Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 80 Hal manis.


__ADS_3

Anggika berada di kamarnya yang berdiri di depan bingkai foto yang besar yang menempel di dingding. Di mana Anggika berdiri dengan ke-2 tangannya yang di lipat di dadanya dan menatap penuh arti foto keluarganya itu yang mana ada Anggika, Argantara, Sean dan Citra.


Anggika dan Citra yang duduk dan Sean dan Argantara yang berdiri di belakang mereka yang tersenyum ceria seperti mereka adalah keluarga yang sangat bahagia tanpa adanya masalah sama sekali.


Begitu dalam Anggika menatap foto itu yang tidak tau apa yang di pikirkannya. Mungkin saja apa yang terjadi dengan Sean dan Reya di Apartemen terasa pada Anggika dan tiba-tiba membuat Anggika sangat khawatir.


"Perasaan ku tidak enak. Seperti akan ada badai di dalam kehidupan keluarga ini, apa itu mungkin? apa lagi yang akan terjadi pada keluarga ini. Aku tidak tau bagaimanapun lagi nanti akan menghadapi semua badai itu," batin Anggika yang sejak tadi jantungnya berdebar dengan kencang yang dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba seperti itu.


"Sangat banyak masalah yang terjadi dan seharusnya masalah ini sudah selesai dan sudah berlalu. Tetapi kenapa aku merasa masih sangat tidak aman. Aku merasa akan ada sesuatu yang sangat mengerikan. Aku khawatir pada Sean dan juga Citra. Apa mereka akan baik-baik saja setelah ini," batin Anggika yang melihat Sean dan Citra.


Di tengah lamunannya tiba-tiba sebuah tangan berada di pundaknya yang membuat Anggika langsung melihat kebelakang yang ternyata adalah suaminya dan sekarang suaminya berdiri di sampingnya.


"Ada apa Anggika?" tanya Argantara yang melihat istrinya itu seperti memikirkan sesuatu.


"Aku hanya kepikiran dengan keluarga kita," ucap Anggika.


"Apa yang kamu pikirkan. Bukannya semuanya baik-baik saja? kenapa harus tiba-tiba memikirkan keluarga kita yang sama sekali tidak terjadi apa-apa?" tanya Argantara.


Anggika menghadap suaminya dan menatap intens suaminya, "feeling seorang istri tidak pernah salah. Instingnya sangat kuat. Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apa masih ada yang kamu sembunyikan dari ku? apa masih ada rahasia diantara kita? tanya Anggika membuat Argantara kaget.


Jelas ada yang di sembunyikan dan itu mampu membuat Argantara panik.


"Kenapa Anggika tiba-tiba mengatakan hal itu," batin Argantara yang penuh dengan kebingungan. Namun dia harus sedikit cemas.


"Kenapa diam mas? apa diam kamu adalah tanda sebuah rahasia ada di antara kita," sahut Anggika yang menatap suaminya penuh dengan selidik.


"Apa yang kamu bicarakan Anggika. Rahasia apa lagi. Bukannya aku sudah mengatakan semuanya. Tidak ada rahasia apa-apa di antara kita," sahut Argantara yang berusaha untuk tenang.


"Aku hanya menyarankan kepadamu mas. Jangan sampai hal yang kamu anggap biasa pada akhirnya akan menghancurkan segalanya. Aku sudah berusaha untuk memperbaiki keluarga ini. Berusaha mencegah balah buruk yang terjadi. Tetapi kalau yang satu berusaha untuk mencegah dan satu yang berusaha untuk membuka jalan. Maka tidak akan ada gunanya usaha yang aku lakukan. Jadi aku meminta untuk kamu memikirkan semuanya baik-baik," ucap Anggika yang berbicara begitu serius yang seperti ada maksud tertentu dari kata-katanya.

__ADS_1


"Anggika aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Tetapi perlu kamu ketahui sampai sejauh ini. Aku tidak merahasiakan apapun kepadamu. Aku berusaha jujur dan aku juga harap kamu jujur padaku dan tidak merahasiakan apa-apa dan terserah kamu percaya atau tidak dengan apa yang aku katakan. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya saja," ucap Argantara menghela napasnya.


"Apa yang kamu yang kamu katakan. Kenapa berbalik kepadaku. Kamu ini sangat aneh mas," sahut Anggika.


"Kamu yang aneh. Aku jelas-jelas tidak menyembunyikan apa-apa dan kamu tiba-tiba punya pikiran lain jadi bukan aku yang aneh," sahut Argantara dan meninggalkan istrinya di kamar itu.


"Ketika aku menyuruhmu untuk jujur kau malah membalikkan keadaan. Seakan aku menyimpan rahasia, aku hanya takut mas. Hanya takut," batin Anggika yang menatap kepergian suaminya itu.


*******


Sudah pagi hari Reya keluar dari kamarnya yang sudah mandi dan sudah rapi-rapi. Reya sangat cantik dengan dress pink selututnya dan rambutnya yang di gerainya. Tidan tau kenapa dia memang berpenampilan cantik. Biasanya juga memang cantik sih.


Walau tidak kemana. Tetapi dia tetap harus rapi dan selalu tampil cantik. Setelah selesai beres-beres Reya langsung menuruni anak tangga menuju dapur dan ternyata sudah ada Sean di sana yang apa lagi kalau bukan Sean sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya.


"Selamat pagi," ucap Sean dengan tersenyum manis kepada Reya.


"Selamat pagi," sahut Reya yang juga tersenyum. Ke-2nya tampak memang sedang berbunga-bunga.


Reya mengangguk dengan tersenyum. Tetapi masih sangat malu-malu. Walau hubungannya dengan Sean sudah begitu membaik. Karena mereka baru saja mengungkapkan perasaan kembali.


"Makasih!" ucap Reya yang sudah duduk. Sean mengangguk dan duduk di depan Reya.


"Makanlah!"titah Sean dengan lembut.


"Kamu tidak pulang. Apa papa tidak akan mencarimu?" tanya Reya yang cemas.


"Tidak akan Reya mungkin mereka pikir aku lembut di kantor. Tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir," ucap Sean dengan memegang tangan Reya sembari mengusap punggung tangan itu.


"Ayo di makan!" titah Sean lagi.

__ADS_1


"Kamu juga," sahut Reya. Sean mengangguk dengan tersenyum.


"Oh iya Reya pagi ini kita kerumah sakit ya," ucap Sean.


"Untuk apa?" tanya Reya yang tiba-tiba panik.


"Tidak apa-apa. Jangan di bawa serius. Aku hanya ingin memeriksa kandunganmu. Aku sempat membaca kemarin di artikel. Katanya kalau berhubungan intim saat hamil muda itu berbahaya," ucap Sean.


Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Reya langsung batuk-batuk mendengarnya membuat Sean panik dan langsung memberikan Reya air putih.


"Reya kamu baik-baik aja?" tanya Sean panik.


"Aku baik-baik saja. Memang harus ya kamu ungkit- ungkit masalah hubungan intim," ucap Reya yang malu-malu, bahkan wajahnya sampai memerah. Namun hal itu membuat Sean tersenyum.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud aku hanya khawatir saja dengan anak kita," ucap Sean.


"Ya sudah kalau begitu. Nanti setelah sarapan kita kerumah sakit," jawab Reya yang begitu gugup.


Sean kembali memegang tangannya dan tangan Reya begitu dingin.


"Kamu masih canggung saja Reya kepadaku. Bukannya kita sudah sama-sama saling mengucapkan cinta. Jadi jangan canggung kepadaku," ucap Sean. Reya menelan salivanya yang sejak tadi tidak berani melihat Sean.


"Aku hanya tidak terbiasa dan bukannya itu sangat wajar jika aku gugup," sahut Reya.


"Aku mengerti. Ayo kita sarapan lagi," sahut Sean. Reya menganggukkan kepalanya dan mereka mulai menikmati sarapan itu.


Tingnong.


Tiba-tiba bunyi Apartemen milik mereka terdengar membuat mereka berdua saling melihat dan dengan seketika menjadi panik yang bel Apartemen di bunyikan yang bisanya tidak pernah terjadi.

__ADS_1


Bersambung


.


__ADS_2