Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 202


__ADS_3

"Reval!" lirih Reya yang membuat Reval terkejut dan langsung saling melepas tangan dengan Citra yang mana Citra juga baru sadar dari lamunannya yang sebelumnya melamun karena Reval.


Suasana jadi terlihat sangat canggung. Reval juga tidak tau harus bagaimana dan begitu juga Reval yang bingung dan Reya sendiri juga apa lagi Reya tau masalah di antara mereka berdua.


"Ayo Reya kita pergi!" Citra langsung menarik tangan Reya yang tidak mau lama-lama bersama Reval yang ada di sana. Namun Reval langsung menghentikan tangan Citra dengan memegang pergelangan tangan Citra.


"Aku ingin bicara sebentar denganmu," ucap Reval dengan lembut dan tumben-tumbenan nya Reval lembut bicara. Ya sebenarnya dia memang lembut bicara. Namun semenjak dendam itu membara tidak ada kata-kata lembut lagi.


Citra langsung melepaskan tangannya dari Reval dengan kasar, "kau tidak perlu bicara kepadaku. Karena kita tidak ada hubungan apa-apa," tegas Citra yang membuktikan jika dia sudah baik-baik saja dan sangat tidak membutuhkan Reval di dalam hidupnya.


"Citra!" ucap Reval dengan suara rendahnya.


"Reval apa yang sebenarnya kau inginkan. Kau seharusnya tidak menggangu Citra lagi. Karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan selama ini. Kau sudah merusak hidup Citra dan kau tidak seharusnya melakukan semua ini. Kau dan Citra sudah impas dan aku rasa sudah cukup semuanya biarkan Citra untuk pergi dari mu," ucap Reya menegaskan.


"Aku hanya butuh bicara padanya sebentar Reya," ucap Reval.


"Dan aku tidak mau bicara padamu," ucap Citra menegaskan yang memang ogah untuk bicara pada Reval.


"Sebentar saja Citra," ucap Reval.


"Citra kamu dengarkan saja apa yang mau di katakannya," ucap Reya memberi saran supaya semua cepat saja.


"Baiklah kalau begitu 3 menit, cepatlah!" ucap Citra yang mengalah. Agar semauanya selesai Citra juga tidak mau lama-lama berhadapan dengan Reval. Namun Citra masih penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Reval apa lagi melihat Reval yang wajahnya tampak memperhatikan.


"Kalian bicaralah aku pergi dulu!" ucap Reya ingin pergi.


"Tidak usah kamu di sini saja," Citra tidak membiarkan Reya pergi dan Reya pun tidak jadi pergi.


"Katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Citra dengan ketus.


Dratt-dratt-Dratttt.


Baru Reval ingin bicara. Tetapi ponselnya berdering membuat Citra membuang napasnya kasar dan Reval harus mengangkat telpon itu karena telpon dari rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Reval.


"Apah!" pekik Reval dengan wajah kagetnya. Reya dan Citra pun sama-sama heran dengan apa yang membuat Reval begitu kaget.


"Apa kamu bilang, seorang wanita. Baiklah aku akan segera kesana," ucap Reval yang menutup telponnya dengan buru-buru.


"Ada apa Reval?" tanya Reya ikut panik.


"Maaf aku tidak bisa lanjut bicara. Aku harus kerumah sakit. Mama sedang tidak baik-baik saja," ucap Reval yang langsung pergi dan berlari cepat-cepat keluar dari Supermarket yang membuat Citra dan Reya heran dengan mereka yang saling melihat.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Citra.


"Aku juga tidak tau Citra. Tapi Reval tampak panik sekali dan dia mengatakan mama dan itu artinya terjadi sesuatu pada mamanya," ucap Reya yang mendadak ikut panik.


Citra juga penasaran. Apa lagi melihat Reval yang sekarang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Citra kamu pulang duluan ya," ucap Reya.


"Kamu mau kemana?" tanya Citra heran.


"Aku mau menyusul Reval, aku takut terjadi sesuatu pada mamanya," jawab Reya.


"Tapi Reya," ucap Citra.


"Kamu pulang duluan aja," ucap Reya yang ingin bergegas untuk pergi.


"Aku ikut Reya," sahut Citra.


"Kamu yakin?" tanya Reya memastikan.


"Iya sebaiknya aku ikut saja," ucap Citra. Reya menganggukan kepalanya dan langsung pergi dengan cepat yang mana mereka berdua memutuskan untuk menyusul Reval.


************


Rumah sakit jiwa.


Reval yang mendapat telpon langsung buru-buru datang kerumah sakit jiwa. Bahkan mobilnya yang melaju kencang hampir menabrak mobil yang juga melaju kencang saat keluar dari rumah sakit itu.


"Hampir saja," ucap Reval yang bisa mengelak dari mobil yang kencang itu yang tidak lama dari situ banyak para petugas yang keluar dari rumah sakit yang tampak mengejar mobil itu yang membuat Reval heran dan langsung buru-buru keluar dari dalam mobil.


"Mas Reval!" Suster yang di kenalnya langsung menghampirinya.


"Ada apa? di mana mama saya? apa yang terjadi pada mama saya?" tanya Reval dengan banyak pertanyaan.


"Apa maksud kamu. Siapa yang berani-beraninya membawa mama," ucap Reval dengan wajah paniknya.


"Bukan nyonya Sahila yang di bawa. Tetapi nyonya Sahila membawa seseorang yang berkunjung kerumah sakit ini dan membawanya menaiki mobil itu," jelas Suster itu dengan kepanikannya.


"Apa kamu bilang?" pekik Sean dengan wajah terkejutnya yang tidak mungkin rasanya.


"Benar mas! tadi ada wanita yang mengunjunginya nyonya Sahila dan tidak tau apa yang terjadi nyonya Sahila mengamuk dan sampai menodongkan pisau keleher wanita itu dan kami tidak ada yang bisa melakukan apa-apa sampai akhirnya wanita itu membawa nyonya Sahila dengan menggunakan pisau dan kami takut nyonya Sahila menyukai wanita itu makanya kami tidak bisa melakukan apa-apa!' jelas suster itu dengan kepanikannya.


"Sial! kenapa semuanya jadi begini," ucap Reval mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya yang melihat mobil itu semakin jauh yang di kejar beberapa petugas rumah sakit.


"Reval!" panggil Reya dan Citra yang sampai rumah sakit, "Reval apa yang terjadi?" tanya Reya dengan panik.


"Aku harus mengejar mama Reya. Mama ingin mencelakakai orang, mama ada di mobil sana," ucap Reval dengan panik.


"Itu bukannya mobil mama," lirih Citra yang mengenali harta orang tuanya yang membuat Reval dan Reya kaget dengan melihat Citra dengan wajah seriusnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Reval dengan suaranya yang tertahan.


"Iya itu mobil mama. Apa jangan-jangan!" Citra tiba-tiba merasa was-was dengan pemikirannya.


"Tidak mungkin!" lirih Reval yang buru-buru langsung berlari menuju mobilnya.

__ADS_1


"Reval tunggu!" Reya pun langsung mengikut masuk mobil Reval begitu juga dengan Citra yang dengan spontan yang mengikut saja. Karena dia juga sangat panik jika terjadi sesuatu pada mamanya.


**********


Ternyata memang benar apa adanya di mana Sahila yang membawa mobil itu dan Anggika berada di sampingnya. Tingkat kewarasan Sahila tidak tau seperti apa. Dia bisa membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan Anggika yang tadi menimbulkan kekacauan di rumah sakit yang membuat Sahila histeris dan bahkan ingin menghabisi Anggika yang mengingat siapa Anggika yang sudah merusak rumah tanggaku.


Dan lihatlah Anggika yang di sampingnya yang terlihat acak-acakan dengan rambutnya yang berantakan yang di pastikan di hajar oleh Sahila dan petugas rumah sakit tidak bisa menghentikan Anggika.


"Kau ingin membawaku kemana!" ucap Anggika dengan santainya yang seolah pasrah dengan kehidupannya.


"Aku ingin menghabisimu, wanita seperti mu pantas mati!" teriak Sahila.


Anggika hanya menyunggingkan senyumnya saat mendengar kata-kata itu.


Lalu kenapa tidak menabrakkan saja mobil ini. Aku juga sudah tidak ingin hidup Sahila. Karena aku sudah kehilangan semuanya dan kau seakan-akan menjadi wanita yang paling tersakiti sehingga anak yang merawat mu harus membalas dendam dan sekarang kau ingin membunuhku. Bukankah itu sangat lucu Sahila," ucap Anggika dengan tersenyum.


"Diamlah kau, semua yang terjadi karena perbuatanmu yang telah menghancurkan rumah tanggaku. Semua itu karena perbuatan mu Anggika dan kau pantas mendapatkan karma dari perbuatan mu," teriak Sahila.


"Rumah tangga katamu bukannya terbalik jika kau yang memulai semuanya," sahut Anggika


"Diamlah kau!" teriak Sahila.


"Lakukanlah semua sesuka hatimu Sahila. Lebih kencang lagi kau melajukan mobilnya. Karena lihat di belakang mu banyak yang mengejarmu dan apa kau pikir semua ini akan berhasil. Sahila selama ini kau berada di rumah sakit jiwa dengan mentalmu yang kurang baik hanya karena kau hanya berusaha untuk menutupi kebenaran yang ada," ucap Anggika dengan santainya.


"Diamlah Anggika. Kau itu adalah wanita jahat dan akan menjadi wanita jahat," teriak Sahila semakin melajukan mobilnya yang tidak ketahuan akan di bawa kemana.


Dan mobil Reval juga menyusul mobil itu dengan Reval yang menyetir dengan kecepatan tinggi.


"Mama kenapa bisa menemui Tante Sahila. Apa yang akan di lakukan Tante Sahila pada mama," ucap Citra yang begitu panik.


"Tenanglah Citra, tidak akan terjadi apa-apa. Kamu harus tenang," ucap Reya yang sebenarnya juga panik. Namun Reya hanya berusaha untuk tetap tenang agar Citra juga tidak panik.


Sementara Reval yang menyetir beberapa kali melihat Citra yang ada di belakangnya dari kaca spion.


Dan Citra menyadari itu yang berusaha untuk mengalihkan diri. Agar Reval yang tidak tau apa maksudnya terus melihat dirinya yang membuatnya risih.


Akhirnya mobil yang di kejar petugas rumah sakit dan juga Reval berhenti di tepi jurang. Reval Citra dan Reya yang berada di dalam mobil begitu terkejut saat melihat Sahila yang memakai seragam pasien rumah sakit melihat Sahila membawa Anggika dengan leher Anggika yang di sodorkan pisau yang melangkah mundur-mundur menuju jurang yang tinggi.


"Mama!" pekik Citra dengan wajah shocknya dan langsung keluar dari mobil dengan cepat.


"Citra!" teriak Reval dan Reya yang juga menyusul untuk keluar yang mengejar Citra yang menghampiri orang tuanya.


"Mama!" teriak Citra yang berlari menghampiri Anggika dan Sahila yang mana Citra melewati beberapa petugas rumah sakit yang juga ingin mendekati Sahila yang bertindak sangat menakutkan.


"Citra!" lirih Anggika pasti kaget dengan kedatangan Citra dan Anggika yang menjadi Sandra dari Sahila terlihat sangat pasrah.


"Apa yang Tante lakukan. Lepaskan mama Citra!" teriak Citra dengan mendekatkan dirinya.


"Jangan mendekat!" teriak Sahila yang membuat langkah Citra terhenti.

__ADS_1


Reval dan Reya pun menyusul dan melihat dengan jelas apa yang di lakukan Sahila dan bahkan di belakang 2 wanita itu terdapat jurang yang tinggi.


Bersambung


__ADS_2