
Citra berada di dalam Taxi yang mana Citra duduk di bangku belakang dengan kepalanya yang bersandar pada jendela mobil yang terbuka.
Air matanya sejak tadi keluar yang pasti karena masalah yang di hadapinya di mana Barra membuat namanya berantakan dengan vidio yang beradat yang menjatuhkan dirinya. Dan saat itu bahkan Reval tidak mengatakan apa-apa dan bagaimana perasaannya tidak sakit. Bagaimana dia tidak merasa hancur dengan apa yang telah terjadi. Hubungannya yang semakin tidak jelas dengan Reval setelah kejadian malam itu.
"Apa ternyata semua laki-laki itu sama. Aku pikir kamu berbeda tetapi ternyata tidak. Kamu sama saja dan bahkan jauh lebih parah. Kenapa kamu diam dan tidak mengatakan apa-apa. Kamu membiarkan ku mendapatkan semua masalah ini, kamu menontonku saat Barra menyerangku, kamu hanya melihat di mana orang-orang yang mencemohku dengan bergantian," batin Citra dengan air matanya yang terus membasahi pipinya yang menunjukkan rasa kecewanya kepada Reval.
"Kita sudah sampai Nona!" supir Taxi tersebut membuat Citra langsung menyeka air matanya yang mana ternyata taxi itu berhenti di pinggir pantai.
"Makasih pak," ucap Citra yang langsung keluar dari dalam Taxi setelah memberikan ongkos Taxi.
Citra dengan buru-buru berjalan menuju pantai yang sepertinya ada yang ingin di temuinya.
"Kak Sean!" panggil Citra dengan napasnya yang naik turun ketika dari kejauhan melihat sang kakak yang bersama Reya. Sean dan Reya membalikkan tubuh mereka dan Citra langsung berlari menghampiri Sean dan begitu sampai di dekat Sean Citra langsung memeluk erat Sean yang sudah lama tidak di temuinya yang pasti Citra sudah menangis di pelukan Sean yang seolah ingin mengadukan semua pada Sean dengan apa yang terjadi kepadanya.
Reya tersenyum melihat Citra dan Sean yang memang sangat tulus saling menyayangi yang sama-sama punya ikatan batin dengan kuat yang saling mengkhawatirkan dan sama-sama saling merindukan terlihat dari pelukan itu.
Reya saja sampai terharu melihatnya. Sangat wajar dulu Citra sangat membenci Reya. Takut Reya mengambil Sean darinya. Tetapi inilah alasan Citra yang memang tidak ingin Sean jauh darinya.
"Kenapa lama sekali perginya, kakak bilang cuma sebentar, lalu kenapa tidak pernah kembali. Apa kakak sudah tidak sayang sama Citra. Kakak membiarkan Citra sendirian menghadapi semua ini. Citra sudah tidak sanggup kak," Citra dengan sengugukan yang mengeluh di pelukan Sean yang mana air mata Sean juga keluar.
Dia seakan tau banyak masalah besar yang di hadapi asiknya yang seakan membuatnya ikut merasakan penderitaan adiknya itu apalagi tubuh Citra bergetar hebat di pelukannya.
"Maafkan kakak Citra, maafkan kakak sudah meninggalkan kamu begitu lama, maaf," Sean yang memeluk Citra dengan erat yang merasa bersalah pada Citra.
Citra dan Sean akhirnya saling melepas pelukan itu dengan ke-2 tangan sean mengusap lembut air mata adiknya itu dan mencium kening Citra.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada kamu, ceritakan pada kakak?" tanya Sean yang pasti sudah merasa ada yang tidak beres.
Mendengar kata-kata itu membuat Citra menangis semakin menjadi-jadi dan kembali memeluk Sean. Cukup dia bercerita melalui hatinya pada Sean. Dia sangat takut jika harus menceritakan tentang dia dan Reval yang sebagai pemicu masalah yang telah terjadi.
Reya mengusap-usap rambut belakang Citra yang memberikan Citra ketenangan di pelukan suaminya itu.
Ternyata adegan yang penuh keharuan itu di lihat oleh Reval yang berada di dalam mobil melihat Citra dan Sean yang berpelukan. Eksperesi Sean tidak terbaca saat melihat hal itu dia hanya diam tanpa mengatakan apa-apa yang terus melihat kearah Citra, Sean dan Reya.
Namun dengan tiba-tiba saja mata Reya melihat kearah mobil yang di dalamnya ada Sean dan jelas Reya juga melihat Sean. Begitu Reval menyadari Reya telah melihatnya. Reval pun langsung pergi meninggalkan tempat itu dengan melajukan mobilnya.
"Reval, dia ada di sini. Lalu kenapa dia pergi," batin Reya dengan penuh tanya yang merasa ada sesuatu dengan munculnya Reval dan pergi begitu saja.
*************
"Jadi kakak sama Reya sudah menikah?" tanya Citra.
"Iya kami sudah menikah dan kakek sendiri yang merestui pernikahan itu," jawab Sean.
"Lalu bagaimana dengan mama dan papa. Apa kakak akan menemui mereka?" tanya Citra.
"Kedatangan kami jelas untuk itu Citra. Kami datang untuk menemui mereka dan mengatakan tentang pernikahan kami," jawab Sean.
"Apa tidak akan terjadi masalah besar lagi?" tanya Citra yang khawatir.
"Kakak sama Reya sudah menghadapi setiap masalah yang besar dan bahkan sangat besar dan jika terjadi masalah. Kami tetap menghadapinya. Tetapi pada intinya kami sekarang sudah menikah dan tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua termasuk mama dan juga papa," tegas Sean.
__ADS_1
"Ya Citra hanya berharap semuanya baik-baik saja," sahut Citra yang tidak bisa menanggapi apa-apa.
"Dan kamu Citra. Kamu belum mengatakan apa-apa pada kakak. Apa yang terjadi sebenarnya kepada kamu. Apa ada sesuatu?" tanya Sean Citra langsung panik dengan pertanyaan Sean yang memang ada sesuatu yang terjadi padanya.
"Iya Citra, kamu sepertinya mengalami banyak masalah setelah kepergian kami dan Sean juga terus kepikiran dengan kamu. Apa yang terjadi sebenarnya," sahut Reya yang juga penasaran dengan apa yang terjadi. Namun Citra masih saja diam dan memang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
"Citra kamu kenapa diam?" tanya Sean.
"Kak Sean mama mengurung Citra beberapa hari," jawab Citra yang mengatakan hal lain dan itu membuat Sean terkejut. Begitu juga dengan Reya yang pasti kaget mendengar hal itu.
"Kamu bilang apa, mama mengurung kamu!" pekik Sean.
"Iya, mama sangat marah dengan Citra yang membantu kakak dan juga Reya dan kemarahan mama di tambah dengan Citra yang berhubungan dengan kak Reval," jelas Citra.
"Apa itu artinya Tante Anggika melarang kamu dekat dengan Reval," sahut Reya yang menduga-duga.
"Kamu benar Reya. Mama memang sejak awal tidak menyukai kak Reval dan alasan mama hanya karena kak Reval seorang Dosen. Aku tidak tau bagaimana pikiran mama dengan seorang dosen sampai-sampai tidak menyukai kak Reval," jelas Citra yang mengatakan apa yang sebenarnya.
"Lalu papa bagaimana?" tanya Sean.
"Papa tidak tau dengan tindakan mama pada Citra. Tapi papa juga akhirnya tau dan marah dengan perbuatan mama yang sangat keterlaluan," ucap Citra.
"Mama benar-benar keterlaluan. Apa sebenarnya yang di inginkan mama. Sungguh keterlaluan," ucap Sean yang merasa sang mama semakin lama semakin entah seperti apa
Bersambung
__ADS_1