Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 103


__ADS_3

Anggika dan Argantara sampai di depan ruangan Dokter.


"Ya sudah pah. Mama masuk dulu. Papa tunggu di sini ya nggak lama kok," ucap Anggika.


"Baiklah!" sahut Argantara tersenyum dan Anggika langsung masuk sementara Argantara duduk di salah satu kursi yang menunggu istrinya yang sedang melakukan cek kesehatan.


Hal ini memang rutin di lakukan Anggika dan Citra selalu menemaninya. Namun karena Citra tidak bisa Argantara yang memang tidak sibuk meluangkan waktunya untuk istrinya. Karena jarang-jarang dia menemani Anggika. Bukan karena apa-apa. Tetapi karena memang banyak pekerjaan.


Untuk menghilangkan kejenuhannya Argantara hanya melihat ponselnya sembari menunggu istrinya. Tidak jauh dari tempatnya Sean dan Reya yang berjalan dan tiba-tiba langkah mereka terhenti.


"Kita makan dulu ya baru pulang!" ucap Sean yang berdiri di depan Reya.


"Tidak usah Sean. Aku tidak lapar dan lagian aku juga tidak selera makan," sahut Citra yang menolak.


"Kamu tidak boleh menolak Reya. Kamu harus makan, kondisi kamu tidak baik. Ingat kamu sedang mengandung. Jadi pikirkan anak kita," ucap Sean yang sangat Khawatir pada Reya.


"Kamu sendiri bagaimana. Kamu bukannya harus kekantor. Biar aku makan di rumah aja nanti," ucap Reya yang tidak ingin Sean repot. Karena memang terlalu sering menghabiskan waktu bersamanya dan Reya takut kalau Sean tidak fokus pada pekerjaannya.


"Aku akan kekantor setelah mengurus kamu dan semakin susah kamu diurus makan akan semakin lama aku kekantor. Jadi semua tergantung kamu. Ayo kita makan!" ajak Sean lagi yang membuat pilihan pada Reya dan mau tidak mau Reya harus menganggukkan kepalanya. Karena tidak mungkin hanya karena dirinya Sean jadi terkendala dalam bekerja.


Saat mereka melanjutkan tangan mereka dengan berpegang tangan. Tiba-tiba Argantara yang duduk di tempatnya melihat Reya dan Sean.


"Reya, Sean!" ucap Argantara membuat Sean dan Reya menghentikan langkahnya dan terkejut melihat Argantara. Dengan cepat Reya langsung melepas tangannya dari Sean yang padahal Sean tidak ingin tangan itu terlepas.


"Papa!" pekik mereka berdua dengan serentak. Argantara langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Sean dan juga Reya.


"Papah!" Reya langsung memeluk Argantara. Semenjak dia kembali dari Paris belum pernah bertemu dengan Argantara. Karena waktu yang tidak pernah tepat. Jadi sekarang hal yang ditunggunya dan sangat merindukan Argantara.


"Kamu apa kabar Reya? maaf papa belum bisa melihat kamu," ucap Argantara yang sepertinya sangat merindukan Reya.


"Tidak apa-apa pah, Reya baik-baik aja kok pah, Reya tidak apa-apa sama sekali," jawab Reya yang masih memeluk Argantara untuk melepaskan kerinduannya dan Sean ikut senang melihat Reya. Sean sangat tau Reya sangat merindukan Argantara.


Lama berpelukan akhirnya mereka saling melepas pelukan mereka, "kenapa kalian ada di rumah sakit? siapa yang sakit?" tanya Argantara heran.


Deg.


Jantung Reya dan Sean berdetak kencang saat mendapat pertanyaan itu. Mereka saling melihat dan kelihatan sama-sama saling takut.

__ADS_1


"Kamu sakit Reya?" tanya Argantara yang melihat wajah Reya terlihat pucat.


"Reya tidak enak badan pah, jadi Sean membawanya ke rumah sakit," sahut Sean yang memberi alasan. Karena tidak mungkin mengatakan Reya sedang hamil.


"Kamu kenapa? apa yang terjadi? kenapa kamu sampai sakit? Apa kamu banyak pikiran?" Argantara menjadi panik dan mencecar Reya dengan banyak pertanyaan.


"Tidak pah Reya hanya tidak enak badan. Reya tidak apa-apa kok. Papa jangan khawatir," ucap Reya.


"Benar kamu tidak apa-apa?" tanya Argantara yang sangat mencemaskan Reya.


"Iya pah," sahut Reya.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu harus jaga kesehatan ya. Papa tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Jadi kamu harus benar-benar perhatikan kondisi kamu," ucap Argantara.


"Papa jangan khawatir. Reya akan baik-baik saja," sahut Reya membuat Argantara merasa lega. Sean dan Reya saling melihat yang ke-2nya juga sama-sama lega.


"Pak Sean, Bu Reya!" tiba-tiba Sean dan Reya di panggil membuat mereka sama-sama melihat ke arah yang memanggil mereka yang ternyata Dokter kandungan Reya dan itu mengejutkan Sean dan juga Reya.


"Gawat, bagaimana ini!" batin Reya yang semakin panik.


"Untuk Kalian berdua belum jauh. Ini obatnya ketinggalan, obat mual nya," ucap Dokter tersebut yang membuat Reya dan Sean semakin dek-dekan dan Argantara kelihatannya sangat bingung dengan obat yang di katakan Dokter tersebut.


"Supaya ja..."


"Baiklah Dokter terima kasih!" sahut Sean yang memotong pembicaraan Dokter.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu! rutin minum obatnya ya!" ucap Dokter pamit dan langsung pergi.


"Makasih Dokter," sahut Sean. Reya membuang napasnya perlahan kedepan yang merasa lega. Karena rahasia mereka yang hampir saja terbongkar tidak jadi terbongkar.


"Kamu mual-mual Reya?" tanya Argantara.


"Maag Reya kambuh lah," sahut Sean yang begitu cepat mendapatkan alasan.


"Iya pah, maag Reya kambuh," sahut Reya.


"Reya kamu harus benar-benar jaga makan. Sean papa minta tolong kamu. Tolong bantu ingatkan Reya. Papa tidak ingin Reya kenapa-kenapa," ucap Argantara yang semakin khawatir pada Reya.

__ADS_1


"Iya pah, Sean akan melakukannya," sahut Sean.


"Maafkan Reya pah, Reya harus membohongi papa," batin Reya yang merasa bersalah pada Argantara.


"Oh iya papa ngapain di sini?" tanya Sean.


"Astaga! papa sama Mama kamu di sini," sahut Argantara yang baru teringat jika dia dengan istrinya. Reya dan Sean kembali di buat jantungan dengan mendengar Anggika.


Yang mana sekarang Anggia yang berada di ruangan Dokter yang sedang saling berjabat tangan.


"Kalau begitu saya permisi Dokter! terima kasih sekali lagi!" ucap Anggika.


"Sama-sama Bu Anggika. Minum obat dengan teratur ya dan jangan banyak pikiran. Ibu harus jaga kesehatan, pola makan yang baik terus di terapkan ya," ucap Dokter memberikan saran.


"Pasti Dokter. Kalau begitu saya permisi duku!" ucap Anggika. Dokter tersebut mengangguk dan Anggika langsung pergi keluar dari ruangan Dokter.


Anggika yang sudah keluar dari ruangan Dokter melihat suaminya tidak ada di tempat duduk saat dia meninggalkan pertama tadi.


"Kemana mas Argantara?" tanyanya kebingungan yang melihat di sekitarnya dan langsung mencarinya.


Tidak jauh dari tempat itu Anggika menemukan suaminya yang berdiri dan terlihat gelisah.


"Pah!" tegur Anggika menepuk bahu Argantara dan membuat Argantara tersentak kaget yang langsung menoleh kebelakang.


"Mama sudah selesai?" tanya Argantara begitu gugup.


"Sudah selesai, papa kenapa berdiri di sini?" tanya Anggika yang heran dan apalagi suaminya itu terlihat sangat gugup.


"Oh tidak apa-apa. Tadi papa hanya mengangkat telpon saja," ucap Argantara tersenyum untuk menutupi rasa gugupnya di depan istrinya


"Oh begitu rupanya. Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Anggika yang percaya saja pada suaminya.


"Tunggu dulu mah!" sahut Argantara yang menghentikan tangan Anggika yang sengaja mencegah Anggika.


"Kenapa pah?" tanya Anggika heran.


"Sebentar lagi kita pulang. Mama ceritakan dulu pada papa hasil pemeriksaannya," ucap Argantara yang sengaja mengulur-ulur waktu. Karena mungkin Sean dan Reya masih berada di parkiran.

__ADS_1


"Ayo kita duduk di sana!" Argantara langsung membawa Anggika dan Anggika mengikut saja. Suaminya memang sangat aneh. Tetapi Anggika tetap menurut dan menceritai hasil pemeriksaannya pada suaminya dan Argantara lega dengan dia bisa mengukur waktu.


Bersambung


__ADS_2