
Setelah pulang dari rumah sakit. Reya, Sean, Citra dan Reval pisah mobil. Citra dan Reval yang terlebih dahulu pulang dan Reya kebetulan ada pemeriksaan kandungan jadi Reya masih ada di rumah sakit bersama Sean.
Reval yang menyetir dan Citra di sampingnya yang terlihat murung dengan kepalanya yang hanya melihat ke jendela mobil. Reval yang melihat istrinya seperti itu menghela napasnya dan memegang tangan Citra.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Reval membawa tangan istrinya untuk berada di pahanya. Namun pertanyaan itu sama sekali tidak di jawab Citra yang sepertinya Citra memang ada sesuatu yang terjadi padanya.
"Sayang! Kenapa diam aja?" tanya Reval lagi.
"Apa ini gara-gara perkataan Renita tadi?" tanya Reval dengan menduga-duga. Karena memang pasti iya. Jika bukan karena hal itu karena apa lagi. Toh Citra seperti sekarang ini sehabis pulang dari rumah sakit dan tadi Renita menyinggung hal yang sangat sensitif.
"Sayang, kamu jangan dengarkan kata-kata Renita. Dia tidak tau apa yang terjadi," ucap Reval.
"Jadi kalau dia tau apa yang terjadi. Dia boleh mengatakan itu," sahut Citra tanpa melihat kearah suaminya.
"Bukan begitu sayang. Renita hanya Dokter dan tadi dia juga sudah minta maaf dan mengakui kesalahannya," jawab Reval.
"Kenapa kamu begitu membelanya," sahut Citra yang mulai cemburu.
"Siapa yang memebelanya Citra," sahut Reval yang membantah tuduhan istrinya itu. Citra tidak berbicara lagi dan melepaskan tangannya dari genggaman Reval membuat Reval menghela napasnya dan meminggirkan mobil mereka ke pinggir jalan.
"Sayang. Aku tau apa yang di katakan Renita membuat kamu tersinggung," ucap Reval.
"Lagi pula apa yang di katakannya tidak salah. Jika aku memang pernah hamil di luar nikah," ucap Citra.
"Lalu jika itu benar kenapa?" sahut Sean yang mendekati istrinya dengan kembali memegang tangan istrinya.
"Semua yang terjadi bukan kesalahan kamu. Kau yang salah, aku yang menyebabkan semua itu dan keguguran yang membuat kita kehilangan anak kita. Juga bukan kesalahan kamu aku yang salah, anak kita pergi karena aku tidak bisa menjaga kamu. Jadi semuanya bukan kesalahan kamu," ucap Reval yang mencoba untuk bicara dengan istrinya dengan lembut agar sang istri tidak salah pahaman dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Tapi sekarang Renita tau. Jika kau pernah hamil tanpa suami dan dia pasti sangat hina melihatku," ucap Citra.
"Lalu apa urusannya dengan kita. Terserah Renita mau memikirkan ini dan itu. Semuanya tidak ada urusannya dengan kita. Apa yang terjadi bukan urusan kita sayang. Jadi tidak perlu kita harus memikirkannya," ucap Reval yang mencoba untuk membuat istrinya mengerti.
"Sayang kamu dengarkan aku. Aku ini mencintai kamu dan masa lalu kita pelajaran untuk kita. Terserah dia atau siapapun mengatakan ini dan itu yang penting kita berdua yang menjaga hubungan kita dengan baik dan penuh kepercayaan," ucap Reval.
"Hey, sudahlah kamu jangan sedih lagi ya," Reval membawa Citra kedalam pelukannya untuk menengakan Citra.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Apapun yang terjadi kita serahkan pada tuhan. Dan kita berdua sudah punya janji, punya komitmen dan pasti cinta untuk mengikat hubungan kita yang bisa menutup orang-orang yang jahat pada kita, Jadi kita jangan mendengarkan apa yang di katakan orang lain," ucap Reval dengan bijak yang berusaha untuk membuat Citra mengerti.
Citra hanya diam yang berada di pelukan Reval. Mulut Renita memang berhasil membuatnya tersinggung dan kepikiran terus.
*********
Sementara Reya masih di periksa Renita dengan memeriksa perut Reya dan Sean menunggu di luar.
"Alhamdulillah Renita. Aku sangat lega dengan perkembangan janinku yang semakin membaik," ucap Reya.
"Iya kami benar. Kamu tetap rutin ya minum vitaminnya," ucap Renita memberi saran setelah selesai memeriksa Reya.
"Pasti," sahut Reya yang langsung duduk dan Renita memebereskan alat-alatnya.
"Renita aku boleh bicara dengan kamu?" tanya Reya yang ingin bicara pada Renita. Makanya Reya terus melihat Renita.
"Boleh. Mau mengatakan apa?" tanya Renita.
"Masalah Citra," jawan Reya.
__ADS_1
Renita melihat ke arah Reya, "ada apa dengan adik kamu?" tanya Renita heran.
"Jujur kejadian tadi pagi. Aku juga merasa langsung kenak dengan kata-kata kamu pada Citra. Hal itu tidak pantas kamu tanyakan Renita dan kamu juga tidak pantas untuk mengetahui hal pribadi seseorang. Baik itu aku maupun Citra. Hal itu tidak pantas untuk kamu campuri," ucap Reya yang langsung bicara to the point memperingatkan sahabatnya itu dengan kata-kata halus. Walau halus seperti itu kenak ke hati Renita.
"Reya. Sepertinya kamu itu salah paham. Aku tidak ada maksud untuk menyinggung hal itu dan aku juga tidak tau jika itu terjadi pada Citra dan tadi aku sudah minta maaf," ucap Renita.
"Aku tau kamu sudah minta maaf dan aku berharap tidak terjadi salah paham lagi bagi citra dengan permasalahan dan kedekatan kamu sama Reval. Karena itu juga tidak pantas dan apa lagi Reval juga sudah menikah dan kamu sudah tau itu yang seharusnya kamu bisa membatasi diri. Agar istri Pria yang sudah menikah tidak salah paham," ucap Reya.
"Tunggu-tunggu Reya. Kamu jangan salah paham dengan aku dan Reval. Aku sama sekali tidak ada niat untuk apa-apa kepada Reval. Reya walau aku suka sama Reval. Tetapi aku juga sadar Reval sudah menikah dan aku juga suka dengan Reval itu dulu dan kamu tau itu. Aku juga wanita yang punya adab yang tidak ada maksud untuk menjadi orang ke-3 di rumah tangga mereka," tegas Renita yang menjelaskan.
"Kamu jangan salah paham Reya. Sungguh aku tidak ada maksud apa-apa sama hubungan mereka dan kalau di tanya kedekatan dan bukannya memang kita itu dekat," ucap Renita yang menjelaskan.
"Aku tau Renita kamu tidak mungkin berpikiran atau melakukan hal itu. Ya aku tau itu dan aku mengerti itu. Tapi setidaknya kamu sedikit membatasi diri dari Reval demi menjaga perasaan Citra," ucap Reya.
"Iya Citra aku paham," sahut Renita tersenyum.
"Ya sudahlah aku hanya ingin mengatakan itu saja. Aku berharap tidak ada ke salah pahaman di antara kita," ucap Reya.
Renita mengangguk dengan tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Kak Sean sedang menunggu ku," ucap Reya.
"Baiklah," sahut Renita dan Reya pun langsung keluar dari kamar itu begitu saja.
"Apa maksudnya berbicara seperti itu, seperti memberi peringatan kepadaku," batin Renita yang sedikit tersinggung.
Bersambung
__ADS_1