
Sean masih tetap berada di Restaurant tersebut yang sekarang sedang makan. Karena merindukan sang istri Sean memesan makanan kesukaan Reya. Tetap berusaha tegar padahal hatinya sangat bergetar yang ingin menangis saat suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya.
"Seandainya aku terus ada di sisimu saat kamu detik-detik ingin melahirkan. Kejadian ini tidak akan terjadi Reya. Aku tidak bisa merasakan, melihat bagaimana sakitnya kamu waktu itu. Bahkan sudah 15 menit kamu tidak sadarkan diri Reya. Aku benar-benar tidak tau Reya harus melakukan apa. Aku sangat menyesal membiarkan mu sendiri melewati saat itu," batin Sean.
Masih di selimuti dengan penyesalan karena tidak berada di sisi sang istri saat itu. Masih terasa penuh dengan rasa bersalah.
"Sayang kamu harus bangun. Aku dan anak kita sangat merindukanmu, aku merindukan suaramu dan juga masakanmu, aku merindukanmu Reya," batin Sean.
Dalam makannya dia hanya mengingat sang istri. Mengingat semua tentang Reya dari hal kecil sampai hal besar.
Sementara di depan pintu masuk Restauran terlihat Renita yang sepertinya juga ingin makan di Restaurant tersebut. Saat ingin masuk Renita melihat Sean yang duduk sendirian yang sedang makan.
"Itu bukannya Sean," gumam Renita.
"Dia makan sendirian," ucapnya yang tersenyum miring dengan Renita yang merapi-rapikan rambutnya, bahkan sempat memakai lipstik. Lalu Renita langsung melangkah mendekati meja Sean yang pasti ingin mengganggu Sean.
"Sean!" tegur Renita dengan lembut membuat Sean mengangkat kepalanya melihat ke sebelahnya.
"Ngapain kau di sini?" tanya Sean dengan suara datarnya.
"Hmmm, aku, aku sedang ingin makan," jawan Renita.
"Kalau sedang ingin makan. Lalu kenapa berada di sini?" tanya Sean.
Renita tersenyum dan langsung duduk di hadapan Sean tanpa di suruh Sean.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Sean yang berusaha sabar menghadapi Renita.
"Tidak ada bangku kosong Sean. Jadi aku tidak punya tempat duduk," ucap Renita.
Sean melihat di sekelilingnya dan memang tidak ada bangku kosong membuat Sean menghela napasnya.
"Sean aku mohon jangan mengusirku, aku hanya ingin makan saja," ucap Renita dengan lembut.
"Kalau ingin makan maka makanlah. Jangan bicara padaku," tegas Sean yang tampak cuek
"Iya, baiklah," sahut Renita dengan tersenyum penuh maksud. Sean juga malas menghadapi wanita seperti Renita. Jadi lebih baik Sean menghabiskan makannya dan pergi dari tempat itu buru-buru.
__ADS_1
Renita sudah makan. Karena pesanannya yang sudah datang. Dan Sean seolah tidak menganggap ada Renita di depannya yang mana Sean hanya terlihat cuek saja.
"Reya sangat suka dengan soto," ucap Renita tiba-tiba yang memulai obrolan. Namun tidak di respon oleh Sean.
"Dulu. Waktu kita kuliah bersama. Karena tidak mendapatkan makanan soto yang sesuai dengan masakan di Indonesia. Reya sampai harus membuat sendiri," lanjut Renita yang terus berbicara dan tidak di pedulikan Sean sama sekali.
"Reya sekarang sakit dan Reya sudah tidak bisa makan soto lagi. Tetapi sakit ini justru jangan menyiksanya. Aku sangat kasihan kepadanya yang tubuhnya di siksaan dengan alat medis. Padahal raganya sudah tidak menyatu dengan tubuhnya lagi," ucap Renita yang berkata-kata seakan ada maksud tertentu.
"Apa maksud kamu?" tanya sean menatap Renita dengan tajam.
"Aku seorang Dokter Sean dan aku tau apa yang di rasakan pasien. Kita semua tau Reya itu koma dan kita tau orang koma itu hanya hidup dengan mesin. Jika mesinnya di copot dari tubuhnya maka dia juga akan pergi...."
"Renita!" tegur Sean menekan suaranya dengan Renita yang semakin banyak bicara.
"Sean kamu jangan marah dulu. Aku tau kamu mencintai Reya dan tidak akan menerima. Jika Reya akan pergi selama-lamanya. Tetapi bukan berarti kamu menyiksa Reya dengan membuat Reya tetap bertahan di atas ranjang dengan semua alat medis. Sementara ruhnya sudah tidak bersamanya. Itu sama saja kamu menyiksanya," ucap Renita yang berusaha mencuci otak Sean.
"Jaga bicara kamu. Tidak ada yang menyiksanya di sini. Jadi kamu jangan bicara sembarangan," ucap Sean yang mulai emosi.
"Kamu orang pintar Sean dan kamu tau logika yang benar dan tidak. Orang koma sama saja dengan orang mati," ucap Renita Sanga berani bicara kepada Sean.
Membuat Sean mengepal tangannya dengan matanya yang melotot.
Sean langsung menampar meja dengan telapak tangannya membuat Renita kaget dan bahkan orang-orang yang ada di Restaurant itu juga kaget. Karena suara itu sangat kencang dan bahkan sendok sampai jatuh kelantai.
"Lancang sekali kali kau Renita!" umpat Sean dengan menekan suaranya.
"Sean kamu jangan marah dulu. Apa yang aku katakan adalah kebenarannya dan kamu tidak bisa menyangkal itu," sahut Renita.
"Diam kamu!" bentak Sean berdiri dari tempat duduknya dan menunjuk Renita tepat di wajah Renita.
"Kamu dengar ya Renita. Reya itu masih hidup. Dia koma dan bukan berarti dia itu sudah mati. Jika sekali lagi aku mendengar kau mengatakan istriku mati. Maka kau yang akan buat mati," ancam Sean yang penuh dengan kemarahan sampai membuat Renita tidak bisa berkata apa-apa. Hanya diam dengan menelan salivanya yang terlihat takut dengan kemarahan Sean.
"Jadi kau ingat baik-baik kata-kata ku," kecam Sean dan Sean langsung meninggalkan tempat itu.
"Sial!" umpat Renita dengan tangannya yang terkepal yang juga emosi dengan Sean yang bisa di katakan sudah mempermalukan dirinya.
"Kau mengancamku ingin membuatku mati. Kau salah Sean justru aku yang sekarang yang akan membenarkan ucapanku. Kau lihat saja bagaimana aku akan mengirim istrimu itu langsung ke neraka. Kau begitu menginginkan dia untuk bangun. Kau menunggunya dengan kesetianamu. Tetapi kau salah. Karena aku akan mengirimnya langsung ke Neraka lebih cepat dari pada seharunya," batin Renita dengan penuh dendam kepada Sean dan Reya.
__ADS_1
Tidak tau apa lagi yang akan di lakukan Renita. Dia sudah berusaha untuk mempengaruhi Sean. Namun pasti Sean tidak mudah di pengaruhi dan bahkan Renita di sembur Sean dengan kemarahan Sean atas kelancangan Renita yang berbicara mengenai istrinya.
Renita yang juga tidak terima yang telah di tegur dan Renita langsung mempunyai rencana yang jauh lebih jahat lagi kepada Reya.
**********
Malam hari telah tiba. Citra yang meletakkan bayi Sean dan Reya di atas tempat tidur yang mana bayi itu sudah tertidur dengan lelap.
"Sayang!" Panggil Reval.
"Iya sayang ada apa?" tanya Citra.
"Kita jadi kerumah sakit?" tanya Reval.
"Iya jadi, dedek kecilnya juga sudah tidur," jawab Citra.
"Mama sama papa mana?" tanya Reval.
"Lagi di taman belakangan, biar aku panggilkan dulu mama dan papa untuk menjaga dedek kecilnya," ucap Citra.
"Ya sudah kalau begitu sayang," sahut Reval.
"Kamu tunggu sini ya," ucap Citra.
"Iya sayang," sahut Reval. Citra langsung keluar dari kamar itu dan Reval yang sekarang menjaga bayi kecil itu.
"Om sama Tante Citra akan kerumah sakit untuk melihat mama kamu. Kamu jangan rewel ya sama Opa dan Oma," ucap Reval sembari mengelus-elus pipi merah bayi tersebut.
"Kamu anak yang baik, anak yang kuat. Jadi kita sama-sama berdoa semoga mama cepat sembuh dan bisa main sama kamu," ucap Reval dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kak Reval!" panggil Citra yang sudah berdiri di depan pintu.
"Iya Citra!" sahut Reval.
"Ayo pergi, mama dan papa akan datang kekamar," ucap Citra.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Reval dan mereka berdua meninggal bayi kecil itu di dalam kamar yang akan di jaga Anggika dan Argantara. Karena setelah Citra dan Reval pergi. Anggika dan Argantara langsung kekamar. Karena mereka juga tidak mau bayi kecil itu jadi kesepian.
__ADS_1
Bersambung