
Erina yang berada di dalam kamar terlihat tergesa-gesa membuka lemari dan menurunkan koper dari atas lemari dan Erina langsung buru-buru memasukkan pakaiannya kedalam koper dengan cepat-cepat dan asal-usal saja.
"Aku harus segera meninggalkan tempat ini, kota ini dan juga Indonesia. Aku harus ke Luar Negri. Aku tidak mau di penjara. Aku tidak boleh di tangkap Polisi. Aku tidak mau membusuk di penjara," ucap Erina yang terburu-buru yang ingin melarikan diri.
Erina mungkin sudah menyadari jika masalah Argantara semakin melebar dan pasti dia menjadi incaran Polisi. Erina hanya memiliki firasat yang seperti itu saja dan tidak ingin lengah dan lebih baik pergi sebelum dia menjadi buronan Polisi yang akan mencebloskan nya ke dalam penjara dan Erina tidak akan membiarkan hal itu terjadi padanya.
Setelah selesai membawa pakaiannya yang menurutnya cukup. Erina langsung keluar dari dalam kamar dengan menyeret kopernya dan Erina langsung keluar dari rumah dengan buru-buru untuk memasuki mobilnya Sanga singkat perjalanan Erina dan Erina langsung pergi meninggalkan tempat tersebut yang melarikan diri yang tidak tau kemana Erina akan melarikan diri yang pasti akan pergi dengan sejauh mungkin.
********
Di rumah sakit, Reya, Citra dan Anggika sedang menunggu di depan ruang perawatan Argantara yang pasti tidak bosan untuk mereka melihat perkembangan Argantara.
"Citra mama keluar sebentar ya," ucap Anggika.
"Mau ngapain mah?" tanya Citra.
"Mama mau beli makanan dulu," jawab Anggika.
"Biar Citra saja mah," sahut Citra.
"Tidak usah biar mama saja. Kamu mau makan apa?" tanya Anggika.
"Hmmm apa aja. Tapi Citra mau makan sub buntut," jawab Citra yang request pada sang mama.
"Baiklah sayang, mama akan belikan untuk kamu," ucap Anggika yang berdiri dari tempat duduknya dan Anggika melihat kearah Reya.
"Kamu mau makan apa Reya?" tanya Anggika yang tidak lupa menawarkan Reya. Dan Reya sedikit terkejut dengan Anggika yang menawarkan dirinya makanan sampai membuatnya bengong dan terlihat sangat linglung.
"Reya!" tegur Anggika yang masih menunggu jawaban dari Reya.
__ADS_1
"Oh nggak usah Tante, nanti Reya menunggu kak Sean aja pulang dari kantor Polisi baru makan," jawab Reya yang terbata-bata.
"Ini sudah waktunya makan siang, siapa tau Sean juga sudah makan siang. Kamu jangan menunda-nunda makan. Ingat kamu sedang hamil. Lagian kamu itu istri Sean dan separuhnya saya mengingatkan kamu masalah kesehatan kamu," ucap Anggika yang membuat Reya kaget.
Kata-kata Anggika seolah menerima dirinya sebagai menantu. Citra tersenyum mendengar mamanya yang bicara sangat baik pada Reya.
"Ayo kamu bilang mau di belikan apa?" tanya Anggika lagi yang masih menunggu jawaban Reya.
"Apa aja Tante," jawab Reya yang tidak mampu berkata banyak-banyak. Karena hatinya sekarang berdebar dan bahkan menahan tangis keharuan.
"Jangan apa aja. Ibu hamil mana bisa makan sembarangan. Jadi yang spesifik katakan ingin makan apa?" tanya Anggika lagi.
"Sama saja dengan Citra," ucap Reya.
"'Baiklah kalau begitu," sahut Anggika yang langsung pergi dan tiba-tiba saja Reya menyeka air matanya dengan cepat. Karena air matanya yang sempat jatuh.
"Jika menurut kamu kak Sean Pria yang baik. Itu karena di dari seorang ibu yang baik. Jadi mama aku sangat baik Reya," ucap Citra.
"Sama seperti kamu. Kamu juga sangat baik," sahut Reya. Membuat Citra tersenyum.
"Kamu dan kak Sean sangat beruntung Citra. Kalian memaki ibu yang sangat baik, sangat tulus dan berkorban banyak untuk kalian, bahkan beberapa kali mendapat penghiyanat. Dia tidak pernah menyerah dan semua demi kalian. Dia benar-benar sangat baik yang sudah membesarkan kalian berdua dengan penuh kasih sayang. Aku sangat iri Citra," ucap Reya.
"Kamu tidak perlu iri Reya. Aku yang seharusnya itu dengan kamu. Kamu itu wanita yang kuat dan bisa bertahan dalam masalah. Jadi aku lah yang pantas itu dan kamu sangat baik Reya ," ucap Citra yang apa adanya yang membuat Reya tersenyum dan kembali saling memeluk dengan Reya.
"Aku tidak percaya dengan Tante Anggika yang berbicara seperti itu tadi," batin Reya yang begitu terharu.
**********
Setelah Anggika selesai membeli makanan Anggika kembali ke rumah sakit yang kebetulan bersamaan dengan Reval yang juga sama-sama masuk bersama Anggika.
__ADS_1
"Di mana Sean Reval?" tanya Anggika yang tidak melihat putranya.
"Sean! Sean masih di kantor Polisi Tante," jawab Reval.
"Oh begitu rupanya. Bagaimana prosesnya?" tanya Anggika.
"Polisi masih menyelidiki lebih lanjut. Namun untuk Tante Erina di pastikan pihak polisi sudah mulai mengeluarkan surat panggilan," jawan Reval.
"Syukurlah kalau begitu, semoga dia terbukti bersalah," ucap Anggika. "ya sudah kalau begitu saya masuk duluan, Citra dan Reya sudah menunggu," ucap Anggika yang melangkah masuk.
"Tante maafkan saya," ucap Reval yang membuat langkah Anggika berhenti dan melihat kearah Reval.
"Minta maaf soal apa?" tanya Anggika.
"Semuanya. Saya minta maaf untuk semua kesalahpahaman atas apa yang terjadi, menuduh Tante punya hubungan dengan papa. Saya benar-benar minta maaf untuk hal itu sehingga mempunyai dendam yang sangat besar kepada Tante dan mengorbankan Citra untuk semua kesalahan yang seharusnya bukan dia membayarnya," ucap Reval yang baru bisa bicara dengan Anggika dengan permintaan maafnya yang pasti sangat tulus.
"Reval waktu itu kamu masih terlalu kecil. Jadi sangat wajar pikiran kamu seperti itu dan belum lagi mama kamu membiarkan hal itu terjadi dan semuanya bukan kesalahan kamu," ucap Anggika yang sepertinya sudah tidak ingin mengingat-ingat masalah itu dan Anggika ingin meluaskan harinya dengan melupakan apa yang terjadi.
"Saya juga minta maaf, karena menuduh Tante yang menyerang saya malam itu. Padahal bukan Tante pelakunya dan saya benar-benar menyesal yang telah menuduh Tante," ucap Reval lagi.
Anggika hanya tersenyum tipis mendengarnya. Jika kita membenci seseorang hal-hal seperti itu sangat wajar. Kita suka berpikiran buruk. Saya memang datang kerumah kamu waktu itu dan waktu itu juga kaget dengan apa yang terjadi pada kamu. Tetapi saya tidak punya waktu untuk bicara banyak pada kamu dan waktu itu saya memang hanya ingin Citra hati-hati pada kamu. Tetapi bukan berarti saya menyuruh orang-orang untuk menghajar kamu," ucap Anggika.
"Maafkan saya Tante, sudah menuduh Tante," ucap Reval.
"Tidak apa-apa. Ya sudah kalau begitu saya masuk dulu," ucap Anggika yang langsung pergi dengan tersenyum tipis pada Reval.
"Tidak seharunya aku menuduhnya yang tidak-tidak," batin Reval yang menyesal.
Bersambung.
__ADS_1