Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 170


__ADS_3

Apa yang di katakan Sean benar-benar membuat Anggika dan Argantara jantungan dan mungkin akan mati berdiri.


"Sean jangan bercanda kamu," sahut Anggika dengan tersenyum yang masih berusaha untuk salah dengar.


"Apa yang kamu katakan Sean, sembarangan kamu mengatakan pernikahan!" sentak Argantara.


"Aku tidak sembarangan. Tapi aku memang sudah menikahi Reya. Kami Minak Minggu lalu," jawan Sean yang kembali memperjelas tentang pernikahannya dan Reya.


"Anak kurang ajar," umpat Argantara yang tidak bisa mengendalikan dirinya dan langsung memukul Sean yang mengejutkan Reya dan juga Citra.


Sementara Anggika benar-benar shock sampai tidak bisa berkata-kata dengan napasnya yang naik turun dan bahkan sampai terduduk dengan memegang kepalanya yang di pastikan sangat berat.


"Pah cukup. Apa yang papa lakukan, papa! papa!" Reya dan Citra berusaha untuk melerai Argantara yang kesetanan yang menghajar Sean habis-habisan.


"Kau bisa-bisanya melakukan semua ini. Kau pikir pernikahan itu sah hah! apa kau tidak sadar Sean dia adikmu!" teriak Argantara yang dengan penuh kemarahan.


"Pah ini bukan hanya salah Sean saja Reya juga salah pah. Kami menikah karena kami saling mencintai," ucap Reya memegang tangan Argantara yang mencegah Argantara untuk memukul Sean.


"Diamlah Reya!" sentak Argantara melepas tangannya dari Reya dan membuatnya tidak sengaja menampar Reya.


Hal itu sangat mengejutkan, Sean benar-benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya Argantara menampar Reya. Sampai wajah Reya miring kesamping dengan tangannya di pipinya yang tertutup rambutnya yang pasti sangat schok mendapat tamparan pertama kali dari papanya.


Argantara sendiri sang pelaku pun sepertinya kaget sendiri dengan apa yang di lakukannya tidak percaya dia menampar Reya.


"Reya!" Sean langsung mendekati Reya dengan memegang pipi Reya, "kamu tidak apa-apa?" tanya Sean panik dengan wajah memerah di pipi itu.


Reya masih menggelengkan kepalanya yang padahal sangat sakit di rasakannya bukan hanya di pipinya tetapi juga hatinya yang di tampar papanya.


"Maafkan papa Reya. Papa tidak bermaksud," Argantara merasa bersalah. Karena memang tidak bermaksud untuk menampar Reya.


"Kalian berdua benar-benar keterlaluan," sahut Anggika yang mengeluarkan suara, "di mana pikiran kalian berdua sampai bisa-bisanya kepikiran untuk menikah. Apa kalian berdua benar-benar sudah tidak punya otak lagi," ucap Anggika dengan napasnya yang naik turun dengan dada sesak yang bicara begitu sesak.


"Keterlaluan kalian berdua. Sean mama benar-benar tidak menyangka kamu bisa melakukan hal ini. Di mana pikiran kamu Sean yang menikahi saudara kamu sendiri!" teriak Anggika.

__ADS_1


"Aku minta maaf mah sudah mengecewakan mama. Tapi seperti yang aku katakan. Aku tidak mungkin meninggalkan Reya. Kami saling mencintai," sahut Sean dengan suara rendahnya.


"Kamu masih saja mengatakan cinta, cinta dan cinta. Kamu itu benar-benar keterlaluan. Kamu tidak sadar dengan semua yang kamu lakukan apa hah! kalian berdua itu sama-sama gila!" teriak Anggika.


Sean dan Reya tidak bicara sama lagi. Mungkin memang itulah rasa kecewa orang tuanya kepada mereka.


"Sean papa benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata apal lagi kepada kamu. Kamu itu sangat keterlaluan. Dan pernikahan kalian tidak akan sah," tegas Argantara dengan menekankan.


"Tidak ada yang tidak sah pah. Aku dan Reya sudah menikah dan itu sudah sah," jawab Sean menegaskan.


"Bagaimana mungkin sah. Reya itu adik kamu!" teriak Argantara.


"Cukup Argantara!" tiba-tiba terdengar suara yang membentak Argantara yang membuat Argantara cukup kaget dan melihat ke arah pintu yang ternyata kakek telah datang.


"Papa!" lirih Argantara yang terkejut dengan kedatangan papanya.


"Kakek," Citra juga kaget tiba-tiba saja kakeknya datang kerumahnya dan Anggika juga pasti terkejut melihat kedatangan papa mertuanya itu yang sekarang berjalan menghampiri keributan itu.


"Bukan mereka yang keterlaluan. Tapi kamu," ucap Kakek yang langsung menyalahkan Argantara.


"Kamu tidak perlu berteriak-teriak untuk mengatakan itu. Karena aku sendiri yang menikahkan mereka berdua," ucap Kakek yang membuat Argantara bertambah terkejut dan bisa-bisa benar-benar akan mati berdiri dengan apa yang di katakan orang tua di depannya itu.


"Apa maksud papa?" tanya Anggika dengan suara lirihnya.


"Mereka menikah dan itu atas restuku dan pernikahan itu Sah," jelas kakek.


"Pah apa yang papa katakan. Mereka itu adik kakak. Bisa-bisanya papa merestui mereka," sahut Anggika.


"Tanpa kamu ceritakan. Aku juga tau Anggika jika mengulik masa lalu yang ada. Dan Sean juga datang kepadaku menceritakan masalahnya dengan wanita di cintainya dan aku merestui pernikahan mereka pasti aku tau pernikahan itu sah dan tidak ada yang salah," tegas kakek yang melihat ke arah Argantara.


Argantara bahkan tidak bisa berkata-kata lagi yang hanya bisa mengatur napasnya yang naik turun dengan memijat kepalanya yang terasa berat.


"Argantara kamu juga tau bukan. Kalau pernikahan itu sah dan tidak salah. Aku tau Argantara apa yang salah dan apa yang tidak. Jika aku tau Sean dan Reya tidak bisa menikah atau haram menikah. Aku tidak mungkin menikahkan mereka. Namun aku tau pernikahan itu ada yang salah sama sekali. Makanya aku menikahkan mereka terlebih mereka saling mencintai," ucap kakek dengan tenang.

__ADS_1


Namun, Reya, Sean, Anggika dan Citra malah bingung. Apa lagi Argantara tidak berkata-kata lagi atau membantah kata-kata sang kakek.


"Dan kamu yang sudah mempersulit sulit mereka berdua. Kamu tau cinta mereka tidak terlarang sama sekali. Tapi kamu malah sengaja membuat mereka berdua menderita," ucap kakek dengan menekan suaranya.


"Apa maksud papa?" tanya Anggika yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan mertuanya yang seperti ada sesuatu yang tidak di ketahuinya.


"Cukup untuk hari ini. Kamu tanyakan saja pada suamimu dan aku mengingatkan mu Argantara untuk tidak mempersulit mereka lagi," ucap kakek dengan tegas.


Argantara keringat dingin yang seperti ada di rahasiakannya dan Anggika sepertinya tidak tauitu makanya Anggika juga bingung dan hanya melihat suaminya saja.


"Mas ada apa ini sebenarnya. Kamu kenapa diam saat papa mengatakan semua itu dan kamu juga diam dengan papa yang menikahkan mereka. Ada apa mas?" tanya Anggika yang mendesak suaminya.


"Apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa aku merasa ada yang tidak beres. Kakek bilang pernikahan kak Sean dan Reya tidak salah sama sekali. Tidak ada yang terlarang dan ekspresi papa seperti ada sesuatu yang di sembunyikannya," batin Citra yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


"Pergi kalian berdua dari sini!" usir Argantara pada Reya dan Sean.


"Pah!" lirih Reya.


"Pergi aku bilang. Jangan pernah menunjukkan wajah kalian lagi di hadapanku. Terserah kalian mau menikah atau apapun. Pergi dari hadapanku," teriak Argantara dengan suara bentakan yang membuat air mata Reya jatuh.


"Sean bawa Reya pergi," sahut kakek. Dan Sean menganggukan kepalanya lalu membawa Reya pergi. Walau Reya sangat berat hati namun Sean memaksanya.


"Kak Sean!" lirih Citra.


"Citra. Kakak mu hanya tidak berada di rumah ini. Jangan khawatir kakek akan bersama mereka," ucap kakek yang mencoba untuk menenagkan Citra yang pasti sangat takut kalau kakaknya akan meninggalkannya lagi.


Dan Argantara sendiri hanya mengumpat kesal. Lalu Argantara pergi dari tempat itu.


"Mas!" panggil Anggika yang masih bingung dengan tidak tau apa-apa.


"Ada apa sebenarnya pah. Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Anggika dengan perasaannya yang tidak enak.


"Saya tidak punya hak untuk mengatakan apa-apa. Kamu tanya suamimu dan jangan menyalahkan hubungan Reya dan Sean mereka tidak salah sama sekali," tegas kakek yang pergi dari hadapan Anggika yang membuat Anggika semakin penasaran dengan apa yabg terjadi.

__ADS_1


Citra juga pasti. Namun Citra juga tidak tau bagaimana cara mengetahuinya.


Bersambung


__ADS_2