Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 89 Hal yang menegangkan.


__ADS_3

Reya yang berada di dalam kamar mandi memperbaiki make up-nya. Dengan melihat dirinya di cermin, menghela napasnya panjang kedepan dan baru keluar dari kamar mandi dan langsung menuju tempat di mana dia meninggalkan Sean dengan langkahnya yang santai.


Di tempat duduk Sean yang adanya Sean semakin panik dengan ketakutannya yang Reya akan datang tiba-tiba dan tidak tau akan apa yang terjadi nantinya yang membuat Sean penuh dengan kecemasan yang menunggu-nunggu untuk pesanan Anggika cepat datang dan pergi dari duduknya.


Sean ingin menghubungi Reya. Namun pasti tidak bisa karena Reya tidak membawa handphonenya dan bagaimana Sean tidak semakin panik.


"Reya!" tiba-tiba seorang memanggil Reya membuat langkah Reya terhenti dan membalikkan tubuhnya melihat ke belakang.


"Reval!" sahut Reya yang terkejut dan langsung menghampiri Reval dengan tersenyum ramah.


"Kita ketemu lagi," sahut Reval yang juga tersenyum.


"Iya benar, dunia ternyata memang sangat kecil," sahut Reya dengan tertawa geleng-geleng.


"Kamu benar. Itu artinya kita harus membuat janji untuk bertemu, mengobrol dan lain-lainnya. Karena kita sudah lama tidak bertemu dan tidak mengobrol," sahut Reval.


"Baiklah, nanti kita buat janji untuk bertemu. Jangan khawatir," sahut Reya dengan tersenyum.


"Dan mumpung kita ketemu di sini dengan tidak sengaja. Jadi aku ingin mengundangmu," ucap Reval memberikan Reya undangan yang membuat Reya heran dengan menautkan ke-2 alisnya.


"Undangan apa ini? undangan pernikahan?" tanya Reya menduga-duga.


"Pernikahan apanya. Siapa juga yang mau jadi calonnya. Kamu ini aneh-aneh aja,"sahut Reval membuat Reya tersenyum.


"Jadi ini undangan apa?" tanya Reya heran.


"Ini kebetulan acara ulang tahun kampus aku dan di adakan di hotel dan sekalian juga peresmian aku sebagai dosen senior ya naik jabatan," jelas Reval dengan singkat dan membuat Reya terlihat sangat terkejut.


"Kamu dosen!" pekik Reya yang sepertinya tidak tau dan cukup terkejut mendengarnya pernyataan Reval.


"Hmmm, iya aku seorang dosen. Kamu tidak taukan. Makanya kita perlu saling mengobrol. Agar kamu tidak kaget lagi," jawab Reval


"Iya-iya kamu benar. Aku benar-benar tidak tau kalau kamu Dosen," sahut Reya geleng-geleng.


"Ya begitulah, aku seorang Dosen di universitas Jakarta," ucap Reval.


"Ya ampun aku sungguh tidak percaya. Kamu benar-benar sangat hebat Reval. Aku jamin kamu ini pasti Dosen idola para wanita dan sangat galak," seloroh Reya dengan menyipitkan matanya.


"Bisa jadi," sahut Reval tersenyum.


"Kalau begitu aku harus mengucapkan selamat," ucap Reya yang langsung menjulurkan tangannya.


"Makasih Reya," sahut Reval menyambut uluran tangan itu, "tapi ingat kamu harus datang. Tamu kehormatan ku tidak boleh datang," ucap Reval.


"Iya-iya kamu jangan takut. Kalau ada waktu nanti aku pasti datang," ucap Reya yang tidak bisa berjanji.


"Jangan di tunggu ada waktu. Kamu harus benar-benar datang," ucap Reval sedikit memaksa.


"Apa dosen kita ini sedang memaksa," sahut Reya dengan tersenyum.


"Harus di paksa untuk tamu kehormatan," sahut Reval dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah! kalau begitu," sahut Reya membuat Reval tersenyum.


"Aku tunggu kedatangan mu," ucap Reval. Reya menganggukkan saja kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu Reval, aku kembali ke meja dulu. Soalnya aku sedang makan. Jadi tidak enak di tinggal lama-lama. Aku balik dulu ya," ucap Reya.


"Kamu sama siapa?" tanya Reval dan Reya terlihat diam yang tidak langsung menjawab.


"Baiklah kembalilah kemeja mu," sahut Reval yang mempersilahkan.


"Ya sudah aku kembali dulu. Makasih sudah mengundangku. Nanti kita buat janji untuk bertemu dan saling bercerita," ucap Reya.


"Baiklah aku tunggu kedatangan kamu dan juga janjinya,"sahut Reval.


Reya mengangguk dengan tersenyum dan langsung pergi. Reval menghela napasnya dan juga pergi langsung.


*********


Sementara di meja Sean. Sean terus melihat ke arah kamar mandi dan berusaha untuk melihat Reya.


"Kenapa pesanan mama lama sekali datangnya. Reya bisa datang kalau begini ceritanya," batin Sean yang terus dalam kepanikan.


"Klien kamu lama juga Sean," sahut Anggika yang juga menunggu-nunggu siapa yang bersama Sean.


"Aku juga tidak tau mah mungkin dia sedang menelpon atau apa," sahut Sean yang berusaha untuk setenang mungkin.


"Bu Anggika!" panggil pelayan Restaurant dan membuat Sean menghela napas yang di tunggu-tunggunya akhirnya terjadi juga.


"Iya mah, mama hati-hati ya," ucap Sean. Anggika mengangguk dan langsung pergi menuju kasir. Namun Sean masih belum tenang sebelum mamanya pergi dari Restaurant itu.


Dan akhirnya Reya pun timbul dan heran melihat Sean yang panik


"Sean!" tegur Reya mengejutkan Reya. Sean melihat ke kasir dan mamanya masih melakukan pembayaran.


"Kamu kenapa?" tanya Reya heran. Sean yang panik langsung berdiri.


"Ayo pergi dari sini!" ucap Sean yang langsung menarik tangan Reya dan membawanya buru-buru pergi membuat Reya sangat terkejut.


"Sean ada apa sebenarnya, kenapa langsung pergi? tanya Reya dengan herannya. Namun bukannya menjawab. Sean terus menarik Reya dan membawa Reya pergi dari meja itu sebelum mamanya melihat Reya.


"Makasih ya mbak," ucap Anggika yang selesai melakukan pembayaran. Anggika kembali melihat ke arah meja Sean dan sudah kosong.


"Kemana Sean!" batin Anggika heran. Namun Anggika tidak peduli dan langsung pergi yang juga harus buru-buru kekantor suaminya.


Reval sendiri berada di parkiran yang ingin memasuki mobil. Namun Reval tidak jadi membuka pintu mobil. Ketika melihat Anggika keluar dari Restaurant dan Reval terus melihat Anggika dengan tatapan penuh arti yang terus memperhatikan Anggika sampai Anggika memasuki mobil.


Setelah itu Reval langsung memasuki mobilnya dengan menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


***********


Sementara di sisi lain Reya benar-benar tidak mengerti dengan Sean yang menarik tangannya.

__ADS_1


"Sean ada apa sebenarnya?" tanya Reya penuh dengan kebingungan dengan tangannya yang masih di pegang Sean.


"Kita pergi dari sini Reya. Ada mama," ucap Sean yang membuat Reya terkejut.


"Apa kamu bilang Tante Anggika ada di sini?" pekik Reya dengan wajah terkejutnya.


"Iya mama ada di sini dan tadi bahkan 1 meja denganku. Kita harus pergi. Ayo!" Ajak Sean.


Reya mengangguk yang dia juga sangat khawatir jika ketahuan Anggika yang tidak akan terbayang apa yang akan terjadi nantinya.


Apa yang akan terjadi dengan mereka. Akan ada perang dunia yang kesekian yang akan mereka hadapi jika sampai ketahuan.


***********


Reya dan Sean akhirnya memasuki mobil. Setelah hampir ketahuan ke-2 memilih untuk kemobil. Sean menghela napasnya dengan perlahan kedepan.


"Akhirnya kita bisa lolos juga dari mama," ucap Sean yang merasa lega yang melihat ke arah Reya yang berada di sebelahnya.


Wajah Reya tiba-tiba begitu murung dan membuat Sean heran yang tidak biasanya Reya seperti itu.


"Ada apa Reya?" tanya Sean.


"Kita sembunyi-sembunyi seperti orang yang bersalah. Kita sadar. Jika apa yang kita lakukan itu salah. Sebuah kesalahan yang sangat besar," ucap Reya tiba-tiba.


"Apa maksud kamu Reya?" tanya Sean.


"Sean kita berdua bahkan sangat takut. Jika Tante Anggika melihat kita. Kita tau jika hubungan yang kita lakukan adalah kesalahan. Kita sangat menyadari semua. Kita tau itu salah. Tetapi kita pura-pura tidak merasa bersalah, pura-pura lupa dengan kenyataan yang ada," ucap Reya yang tiba-tiba merasa aneh dengan apa yang di jalaninya bersama Sean.


"Reya kenapa kamu bicara seperti itu. Kita tidak salah Reya kita saling mencintai dan apa yang terjadi bukan kesalahannya. Aku tidak takut bertemu dengan mama atau mama tau hubungan kita. Aku hanya mengkhawatirkan mu dan iya selama ini kamu yang menahanku untuk tidak mengatakan apa-apa kepada papa dan juga mama," ucap Sean yang bicara menaikkan volume suaranya.


"Jadi apa yang terjadi adalah kesalahanku, kamu menyalahkanku dengan apa yang terjadi," sahut Reya yang sangat mudah terpancing emosi.


"Aku tidak menyalahkanmu dan aku heran denganmu kenapa tiba-tiba jadi seperti ini," ucap Reval dengan wajahnya yang memerah.


"Reya dari awal aku sudah mengatakan hubungan kita ber-2 tidak pernah salah. Aku tidak takut apapun sangat tidak takut. Aku tidak peduli apapun Reya. Dan aku akan menikahimu. Dan aku mengatakan semua kepada papa apa yang terjadi. Tetapi aku masih menunggumu untuk siap. Aku pengecut Reya yang harus bersembunyi dari semuanya," ucap Sean dengan penuh penegasan kepada Reya.


"Tapi apa yang akan di pikirkan papa nanti. Jika tau hubungan kita Sean. Hal ini tidak mungkin Sean," sahut Reya.


"Berubah pikiran lagi," sahut Sean mendengus kasar dengan perkataan Reya.


"Kenapa mudah sekali Reya untuk berubah pikiran hah! Apa sekarang kau masih ragu lagi. Kau penuh dengan keraguan. Reya kenapa seperti ini? ada apa lagi? Kamu sedang mengandung dan itu anakku. Lalu apa lagi Rey yang harus kamu ragukan, sedikit-sedikit berubah pikiran. Aku sangat tidak mengerti dengan mu Reya," ucap Sean memegang kepalanya yang terasa berat dengan Reya yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Aku tidak ragu. Aku hanya takut Sean," sahut Reya dengan meneteskan air matanya.


"Apa yang kamu takutkan. Bukankah aku selalu mengatakan kepadamu. Jika aku mencintaimu, aku bertanggung jawab denganmu. Dengan apa yang terjadi di antara kita. Aku mencintaimu dan hanya ingin menikah denganmu. Kita sama-sama menghadapi semua ini. Jadi apa yang di ragukan. Aku di sisimu Reya apa yang di takutkan," ucap Sean menjelaskan dengan penuh Penekanan.


"Aku tidak bisa berpikir jernih. Kita jangan bertemu dulu! aku mau menenagkan diri," ucap Reya yang dengan cepat membuka pintu mobil.


"Reya!" cegah Sean. Namun Reya tidak mendengarkan Sean dan langsung keluar dari mobil tersebut.


"Reya mau kemana kamu tunggu!" Panggil Sean yang juga langsung keluar dari mobil untuk mengejar Reya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2