
"Apa sebenarnya maksud dari Sean. Kenapa dia membawaku kemari dan apa yang di katakannya, menikah," batin Reya dengan penuh tanya. Perasaannya begitu dek-dekan dengan tangannya yang di pastikan sudah dingin.
"Kakek aku berharap kedatangan ku tidak sia-sia datang kemari," ucap Sean dengan wajah seriusnya.
"Jangan berbicara sambil berdiri Sean, duduklah dulu. Tidak ada yang perlu di buru-buru dalam hal ini. Kamu bicaralah dengan duduk di sini," ucap kakek tua itu yang terlihat santai yang mempersilahkan Sean dan juga Reya.
"Ayo Reya," ajak Sean. Reya menganggukkan kepalanya.
Sean pun duduk dengan mengajak Reya yang mana mereka berdua duduk berdampingan dengan Reya yang terlihat gugup yang dia masih belum mengerti dengan apa yang sebenarnya.
"Jadi ini Reya?" tanya kakek tua itu yang sepertinya sudah tau siapa Reya.
"Iya ini Reya, Reya yang aku ceritakan sebelumnya dengan kakek," sahut Sean.
"Reya saya ini Laksmana, saya adalah kakek Sean yang artinya saya adalah ayah dari Argantara," jelas Pria itu yang mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya yang ternyata kakek Sean.
"Salam Kakek," ucap Reya dengan memberikan salam dengan berusaha tenang. Walau sebenarnya Reya begitu gugup.
"Reya saya sedikit mengenal dan mengetahui tentang kamu dari Sean dan pasti juga mengatahui siapa kamu sebsnanrnya," sahut Pria itu dengan yang berbicara ramah pada Reya.
"Iya kakek," ucap Reya dengan gugup.
"Jadi Sean kamu sungguh-sungguh akan menikahi Reya?" tanya kakek tersebut.
"Iya seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku benar-benar akan menikah dengan Reya, aku mencintainya dan jika mengatakan semua ini pada mama dan papa. Mereka tidak akan setuju. Jadi aku ingin menikah dengan mereka," ucap Sean dengan apa adanya yang mengatakan apa yang sebenarnya.
"Kakek. Aku mohon pada kakek. Tolong nikahkan kami. Aku mohon kek. Aku tidak bisa membiarkan hubungan kami terus seperti ini. Aku harus mengikat Reya dengan pernikahan, aku harus bertanggung jawab pada Reya dan harus melindungi Reya," ucap Sean yang terus mengatakan hal yang sama pada kakeknya.
"Reya bagaimana dengan kamu. Apa kamu juga mencintai Sean?" tanya kakek yang mengalihkan pada Reya.
"Iya aku sangat mencinta Sean," jawab Reya apa adanya.
__ADS_1
"Kamu tau Sean itu saudara kamu?" tanya kakek.
Reya menganggukkan kepalanya.
"Lalu apa menurut kamu hubungan kamu dan Sean itu benar?" tanya kakek.
"Kakek!" sahut Sean yang tidak ingin kakeknya menyinggung masalah itu. Karena sebelumnya dia juga mendapat nasehat dari sang kakek.
"Sean biarkan kakek bicara dulu dengan Reya, kakek hanya bertanya. Bukannya giliran kamu sudah dan sekarang biar giliran Reya yang kakek tanya," sahut kakek.
"Tapi kakek," sahut Sean.
"Raya kamu jawab pertanyaan kakek. Apa kamu tau jika hubungan kamu dan Sean itu salah?" tanya kakek lagi.
"Cinta tidak pernah salah, mungkin caranya yang salah dan cinta tidak pernah tau kapan datangnya dan dengan siapa. Aku dan Sean saling mengenal sebelum kami mengetahui hubungan kami yang ternyata saudara. Perasaan kami sudah kami kesampingkan. Kami sudah mengakhiri segalanya. Namun tetap perasaan itu tetap ada. Lalu jika di tanya apakah hubungan itu salah atau tidak. Maka jawabannya hubungan itu tidak salah," sahut Reya yang sepertinya juga tidak akan mengalah dengan hubungannya dan Sean.
Mendengar hal itu kakek mengangguk-anggukan kepalanya dengan melihat Sean dan Reya secara bergantian.
Sean mendengarnya jelas sangat bahagia dengan tersenyum. Namun Reya justru kaget dengan apa yang dikatakan kakek. Menyetujui pernikahannya dengan Sean begitu saja. Yang padahal kakek tau Reya dan Sean bersaudara. Tetapi kenapa menyetujui hal itu. Itu memang kabar bahagia. Tetapi Reya justru bingung apakah harus bahagia atau justru banyak pertanyaan yang ada di pikirannya yang membuatnya bingung.
"Kakek sungguh akan merestui pernikahan kamu?" tanya Sean yang masih tidak percaya.
"Bukannya kamu ingin restu dari kakek dan tujuan kamu datang kemari karena ingin restu dan memberi ancaman tidak akan pulang jika kakek tidak memberikan restu pada kamu," kakek dengan santai.
Sean mendengarnya begitu bahagia yang akhirnya bisa menikahi Reya dengan restu kakek itu rasanya sudah cukup. Sean menghadap Reya dengan memegang ke-2 tangan Reya.
"Kita akan menikah Reya. Kita akan bersama dan tidak ada yang akan memisahkan kita lagi," ucap Sean menatap Reya dalam-dalam yang mana Sean begitu bahagia dengan restunya.
"Kamu bahagiakan kita akan menikah?" tanya Sean. Karena wajah Reya lebih seperti orang terkejut dari pada Reya tersenyum.
"Reya!" tegur Sean yang tidak mendapatkan jawaban apa-apa.
__ADS_1
"Iya Sean. Aku bahagia. Aku sangat bahagia dengan restu yang di berikan kakek," ucap Reya
"Kakek Terima kasih kek untuk restu yang kakek berikan. Aku benar-benar tidak menyangka jika kakek akan memberikan kami restu," ucap Sean.
"Tidak perlu berterima kasih. Jika kamu bahagia bersama Sean. Lalu kenapa tidak," sahut kakek.
"Reya dan kamu Sean. Kakek hanya berpesan untuk kalian tetap saling melindungi dan teruslah bersama," ucap kakek.
"Itu pasti kek," sahut Sean dengan mengangguk tersenyum kembali pada Reya yang masih tidak menyangka akan menikah dengan Reya.
Mungkin ini yang di katakan Sean, pergi ketempat sesuatu dan akan kembali ketika dia dan Sean bersama dan ternyata Sean membawa Reya ketempat kakeknya untuk meminta Restu tidak banyak yang di katakan sang kakek. Kakeknya langsung merestui.
********
Sean dan Reya berada di taman belakang yang mana mereka jalan-jalan di taman belakang.
"Sean!" ucap Reya membuat langkah Sean terhenti.
"Ada apa Reya?" tanya Sean.
"Kenapa kakek memberikan kita restu?" tanya Reya yang berdiri berhadapan dengan Sean.
Mendengar apa yang di katakan Reya membuat Sean malah bingung.
"Reya kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita?" tanya Sean balik.
"Bukan begitu Sean. Aku bahagia dengan pernikahan kita dan apalagi mendapatkan restu hanya saja aku bingung kakek memberikan kita restu yang padahal dia tau apa yang terjadi," ucap Reya yang memang memikirkan hal itu.
"Reya apa itu masih penting. Mungkin kakek lebih memahami kita berdua. Makanya dia memberikan kita restu. Reya seharusnya kita tidak memikirkan apa-apa. Yang terpenting kita bisa menikah dan bisa sama-sama menjaga anak kita," ucap Sean.
Bersambung
__ADS_1