sempat ketemu aku letakkan saja bekalnya di atas meja," jawab Reya .
__ADS_1
"Oh begitu rupanya," sahut Citra.
"Ya sudah ayo kita pulang!" ajak Reya.
"Iya kak," sahut Citra yang tersenyum dengan perasaannya yang aneh dan Citra langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan santai.
************
Reya yang berada di kamarnya yang sedang berdandan yang hanya makeup tipis-tipis saja yang rencananya malam ini dia menemani suaminya untuk menemui kliennya makan malam. Jadi Reya yang memakai dress putih sampai selututnya itu dengan perutnya yang menonjol terlihat sangat cantik dan begitu anggun apalagi di kepalanya memakai pita-pita segala yang membuatnya tambah cantik saja.
Dratttt Dratttt Dratttt Dratttt
Ponselnya yang berdering dan Citra langsung mengangkatnya.
"Hallo sayang ada apa?" tanya Citra pada suaminya yang menelponnya.
"Sayang kamu di jemput supir ya untuk kekantor. Aku nggak bisa jemput kamu. Kita berangkat dari kantor aja," ucap Sean.
"Kami nggak ganti baju dulu?" tanya Reya.
"Tadi aku sudah suruh karin untuk membelikan baju ganti. Jadi hal itu aman," jawab Sean.
"Oh begitu," sahut Reya.
"Kamu sudah selesai kan sayang?" tanya Sean.
"Ya sudah sayang sebentar lagi supir akan jemput kamu. Kamu tunggu di rumah ya dan aku tunggu di kantor," ucap Sean.
"Iya sayang. Oh iya sayang bagaimana kamu sudah makan bekal yang aku siapkan tadi siang?" tanya Reya.
"Ya sudah dong sayang. Memang kapan aku tidak memakan makanan yang enak buatan istriku," jawan Sean.
"Ya sudah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Ya sudah kau tunggu supirnya di rumah ya," ucap Reya.
"Iya sayang," sahut Sean yang akhirnya mereka menutup panggilan telpon tersebut.
************
Akhirnya Reya sampai juga ke Perusahaan suaminya. Supir membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Reya untuk keluar dari mobil.
"Makasih ya pak," ucap Reya yang keluar dari mobil.
"Sama-sama Nona. Nona mau ditungguin atau bagaimana?" tanya pak supir.
"Bapak pulang aja. Biar saya nanti sama kak Sean pulang bersama," jawab Reya.
"Baiklah Nona kalau begitu," sahut pak supir yang langsung berpamitan sekalian dengan memasuki mobil dan langsung pergi dari Perusahaan itu.
__ADS_1
Sementara Reya menghela napasnya melihat ke arah Perusahaan suaminya itu. Reya berjalan untuk memasuki Perusahaan itu karena suaminya menunggunya di sana.
Namun saat melewati tong sampah tiba-tiba langkah Reya terhenti ketika Reya melihat ke arah tong sampah. Reya mendekati tong sampah itu dan melihat kotak bekal biru muda yang tadi di berikannya pada suaminya.
Wajah Reya penuh dengan tanya dan tangannya langsung mengambil kotak bekal itu dan membuka isinya yang masih utuh.
Jantungnya langsung berdetak dengan napasnya yang tidak teratur saat mengetahui suaminya tidak memakan apa yang di buatnya dan malah di buang ke tong sampah. Hal itu cukup membuat Reya kaget dengan matanya yang berkaca-kaca dan bahkan sampai tidak percaya dengan apa yang di lakukan Sean.
"Reya!" tiba-tiba Reya di kagetkan dengan suara wanita membuat Reya melihat siapa yang menegurnya ternyata Karin sekretaris Sean dan Karin heran dengan melihat Reya yang tampak bengong.
"Kamu kok ada di sini. Ayo masuk Sean sudah menunggu kamu di lobi," ucap Karin yang memang di tugaskan untuk menjemput istrinya.
Tidak ada jawaban dari Reya dan tangannya bergetar memegang kotak bekal itu. Sementara Karin jadi bingung.
"Karin Reya sudah sampai?" tanya Sean yang keluar dari Perusahaan yang menyusul Karin yang tidak kunjung datang. Namun melihat istrinya yang bersama Karin membuat Sean lega dengan tersenyum dan langsung menghampiri istrinya bersama Karin.
"Sayang kamu kok masih berdiri di sini?" tanya Sean dengan lembut yang melihat istrinya hanya diam.
"Apa maksudnya ini?" tanya Reya yang menunjukkan kotak bekal yang berisi nasi yang sudah bau itu.
"Maksudnya kenapa?" Sean yang bertanya kembali.
"Jika tidak suka, jika sudah bosan bilang. Kenapa harus berbohong dan membuangnya segala," ucap Reya menaikkan volume suaranya dan Sean tampak bingung dengan apa yang di maksud istrinya.
Sementara Karin lebih bingung dia jadi di tengah-tengah pasangan suami istri yang sepertinya akan ribut.
"Sayang kamu ini kenapa? Aku tidak mengerti apa maksud kamu?" tanya Sean yang benar-benar bingung.
"Jangan berpura-pura bodoh. Aku capek-capek membuatkan makan siang padamu. Aku hamil dan tidak peduli dengan diriku dan kamu malah membuangnya," umpat Reya dengan marah-marah.
"Kalau kamu bosan dengan masakan istrimu kamu bisa mengatakannya jangan berbohong," tegas Reya.
"Tunggu dulu apa yang kamu bicarakan. Siapa yang membuang makanan yang kamu berikan. Aku memakannya dan aku tidak membuangnya," sahut Sean.
"Lalu ini apa?" tanya Reya.
"Ya aku tidak tau Reya yang penting aku memakannya yang kamu letakkan di meja kerjaku," tegas Sean.
"Bohong. Kamu itu masih aja mengelak. Kamu makan punya siapa. Kamu itu meremehkan segalanya. Kamu itu benar-benar jahat," ucap Reya dengan kesal yang pergi dari hadapan suaminya dan pasti kotak bekal yang di pegangnya di jatuhkan di kaki Sean.
"Reya tunggu!" panggil Sean. Sena kebingungan dengan menggaruk-garuk kepalanya dan langsung mengejar Reya.
Sementara Karin jadi kebingungan sendiri dengan pasangan suami-isteri itu.
"Aduh pada kenapa sih. Kenapa jadi mereka ribut," ucap Karin gelang-gelang yang berjongkok dan membersihkannya bekal itu memungutnya dari atas tanah.
Bersambung
__ADS_1