
Melihat Citra yang seperti itu membuat Reval langsung buru-buru keluar dari mobil untuk mengetahui apa yang terjadi pada Citra.
"Citra kamu kenapa?" tanya Reval panik dengan melihat Citra yang menagis dan pipinya luka karena tamparan dari Anggika yang di saksikannya sendiri.
"Kak Reval, mama! Mama!" Citra memegang lengan Reval dan terlihat panik yang membuat Reval juga panik.
"Ada apa dengan Tante Anggika? kamu tenang dulu? Kamu jangan panik seperti ini," ucap Reval.
"Kak ayo! ayo kita kejar mama. Ayo cepat kak!" Citra dengan paniknya buru-buru berdiri menarik tangan Reval dan Reval kebingungan sendiri yang tidak tau apa yang terjadi. Namun dia menuruti Citra dan berlari memasuki mobil dengan mengejar mobil cepat-cepat karena desakan oleh Citra yang membuat Reval ikutan panik.
***********
Citra dan Reval berada di dalam mobil dengan Citra yang panik sembari memegang handphone yang terlihat gemetar yang seperti menghubungi sesuatu.
"Citra kamu tenang dulu. Ada apa sebenarnya Citra?" tanya Reval yang sejak tadi tidak mendapat jawaban apa-apa.
"Ini gawat kak. Citra tidak tau harus melakukan apa-apa. Mama bisa melakukan hal buruk pada Reya," ucap Citra dengan kecemasannya.
"Reya! maksud kamu Reya siapa?" tanya Reval dengan dahinya mengkerut yang tidak asing dengan nama itu.
"Reya itu saudara tiri Citra. Citra tidak bisa jelaskan sekarang. Karena Citra tidak tau harus dari mana. Pada intinya selama ini papa menyembuyikan Reya. Dan mama sudah tau. Makanya mama marah. Karena Citra tau hal ini yang selama ini mama tau kalau Citra tidak pernah menyukai Reya," jelas Citra terbata-bata.
"Apa ini yang pernah kamu katakan yang berhubungan degan kakak kamu?" tanya Reval. Sebelumnya Citra memang pernah curhat pada Reval. Namun namanya Reval Tidka tau. Karena saat itu Citra tidak mengatakan namnya.
"Iya dia adalah Reya yang selama ini tinggal di Paris," jawab Citra.
"Reya, apa itu Reya yang aku kenal. Reya pernah menyelamatkan Citra saat bersama Barra dan Reya juga mengatakan. Jika jangan memberitahu Citra tentang dirinya. Jadi Reya adalah saudara tiri Citra," batin Reval yang sangat terkejut mendengar pernyataan Citra.
__ADS_1
"Kak Sean mana sih. Kenapa tidak bisa di hubungi. Kak Sean!" Citra dengan paniknya mencoba menghubungi Sean, bahkan juga papanya, menghubungi Reya juga. Namun tidak ada yang bisa di hubungi membuat Citra semakin panik.
Sementara Reval yang menyetir sibuk dengan pemikirannya yang masih ragu dengan apa yang dipikirkannya. Namun sudah bisa mendapat kesimpulan.
************
Kediaman Reya.
Reya sedang menyiapkan makan siang seperti biasanya.
"Aku buru-buru menyuapkannya. Karena Sean bilang dia ingin makan siang di sini. Jadi harus aku menyiapkan dengan seenak mungkin," ucap Reya dengan semangatnya yang menyiapkan banyak menu untuk orang yang paling di cintainya itu.
Tingnong-tinnong
Tiba-tiba terdengar bel rumah.
"Secepat itu dia pulang. Bukannya katanya pesawatnya landing 1 jam lagi," gumam Reya heran melihat kedatangan Sean yang sangat buru-buru yang mana Sean sebelumnya mengabarinya dan sekarang sudah datang tiba-tiba yang padahal Reya belum menyiapkannya apa-apa.
"Biar saya aja yang buka!" cegah Reya pada asisten rumah tangga yang ingin membuka pintu. Asisten rumah tangga itu mengangguk dan Reya pun langsung mendekati daun pintu dengan membuka pintu perlahan.
"Sean!" ucap Reya dengan semangatnya dengan senyum lebarnya.
Deg.
Senyum itu berubah menjadi wajah chock. Ketika melihat orang yang ada di depannya bukanlah Sean. Mata Reya terbelalak kaget saat melihat orang di depannya dengan sebaran jantungnya yang berdebar kencang yang berharap ini adalah mimpi.
"Tante Anggika!" lirih Reya dengan suara seraknya yang tertahan. Saat melihat wanita yang menatapnya dengan tajam dengan dan di pastikan Anggika sudah pasti marah.
__ADS_1
"Kamu bahagia sekali Reya saat menyambut Sean akan datang," ucap Anggika dengan sinis.
"Tante," ucap Reya yang benar-benar begitu takut dengan kedatangan Anggika. Apa lagi Anggika sekarang memasuki rumah dengan melewati Reya yang menabrak bahu Reya.
"Apa ini sudah saatnya. Sean kamu di mana? apa yang harus aku lakukan?" batin Reya yang membutuhkan Sean saat-saat seperti ini. Finis dari segala apa yang telah di sembunyikan.
"Luas sekali rumah ini. Pantesan kamu tidak pernah keluar. Karena tinggal di rumah special pemberian Sean. Sangat luas dan kamu kamu sangat nyaman bukan Reya," ucap Anggika tersenyum sinis dengan tubuhnya berkeliling melihat rumah tersebut. Anggika masih tersenyum yang terlihat menahan rasa sakit hatinya.
"Tadinya aku sangat simpatik pada wanita seperti mu. Aku memang tidak menerima mu di rumahku. Namun aku berusaha untuk menerima mu. Walau kau dan ibumu menjadi duri dalam pernikahan ku. Aku menjadi manusia yang memberimu iba untuk berada di rumahku. Tetapi apa kau seakan merasa paling di sakiti. Lalu kau pergi dari rumah dan ternyata ini tujuanmu, kau menghancurkan kembali keluarga kami. Kau menjadi penerus ibumu yang mempengaruhi suamiku dan juga anak-anak ku!" teriak Anggika yang berada di hadapan Reya dengan menunjuk-nunjuk Reya.
"Aku tidak seperti apa yang Tante pikirkan. Aku tidak pernah ingin kembali ke mari dan tidak pernah mengganggu keluarga Tante atau punya niat untuk menghancurkan keluarga Tante," ucap Reya dengan apa adanya menghadapi kemarahan Anggika.
Plakkkkkkk.
Anggika langsung melayangkan tamparan panas pada pipi Reya membuat wajah Reya miring kesamping.
"Ku sama seperti ibumu sangat pintar bersandiwara Reya," teriak Anggika yang tidak bisa mengendalikan dirinya. Air mata Reya keluar yang di pastikan akan mendapat banyak cacian lagi setelah ini. Melihat kemarahan Anggika.
Anggika mendekati Reya dengan memegang ke-2 bahu Reya.
"Lihat aku Reya. Apa kau benar-benar ingin menghancurkan ku, keluargaku dengan mempengaruhi orang-orang yang aku punya," teriak Anggika menggoyang-goyangkan tubuh Reya membuat Reya benar-benar ketakutan.
"Ibumu telah menghancurkan pernikahan ku. Dia berselingkuh dengan suamiku dan aku memaafkannya dan memberi kesempatan pada suamiku demi anak-anakku. Tetapi apa lagi dan lagi kau dan ibumu masih saja tidak puas. Kalian diam-diam di belakangku masih mengganggu suamiku dan jujur Reya aku tidak menyalahkan mu 5 tahun lalu. Aku tau kau tidak tau apa-apa dan aku kasihan kepadamu yang harus mendapatkan semua ini. Dan anak-anakku harus membencimu. Aku juga kasihan kepadamu. Tetapi setelah kau pergi. Kau malah membuat drama baru dengan semua ini," teriak Anggika.
"Kau membuat, suamiku, anakku berpihak padamu. Menyembunyikan mu dari ku. Kau melakukan semua itu kau dan ibumu masih tetap ingin menghancurkan ku!" teriak Anggika yang terus menggoyang-goyangkan tubuh Reya dan Reya hanya diam saja yang tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Argghhh!" teriak Anggika dengan suara menggelegar dan mendorong Reya dengan penuh emosi sampai Reya terjatuh, terduduk di lantai dengan memegang perutnya yang mana Reya merasa sakit.
__ADS_1
"Siallll!" Anggika berteriak histeria dengan memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Bersambung