
"Mah apa yang mama lakukan!" sentak Reval yang pasti terkejut dengan perbuatan mamanya.
"Jangan ada yang mendekat, wanita ini harus mati," ucap Sahila dengan wajahnya yang di penuhi dengan Iblis yang sangat ingin Anggika mati di tangannya.
"Tante lepasin mama Citra. Tante tidak boleh melakukan semua ini lepaskan mama Citra!" teriak Citra yang ingin mendekat.
"Kamu juga jangan mendekat!" Sahila menodongkan senjata pada Citra yang juga mengancam Citra jika nekat untuk mendekatinya.
Reval jelas semakin panik dengan tindakan mamanya dan apa lagi mereka terus mundur yang takut akan terjatuh ke jurang.
"Mah Reval mohon hentikan semua ini, lepaskan tante Anggika mah, ini tidak perlu mama lakukan," bujuk Reval.
"Tante Reya mohon Tante jangan seperti ini, ini sangat bahaya Tante. Tante bisa celaka," sahut Reya.
"Tante masalah Tante dan mama adalah masa lalu dan Citra sudah menjadi korbannya. Apa semuanya belum cukup Tante dengan Tante yang menyuruh Reval untuk membalaskan dendam kalian atas perbuatan mama padamu. Apa itu belum cukup!" teriak Citra.
"Citra jaga bicara kamu apa yang aku lakukan ke pada kamu tidak sepengetahuan mama dan bukan mama yang menyuruhku," sahut Reval yang membantah pemikiran Citra.
"Lalu lihat apa yang terjadi, mama kamu yang katanya gila. Lihat dia tidak gila dan ingin membunuh mama ku dan kau pikir aku masih percaya jika kau dan mamamu benar-benar bekerja sama untuk menghancurkan ku dan juga keluargaku!" teriak Citra.
"Jadi sekarang lepaskan mama ku dan kau harus berusaha untuk menghentikan dia!" teriak Citra yang tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Citra kamu tidak perlu menyuruh mereka untuk membebaskan mama. Karena Sahila akan sangat takut jika mama akan berbicara dengan apa yang sebenarnya," ucap Anggika yang sejak tadi begitu santai. Dia sangat santai dan begitu pasrah.
"Apa maksud mama?" tanya Citra dengan heran.
"Diamlah Anggika. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa Anggika!" teriak Sahila.
"Kenapa apa kau takut. Jika Reval akan mengetahui semauanya," sahut Anggika dengan menekan suaranya yang membuat Reval, Reya dan Citra semakin bingung.
"Mengetahui. Apa ada yang tidak aku ketahui?" tanya Reval.
"Diam Anggika!" teriak Sahila yang sepertinya mempunyai rahasia besar dan takut Reval tau masalah ini.
"Aku memang bersalah yang telah masuk kedalam keluarga kalian Reval. Tetapi seperti yang aku katakan sejak awal apa yang kamu lihat yang tertanam di benak kamu bukanlah kenyataan sesungguhnya," ucap Anggika.
"Apa maksud mu?" tanya Reval.
"Anggika diam!" teriak Sahila dengan suara yang tertahan.
__ADS_1
"Aku bukan selingkuhan dari ayahmu. Tapi ibumu yang dulu menghancurkan hubunganku dengan ayahmu yang mana sejak awal kami 2 orang yang saling mencintai dan dia masuk dan menghancurkan hubungan kami sampai kami tidak bisa bersama dan kamu tau kenapa. Karena dia wanita yang kau bela selama ini telah menjebak Hariyanto dia menebak Hariyanto dengan kehamilannya yang pura-pura dan akhirnya Hariyanto meninggalkanku dan mereka menikah. Apa yang kau lihat Reval saat itu hah! kau melihat kami berselingkuh. Kau hanya melihat aku datang kerumah mu dan saat itu aku hanya datang membongkar kejahatannya selama ini di mana dia telah menipu Hariyanto yang mana dia tidak pernah hamil dan anak yang di lahirkannya bukanlah anak dari rahimnya. Anak yang di ambilnya dari panti asuhan," jelas Anggika yang mengejutkan semua orang yang membuat semua orang terkejut dengan pernyataan yang di sampaikan Anggika.
"Diam kamu Anggika apa yang di katakan itu tidak benar!" teriak Sahila, "Reval jangan percaya. Wanita ini pembohong wanita ini yang sudah menghancurkan rumah tangga mama," teriak Sahila dengan suara menggelegar.
"Apa yang sebenarnya terjadi mah. Ada apa ini. Apa yang di katakan Tante Anggika adalah kebenarannya. Jika aku sendiri saja bukan anak kandung. Jika aku hanya anak yang di manfaatkan," ucap Reval dengan matanya yang berkaca-kaca yang benar-benar terkejut mendengarnya.
"Itu adalah kebenarannya Reval. Kamu bukan anak dari Sahila dan aku tidak berselingkuh dengan ayahmu. Dia memang masa laluku dan jujur aku sangat mencintainya walau dia sudah menikah. Tetapi tujuanku saat datang kerumah kalian itu hanya untuk memberitahu kebenarannya dan kenapa ayahmu pergi bersamaku itu karena kecewa dengan kebohongan ibumu dan sampai detik ini otak kamu telah di cuci dengan kesalahpahaman kamu. Kamu melihat penderitanya yang mengalami gangguan mental karena penyesalan yang di lakukannya sendiri dan bukan karena aku. Dan sampai kamu harus membalskan kepada Citra yang mana Citra tidak tau apa-apa sama sekali,"
"Foto-foto romantis yang kamu lihat. Foto-foto aku dan papamu itu adalah foto-foto saat papamu belum menikah dengannya dan aku mungkin kesalahan ku adalah karena aku membongkar semuanya saat sudah menikah dengan suamiku dan aku merahasiakan semua dari suamiku," jelas Anggika yang menceritai sebenarnya.
Reval begitu schok mendengarnya. Dia telah membalas dendam kepada orang yang tidak salah dan justru dendam dalam kesalahpahaman dan Citra menjadi korban. Di mana Reval dengan deru napasnya yang tidak stabil melihat kearah Citra.
Di mana mata Reval berkaca-kaca dengan korban di sampingnya. Bahkan Anggika saja tidak bersalah saat itu.
"Citra!" lirih Reval. Citra hanya diam dengan deru napasnya yang tidak stabil dan melihat Reval yang justru penuh dengan penyesalan.
"Tanya Anggika!" teriak Reya tiba-tiba dan membuat semua orang kaget saat melihat kearah jurang di mana Sahila ingin mendorong Anggika.
"Mama!" teriak Citra.
"Mah!" teriak Reval saat melihat atraksi mengerikan itu dan saat Anggika dan Sahila yang hampir jatuh tiba-tiba seseorang langsung mendorong 2 wanita paruh baya itu sampai mereka menjauh dari tepi jurang.
Petugas rumah sakit langsung berlari menghampiri Sahila dan membawa Sahila dengan paksa.
"Lepaskan aku! lepaskan aku! aku tidak salah! lepaskan aku! lepas! Reval jangan percaya pada wanita itu Reval, dia pembohong dia merebut suamiku, dia pembohong Reval!" teriak Sahila yang di seret petugas memasuki mobil ambulan dan Anggika terduduk lemah dengan deru napasnya yang tidak stabil.
Sementara Reval hanya diam yang masih shock dengan kenyataan yang telah di terimanya. Dia bahkan tidak melerai para petugas yang membawa mamanya. Dia seperti laki-laki dengan pemikirannya yang kosong dan tidak tau harus apa.
"Mama!" teriak Citra yang berlari menghampiri Anggika.
"Kak Sean!" ucap Citra melihat Sean hanya berdiri di samping mamanya dan Citra langsung berjongkok di depan mamanya.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Citra dengan panik dengan memegang ke-2 pipi mamanya.
"Alasan melarang kamu untuk berhubungan dengan seorang Dosen bukan karena mama berselingkuh dengan seorang Dosen. Namun karena mama pernah di sakiti, dan di tinggalkan dengan seorang Dosen dan mama tidak terima dan akhirnya membongkarnya dan membuat pernikahan mereka hancur," ucap Anggika dengan air matanya yang menetes.
"Kamu harus menjadi korban keegoisan mama, mama tetap berdosa dan patut di salahkan," ucap Anggika dengan penyesalannya.
Sean yang masih berdiri di samping Citra dan Anggika mengepal tangannya. Dia langsung menatap Reval yang berdiri dengan penuh linglung di sana. Di mana tatapan Reval begitu tajam kepada Reval yang sepertinya Sean sudah bisa mengambil kesimpulan apa yang menyebabkan adiknya seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Bajingan!" umpat Sean dengan suaranya yang di tekannya dan Reval langsung berjalan kearah Reval dengan aura dingin yang penuh dengan amarah dengan wajah memerah, Rahang kokoh yang mengeras sampai urat lehernya terlihat.
Di mana Sean yang sudah tepat di hadapan Reval langsung melayangkan pukulan kepada Reval dengan sekuat-kuatnya yang membuat Reval langsung terbaring di tanah.
"Kak Sean!" teriak Reya dengan wajah kagetnya sampai menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya.
Citra juga menoleh ke belakangnya saat mendengar suara teriakan Reya yang mana begitu mengejutkan Citra saat Sean menghajar Reval habis-habisan.
"Kak Sean!" teriak Citra yang langsung berlari menghampiri Reval dan Sean. Reya dan Citra berusaha untuk menghentikan Sean yang terus memukul Reval.
"Jadi kau yang sudah membuat adikku menderita, bajingan. Kau harus mati di tanganku!" umpat Sean dengan penuh amarah yang tidak bisa mengendalikan dirinya yang sudah seperti Iblis.
"Kak Sean sudah, kak Sean!" ucap Citra menarik tangan Sean.
"Kak Sean hentikan Reval bisa mati hentikan kak Sean," Reya juga berusaha untuk menghentikan suaminya yang di penuhi dengan amarah.
Sampai akhirnya Sean capek sendiri dan menghentikan memukul Reval dengan napas Sean yang naik turun dan wajah Reval sudah babak belur dan bahkan memuntahkan darah karena pukulan keras oleh Sean.
"Urusan kita belum selesai. Kau harus mati di tanganku bajingan!" teriak Reval.
"Kak Reval sudah cukup!" cegah Reya menahan tangan suaminya dan Sean melepas kasar tangannya dari Reya dan menatap Reya tajam.
"Ini yang kamu sembunyikan selama ini. Ini yang kamu sembunyikan Reya. Kamu tau semua ini dan kamu diam saja. Kamu tau drama panjang ini dan kamu diam!" ucap Sean dengan suaranya yang keras yang tidak dapat mengendalikan dirinya pasti marah pada Reya.
"Aku bisa jelaskan semuanya," ucap Reya dengan suara pelannya.
"Persetan dengan penjelasan!" bentak Sean yang langsung pergi dari hadapan Reya.
"Kak Sean tunggu!" teriak Reya yang memanggil suaminya. Namun Sean meninggalkan tempat itu dengan penuh rasa kecewa tetapi Reya justru melihat seseorang yang tidak asing baginya yaitu mamanya Erina yang berada jauh dari tempat itu.
"Mama!" batin Reya.
"Kak Sean!" panggil Reya yang lebih memilih untuk mengejar Sean di bandingkan memperdulikan mamanya yang ada di sana.
Setelah kepergian Reya dan Sean. Sekarang Citra dan Reval. Citra ingin sekali menolong Reval yang terbaring lemah. Namu mengingat semua yang terjadi membuat Citra tidak mau mendekati Reval dan akhirnya Citra pergi meninggalkan Reval dalam keadaan terluka parah dan mungkin Reval menyadari itu yang pantas di dapatkannya setelah apa yang telah di lakukannya.
"Kau memang orang paling bodoh Reval," batin Reval yang mengutuk dirinya sendiri bodoh.
Bersambung
__ADS_1