Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 313


__ADS_3

Reya pun akhirnya kembali ke dalam mobil setelah memberikan makan siang untuk suaminya.


"Kakak tidak lama kan!" tanya Reya setelah memasuki mobil.


"Tidak kok kak," jawab Citra, "bagaimana kak Sean tidak protes kan saat kak Reya tidak menemaninya makan?" tanya Citra.


"Tidak protes memang. Tetapi tidak tau juga bagaimana hatinya," jawab Reya.


"Ya kalau hatinya aku sangat yakin pasti protes," ucap Citra yang membuat Reya tersenyum.


"Sudahlah biarkan saja seperti itu sekarang kita sebaiknya pergi. Ini juga sudah telat," ucap Reya.


"Baiklah ayo!" sahut Citra yang mengangguk dan Citra langsung melajukan mobil dan mereka langsung pergi menuju tempat yang sebelumnya ingin mereka tuju.


**********


Citra sangat setia menemani kakaknya yang melakukan senam kehamilan yang kebetulan senam kali ini memang hanya wanita saja dan tidak di temani suami-suami para ibu hamil itu. Citra hanya menunggu dan terus melihat kakaknya dengan senyum ketulusan di wajah Citra.


"Kamu di sini juga Citra!" tiba-tiba ada yang menegur Citra dan duduk tanpa ada yang menyuruh di samping Citra dan siapa lagi jika bukan Renita.


"Ngapain kau di sini?" Citra bertanya kembali dengan keberadaan Renita yang tiba-tiba di tempat itu.


"Kebetulan ada tugas di sini," jawab Renita dengan santai.


"Kamu sedang menemani Reya ya?" tebak Renita yang melihat ke arah Reya dan Reya juga melihatnya. Renita melambai pada Reya dan dari wajah Reya dia terlihat sangat khawatir dengan Citra yang dekat-dekat dengan Reya.


"Kamu kenapa Citra! Kamu baik-baik saja?" tanya Renita. Citra hanya diam dan anggap saja tidak menanggapi orang itu.


"Atau jangan-jangan kamu itu ingin ya seperti para wanita-wanita itu yang perutnya sudah berisi ya secarakan kamu sangat sulit hamil," ucap Renita yang sangat lantam mengatai Citra membuat Citra menoleh dengan serius menghadap Renita.


"Maksud kamu apa ya?" tanya Citra menahan kekesalannya dengan mulut Renita yang begitu lancang.

__ADS_1


"Ada apa? Apa aku salah bicara ya. Bukannya memang yang aku katakan itu benar. Citra kamu lupa aku yang memeriksamu waktu itu. Pertama kali dan aku jelas sangat tau apa yang terjadi dengan kamu dan kehamilan kamu. Rahim kamu rusak karena ke guguran dan banyak kemungkinan kamu kesulitan untuk mengandung dan aku tidak tau kapan kamu bisa mengandung," ucap Renita dengan tersenyum penuh ejekan.


Citra mengepal tangannya yang menahan amarahnya yang benar-benar penuh dengan kekesalan dengan apa yang telah di dengarnya.


"Hmmmm, bicara soal keguguran. Kamu kenapa ya kok bisa sampai keguguran kayak gitu. Atau jangan-jangan kamu itu sengaja mengugurkan janin kamu karena belum ada pertanggung jawaban. Atau jangan-jangan karena hal itu lagi Reval mau tidak mau harus menikah dengan kamu," ucap Renita yang bicara tanpa ampunan pada Citra. Kalau di tanya apakah hati Citra sakit ya pasti jawabannya iya. Memang sengaja ingin mengatai Citra.


"Renita cukup!" sentak suara tersebut dan bukan dari mulut Citra melainkan dari Reya yang tidak tau sejak kapan ada di sana.


"Apa yang kau bicarakan Renita! kenapa kau tega sekali kepada Citra. Kenapa bicara sampai seperti itu. Kenapa kau begitu jahat," ucap Reya yang tidak menyangka dengan kata-kata Renita yang sangat jahat itu.


"Reya! Kau salah paham," sahut Renita yang masih melakukan pembelaan.


"Apa maksudmu mengatakan aku salah paham dan di mana letak kesalah pahamannya. Kau bisa-bisanya menghina adikku," ucap Reya yang kali ini tidak akan tinggal diam dengan Renita.


"Reya jangan marah dulu!" Renita berdiri dan berusaha untuk membujuk Reya dengan Renita yang memegang tangan Reya. Namun Renita langsung menepis tangan itu.


"Aku benar-benar sangat kecewa kepadamu Renita. Kau itu temanku. Tetapi seperti bukan temanku. Kau mengatakan seperti itu sama saja menyakitiku. Dan aku benar-benar tidak menyangka jika kau bisa melakukan dan mengatakan hal murahan seperti itu. Kau mengatakannya seperti wanita yang sok suci saja," tegas Reya yang kali ini juga bicara dengan pedas pada sahabatnya itu.


"Renita aku tau kau menyukai Reval dan asal kau tau aku juga mengatakan hal itu kepada Reval. Sejak kita kuliah dulu. Aku menceritainya pada Reval tentang perasaanmu dan Reval sama sekali tidak membalas perasaan itu dan bukan karena apa-apa. Karena dia tidak bisa pacaran dengan wanita yang suka gonta-ganti pasangan dan sering cek in," ucap Reya dengan pedas yang membuat Renita kaget dengan membuatkan matanya.


"Reya!"lirih Renita yang tersinggung.


"Kenapa? Aku tidak mungkin tidak tau kan. Jika temanku ini pergaulannya sangat bebas. Jadi jangan sok suci. Jika Citra pernah keguguran dan dia hamil di luar nikah. Itu hanya dengan 1 pria yang sekarang bertanggung jawab kepadanya yang menjadi semuanya dan semua yang terjadi adalah kesalahan dan aku tidak perlu mengatakan ini dan itu kepadamu. Atau menceritakan alasannya. Tetapi pada intinya orang yang membuatnya hamil bertanggung jawab,"


"Lalu bagaimana denganmu. Kau juga seorang Dokter kandungan yang sangat di kenal menyukai anak-anak. Lalu apa pantas orang seperti itu membunuh bayinya sendiri dan itu yang tidak bisa membuat Reval suka padamu," tegas Reya yang mempermalukan Renita di depan Citra.


Wajah Citra yang tadi penuh dengan kemarahan dan kekesalannya dengan perkataan Renita yang akhirnya mengeluarkan senyum tipis. Orang yang menghinanya ternyata jauh lebih parah di bandingkan dirinya.


"Cukup Reya apa kau harus mengatakan semua ini. Kita ini sahabat dan seharusnya kau tidak memojokkanku," sahut Renita yang tidak terima.


"Oh iya. Jadi apa kabar dengamu. Kita sahabat. Tetapi kau memojokkan adikku. Istri dari temanmu sendiri yang artinya kau itu tidak menganggapku sahabatnya dan oke tidak masalah karena aku juga tidak mau berusahabat dengan orang seperti mu," tegas Reya yang penuh dengan penekanan yang membuat Renita kaget.

__ADS_1


"Apa maksudmu. Kau ingin memutuskan persahabatan kita?" tanya Renita.


"Bukan aku yang memulai. Tetapi kau. Jadi tidak bermasalah bagiku yang harus memutuskan persahabatan di antara kita," jawab Reya dengan penuh penegasan dan penekanan.


"Ayo Citra kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya kita berada di tempat ini," sahut Reya yang meraih tangan adiknya yang hendak pergi dari hadapan Renita. Namun Renita menghentikan tangan Reya.


"Apa maksudmu Reya, setelah kau menghinaku dan merendahkanku di depan adikmu. Kau juga ingin memutuskan persahabatan kita. Kau itu jahat sekali Reya," ucap Renita yang tidak terima.


"Bukan aku yang jahat. Tetapi kau dan mulai sekarang berhenti mencampuri urusanku dan juga adikku," tegas Reya menepis tangan Renita dan Reya langsung pergi membawa Citra dan sebelum itu Citra tersenyum penuh kemenangan dulu kepada Renita.


"Arghhh sial!" umpat Renita dengan penuh kemarahan kepada Reya.


"Kami itu benar-benar jahat Reya. Kamu bisa merendahkanku di depan Citra!" umpat Renita yang tidak terima dengan apa yang di katakan Reya kepadanya.


************


Reya dan Citra sudah berada di luar tempat tersebut.


"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Reya yang memegang pipi Citra.


"Tidak Citra tidak apa-apa kok dan lagian ada kakak Citra yang sangat membela Citra. Jadi bagaimana Citra mau kenapa-kenapa," sahut Citra yang membuat Reya tersenyum.


"Kakak tidak akan membiarkan 1 orang pun yang menyakiti kamu. Kakak akan selalu menjadi orang pertama yang akan ada di depan kamu. Jika ada yang jahat pada kamu," ucap Reya.


"Citra tau itu. Makasih ya kak Reya. Kakak sangat baik dan selalu bela Citra. Citra benar-benar sangat bahagia punya kakak seperti kak Reya. Bukan hanya kakak kandung Citra saja. Tetapi juga menjadi banyak bagian, kakak ipar Citra dan menjadi sahabat Citra," ucap Citra.


"Baiklah kalau begitu kita sekarang pulang yuk," ucap Reya.


"Oke," sahut Citra tersenyum dengan merangkai bahu sang kakak.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2