Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 152


__ADS_3

"Citra, Reval," lirih Reya.


"Raya kamu tidak apa-apa?" tanya Citra yang begitu mencemaskan Reya. Reya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Siapa kalian?" tanya Dokter itu.


"Lepaskan dia dan jangan ikut campur urusan kami," sahut Pria itu dengan melangkah mendekat.


"Tidak ikut campur kalian bilang. Kalian pikir aku akan akan tinggal diam dengan apa yang kalian lakukan," ucap Reval.


Sementara Reya sedang di rangkul Citra yang berusaha untuk menenangkan Reya.


"Ini urusan kami dan kami hanya menjalankan perintah," sahut Dokter tersebut.


"Kalau begitu sekarang urusan kalian harus berhadapan dengan Polisi," ucap Reval yang mengejutkan Dokter dan Pria itu yang mana mereka saling melihat dengan wajah yang sama-sama kaget.


"Apa maksud kamu?" tanya Dokter tersebut.


"Tindakkan aborsi adalah tindakan yang ilegal dan oleh karena itu urusan kalian akan di lanjutkannya dengan polisi," tegas Reval.


"Jangan macam-macam kau dan jangan berani-beraninya mengancam kami. Kau tidak akan bisa melakukannya," sahut pria itu.


"Kenapa bisa. Kami benar-benar akan melaporkan kalian atas tindakan kalian yang sangat berbahaya," sahut Citra.


"Kak Reval kita telpon saja langsung polisi biar mereka semua mendapat ganjarannya," sahut Citra yang sudah begitu kesal.


"Citra papa dan Tante Anggika terlibat dalam hal ini. Kamu tidak boleh gegabah," ucap Reya mengingatkan.


"Aku tidak peduli Reya. Tindakan papa sudah keterlaluan," sahut Citra yang merasa papanya salah dan berarti harus bertanggung jawab juga.


"Kita sebaiknya pergi dari sini," ucap Reval yang lebih memilih pergi dari pada menghadapi Dokter dan Pria itu.


"Iya," sahut Citra.


Prok-prok-prok.


Tiba-tiba pria itu bertepuk tangan membuat langkah Reval, Reya dan Citra terhenti dan melihat di sekitar mereka yang ternyata bukan hanya ada Dokter dan pria yang juga ada beberapa orang yang sepertinya anak buah papanya yang di tugaskan khusus untuk mengawasi Reya.


"Masih ingin pergi. Kalian pikir akan bisa bebas dari tempat ini atau dengan ancaman kalian yang ingin melaporkan polisi," ucap pria itu. Reval, Citra dan Reya saling melihat yang mana mereka terlihat begitu kaget yang sudah di kepung.

__ADS_1


"Bagaimana ini kak Reval?" tanya Citra yang panik yang mendekati Reval yang takut melihat orang-orang itu.


"Apa lagi ini," ucap Reya juga takut. Karena pasti bayinya yang akan menjadi korban.


"Kalian tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa. Citra kamu terus pegang Reya dan aku akan coba menghadapi mereka. Jangan biarkan Dokter itu membawa Reya pergi," ucap Reval yang memberikan aba-aba.


"Iya kak," sahut Citra.


"Kalian pikir kami takut dengan kalian," sahut Reval yang terlihat tenang.


"Hajar pria itu dan jangan beri ampunan!" perintah Pria itu dan Reval pun tidak takut sama sekali dia mencoba melawan orang-orang yang di pastikan tenaganya juga tidak akan main-main.


"Sebaiknya hubungi tuan Argantara dan katakan kekacauan ini. Agar dia cepat datang," ucap pria itu pada Dokter itu dan Dokter itu langsung melakukannya menghubungi Argantara.


Reval berusaha untuk menghajar orang-orang itu sementara Citra berusaha melindungi Reya. Agar tidak satupun punya kesempatan untuk membawa Reya.


"Citra bagaimana ini. Reval s


terluka dan tidak mungkin mengalahkan mereka," ucap Reya panik.


"Kamu benar Reya. Aku jadi takut dan lihat Dokter menelpon dia pasti sedang menghubungi papa," ucap Citra yang matanya mengawasi Dokter tersebut.


"Citra cepat bawa Reya pergi!" teriak Reval yang merasa dirinya sudah kalah dan tidak mungkin bertahan.


"Tapi kak Reval bagaimana?" tanya Citra panik dengan Reval yang terluka parah.


"Aku tidak apa-apa. Jangan pikirkan Aku pergi lah," ucap Reval.


"Baiklah kak," sahut Citra yang akhirnya mau tidak mau harus menuruti Reva dan dia pergi bersama Reya. Namun tiba-tiba tangan Reya ditarik yang membuat Reya begitu terkejut.


"Lepas! lepas!" teriak Reya saat Dokter dan pria itu menarik Reya yang berusaha memisahkan dari Citra.


"Jangan menyentuhnya, lepaskan!" Citra sangat berusaha untuk melindungi Reya dari 2 orang itu. Di mana mereka saling tarik menarik dengan sekuat tenaga.


Namun dengan seketika tangan pria kokoh itu terlepas dari tangan Reya ketika ada yang menepisnya kasar dan ternyata orang itu adalah Sean.


"Sean!"


"Kak Sean!"

__ADS_1


Untung saja Sean datang tepat waktu dan Sean langsung melayangkan pukulan pada Pria yang berani menarik Reya tadi dan Citra juga mengambil kesempatan dengan mendorong Dokter tersebut sampai Dokter itu akhirnya terjatuh di lantai dengan menahan rasa sakit.


"Berani sekali kau menyentuhnya!" umpat Sean dengan penuh emosi yang menghajar pria itu.


"Awas kak Sean!" teriak Citra saat ada yang ingin memukul Sean dengan kayu dari belakang. Namun dengan cepat Sean melayangkan tunjangan yang akhirnya Sean tidak apa-apa sama sekali.


Terjadi baku hantam kembali di mana Sean dan Reval sama-sama menghajar anak buah Argantara yang pasti Reval sudah terluka. Karena tadi dia kewalahan menghadapi orang-orang yang tenaganya tidak bisa di remehkan dan untung ada Sean. Walau dengan kedatangan Sean masih tetap tidak ada yang terlumpuhkan.


"Sean kita tidak bisa menghadapi mereka begitu saja. Kita harus segara pergi yang ada kita berdua kalah dan Reya bisa dalam bahaya," ucap Reval yang memberikan saran sambil mereka terus berkelahi.


"Kamu benar. Kita harus secepatnya pergi," sahut Sean yang setuju dengan Reval. Mereka saling melihat dengan sama-sama memberi kode dengan mata dan anggukan kepala dan dengan cepat Sean langsung menarik Reya dan Reval menarik Citra yang mereka berlari keluar dari tempat itu.


"Jangan diam saja. Cepat kejar mereka!" teriak Dokter tersebut. Para anak-anak buah itu berlari kencang mengejar Reval, Citra, Sean dan Reya.


"Kamu tidak apa-apa kan Reya?" tanya Sean dengan tangannya yang menggenggam erat Reya yang berlari dengan kencang.


"Aku tidak apa-apa," jawab Reya.


"Kamu harus bertahan. Kita pasti bisa menyelamatkan anak kita," ucap Sean.


Reya mengangguk-anggukkan kepalanya dan bertambah semangat berlari bersama Sean untuk menyelamatkan diri.


"Kak Reval tidak apa-apa?" tanya Citra yang sangat khawatir pada Reval.


"Tidak Citra. Kita lari dengan kencang. Kamu jangan mengkhawatirkanku ku," ucap Reval.


"Iya kak," sahut Citra.


Akhirnya mereka berhasil keluar dari rumah sakit itu.


"Ayo masuk mobil ku!" teriak Sean dan semua buru-buru masuk mobil yang bersamaan dengan datangnya mobil Argantara dan melihat Citra, Reya, Sean dan Reval yang masuk mobil dengan buru-buru.


"Pah itu Sean," ucap Anggika.


"Kurang ajar kau Sean," umpat Argantara yang buru-buru keluar dari mobil.


"Sean mau kau bawa kemana Reya?" teriak Argantara. Namun mobil itu sudah melaju yang di Kendari Sean dengan kelajuan tinggi


"Arggh sial!" umpat Argantara dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Anggika juga pasrah dengan Sean yang membawa Reya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2