
" Sepertinya dia anak baik," ucap Anggika
" Mama benar, dia juga dari keluarga yang baik. Ya kalau Citra nyaman. Maka kita serahkan semua kepadanya, karena Citra yang tau dengan perasaannya," sahut Argantara yang sepertinya memberi lampu hijau untuk Citra dan Barra dan mungkin tidak untuk Sean yang pasti pilih-pilih untuk adiknya.
Mungkin Barra berhasil mengambil hati ke-2 orang tua Citra makanya Anggika dan Argantara sama-sama begitu setuju.
" Ya sudah ayo naik!" ajak Anggika. Argantara mengangguk.
" Oh iya mas. Apa Sean dan Reya akan pulang bersama?" tanya Anggika yang tiba-tiba kepikiran.
" Mungkin itu akan terjadi. Jika hubungan mereka baik dan aku juga menginginkan hal itu, kedekatan antara adik dan kakak. Karena bagaimanapun Reya adik Sean sama dengan Citra," jawab Argantara.
" Tetapi aku tidak mengginginkan hal itu terjadi. Mereka adik kakak yang berbeda," sahut Anggika yang langsung pergi.
" Apa yang kau khawatirkan Anggika. Mereka tidak mungkin menjalin hubungan apa-apa," gumam Argantara geleng-geleng dan menyusul istrinya itu.
*********
Reya mau tidak mau harus mengerjakan kembali pekerjaan itu. Karena Sean memang begitu marah kepadanya. Ya Reya hanya menerima nasib saja dengan apa yang di dapatkannya.
Sama dengan Sean yang di ruangannya juga kembali bekerja. Namun pikirannya kurang fokus yang mana dia mengingat perkataan Reya sebelumnya. Hal itu mampu membuat pikiran Sean tidak tenang dan rasanya ingin meluapkan perasaan itu.
Perkataan yang paling di bencinya adalah. Jika Reya mengatakan dia adiknya dan Reya juga sangat membenci kalau Reya memanggilnya dengan panggilan kakak. Karena dia tidak akan pernah menerima kenyataan itu. Mungkin berbeda jika sebelumnya jika dan Reya tidak pernah bertemu.
*********
Malam semakin larut dan sudah pukul 11 malam. Akhirnya mobil Barra berhenti di depan rumah Citra. Dia tadi sudah menjemput Citra dan sekarang harus mengantarkan Citra pulang tepat waktu. Untuk menjaga amanah orang tua Citra.
" Makasih ya sudah mengantarkan ku," ucap Citra yang membuka saefty beltnya.
" Sama- sama, aku yang makasih untuk malam ini. Kamu sudah hadir di hari ulang tahunku dan makasih kamu sudah menerima ku menjadi pacarmu," ucap Barra dengan hatinya yang berbunga-bunga.
__ADS_1
" Makasih ya Citra," ucap Barra lagi dengan meraih tangan Citra dan mengusap-usapnya. Citra tersenyum mengangguk mendengar kata-kata Barra.
" Ya sudah aku balik dulu," ucap Citra lagi.
" Besok pagi aku menjemputmu ya," ucap Barra. Citra mengangguk. Namanya juga sudah pacaran. Jadi pasti tidak masalah Barra akan menjemputnya.
" Aku masuk ya," ucap Citra lagi membuka pintu mobil. Namun Barra menghentikannya membuat Citra heran dan kembali menoleh kearah Barra. Barra membuka safety beltnya. Lalu mendekati Citra, memegang kedua pipi Citra dengan mencium lembut kening Citra..
" Selamat malam," ucap Barra. Citra mengangguk malu menatap Barra. Hanya sebentar mata itu saling menatap Citra pun membuka pintu mobil dan keluar dari dalam mobil.
" Hati-hati di jalan," ucap Citra pada Barra sebum menutup mobil. Barra mengangguk.
Citra masih menunggu pacar barunya itu untuk pulang, Citra tersenyum dengan melambaikan tangannya pada mobil Barra yang terlihat mundur kebelakang.
Brukkk.
Tiba-tiba terdengar suara tabrakan membuat Barra kaget dan begitu juga Citra yang masih menunggu Barra. Dengan buru-buru Barra membuka pintu mobilnya dan langsung melihat kebelakang apa yang terjadi yang ternyata Reya yang hampir tergiking mobil Barra.
" Astaga!" pekik Barra yang terlihat panik dan langsung menghampiri Reya yang terlihat kesakitan yang terduduk dengan memegang sikunya yang berdarah.
" Itu bukan salahmu," sahut Citra mencegah Barra menolong Reya. Reya menahan sakit melihat ke arah Citra yang berdiri di sampingnya.
" Citra. Tetapi aku yang menabraknya, dia terluka," sahut Barra yang merasa bersalah.
" Sudahlah biarkan saja. Dia mati juga jauh lebih baik. Lagi pula dia yang salah jalan tidak tau arah," sahut Citra yang menunjukkan betapa bencinya dia Reya.
" Citra apa yang kamu katakan," sahut Barra heran melihat Citra.
Reya seolah tidak peduli dengan Citra. Dia berusaha untuk berdiri sendiri. Namun malah ingin jatuh dan Barra dengan cepat menahan tubuh Reya dengan memegang tangan Reya dan hal itu membuat Citra kesal dan langsung menarik Barra dari Reya.
" Aku bilang biarkan saja. Kau tidak perlu membantunya," sahut Citra dengan emosi yang Volume suaranya sudah meninggi.
__ADS_1
" Tetapi dia terluka," sahut Barra menegaskan.
" Aku tidak peduli biarkan aku bilang. Hey kau sengaja hah! melakukan semua ini iya!" ucap Citra yang sekarang marah pada Reya.
" Aku mana mungkin sengaja," sahut Reya dengan suara menahan sakit.
" Alah sudahlah. Kau pikir aku tidak tau. Wanita sepertimu adalah wanita yang suka bersandiwara dan agar di kasihani," ucap Citra penuh emosi.
" Apa yang kau katakan Citra?" tanya Barra benar-benar heran.
" Aku mengatakan apa adanya," tegas Citra.
" Sudahlah, aku minta maaf mari aku bantu," Barra memegang tangan Reya yang berminat membantunya namun Citra tetap berusaha menjauhkannya dan terlihat saling tarik di antara mereka.
Tiba-tiba di tengah keributan itu, sinar cahaya lampu mobil menerangi ke-3 orang itu yang membuat mata ke-3ny
Yang membuat mata ke-3nya menjadi silau. Suara klakson mobil juga terdengar berisik yang membuat mereka ber-3 menutup telinga mereka dan cahaya lampu itu redup dan sang pemilik mobil akhirnya keluar dari dalam dan siapa lagi jika bukan Sean.
Dengan gagah perkasa. Wajah yang mengeluarkan aura dingin, langkah yang lebar dan sorot mata yang tajam fokus pada Reya. Seperti monster yang kelaparan dan seolah yang membuat kelaparan itu adalah Reya. Karena tatapan mata Sean tertuju pada Reya.
" Ada apa ini?" tanya Sean dengan suara beratnya.
" Kak Sean!" Citra langsung menghampiri kakaknya dan merangkul lengan Sean. Seakan menjadi korban di sana.
" Ada apa Citra?" tanya Sean.
" Dia, berusaha untuk membuat kekacauan, sengaja mencari perhatian Barra dan membuat aku di salahkan Barra dan semua itu gara-gara wanita yang penuh Sandiwara itu," jawab Citra yang bisa-bisanya berbicara berlebihan. Sampai-sampai Barra yang ada di sana pun heran dengan kata-kata Citra.
" Citra apa yang kamu bicarakan. Kamu itu salah paham Citra," sahut Barra heran.
" Jadi setelah mengacau di Perusahan, berani menentang ku dan sekarang kau membuat keributan di sini," tuduh Sean melihat Reya dengan tajam.
__ADS_1
Reya mendengus kasar yang pasti apapun yang nanti di katakannya. Dia akan tetap di salahkan.
Bersambung