Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 257


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Argantara Reval pun meninggalkan ruangan Argantara dan mungkin Argantara sedih dengan perkataan Reval. Walaupun bagi Argantara Sean tetap putranya seperti awalnya. Reya juga baginya tetap anaknya. Namun nyatanya dia punya anak kandung dan itu adalah Reval. Bagaimana pun dia tetap ingin Reval memanggilnya ayah atau menganggapnya ayah kandung.


Reval berjalan di koridor-koridor rumah sakit. Dengan beberapa kali membuang napasnya dengan kasar.


"Reval!" panggil Citra membuat Reval menghentikan langkahnya dan Reval membalikkan tubuhnya melihat Citra yang menghampirinya.


"Ada apa Citra?" tanya Reval.


"Apa-apaan kamu hah! apa maksud kamu?" tanya Citra yang kelihatannya marah seperti ada sesuatu.


"Apa maksud kamu?" tanya Reval heran.


"Sudahlah kamu jangan pura-pura bingung. Apa maksud kamu dengan semua tindakannya kamu pada papa. Kenapa kamu ingin melakukan tes DNA. Semua bukti sudah jelas. Jika kamu anak papa dan juga Erina. Lalu kenapa ingin melakukan tes DNA. Untuk apa kamu melakukannya hah! kamu ingin menyakiti hati papa dengan cara semua itu iya," ucap Citra.


Ternyata Citra mendengar semua pembicaraan Reval dan juga Argantara. Ya dia ingin tau apa yang di bicarakan Reval dan Argantara. Makanya dia memilih untuk menguping. Dan Citra pasti begitu terkejut mendengar jika Reval ingin melakukan tes DNA.


"Kamu kenapa diam. Ayo katakan," sahut Citra.


"Kamu mendengar pembicaraan kami?" tanya Reval.


"Jika aku tidak mendengarnya. Aku tidak mungkin mengatakannya kepada mu," sahut Citra yang memang mengakui jika dia mendengar Reval dan Argantara berbicara.


"Karena kamu sudah mendengarnya dan tidak ada yang salah dari apa yang kamu dengar. Memang iya apa adanya. Jika aku memang ingin melakukan tes DNA," ucap Reval dengan suara rendah. Namun penuh penekanan.


"Kau gila," sahut Citra yang langsung menyambar.


"Maksud mu?" tanya Reval.


"Ya apa kau gila melakukan tes DNA. Kau itu menyakiti hati papa Reval. Kau jelas-jelas adalah anak papa dan wanita itu dan saat papa bisa menerima dirimu sebagai anaknya. Kau malah tega-teganya untuk melakukan tes DNA. Apa kau benar-benar gila!" ucap Citra yang merasa kelewatan dengan keinginan Reval.

__ADS_1


"Maaf Citra. Aku hanya ingin memastikan saja," sahut Reval.


"Untuk apa kau melakukan hal yang tidak perlu kau lakukan. Memang dengan cara melakukan tes DNA kau akan mendapatkan apa? kau ingin mengharapkan apa? Reval kau itu darah daging Tante Erina dan juga papa dan semuanya sudah penuh kekelas dan kau ingin melakukan tes DNA yang sama saja menyakiti orang tua kandungmu. Apa yang kau harapkan dari hasilnya hah! kau berharap jika hasilnya negatif. Lalu bagaimana jika hasilnya positif. Kau mau melakukan apa. Tapi papa sudah terlanjur sakit hati dan tersinggung dengan kau yang ingin melakukan tes DNA," ucap Citra yang marah-marah pada Reval.


"Aku tau Citra. Kau tidak setuju dengan semua ini. Tetapi ini adalah keputusan dan aku hanya menginginkan semuanya selesai dengan cepat dan walau hasilnya seperti itu. Tapi paling tidak aku puas," sahut Reval dengan keputusannya.


"Kamu benar-benar sangat keterlaluan Reval. Kamu itu keterlaluan. Kamu itu tidak memikirkan perasaan papa dengan semua tindakan kamu dan semua yang kamu lakukan. Kamu itu keterlaluan," ucap Citra semakin kesal.


"Aku hanya ingin ada harapan untuk hubungan kita Citra," ucap Reval.


"Cukup! jangan mengaitkan dengan kita. Karena kita tidak ada apa-apa dan terserah apa yang mau kau lakukan. Aku tidak peduli," tegas Citra dengan menghela napasnya kasar dan langsung pergi membuat Reval hanya menghela napasnya perlahan kedepan.


"Aku tau Citra. Kau tidak setuju dengan hal ini. Tapi aku bisa apa Citra. Aku hanya ingin kepastian Citra dan walau aku tau itu tidak akan mengubah apa-apa dan tidak akan ada yang berubah," batin Reval yang hanya melihat kepergian Citra.


**********.


"Apa pikiran papa sama dengan apa yang aku pikirkan?" tanya Anggika.


"Iya Anggika. Karena papa memikirkan nama panti asuhan yang di katakan Reya. Panti asuhan sejahtera dan panti asuhan itu adalah panti yang sama dengan kita mengambil Citra," sahut Argantara.


Ternyata masalah itu yang membuat mereka berdua tadi mendasar diam dengan wajah mereka yang terkejut. Ternyata masalah panti asuhan.


"Papa benar, aku juga memikirkan hal itu," sahut Anggika.


"Jadi Reya di adopsi dari panti asuhan yang sama saat dia 2 tahun dan kita mengambil Citra saat Citra masih bayi. Dan sekarang Reya ingin mencari orang tua kandungnya untuk menemukan asal-usulnya," ucap kakek.


"Apa papa mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Anggika.


"Papa tidak takut apa-apa Anggika. Atau takut jika Reya dan Sean ujung-ujungnya tau jika Citra juga di ambil dari panti asuhan itu. Papa tidak takut hal itu. Karena memang kita sudah mempersiapkan semuanya. Namun jika Reval dan Reya yang mengetahui terlebih dahulu. Itu mungkin yang menjadi sumber masalah. Karena seharusnya kita yang memberitahu Citra terlebih dahulu," ucap Kakek yang mengatakan apa yang di pikirkannya sebelumnya.

__ADS_1


"Iya pah. Lalu apa kita sekarang harus beritahu mas Argantara?" tanya Anggika.


"Papa juga bingung apa kondisi ini cocok untuk memberitahu hal seperti itu," sahut kakek yang tidak bisa berpendapat apa-apa mengenai kebingungan untuk solusi yang baik.


Sama dengan Anggika yang juga akhirnya penuh dengan kebingungan dan tidak tau apa yang harus di lakukannya. Namun tiba-tiba Anggika melihat serius kearah belakang sang papa yang berada di balik tembok.


"Kamu kenapa?" tanya Argantara heran melihat Anggika yang mencari-cari sesuatu.


"Tidak pah, aku seperti melihat ada seseorang di sana," sahut Anggika yang merasa curiga. Karena melihat bayangan seseorang.


"Biar aku lihat," sahut Anggika yang berjalan begitu pelan untuk memastikan siapa yang di lihatnya dan ternyata saat sampai di tempat itu Anggika malah tidak menemukan siapa-siapa.


"Bagaimana Anggika ada?" tanya kakek.


Anggika kembali menghampiri kakek "tidak ada siapa-siapa pah. Mungkin hanya aku saja yang merasa aneh dan ternyata tidak ada siapa-siapa," jawab Anggika.


"Oh begitu ternyata," sahut kakek.


**********


Citra memasuki mobil dengan napasnya yang naik turun. Citra mengusap wajahnya dengan kasar dan menutup wajahnya sebentar dengan terlihat mengatur napasnya dengan wajahnya yang mendadak pucat dan seperti Citra terlihat shock dan tiba-tiba matanya berkaca-kaca.


Tidak tau apa yang terjadi pada Citra dan kenapa tiba-tiba Citra seperti itu dan apa mungkin karena Citra habis bicara dengan Reval.


Tidak tau apa yang terjadi Citra hanya mengatur napasnya berulang kali dengan napas yang naik turun.


Reval yang keluar dari rumah sakit melihat Citra yang berlari buru-buru memasukkan mobilnya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2