
Reya yang masih berada di ruang perawatan yang masih sama belum sadarkah diri dan Sean menemaninya terus tanpa meninggalkan sebentar saja istrinya itu. Dengan duduk di samping istrinya dan dengan menggenggam tangan Reya dengan erat yang berusaha untuk memberikan energi kepada Reya dengan tatapan sendu Sean yang menatap nanar sang istri yang wajah istrinya masih sangat pucat.
Lama menatapi Reya dalam tidurnya tiba-tiba Reya membuka matanya dengan perlahan yang akhirnya siuman juga setelah 24 jam Reya tidak sadarkan diri.
"Reya!" lirih Sean yang lebih mendekatkan dirinya pada Reya dengan wajah mereka yang berdekatan dan Sean mengelus pucuk kepala sang istri.
"Aku di mana?" tanya Reya dengan suara seraknya yang yang masih begitu lemah.
"Kamu ada di rumah sakit sayang," jawab Sean dengan lembut dan Reya memejamkan matanya yang mengingat- ngingat apa yang terjadi.
"Mama! bagaimana dengan mama?" tanya Reya yang mengingat waktu itu dia dan Citra sedang berusaha untuk menangkap Erina.
"Mama, apa mama melarikan diri lagi?" tanya Reya yang memegang kuat tangan Sean dengan wajah Reya yang kepanikan.
"Sayang kamu tenang ya, kamu jangan memikirkan Tante Erina. Kamu jangan khawatir Tante Erina sudah di penjara, polisi berhasil menangkapnya," ucap Sean yang bicara apa adanya.
Mendengarnya membuat Reya menghela napasnya yang sangat bersyukur dengan apa yang di dengarnya, "sungguh?" tanya Reya yang kurang yakin.
Sean menganggukkan kepalanya yang membenarkan hal itu, " ini semua karena kerja keras kamu dan Citra. Sekarang Tante Erina sedang di proses di kantor polisi. Dua akan secepatnya mendapatkan hukuman yang," ucap Sean.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku lega mendengarnya," sahut Reya yang benar-benar lega bahkan di tengah sakitnya Reya masih sempat-sempatnya tersenyum yang karena memang sangat bahagia.
__ADS_1
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat ya. Kamu harus istirahat, kondisi kamu belum membaik," ucap Sean. Reya menganggukkan kepalanya dan Sean mencium keningnya.
"Kak Sean memang aku kenapa. Kok bisa sampai di rumah sakit?" tanya Reya yang baru mengingat kondisinya, "dan kemarin bukannya aku sedang..." Reya mengingat-ingat kembali dia sempat jatuh. Reya yang tersadar langsung memegang perutnya yang merasa ada yang aneh pada perutnya dan Sean sudah mulai panik dengan Reya yang sudah bersaksi cemas.
"Kak. Tidak terjadi sesuatu kan dengan kandungan ku?" tanya Reya yang merasakan ada yang ganjal dengan tubuhnya. Seperti ada yang hilang dari tubuhnya.
"Kak Sean kenapa diam saja. Tidak terjadi sesuatu kan pada bayi kita?" tanya Reya semakin panik. Sean yang tak mampu bicara langsung memeluk Reya dengan erat yang membuat Reya semakin yakin, jika terjadi sesuatu padanya.
"Kak bayi kita kenapa?" tanya Reya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Maafkan aku Reya. Aku tidak bisa menyelamatkan anak kita, maafkan aku Reya," ucap Sean dengan terbata-bata yang mengatakan apa yang sebentar terjadi dan itu begitu mengejutkan untuk Reya dengan air matanya yang langsung keluar yang benar-benar shock dengan pernyataan yang di katakan Sean.
"Tidak! tidak! tidak! itu tidak mungkin! itu tidak mungkin kak Sean jangan bercanda itu tidak mungkin, itu tidak mungkin!" teriak Reya yang tidak bisa menerima kenyataan itu. Sean sangat mengerti dengan hancurnya perasaan Reya yang kehilangan bayinya.
Sementara di luar di depan ruangan Reya Anggika dan kakek ada di sana dan melihat Reya yang histeris kehilangan bayinya membuat Anggika ikut tersentuh. Bahkan air matanya sampai jatuh.
"Aku pernah berniat ingin menggugurkan kandungan Reya. Karena hubungan mereka yang salah. Aku bisa melihat perjuangan Reya mempertahankan kandungannya. Dia sangat mencintai anak itu dan mengorbankan apa saja demi anak itu dan sekarang anak itu sudah tidak ada dan Reya sangat kehilangan," ucap Anggika yang menyesali apa yang dulu di lakukannya pada Reya.
"Pah, aku sangat mengerti bagaimana perasaan Reya yang kehilangan bayinya. Aku berusaha untuk melenyapkan bayinya waktu itu. Padahal aku juga pernah kehilangan bayiku sampai 2 kali. Tetapi aku masih tega melakukannya," ucap Anggika yang tidak henti-hentinya mengakui kesalahannya.
"Anggika semua yang itu masa lalu dan kamu sudah menyesalinya. Aku tau niat kamu waktu itu pada Reya. Karena kamu merasa tidak wajar dengan hubungan Reya dan Sean. Namun sekarang semuanya sudah berubah. Kamu sudah menjadi yang lebih baik sekarang dan belajarlah dari kesalahan," ucap Kakek yang slalu memberi nasehat kepada Anggika.
__ADS_1
"Dan Reya juga Sean yang kehilangan bayi mereka mungkin suatu musibah yang sangat besar. Namun percayalah ada hikmah di balik semua ini. Reya dan Sean akan kuat dan pasti Allah akan memberikan mereka keturunan lagi. Tugas kita hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka dan pasti mendoakan agar kehidupan mereka menjadi lebih baik. Lebih kuat dan jauh bisa menerima semua ini," ucap Kakek dengan mengusap-usap bahu Anggika.
Anggika menganggukkan kepalanya dengan memeluk kakek, "kamu juga ibu yang sangat kuat dan pasti kamu juga akan menjadi contoh yang baik untuk mereka berdua, dan bukan hanya mereka berdua, tetapi untuk Citra juga," ucap kakek yang juga memberi kekuatan untuk Anggika.
***********
Kehilangan janin di dalam kandungan bukanlah hal yang mudah untuk di terima. Apa lagi mengingat bagaimana Reya yang mempertahankan kandungannya dan sekarang janin yang di harapkannya sudah pergi dan semua karena Erina yang berusaha untuk di tangkapnya. Ada kabar bahagia dan juga kabar buruk.
Reya yang histeris setelah mendengar pernyataan dari suaminya sudah mulai baik-baik saja, dia sudah mulai tenang yang masih berada di atas tempat tidur rumah sakit yang berbaring miring dan di peluk Sean dari belakang.
Sean memang tidak akan meninggalkan Reya. Walau hanya sebentar saja. Reya sebagai terluka dan pasti sangat membutuhkan dirinya untuk sebagai penguat untuk Reya.
"Kenapa harus anak kita?" tanya Reya dengan air matanya yang tidak henti-hentinya menetes.
"Allah sangat menyayangi anak kita. Allah ingin anak kita ada di sisinya," jawab Sean.
"Aku sangat mengerti perasaan kamu yang kehilangan anak kita. Sama Reya aku juga sangat kehilangan dan sangat merasa bersalah. Karena aku tidak bisa menjaga anak kita. Aku tidak bisa menjaga kamu dan anak kita. Aku juga merasa bersalah Reya dan sangat menyayangkan semua ini. Tetapi aku kembali berpikir. Jika semua ini pasti ada hikmahnya dan anak kita tidak pergi kemana-mana. Dia tetap ada di sekitar kita, di hati kita dan dia sangat bahagia di atas sana," ucap Sean dengan lembut yang mencoba terus menerus membuat Reya kuat.
Reya hanya terisak-isak yang justru kata-kata Sean semakin membuatnya sedih dan semakin rapuh.
"Jika ingin menangis. Maka menangislah Reya. Karena kamu berhak menangis, kamu berhak marah dengan semua yang terjadi dan aku tidak akan melarang kamu untuk menangis," ucap Sean yang membuat Reya berbalik badan dan memeluk Sean yang semakin menangis sengugukan dan Sean hanya bisa menguatkannya dengan pelukan juga dengan mengusap-usap punggung istrinya.
__ADS_1
Air matanya juga jatuh dengan perasaannya yang juga hancur. Namun harus kuat agar istrinya lebih kuat.
Bersambung