
Sudah 1 minggu mereka semua tiba di Jakarta. Sean dan Citra bahkan tidak pernah berbicara sama sekali. Sean masih memberi waktu adiknya itu untuk tenang. Niat minta maaf pasti ada pada Sean. Namun dia harus mengulur waktu. Agar bisa sekalian memberi arahan pada Citra. Karena Sean juga tidak mau Citra menjadi orang jahat karena permasalahan Reya yang datang di kehidupan mereka.
Reya dan Sean sewaktu di Bali memutuskan untuk melupakan apa yang terjadi di antara mereka. Semenjak itu Sean juga tidak mengungkit masalah itu lagi.
Atau mencoba untuk bicara dengan Reya lagi Mungkin apa yang terjadi di lantai adalah hal terakhir untuk mereka bicara dan dan melupakan semuanya.
Sena bersikap biasa saja pada Reya. Di kantor dia tidak menindas Reya. Bahkan tidak peduli dengan apa yang mau dikerjakan Reya dan jika bertemu di rumah berpapasan atau apapun. Sean juga hanya cuek dan bahkan menganggap seperti tidak ada. Mungkin itu yang terbaik dan itu yang diinginkan Reya dan dia hanya menuruti apa yang di inginkan Reya.
Karena sebelumnya dia juga berusaha banyak untuk memperbaiki semuanya dan bahkan ada niat untuk bertanggung jawab.
Sama dengan sarapan hari ini terlihat sarapan pagi yang tenang dan tidak ada yang bicara sama sekali.
" Sebenarnya ada apa dengan Citra. Kenapa semenjak dari Bali aku melihatnya dia murung terus dan bahkan tidak saling bicara dengan Sean," batin Anggika yang tiba-tiba memikirkan ke-2 anaknya.
" Pah!" lirih Reya tiba-tiba yang kelihatannya ingin bicara.
" Ada apa Reya?" tanya Argantara.
" Reya ingin bicara sesuatu," ucap Reya.
" Ini lagi sarapan. Jangan memulai pembicaraan yang membuat keributan," sahut Anggika sinis sembari mengunyah makannya dan tumben-tumbenannya Citra tidak menyahuti perkataan Reya.
" Anggika kamu ini, apa salahnya Reya bicara sebentar," sahut Argantara, " katakan Reya apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Argantara.
__ADS_1
" Pah Reya mau kembali ke Paris," ucap Reya dengan yakin yang mengejutkan Argantara.
Anggika juga kaget dan pasti tidak percaya. Sean sampai berhenti makan mendengar perkataan Reya dan langsung melihat Reya serius dan Citra juga terkejut mendengarnya. Padahal dia tidak melakukan apa-apa dan wanita yang ingin di pulangkannya ke asalnya ingin pergi.
" Apa maksud kamu Reya?" tanya Argantara yang berharap salah dengar.
" Reya mau ke Paris pah. Reya lebih baik tinggal sama mama. Reya tidak ingin tinggal di sini," jelas Reya yang mungkin sudah memikirkan hal itu.
" Reya papa tau kamu berat tinggal di rumah ini. Tapi kamu tidak mungkin kembali kesana. Papa tidak ingin Reya kamu tinggal sama mama kamu," sahut Argantara yang pasti takut dengan kejadian yang di alami Reya.
" Mas. Kenapa harus menahan-nahannya. Biarkan dia kembali ke asalnya. Dia mungkin sudah sadar jika dia hanya menjadi duri di rumah ini. Jadi biarkan dia pergi," sahut Anggika yang pasti setuju dengan keputusan Reya. Karena apa yang di khawatirkannya tidak akan terjadi.
" Anggika aku tau kamu membenci Reya, tidak suka padanya. Tetapi aku tidak akan membiarkannya pulang begitu saja. Kamu tidak tau apa yang terjadi padanya. Jika dia harus pulang," ucap Argantara menegaskan.
" Apa maksud Reya. Melakukan apa. Memang apa yang di alaminya dan kenapa papa begitu takut dia akan pergi," batin Sean yang memikirkan sesuatu.
" Baguslah jika dia akhirnya pergi itu artinya. Tidak akan ada yang mengganggu kami lagi," batin Citra yang paling bahagia dengan mendengar apa yang di katakan Reya.
" Papa tetap tidak bisa melepas kamu Reya," sahut Argantara.
" Pah ayolah. Untuk apa tinggal di tempat yang tidak nyaman untukku. Reya sudah capek dengan menghadapi semua ini dan Reya benar-benar hanya ingin sama mama. Jika papa ingin menemui Reya. Tidak akan ada kendalanya. Reya sayang sama papa. Tetapi Reya juga tidak mau meninggalkan mama sendirian di sana," ucap Reya yang benar-benar sudah mantap meninggalkan neraka itu.
Awalnya dia ingin bertahan. Namun apa yang terjadi padanya. Mana mungkin membuatnya bertahan. Dan lebih baik dia pergi membawa luka yang sangat parah itu. Argantara sendiri begitu berat ketika harus membiarkan putrinya pergi.
__ADS_1
**********
Reya berada di kamarnya yang sekarang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Dia benar-benar akan meninggalkan Jakarta untuk yang ke-2 kalian dan tetap dengan hal yang sama yang pergi dengan membawa luka.
Dulu dia harus pergi karena luka kebenaran yang ada dan perasannya yang gantung dengan Sean dan sekarang luka yang lebih parah karena perasaan yang ada namun tidak bisa menyatu. Reya harus pergi. Dia memilih mengalah.
" Reya!" tiba-tiba Argantara sudah berada di depan pintu kamar. Argantara menatap sendu Reya.
" Pah," sahut Reya. Argantara menghela napasnya yang menghampiri Reya.
" Kamu benar-benar yakin akan pergi?" tanya Argantara yang berdiri di depan Reya yang masih berharap Reya akan mengubah pikirannya.
Reya tersenyum dan memegang tangan papanya, " Reya yakin pah. Ini sudah keputusan Reya. Mama tidak akan melakukan hal itu lagi kepada Reya. Papa harus percaya pada reyay jika semuanya akan baik-baik saja. Papa bisa menelpon Reya. Jika papa kangen," ucap Reya meyakinkan Argantara.
" Tapi Reya. Papa sangat khawatir padamu. Mama kamu bisa mencelakai kamu lagi. Kamu juga harus tau itu alasan papa membawa kamu kemari. Karena papa tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Argantara.
" Reya akan bicara pada mama pah. Mama hanya emosi saat itu. Reya akan bicara baik-baik dan iya Reya ini anak kandung mama dan mana mungkin mama akan mencelakai Reya. Kemarin itu karena Reya membuat kesalahan dan sangat wajar mama menghukum Reya. Jadi papa jangan khawatir. Reya akan baik-baik saja," ucap Reya meyakinkan Argantara.
" Baiklah papa akan melepaskan kamu. Maafkan papa ya. Kamu harus menderita menanggung semua ini. Kamu tidak tau apa-apa. Tetapi kamu harus menderita. Maafkan papa ya," ucap Argantara memegang pipi Reya yang mana matanya berkaca-kaca. Reya tersenyum dan langsung memeluk papanya.
" Reya tidak apa-apa pah. Mungkin semua ini sudah takdir. Reya akan baik-baik saja. Dan semoga ada kebahagiaan untuk Reya. Walau Reya tidak tau apa kebahagiaan itu akan ada," ucap Reya.
" Kamu anak yang baik Reya. Papa yakin akan ada kebahagiaan yang datang pada kamu. Papa yakin itu," sahut Argantara. Reya meneteskan air matanya yang menagis di pelukan papanya.
__ADS_1
Bersambung