Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 255


__ADS_3

Citra memasuki kamar Sahila dengan Citra yang membawa nampan yang di dalamnya berisi makanan dengan minuman.


"Pagi Tante," sapa Citra dengan tersenyum kepada Sahila yang sudah bangun dan tadi sepertinya ingin beranjak dari ranjang.


"Pagi Citra," sahut Sahila dengan tersenyum.


"Apa tidur Tante nyenyak?" tanya Citra yang memasuki kamar tersebut.


"Sangat nyenyak. Bagaimana tidak nyenyak. Jika tadi malam kamu menemani Tante untuk istirahat. Jadi Tante benar-benar sangat nyenyak untuk istirahat," jawab Sahila.


"Syukurlah kalau begitu, ini Tante Citra bawakan Tante makanan," sahut Citra yang meletakkan di atas nakas, "sarapan untuk Tante," ucap Citra yang tersenyum pada Sahila


"Kamu repot-repot sekali Citra membuatkan Tante sarapan," sahut Sahila yang merasa tidak enak.


"Tidak repot Tante. Lagian ini juga Citra beli di bawah. Bubur ayam yang sangat enak. Punya abang-abang gerobak. Pokoknya bubur ayamnya benar-benar lekat Tante memang harus memakannya," ucap Citra yang tersenyum lebar.


"Makasih ya Citra. Walau kamu membelinya. Pasti tetap merepotkan kamu. Jadi makasih ya sayang kamu naik sekali," ucap Sahila.


"Sama-sama Tante. Hmmmmm, tapi tidak apa-apa ya kalau Citra tinggal Tante. Soalnya Citra mau kerumah sakit. Mau melihat kondisinya papa. Jadi tidak apa-apa kan Tante Citra tidak menemani Tante untuk makan?" ucap Citra yang merasa tidak enak pada Sahila.


"Tidak apa-apa dong Citra. Kamu memikirkan sarapan Tante saja sudah sangat baik sekali. Jadi kamu kalau mau pergi. Pergi aja. Tante nggak apa-apa kok," ucap Sahila.


"Ya sudah Tante. Citra tinggal dulu ya. Tante sarapan dan harus habis dan kalau nanti ada apa-apa. Kabari Citra ya," ucap Citra berpamitan dan bahkan mencium punggung tangan Sahila.


"Iya, makasih ya Citra. Salam buat Reya, dan juga buat papa kamu, semoga dia cepat sembuh," sahut Sahila.


"Iya nanti Citra sampaikan. Ya sudah Citra pamit ya," ucap Citra yang kembali berpamitan dan langsung pergi keluar dari kamar meninggalkan Sahila.


Sahila tersenyum lebar melihat Citra yang keluar dari kamar.


"Sejak pertama kali Reval memperkenalkan kepadaku. Aku sudah tau Citra itu sebenarnya sangat baik. Anak yang tulus. Namun Reval menyakitinya dan sekarang hubungan mereka juga tidak bisa di selamatkan, aku hanya berdoa semoga saja Citra dan Reval terus dalam lindungan Tuhan dan jika mereka tidak bisa bersatu karena benteng tinggi. Kau hanya berharap mereka berdua bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing," batin Sahila yang hanya penuh dengan doanya untuk Citra dan Reval.


Bagi Sahila sangat di sayangkan hubungan Reval dan Citra yang tidak bisa bersama. Namun apa mau di kata. Itu adalah takdir. Jadi Sahila mendoakan yang terbaik untuk keduanya yang bisa menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.


*********

__ADS_1


Reya, Sean, Anggika, kakek, Citra dan ada Reval juga yang berada di ruangan Argantara. Di mana sekarang Citra sedang menyuapi buah untuk Argantara yang telah di potong Reya. Mereka ber-2 terlihat kompak dalam merawat Argantara yang kondisinya semakin pulih.


"Bagaimana keadaan kamu Argantara?" tanya kakek.


"Aku sudah mendingan pah dan malah bosan di rumah sakit. Kau ingin cepat pulang," jawab Argantara.


"Kalau belum berapa sembuh jangan pulang dulu pah. Papa harus benar-benar pulih," sahut Reya.


"Benar kata Reya pah. Jangan hanya karena bosan di rumah sakit. Jadi papa mau pulang cepat-cepat. Papa harus perhatikan kondisi papa," sahut Citra menambahi.


"Iya Reya Citra. Papa tau kalian sangat khawatir pada papa. Tetapi benar kok. Papa sudah merasa jauh lebih baik dan sudah cepat-cepat ingin pulang. Biar papa bisa istirahat di rumah," sahut Argantara yang berbicara masih pelan. Karena masih lemas. Ya walau dia mengatakan dia baik-baik saja.


"Ya sudah kalau begitu nanti biar aku tanya Dokter dan jika Dokter mengijinkan papa pulang. Jadi papa bisa pulang. Karena semua juga harus tergantung Dokter. Karena hanya Dokter yang tau keadaan papa," sahut Sean.


"Iya Sean," sahut Argantara yang tersenyum.


"Hmmm, bagaimana dengan Erina. Apa hukumannya sudah tetapkan?" tanya Argantara yang tiba-tiba menyinggung hal itu.


Reya tampak diam dan Anggika memang langsung melihat kearah Reya, "jangan membahas hal itu. Biarkan itu menjadi urusan polisi," sahut Anggika yang tidak ingin Reya merasa tersinggung. Karena bagaimanapun Erina juga ibunya.


"Tidak apa-apa kok mah. Lagian Reya juga sangat menunggu-nunggu putusan pengadilan untuk mama," sahut Reya yang tersenyum yang memang terlihat lempang.


"Kita berdoa yang terbaik saja dan menyerahkan semua pada kepolisian dah semoga ada jalan yang terbaik," sahut kakek.


"Iya sudahlah. Kita jangan membahas hal itu lagi. Oh iya pah tadi Tante Sahila titip salam untuk papa. Dia mengucapkan semoga papa cepat sembuh," sahut Citra yang baru menyampaikan salam dari Sahila.


Argantara mendengarnya bingung dan Reval juga dan Anggika ekspresinya mengkerutkan dahinya.


"Sahila..." sahut Argantara yang sepertinya tidak mengenal wanita itu.


"Mama saya," sahut Reval yang menjawab kebingungan Argantara.


"Oh, mama kamu. Iya papa pernah bertemu sekali dengannya. Waktu kejadian itu," sahut Argantara.


"Kok bisa titip salam sama kamu Citra?" tanya Reya heran.

__ADS_1


"Kebetulan mama tinggal di Apartemen Citra," sahut Reval yang lagi-lagi menjawab.


"Iya benar. Tante Sahila beberapa hari tinggal di Apartemen, makanya Citra jarang kerumah kak Sean. Dia juga titip salam sama kamu Reya," sahut Citra.


"Salam kembali. Apa itu artinya Tante Sahila sudah sembuh. Makanya tidak di rumah sakit lagi?" tanya Reya.


"Iya Tante Sahila sudah sembuh dan nyaman tinggal di apartemen. Tidak apa-apa kan pah. Tante Sahila tinggal di sana?" tanya Citra.


"Tidak apa-apa Citra. Kalau memang sangat nyaman, maka tidak apa-apa dan sampaikan juga salam papa padanya dan makasih doanya," sahut Argantara yang lempang- lempang aja.


"Iya pah nanti Citra sampaikan," sahut Citra.


"Kenapa tiba-tiba dia titip salam?" tanya Anggika yang terlihat sewot sampai membuat semua orang melihat kearah Anggika.


"Maksud mama?" tanya Citra.


"Oh iya wajar. Jika dia menitipkan salam. Dia kan tau anaknya itu. Anak mas Argantara dan dia juga sendiri ya mungkin ingin membangun keluarga kecil dengan anak yang sudah besar," sahut Anggika yang berbicara aneh dan semua orang sampai terheran-heran.


Reya dan Sean juga saling melihat sampai sama-sama mengangkat bahu mereka yang bingung dengan Anggika.


"Kamu sedang tidak cemburukan Anggika," sahut kakek yang langsung to the point pada ekspresi menantunya yang tidak bisa bohong. Ya karena kata-kata dari kakek. Mereka semua jadi paham. Jika Anggika yang berbicara aneh itu karena sedang di landa kecemburuan.


"Cemburu. Memang aku masih bocah," sahut Anggika yang membuat orang-orang di ruangan itu tersenyum termasuk Argantara.


"Ya nggak apa-apa juga sih mah. Kalau Tante Sahila tiba-tiba ada niat mau membuat keluarga baru dengan papa. Toh papa calon duda keren," sahut Sean yang membuat mamanya semakin terbakar.


"Sayang!" tegur Reya dengan pelan pada suaminya.


"Apa-apaan sih kamu Sean," sahut Anggika yang salah tingkah dengan wajahnya yang memerah. Citra hanya gelang-gelang dengan kakaknya yang bisa-bisanya menggoda mamanya.


"Kalian jangan senyum-senyum. Nggak masalah jika Reval mama kamu tinggal di sana dan tidak ada hubungannya dengan saya," tegas Anggika.


"Ya nggak usah galak-galak juga ngomongnya mah," sahut Sean yang menggoda kembali.


"Sean kamu ya benar-benar," sahut Anggika yang mengundang tawa semua orang.

__ADS_1


"Tante Anggika jangan khawatir. Mama pasti tidak ada niat untuk merebut Om Argantara dari Tante dan iya dia nyaman tinggal di sana. Karena ada Citra. Jadi kalau menitipkan salam itu tidak hal yang besar. Tapi saya juga tidak tau juga niat mama sebenarnya apa. Tapi kalau Om Argantara benar-benar sudah duda ya kalau mama ada niat seperti itu, saya juga tidak bisa ikut campur. Jadi itu tergantung Tante sih," sahut Reval dengan nada bercanda yang membuat orang-orang tertawa-tawa dan Anggika yang adanya semakin salah tingkah.


Bersambung


__ADS_2