Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 347


__ADS_3

Sean maju langkah demi langkah untuk mendekati Renita. Polisi juga tampak terlihat siap-siap yang tidak tau apa yang akan di lakukan Polisi. Sementara Reya sudah penuh dengan ketakutan yang takut akan terjadi sesuatu pada suaminya. Saat suaminya itu nekat.


"Kamu letakkan anakku!" perintah Sean yang sudah sangat dekat dengan Renita.


"Baiklah," Renita menurut dan perlahan meletakkan bayi itu di atas tanah dengan mata Renita yang terus melihat Sean yang seperti mengawasi Sean.


Sean dengan cepat dan mengambil kesempatan langsung ingin mengambil bayinya buru-buru untuk menyelamatkan bayinya. Namun Renita yang melihat hal itu langsung menarik tangan Sean.


"Kak Sean!" teriak Reya


"Kek Sean!" teriak Citra.


"Sean!" teriak Reval saat Sean terlihat terjatuh bersama Renita.


Mereka semua berlari mendekati tebing dan Reya langsung mengambil anaknya yang di letakkan di tanah. Namun Sean dan Renita ternyata belum jatuh. Di mana Sean masih memegang ujung tebing untuk menolong dirinya sendiri agar tidak jatuh. Sementara Renita memegang kaki Sean yang bergelantungan.


"Kak Sean!"


"Kak Sean!" Reya dengan penuh ketakutan melihat suaminya yang berjuang untuk bisa selamat.


"Sean pegang kuat tanganku!" ucap Reval yang memberikan tangannya dan dengan perlahan dan sangat hati-hati Sean menyambut uluran tangan itu. Bukan hanya Reval. Polisi juga membantu Reval untuk menarik Sean ke atas.


"Sean kau sudah berjanji padaku untuk mati bersama. Kau tidak bisa melakukan ini Sean. Kau harus mati bersamaku," ucap Renita yang terus menarik kaki Sean agar Sean ikut jatuh bersamanya.


"Aku tidak bodoh Renita. Aku tidak akan mati bersamamu. Jadi jika ingin mati. Maka matilah jangan mengajak-ngajakku," tegas Sean yang bahkan menggoyang-goyangkan kakinya agar Renita melepaskannya.


"Kau pikir bisa selamat setelah membohongiku. Kau jangan mimpi. Kau tidak akan selamat. Takdir sudah menetapkan kita untuk mati bersama dan kau akan mati bersamaku," ucap Renita dengan tertawa-tawa.


"Sean jangan dengarkan dia. Kau pegang erat tanganku," sahut Reval. Sean hanya mendengarkan arahan Reval yang berusaha membantunya untuk naik.


"Nona Renita menyerahlah!" tegas Polisi.


"Tidak akan. Percuma kalian melakukan hal itu. Percuma kalian ingin menyelamatkan Sean. Hanya sia-sia saja. Karena dia akan mati bersamaku. Ha-ha-ha-ha-ha-ha!" teriak Renita yang tertawa terbahak-bahak.


Namun Reya hanya penuh dengan ketakutan melihat suaminya itu yang sedang berjuang untuk hidup.


"Pak Sean lakukan. Jika ingin melakukannya!" ucap Polisi yang memberi arahan.

__ADS_1


Sean mengangguk dan terus berusaha naik. Namun Renita juga terus melakukan hal yang ingin di lakukannya untuk mati bersama Sean.


Suara helikopter terdengar di atas sana yang sangat dekat dengan Sean dan Renita. Renita melihat keatas dan panik yang sepertinya helikopter itu ingin menyelamatkan dirinya dan Sean. Semakin banyak yang membantu mereka. Renita semakin menjadi-jadi dan semakin kuat menarik Sean.


"Kita tarik!" perintah Polisi. Reva menganggukkan kepalanya.


1,2,3," teriak mereka dengan mengeluarkan tenaga dan Sean pun sampai naik keatas dan pasti Renita juga ikut. Namun Renita masih mencari kesempatan menarik baju Sean agar jatuh kembali ke bawah.


"Kak Sean!" teriak Reya dengan matanya yang melotot.


"Kak Sean!" teriak Citra.


"Aaaaaaaaaaa!" teriak Renita yang ternyata tidak berhasil menarik baju Sean. Tangannya lepas dari baju Sean dan akhirnya Renita yang terjatuh ke bawah.


"Kak Sean!" lirih Reya yang menghampiri suaminya dan langsung memeluk suaminya itu dengan Sean juga memeluk Reya dengan anak mereka yang masih di gendongan Reya.


"Aku baik-baik saja Reya. Aku tidak apa-apa sama sekali. Aku baik-baik aja," sahut Sean yang memeluk begitu erat istrinya yang tubuh sang istri yang sangat bergetar.


Sementara Reval dan Citra juga Polisi melihat ke arah bawah. Citra menutup matanya saat melihat jelas Renita yang tergeletak di bawah sana dengan kepala yang berdarah. Dapat di pastikan jika Renita sudah mati di bawah sana.


"Dia yang ingin membunuh dirinya sendiri. Jadi dia yang bersalah dan kematian seperti itu adalah keinginannya," ucap Reval. Citra menganggukkan kepalanya dan memeluk Reval.


***********


Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu Liu


Suara mobil Polisi masih terdengar dan bahkan suara mobil ambulan juga ada. Beberapa petugas Polisi sedang mengevakuasi mayat Renita. Di mana mayat Renita yang sudah di masukkan ke dalam kantong jenazah yang di bawa kedalam ambulan.


Reya, Citra, Sean dan Reval hanya melihat saja bagaimana para petugas membawa kantung itu kedalam mobil ambulan.


"Dia tidak akan menggangu kehidupan kita lagi. Dia sudah pergi untuk selama-lamanya," ucap Sean.


"Aku sangat bersyukur kak Sean tidak apa-apa. Aku sangat takut. Jika Renita menarik kak Sean dan aku tidak membayangkan jika kak Sean akan seperti dirinya," batin Reya yang masih sangat takut.


"Aku sudah berjanji Reya akan bersama kamu terus. Kapan ada di sisi kamu dan anak kita. Maka hal itu tidak akan terjadi," ucap Sean yang kembali merangkul istrinya.


"Aku mengenalnya baik dan dia juga wanita yang pernah ku anggap sebagai sahabat. Bahkan sudah seperti keluarga. Tetapi dia berubah menjadi wanita jahat dan sekarang ini yang terjadi betapa jahatnya dirinya," ucap Reya.

__ADS_1


"Intinya sekarang orang yang mengganggu kita dan berusaha untuk menyakiti kita semua sudah tidak ada. Ini akan kita jadikan pelajaran yang berharga," sahut Reval.


"Kak Reval benar. Renita sudah pergi dan pergi karena resiko yang di ambilnya sendiri dan semua terjadi karena keinginannya sendiri," sahut Citra.


Tiba-tiba mobil berhenti di dekat mereka dan yang keluar dari mobil itu. Anggika, Sahila dan Argantara.


"Reya!"


"Sean!"


"Citra!"


"Reval!"


3 Orang itu langsung berlari menghampiri Sean dan yang lainnya.


"Mama!" lirih Citra.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Anggika yang langsung melihat Reya dan memegang pipi Reya. Anggika juga memeriksa cucunya apakah baik-baik saja.


"Tidak mah. Kami tidak apa-apa," jawab Reya.


"Alhamdulillah, mama benar-benar takut terjadi sesuatu pada kalian," ucap Anggika yang memeriksa satu persatu semua orang yang ada di sana.


"Bagaimana dengan Renita? Apa dia sudah tertangkap?" tanya Sahila.


"Di ada di sana mah," tunjuk Reval yang memperlihatkan kantong mayat di dalam mobil ambulan yang terbuka.


"Jadi dia tidak selamat?" tebak Argantara.


"Iya pah. Dia sudah tiada. Dia jatuh dari tebing dan akhirnya mati," jawab Sean.


"Sungguh naas sekali. Tetapi pasti itu keinginannya. Yang penting kalian baik-baik saja. Papa lega melihatnya," ucap Argantara.


"Iya pah," sahut Sean.


"Ya sudah sebaiknya kita pulang yuk!" ajak Anggika.

__ADS_1


"Iya mah," sahut Reya dengan menganggukan kepalanya dan mereka pun pulang setelah masalah dan urusan mereka selesai dan Renita yang pergi untuk selama-lamanya.


Bersambung


__ADS_2