
" Kak Sean tunggu!" panggil Citra saat Sean ingin memasuki mobilnya.
" Ada pa Citra?" tanya Sean.
" Kakak mau kemana?" tanya Citra.
" Pekerjaan kakak banyak. Jadi kamu jangan tanya kakak kemana," jawab Sean tampak lelah.
" Lalu bagaimana dengan dia. Bukannya kakak seharusnya memberinya pelajaran, hukuman atau apa gitu. Tetapi kenapa kakak malah diam? Lihat dong kak apa yang di lakukannya dia sudah membuat semua berantakan. Kakak akan di marahi papa setelah ini," ucap Citra yang memanas-manasi Sean yang sengaja semakin memperkeruh suasana.
" Citra kakak tau apa yang harus kakak lakukan. Jadi kamu jangan khawatir. Kakak juga harus pergi sekarang, masih banyak pekerjaan yang harus kakak kerjakan," ucap Sean yang dengan berbicara lembut dan akhirnya memasuki mobilnya.
Citra pun tidak menahan kakaknya lagi dan membiarkan kalanya itu pergi. Citra mendengus dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.
" Akhirnya masalahnya benar-benar selesai. Tidak sia-sia dengan semua yang aku lakukan. Aku tidak sabar hukuman apa yang akan di berikan kak Sean kepadanya nanti. Mampus kamu Reya," batin Citra yang merasa puas dengan pekerjaannya sendiri.
*********.
" Apa kamu bilang?" pekik Reya pada seorang Pria di depannya. Seorang bodyguard yang baru saja menyampaikan laporan padanya.
" Benar nona Reya. Tuan Sean menyuruh Anda untuk memindahkan semua peralatan yang baru datang dari luar negri dan memindahkan semua ke dalam gudang," jelas pria itu yang menyampaikan apa yang di katakan Sean.
" Tetapi itu tidak mungkin. Kamu lihat sendiri kerdus- kerdus itu berat dan mana mungkin saya mengerjakannya," sahut Reya yang pasti membantah. Karena sangat tidak masuk akal. Dengan apa yang di perintahkan Sean padanya.
" Maaf Nona. Saya hanya menyampaikan apa yang di sampaikan. Dan jika ingin komplen. Maka komplen lah pada tuan Sean," ucap bodyguard itu dengan menundukkan kepalanya dan lalu pergi begitu saja.
" Hah! apa yang di lakukannya. Dia sengaja ingin menjadikanku kerja rodi. Apa dia tidak berpikiran hal itu. Tidak mungkin aku lakukan!" ucap Reya dengan memegang kepalanya yang semakin berat.
__ADS_1
" Aku tidak akan menerima semua ini. Aku haru menyakannya. Apa pantas semua ini aku lakukan," ucap Reya yang pasti protes dan langsung pergi dari tempatnya yang mungkin di pastikan akan menemui Sean.
********
" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sean dengan menekan suaranya saat Reya memasuki ruangannya.
" Seharunya aku yang mengatakan. Apa yang kau lakukan padaku. Kenapa kau menyuruhku untuk mengerjakan sesuatu yang tidak pantas aku kerjakan. Semua itu tidak masuk akal," ucap Reya yang menyampaikan penolakannya.
" Lalu apa yang masuk akal untukmu. Kau ingin bekerja sebagai Direktur instan," sindir Sean.
" Aku tidak meminta sebagai Direktur. Tetapi pekerjaan yang kau berikan kepadaku sangat tidak masuk akal dan tidak mungkin di kerjakan," protes Reya.
" Apa kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan. Kau sudah melakukan kesalahan besar dan sekarang kau terima akibat dari apa yang yang kau lakukan. Kau pindahkan semua barang-barang itu dari dalam mobil ke dalam gudang dan pastikan semuanya selesai hari ini juga! karena jika pekerjaan mudah di berikan mepadamu. Kau akan menganggap remeh," tegas Sean yang tidak akan menerima protes dari Kayra.
" Tapi itu tidak mungkin aku lakukan," protes Reya.
" Kau yang punya kuasa di sini. Jadi laksanakan apa yang aku suruh!" tegas Sean.
" Papah," lirih Reya.
" Kau menyuruh Reya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak pantas di lakukannya," sahut Argantara yang mendekati Sean. Pasti Argantara mendengar semua perkataan Sean dan tidak setuju dengan apa yang di lakukan Sean.
" Bukannya dia asisten ku dan apa yang aku perintahkan kepadanya. Itu adalah hakku dan siapapun. Papa atau yang lainnya tidak berhak untuk protes," sahut Sean dengan santai.
" Tapi hal itu tidak masuk akal Sean. Reya itu wanita dan pekerjaan itu sangat berat dan mana ada asisten yang mengerjakan hal itu," protes Argantara. Reya mulai panik dengan Sean dan Argantara yang di pastikan akan ribut karena masalah itu.
" Aku tidak akan mengubah keputusanku. Jadi percuma papa protes tidak ada gunanya," sahut Sean dengan santai.
__ADS_1
" Sean. Kamu jangan melakukan hal gila ini. Reya itu juga anakku," tegas Argantara yang mulai emosi. Kata-kata yang di keluarkan papanya hanya membuat Sean mendengus kasar.
" Kalau begitu katakan pada semua orang di Perusahaan ini. Jika dia anak dari wanita yang papa nikahi diam-diam. Atau seperti kata Citra. Anak dari wanita selingkuhan papa. Biar semua orang tau siapa sebenarnya papa dan papa tidak perlu repot-repot melihatnya sebagai asistenku. Papa juga bisa menjadikannya Direktur seperti yang papa inginkan," ucap Sean dengan sinis yang menantang Argantara.
Argantara diam yang Sean tau jika Argantara memang tidak akan melakukan hal itu. Citra baik Perusahaan akan hilang jika masa lalu di publis.
" Kau sekarang sadarkan. Dirimu seperti apa. Mau sebaik apapun dirimu. Mau se suci apapun. Mau kau dan ibu mu bertobat dan penuh penyesalan menyakiti keluargaku. Tetapi tetap pada kenyataannya. Kau tidak akan pernah di akui di manapun dan lihatlah pria yang di sampingmu. Bahkan pasti malu mengakui siapa dirimu!" ucap Sean sinis yang bicara begitu menyakitkan pada Reya.
Sean jarang bicara. Tetapi sekali bicara pasti kata-kata itu menambah luka Citra.
" Jadi terimalah kenyataan. Dirimu seperti apa. Karena segala sesuatu yang di rampas tidak akan mendapatkan apa-apa!" tegas Sean .
" Sean cukup!" ucap Argantara dengan suara rendahnya.
" Jangan membuang waktu untuk berada di sini. Selesaikan pekerjaanmu. Itu adalah pelajaran untukmu agar kau bisa lebih bejus dalam bekerja," tegas Sean
" Sean!" Argantara masih berusaha untuk mengubah keputusan Sean.
" Pah sudahlah. Tidak apa-apa Reya akan mengerjakannya," sahut Reya yang mengalah dan langsung pergi. Sebelum Sean bicara panjang lebar yang menyakiti hatinya lagi.
" Keterlaluan kamu Sean," ucap Argantara.
" Papa menyuruhku untuk membimbingnya dan tadi dia melakukan kesalahan besar. Aku hanya berusaha untuk membuatnya jauh lebih baik. Bukannya papa ingin dia memiliki Perusahaan ini kan," ucap Sean dengan sindiran.
" Kamu itu selalu salah paham sama papa," sahut Argantara.
" Sudahlah pah. Jangan mengajakku bicara lagi. Aku banyak pekerjaan," sahut Sean malas berdebat dengan sang papa dan menduduki bangku kerjanya. Argantara hanya menghela kasar napasnya dan keluar dari ruangan itu. Tanpa bisa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
" Kau yang meminta pekerjaan ini. Jadi bertanggung jawablah dalam setiap apa yang kau ucapkan," batin Sean.
Bersambung