
Reya akhirnya kekantor suaminya untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya.
toko-tok-tok-tok
"Masuk!" sahut Sean dari dalam ruangan yang terlihat sibuk dengan dokumen-dokumen penting. Reya pun akhirnya membuka pintu.
"Sayang," sapa Reya membuat Sean melihat istrinya itu yang memasuki ruangannya.
"Aku bawakan kamu makan siang," ucap Reya yang menghampiri suaminya.
"Ya ampun sayang, kenapa harus repot-repot," ucap Sean yang merasa tidak enak pada istrinya itu.
"Tidak repot kok. Tapi kalau tidak enak jangan marah ya," ucap Reya yang tidak percaya diri dan sudah duduk di sofa membuka bekal yang tadi di bawahnya.
"Kamu ini becanda aja kerjanya, memang kapan masakan kamu itu tidak enak," ucap Sean geleng-geleng yang menghampiri istrinya.
"Tetapi kali ini kayaknya benar-benar tidak enak sayang. Pokoknya jangan marah ya. Aku tadi tidak mau bawa makan siang kamu. Karena aku takut kamu kecewa. Tetapi mama malah maksa. Jadi mau tidak mau harus bawa deh," ucap Reya dengan wajahnya yang manyun.
"Kamu ini ada-ada aja, aromanya saja sudah nikmat seperti ini," ucap Sean yang merasa begitu nikmat dengan mengipas-ngipas dengan tangannya supaya menghirup aromanya. Berbeda dengan ekspresi yang di tunjukkan Reya yang sepertinya tidak menyukainya dan bahkan sangat menghindari aroma makanan tersebut.
"Aku coba ya," ucap Sean yang langsung mencicipi menggunakan sendok. Reya benar-benar menunggu reaksi suaminya dengan dahinya yang mengkerut.
"Hmmmm, lezat sekali," sahut Sean yang terlihat sangat menikmati kuah SOP tersebut.
"Masa sih, kamu jangan bohong deh," ucap Risya yang tidak percaya diri dan merasa suaminya hanya berbohong saja.
"Aku tidak bohong sayang, emang iya kok sangat enak. Lagian ini rasanya seperti biasa kamu masak di rumah," ucap Sean apa adanya yang melanjutkan makan dan sekarang mencampur dengan nasi.
"Tapi aku rasa bumbunya salah, aku malah enak makananya," ucap Reya.
"Itu hanya perasaan kamu saja," sahut Sean sembari mengunyah, "ini kamu cobain deh," ucap Sean yang langsung menyulangi istrinya. Bukannya istrinya mau malah memalingkan wajahnya yang terlihat tidak suka.
"Tidak suka," ucap Rey dengan menutup hidungnya membuat Sean heran dengan tingkah istrinya itu.
"Kamu sakit?" tanya Sean.
"Kenapa tiba-tiba bilang seperti itu?" tanya Reya heran.
__ADS_1
"Ya kamu tiba-tiba bilang tidak enak, baunya tidak enak. Kamu itu seperti sedang sakit," ucap Sean.
"Tapi perasaan aku sehat-sehat saja. Mungkin memang hidungku dan lidahku lagi bermasalah aja dan mungkin karena pengaruh cuaca juga," ucap Reya yang menyimpulkan sendiri.
"Itu berarti kamu belum makan sama sekali?" tebak Sean. Reya mengangguk apa adanya.
"Sayang, kondisi kamu bisa tidak membaik," ucap Sean.
"Habisnya aku tidak selera makan dan juga tidak lapar. Nanti aku pasti makan kok kalau sudah lapar," ucap Reya.
"Ya sudah kamu istrirahat di sini saja ya. Kamu jangan kemana-mana. Nanti kita pulang sama-sama," ucap Sean yang mengkhawatirkan istrinya.
"Iya sayang," sahut Reya.
"Ya sudah aku boleh makan lagi?" tanya Sean.
"Boleh. Tetapi memang benarkan makanannya tidak ada masalah?" tanya Reya yang masih ragu.
"Iya sayang ini sangat enak. Masakan istriku mana pernah tidak enak," ucap Sean yang membuat Reya tersenyum lebar dan merasa lega. Benar juga kata mamanya jika masakan yang di masaknya memang sangat enak.
Reya hanya melihat suaminya makan dengan lahap. Walau dia sebenarnya sangat enek melihat makanan yang di masaknya itu. Namun sebagai istri dia harus menemani sang suami.
*********
"Citra aku duluan ya, soal nya aku ada acara mendadak," ucap Rose yang izin tiba-tiba.
" Oh ya sudah tidak apa-apa," jawab Citra yang tidak masalah.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Rose.
"Aman kamu tenang aja. Nanti aku hubungi supir. Jadi kamu pergi aja," ucap Reya.
"Ya sudah aku duluan, bye," ucap Rose melambaikan tangannya dan keluar dari kelas tersebut dan Citra yang sudah memasukkan barang-barangnya kedalam tasnya langsung berdiri dari tempat duduknya yang juga ingin pergi.
Citra berjalan keluar dari kelas. Namun Citra di kagetkan saat seseorang tiba-tiba muncul di depan pintu yang membuat Citra terkejut sampai mengusap dadanya.
"Kak Reval," lirih Citra dengan dadanya yang kembang kempis.
__ADS_1
"Maaf Citra aku membuatmu kaget," ucap Reval yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kaka Reval. Citra memang kaget. Lagian kak Reval ngapain sih tiba-tiba sudah muncul di sini?" tanya Citra heran.
"Tidak apa-apa. Saya hanya bertanya. Kamu setelah ini ada kuliah atau tidak?" tanya Reval.
"Ohhh, aku tidak ada kuliah sih. Sudah selesai," jawab Citra.
"Hmmm, kalau tidak keberatan kita jalan sebentar, saya juga tidak ada kelas hari ini," ucap Reval yang ingin mengajak Citra untuk jalan-jalan.
"Hmmm, boleh," sahut Citra setelah berpikir cukup lama.
"Ya sudah mari!" ucap Sean yang mempersilahkan Citra untuk berjalan terlebih dahulu. Citra mengangguk dan akhirnya berjalan dan Reval pun menyusulnya.
**********
Citra dan Reval hanya jalan-jalan di taman yang tidak jauh dari kampus. Mereka berdua duduk di salah satu bangku dengan menikmati eskrim. Bukan ke-2nya yang makan eskrim hanya Citra saja.
"Bagaimana kuliah di hari pertama kamu?" tanya Reval.
"Lumayan dek-dekan, seperti kembali berkomunikasi lagi, dan ya seperti menyesuaikan diri kembali," jawab Citra sembari menikmati eskrim yang di makannya
"Nanti juga kamu akan terbiasa lagi dan tidak ada masalah kan dengan teman-teman kamu yang lainnya atau anak-anak di kampus ini?" tanya Reval.
"Tidak kok kak mereka terlihat cuek dan seperti biasa aja. Tidak seperti dulu, nyinyir dan banyak keponya," jawab Citra.
"Syukurlah Citra akhirnya semua masalah ini selesai. Kamu juga mengambil keputusan yang tepat untuk kembali kuliah, saya benar-benar senang mendengarnya," ucap Sean.
"Kak Reval sendiri bagaimana. Bukannya aku dengar-dengar dari Rose. Kak Reval bahkan sudah ingin regsin. Kalau kenapa muncul lagi?" tanya Citra.
"Banyak pertimbangan dan lagian harus melihat kamu Lulu di kampus ini dulu baru memikirkan pengunduran diri," jawab Reval yang melihat ke arah Citra dan Citra juga melihat Reval.
Mereka yang saling melihat terlihat sama-sama tersenyum dan Reval melihat ada bekas eskrim di ujung bibir Citra dan Reval spontan mengusapnya dengan jarinya.
"Makan jangan berantakan," ucap Reval yang menatap Citra begitu dalam. Citra menelan salivanya dengan tersenyum tipis yang lebih malu-malu dengan Reval.
Mereka memang sangat betah untuk tetap saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
Bersambung