
Citra yang terus melihat Reval yang ada di dalam membuat perasaan Citra tidak dapat di mengerti harus seperti apa.
"Lalu bagaimana keadaannya Dokter?" tiba-tiba Citra yang berdiri di depan ruangan Reval mendengar suara yang membuat Citra melihat suara itu dan wajah Citra begitu terkejutnya saat melihat Erina yang berjalan di koridor rumah sakit bersama dengan Dokter.
"Tante Erina!" batin Citra dengan wajah terkejutnya dan Citra langsung bersembunyi di balik tembok.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, kondisi Reval tidak stabil, dia banyak kehilangan darah," jawab Dokter.
"Tapi bukannya saya sudah mendonorkan darah saya Dokter dan seharusnya ada peningkatan untuk kesembuhannya," ucap Erina.
"Iya Bu Erina, tetapi itu tidak memastikan untuk kesembuhannya," sahut Dokter.
"Apah, Tante Erina mendonorkan darahnya untuk Reval dan Tante Erina terlihat khawatir pada Reval. Apa mereka saling mengenal," batin Citra yang penuh dengan kebingungan dengan melihat apa yang terjadi.
"Tolong Dokter tolong selamatkan Reval, lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya," ucap Erina dengan suaranya yang memohon dan terlihat begitu cemas.
"Itu adalah tugas saya sebagai Dokter. Bu Erina tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, percayakan semauanya kepada saya maka dengan sebisanya saya dan tim Dokter lainnya akan melakukan yang terbaik," ucap Dokter.
"Baiklah Dokter saya tunggu kabar baiknya," ucap Erina.
"Baiklah Bu Erina, jika tidak ada yang ingin di tanyakan lagi, maka saya permisi dulu," ucap Dokter pamit. Erina hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Reval dari depan ruang perawatan.
"Siapa sebenarnya Tante Erina, dia ada di sini dan bukannya menemui anaknya dia malah menemui Reval dan Reval dan sangat khawatir pada Reval seperti ada sesuatu. Apa hubungan mereka sebenarnya. Apa jangan-jangan Reval dan Tante Erina bekerja sama lagi untuk balas dendam pada mama sangat terbukti Tante Erina ada di sini," batin Citra yang menduga-duga sendiri.
"Ini semua gara-gara Sean, berani sekali dia menghajar Reval sampai krisis seperti ini. Aku tidak akan mengampuni Sean," ucap Erina yang terlihat penuh dendam pada Sean.
__ADS_1
"Dia bahkan menyalahkan kak Sean. Terlihat sangat tidak terima dengan apa yang di lakukan kak Sean. Dan seakan ingin murka. Dia malah memikirkan orang lain di bandingkan Reya dan ternyata dia berkeliaran di sini. Lalu apa memang benar Reya tidak tau dia ada di sini. Atau jangan-jangan Reya tau dan hanya diam saja," batin Citra dengan penuh tanya yang tidak tau apa yang sebenarnya yang terjadi.
*********
Reya berada di dalam ruang perawatan yang mana sendirian dan Sean tidak ada sama sekali di sana. Reya cukup bosan hanya menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Krekkk.
Tiba-tiba pintu ruangan rawat inap Reya di buka yang ternyata Citra yang masuk.
"Citra," sapa Reya. Citra tersenyum.
"Kak Sean mana?" tanya Citra yang melangkah memasuki ruangan itu.
"Oh kak Sean lagi cari makanan," jawab Citra ada apa memangnya?" tanya Reya.
"Sudah mendingan kok," jawab Reya.
"Oh iya Reya ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Citra.
"Apa itu?" tanya Reya yang pasti penasaran.
"Aku sebelumnya pernah mengatakan. Jika aku bertemu dengan Tante Erina dan aku sempat berpikiran buruk dan papa menjelaskan semuanya dan kamu juga mengatakan. Jika kamu tidak tau kalau Tante Erina ada di Jakarta. Aku tidak mengatakan kamu bohong apa tidak," ucap Citra yang membuat Reya bingung dengan arah percakapan itu.
"Maksudnya apa Citra?" tanya Reya.
__ADS_1
"Reya apa sampai sekarang kamu belum bertemu dengan ibumu?" tanya Citra.
"Citra kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Reya.
"Katakan saja Reya apa kamu belum bertemu dengan ibu sampai detik ini?" tanya Citra dengan wajahnya wajahnya yang sangat serius.
"Citra aku pernah melihatnya. Namun tidak bicara padanya," jawab Reya apa adanya.
"Maksudnya kamu tidak menegurnya dan hanya diam saat kamu melihatnya dan kamu tidak mengatakan apa-apa itu maksud kamu atau kamu memberinya kesempatan untuk berkeliaran dengan rencana yang aku atau siapapun tidak tau atau jangan-jangan semua masalah yang terjadi, hubunganku, Reval, dan semuanya ada kaitannya dengan dia," ucap Citra.
"Apa yang kamu katakan Citra. Apa kamu sedang mengatakan jika mama ikut campur dalam balas dendam Reval kepada Tante Anggika. Citra aku sama Reval memang bersahabat dan mama mengenal Reval. Tapi aku yakin apa yang terjadi antara kamu dan Reval tidak ada hubungannya dengan mama dan kamu juga sedang tidak berpikiran kan kalau ada di balik semua ini," ucap Reya dengan suaranya yang rendah.
"Aku tidak tau Reya harus percaya pada apa. Apa harus percaya padamu atau tidak," sahut Citra.
"Jangan salah paham Citra, aku memang sungguh tidak tau kalau mama ada di Jakarta dan aku memang melihat pertama kali mama saat di rumah sakit saat kamu di rawat dan saat itu mama sedang bicara dengan Tante Anggika dan mama seakan tau masalah Tante Anggika dan juga ayah dari Reval. Aku tidak menegur saat itu karena ada Tante Anggika dan aku juga ingin langsung bertemu mama tetapi aku kehilangan jejaknya dan yang ke-2 kalianya aku juga melihat mama saat Tante Sahila ingin mencelakakai Tante Anggika dan aku juga tidak bisa bicara atau bertanya karena harus mengejar kak Sean,"
"Sungguh Citra aku tidak ada maksud apa-apa dalam hal ini. Aku benar-benar tidak tau apa-apa," jelas Reya yang berusaha untuk membuat Citra percaya.
"Tetapi Reya dari apa yang kamu katakan. Sudah menjelaskan jika mama mu ada sesuatu dengan kak Reval, dia tau masalah mama dan orang tua kak Reval, dia ada saat mama ingin di celakai dan tadi aku melihatnya bertemu dengan Dokter dan terlihat sangat khawatir pada kak Reval dan yang lebih parahnya dia mendonorkan darahnya pada kak Reval," jelas Citra yang mengejutkan Reya sampai mata Reya terbelalak kaget.
"Apa kamu bilang mama ada di rumah sakit dan mendonorkan darahnya pada Reval," pekik Reya yang benar-benar terkejut.
"Iya, aku tidak bisa mengerti Reya, hubungan kalian dengan kak Reval seperti apa. Jika hanya temanmu apa orang tuamu sangat begitu peduli kepada semua temanmu dan sampai mendonorkan darahnya dan bahkan dia sangat khawatir dan juga mengatakan ingin membalas kak Sean karena kak Sean yang membuat kak Reval seperti sekarang ini," jelas Citra yang membuat Reya tidak bisa berkata-kata lagi yang hanya diam dengan menelan salivanya.
"Mama mendonorkan darahnya untuk Reval? kenapa? dan kenapa mama lebih peduli pada Reval di bandingkan aku. Aku bahkan pernah sakit saat di Paris. Dan saat itu aku kekurangan darah dan mama sama sekali tidak mendonorkan darahnya untukku. Ada apa ini sebenarnya apa yang terjadi dan tidak mungkin mama terlibat dalam balas dendam Reval kepada Tante Anggika," batin Reya dengan penuh tanya yang kebingungan sendiri yang tidak tau harus berpikir seperti apa.
__ADS_1
"Wajah Reya menunjukkan rasa kagetnya. Apa memang Reya tidak tau apa-apa sama sekali. Dia tidak tau menau tentang Tante Erina," batin Citra yang memperhatikan mimik wajah Reya.
Bersambung