
Sean dan Reya berdiri di depan kamar Citra dengan mereka yang saling berhadapan. Reya memegang tangan Sean dengan menatap suaminya itu.
"Yang di butuhkan Citra sekarang ini adalah kamu. Kondisi Citra sudah jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga dia mengingat kamu sebagai kakaknya yang sangat menyayanginya dan sekarang dia sangat ingin bertemu kakaknya. Karena dia sangat takut jika kamu membencinya dan tidak ingin berbicara padanya atau tidak menganggapnya sebagai adik," ucap Reya yang membujuk Sean untuk berbicara pada Citra.
"Aku mengerti apa yang kamu rasakan, seorang kakak akan sangat terluka melihat adik kesayangannya hancur di depannya. Tapi kak Sean semua masalah sudah terjadi dan kita hanya tinggal memperbaiki apa yang masih bisa kita perbaiki sama dengan Citra yang sekarang ada bersama kita dan kita bisa melihat kesulitan yang di dapatkannya dan dia mengakui dia tidak bisa menghadapinya sendirian. Jadi mari untuk membantunya dan terus membuatnya jika dia tidak sendirian," ucap Reya dengan kata-katanya yang sangat dalam pada Sean yang hanya diam mendengarkan dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Itu yang di takutkannya, sangat di takutkan Citra, jika kamu sangat membencinya, dia sangat takut kehilangan kamu yang sebagai powernya. Jadi Sean masuklah dan temui dia, marah jika ingin memarahinya. Karena seorang kakak berhak marah dengan adiknya melakukan kesalahan, peluk jika ingin memeluknya karena aku yakin kamu sangat ingin memeluk Citra. Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan kepada Citra," ucap Reya memberi saran suaminya.
Sean hanya menganggukkan kepalanya dan mengusap air matanya yang akhirnya jatuh.
"Sana masuk!" titah Reya lagi dan Sean menghela napasnya yang akhirnya mengangguk yang bagaimana pun dia harus berbicara pada Citra.
Sean dengan keyakinan membuka pintu kamar untuk secepatnya memasuki kamar tersebut. Sean langsung duduk dengan memasuki kamar tersebut dan melihat Citra yang sudah tidak berada di atas tempat tidur yang mana Citra sudah berdiri menghadap jendela yang melihat keluar jendela.
Sean menghela napasnya dan melangkah masuk kedalam kamar dengan perlahan yang berdiri di belakang Citra.
"Citra," lirih Reval yang membuat Citra mendengar suara itu membuat air mata Citra langsung keluar dan berbalik badan untuk melihat suara yang pasti di ketahuinya yang siapa lagi jika bukan kakaknya.
"Kak Sean," Citra langsung berlutut dengan memegang kaki Sean, "maafkan Citra, maaf kak Sean, maafkan Citra," Citra langsung histeris dengan merasa bersalah yang meminta maaf pada Sean dan Sean pasti tidak bisa mengendalikan dirinya dan langsung memeluk Citra yang juga tangis Sean pecah.
"Semua ini kesalahan kakak Citra, kakak lalai dalam tugas kakak dan kamu mengalami semua ini, semua ini terjadi karena kesalahan kakak Citra. Kakak yang bersalah Citra," ucap Sean yang pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak kak Sean kakak tidak salah. Citra yang salah, semua ini Citra yang salah, Citra yang menyakiti kakak, mengecewakan kakak, Citra yang salah kak," ucap Citra dengan penyesalannya.
"Semua ini tidak akan terjadi. Jika kakak lebih memperhatikan kamu, ini tidak akan terjadi Citra jadi yang pantas di salahkan adalah kakak dan bukan kamu," ucap Sean yang memeluk erat asiknya.
"Lalu kakak apa membenci Citra, apa kakak sangat membenci Citra dengan semua yang Citra lakukan?" tanya Citra yang seperti apa yang di katakan Reya. Citra sangat takut jika Sean akan membencinya.
__ADS_1
"Tidak ada yang membenci kamu Citra. Kakak tidak membenci kamu, tapi pasti kakak sangat kecewa kepada kamu. Tapi ini bukan salah kamu kakak juga sepenuhnya bersalah dengan semua yang terjadi," ucap Sean yang memeluk adiknya dengan erat sampai Reval melepas pelukannya dari Citra dengan memegang ke-2 pipi Citra dan menatap mata adiknya yang penuh dengan kekosongan.
"Kakak sangat menyayangi kamu Citra, kakak tidak membenci kamu, karena tidak ada seorang kakak yang membenci adiknya. Jadi kita hadapi masalah ini sama-sama. Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu. Jadi sekarang kita hadapi ya sama-sama masalah ini," ucap Sean dengan Citra menganggukan kepalanya.
"Kamu adik yang paling kakak sayangi Citra. Sekarang katakan kepada kakak siapa ayah bayi yang kamu kandung?" tanya Sean yang mengejutkan Citra dengan pertanyaan sang kakak.
"Katakan Citra kepada kakak siapa orangnya?" tanya Sean yang pasti ingin tau siapa laki-laki yang menghancurkan asiknya.
Citra yang tidak ingin menjawab menggelengkan kepalanya. Dia seolah tidak mau jika Sean akan mengetahui jika Reval ayah dari janin yang ada di rahimnya dan mengatakan Reval yang dengan sengaja melakukan semua itu karena masa lalu sang mama.
"Citra kamu tidak ingin mengatakannya?" tanya Reval.
"Kak Sean maafkan Citra. Tetapi Citra tidak bisa mengatakan kepada kakak. Maafkan Citra kak. Buka Citra bermaksud apa-apa kak. Maafkan Citra tapi Citra tidak ingin pria itu muncul di hadapan Citra. Citra ingin melupakannya," ucap Citra yang kembali menangis histeris karena sangat tidak ingin memberitahukan siapa laki-laki yang menghancurkan.
"Jika kamu tidak memberitahunya apa yang harus kakak lakukan Citra. Kita tidak bisa menghadapi masalah ini Citra," ucap Sean.
"Baiklah lalu apa yang kamu inginkan, kakak akan melakukan apa yang kamu inginkan," ucap Sean lebih baik tidak memaksa sang adik dari pada memaksanya yang nanti adiknya kembali histeris.
"Bawa Citra pergi jauh kak, Citra tidak mau tinggal di sini. Bawa Citra pergi sejauh mungkin kak," ucap Citra yang hanya meminta satu hal pada Sean.
Mungkin dia sudah ingin melupakan Reval dan menerima takdirnya. Namun tinggal di tempat yang penuh dengan luka tidak mampu membuat Citra bertahan dan lebih baik Citra pergi dengan membawa luka itu. Luka bukan hanya dari Reval pria yang di cintainya. Namun luka juga dari sang mama yang penuh dengan kebohongan, penghiyanat dalam pernikahan dan dia sendiri menjadi korbannya.
***********
Pembicara Sean dan Citra sudah cukup dengan akhirnya Sean memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut dengan masalah yang di hadapi adiknya.
Setelah berbicara dengan Citra tadi dan Citra juga sudah istirahat dengan baik. Sean pun langsung berbicara dengan istrinya.
__ADS_1
"Aku tidak tau Reya kenapa Citra harus menyembunyikan Pria itu," ucap Sean yang menceritakan pada istrinya.
"Jadi Citra tidak memberitahu masalah ini pada Sean. Jika Reval adalah ayah dari bayi yang di kandungnya," batin Reya.
"Aku hanya ingin Pria itu bertanggung jawab dengan semua yang di lakuaknnnya. Namun aku tidak tau alasan Citra masih menutupi semua ini," ucap Reval yang pasti tidak terima.
"Lalu apa yang di katakan Citra lagi. Apa yang harus kita lakukan untuk membantunya?" tanya Reya.
"Dia ingin pergi jauh, dia memintaku untuk membawanya pergi jauh dan tidak tinggal di sini," jawab Sean.
"Lalu kamu bagaimana. Apa kamu setuju?" tanya Reya.
"Aku tidak tau Reya. Karena masalahnya Citra juga tidak mau bertemu dengan mama dan aku juga mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat di rumah sakit. Di mana Citra begitu histeris saat bertemu dengan mama. Aku masih bingung dengan sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa ada-ada saja masalah yang terjadi dan aku tidak tau masalah apa yang sebenarnya," jawab Sean.
"Aku juga bingung kak Sean apa harus menceritakannya kepada kamu tentang masalah Tante Anggika dan Citra yang menjadi korban. Lalu bagaimana jika kamu tau nantinya. Apa kamu tidak akan marah dan bagaimana dengan papa dan aku takut menjadi provokator Sean," batin Reya yang tidak bisa berkata apa-apa.
"Reya apa kamu tau sesuatu?" tanya Sean yang menatap sang istri yang membuat Reya cukup terkejut dengan pertanyaan itu.
"Apa maksud ka Sean?" tanya Reya dengan wajahnya yang begitu panik.
"Belakangan ini Citra hanya bicara pada kamu, aku rasa kamu mengetahui sedikit-sedikit tentang Citra, makanya aku bertanya pada kamu yang kemungkinan kamu tau sesuatu," ucap Sean.
"Tidak jsk Sean, aku tidak tau apa-apa sama sekali, aku tidak tau masalah tentang Citra dan Citra juga tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Jika dia mengatakan sesuatu yang penting aku pasti akan membicarakan padamu," jawab Reya. Apa yang di katakan Reya memang benar. Namun dia tau sesuatu karena tau sendiri.
"Kak Sean sudahlah jangan memikirkan hal itu dulu, sebaiknya kita memikirkan kesehatan Citra dan coba untuk berdiskusi tentang keputusan Citra yang ingin pergi," ucap Reya yang mengalihkan pembicaraan.
"Iya kamu benar, aku akan mempertimbangkan keinginan Citra," ucap Sean dengan menghela napasnya yang hanya berusaha untuk berpikir positif demi kebaikan sang adik.
__ADS_1
Bersambung