Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 268


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan Sahila jelas sangat mengejutkan Anggika.


"Apa yang kamu bicarakan Sahila. Kenapa kamu membawa-bawa nama Reya dan apa hubungan Reya dan juga Citra?" tanya Anggika yang merasa ada yang tidak beres dalam perasaannya.


Sahila melangkah mendekati Anggika dan menunjukkan ponselnya yang langsung foto seorang wanita yang merupakan foto yang sempat di foto Sahila sewaktu menemukan foto di dalam berkas-berkas kelahiran Reya.


"Ini adalah ibu kandung Reya," ucap Sahila.


"Apah kamu bilang dia ibunya Reya?" tanya Anggika.


"Iya," jawab Sahila.


"Lalu jika dia ibunya Reya. Apa urusannya Citra?" tanya Anggika yang sepertinya tidak mengenali wanita itu dan malah kelihatan bingung.


"Kamu tidak mengenal wanita ini?" tanya Sahila.


"Aku tidak mengenalnya?" jawab Anggika yang sepertinya dia memang tidak mengenal wanita itu.


Sahila mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan memperlihatkan sebuah foto lagi dan langsung memberikannya ke pasar Anggika.


"Bagaimana dengan ini?" tanya Sahila dan Anggika melihat foto itu.


Foto seorang wanita yang menggendong anak kecil di depan panti asuhan. Ke-2 anak perempuan yang berada di gendongannya itu mampu membuat Anggika terkejut melihatnya.


"Citra!" lirih Anggika yang mengenali salah satu foto tersebut yaitu Citra yang berusia 1 tahun yang dulu di ambilnya dari panti asuhan dan pasti Anggika juga banyak mempunyai foto-foto Citra waktu kecil.


"Itu Citra dan wanita itu kenapa bisa bersama Citra dan siapa anak kecil yang satunya?" tanya Anggika dengan jantungnya yang tiba-tiba berdetak begitu kencang.


"Anak kecil itu adalah Reya dan foto wanita itu adalah Suhartati. Foto wanita yang sama dengan wanita yang ada di dalam berkas Reya," jawab Sahila yang membuat Anggika terkejut mendengarnya.


"Tunggu dulu. Apa maksud dari perkataan kamu. Apa kamu mau bilang kalau Citra dan Reya mempunyai ibu yang sama?" tanya Anggika menduga-duga.

__ADS_1


Sahila terdiam yang sepertinya memang benar. Selain foto yang sama. Panti asuhan yang sama dan di tangan Citra dan Reya juga terdapat gelang tangan dan yang sama.


"Sahila kamu jangan mengarang cerita. Itu tidak mungkin Sahila. Bagaimana mungkin kamu bisa menyimpulkan hal itu. Citra memang berada di panti asuhan yang sama dengan Reya dan sangat tidak mungkin jika mereka mempunyai ibu yang sama," ucap Anggika yang menduga sendiri yang menyimpulkan sendiri.


"Dan tunggu dulu. Aku tau kamu itu tau banyak tentang Citra. Kamu tau rahasia mengenainya yang mana Citra bukan anakku. Tetapi kamu tidak bisa menyimpulkan begitu saja," ucap Anggika.


"Tapi aku juga mengenali Suhartati bukan. Aku tau dia. Karena suaminya dulu satu kampus denganku dan satu jurusan. Aku tau banyak tentang istrinya, tentang pernikahannya, kelahiran ke-2 anaknya sampai akhirnya suaminya meninggal. Ekonominya berantakan dan membuatnya harus ke Luar Negri untuk mencari uang dan mengorbankan 2 anaknya dan aku tidak tau anak pertamanya di adopsi siapa yang ternyata di adopsi Erina dan anak ke-2nya aku jelas tau kau yang mengadopsinya. Karena aku menyelidiki mu saat itu," jelas Sahila.


Napas Anggika mendengarnya naik turun dengan memegang dadanya yang sangat tidak mudah untuk mempercayai hal itu. Anggika mengusap wajahnya kasar dengan ke-2 tangannya.


"Itu tidak mungkin. Ini sangat tidak masuk akal," ucap Anggika.


"Kita sebaiknya ke panti asuhan untuk memastikannya. Sebelum kita membuat opini sendiri dan memberi harapan pada Reya dan Citra dan lebih baik kita ke panti agar semuanya benar-benar jelas," ucap Sahila memberi saran.


Anggika menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


"Baiklah jika memang itu yang harus di lakukan. Maka aku akan bersedia," sahut Anggika yang setuju dengan Sahila.


"Jangan membuang waktu. Ayo!" ajak Sahila. Anggika mengangguk dan setuju untuk pergi. Karena memang menurutnya harus ada kejelasan agar semuanya jelas.


"Mau kemana mama?" tanya Citra yang melihat mobil mamanya keluar dari rumah.


"Entahlah mungkin mau pergi sebentar," jawab Sean.


"Kenapa aku melihat seperti mama ya," batin Reval yang merasa tidak asing tadi. Tetapi dia tidak yakin sebenarnya dengan apa yang di lihatnya.


***********


Reya, Sean, Citra dan Reval yang pulang sebentar untuk mengambil beberapa keperluan saja. Reya, Sean dan Reval sudah selesai, mereka juga sudah berpamitan dengan Argantara dan Argantara hanya bisa mendoakan dan memberi semangat.


Sekarang Reya, Reval dan Sean menunggu di luar. Mereka menunggu Citra yang belum turun.

__ADS_1


"Lama sekali Citra," gumam Sean yang melihat arloji di tangannya.


"Tadi katanya hanya mengambil power bang saja," sahut Reya.


"Tapi kenapa lama sekali?" tanya Sean.


"Ya sudah biar aku susul saja," sahut Reya. Sean dan Reval mengangguk dan Reya langsung pergi menyusul Citra agar cepat.


Citra berada di kamarnya yang mencari power bang, "kenapa juga yang biasa aku pakai harus rusak. Kayaknya aku punya lagi deh. Tapi di mana ya aku simpan," gumam Citra yang mencari-cari dengan membuka setiap laci-laci yang ada di kamarnya.


Ada lemari yang cukup tinggi dan bahkan lacinya sangat tinggi. Citra harus jinjit dengan membuka laci itu dan meraba-raba isinya.


"Nah ini dia," gumam Citra yang akhirnya menemukan benda tersebut. Citra pun langsung mengambilnya dan saat mengambilnya bukan hanya apa yang di carinya yang jatuh. Namun terdengar suara benda nyaring yang jatuh yang membuat Citra cukup kaget.


"Ya ampun Citra kamu ini sembrono sekali," gumam Citra yang menepuk jidatnya dan berjongkok mengambil benda yang jatuh itu yang merupakan gelang yang jatuh berguling ke bawah meja.


Citra harus menunduk agar mendapatkan apa yang yang jatuh dan akhirnya Citra mendapatkannya dengan memegang benda itu yang ternyata gelang. Namun Citra cukup terdiam sesaat melihat gelang bulat kecil yang terdapat dua kerincingan itu dengan Citra mengamati gelang itu.


Sangat cepat Citra terbayang dengan gelang yang baru saja di tunjukkan Reya kepadanya dan sungguh itu sangat mengejutkan dengan matanya yang terbuka lebar.


"Ini bukannya sama persis dengan apa yang di miliki Reya," lirihnya dengan napasnya yang naik turun. Debaran jantungnya yang tidak menentu dengan tiba-tiba dengan penemuan benda itu.


"Citra!" panggil Reya membuat Citra kaget dan langsung menyembunyikan gelang di dalam kepalan tangannya.


"Reya!" sahut Citra yang kelihatan sangat gugup.


"Kamu sedang apa?" tanya Reya heran.


"Oh tidak apa-apa. Aku sedang membereskan barang-barang yang jatuh," jawab Citra dengan gugup.


"Oh begitu. Ya sudah ayo buruan. Yang lain sudah menunggu," ucap Reya.

__ADS_1


"Oh iya oke," sahut Citra dengan menganggukkan kepalanya dan masih menyembunyikan gelang itu.


Bersambung


__ADS_2