Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 170


__ADS_3

Sean dan Reya berada di dalam mobil yang mana Sean yang telah menyetir.


"Ada apa sebenarnya Sean?" tanya Reya.


"Apa maksud kamu ada apa?" tanya Sean.


"Pembicara papa dan kakek tadi. Kenapa kakek mengatakan hal itu dan papa kenapa diam tanpa berkutik. Aku dari awal sudah merasa ada sesuatu. Karena sangat ganjil jika kakek merestuinya pernikahan kita. Tidak menganggap salah dan tadi juga itu di katakan kakek pada papa. Dan papa malah diam dan seolah hubungan kita tidak terlarang sama sekali," ucap Reya dengan penuh tanya dan kebimbangan hati.


"Reya memang tidak ada yang di larang dalam hubungan kita dan apa yang di katakan kakek sudah paling benar. Jadi kamu jangan berpikiran apa-apa yang penting sekarang papa dan mama sudah tau pernikahan kita dan kakek ada di pihak kita dan tidak ada yang salah pernikahan kita. Kamu istriku dan aku suamimu dan anak kita bersama kita, itu yang paling terpenting," ucap Sean yang sepertinya tidak mau ambil pusing dengan teori tadi yang padahal jelas tadi itu sangat membingungkan.


Reya aja sampai kepikiran dengan hal itu dan Sean malah masa bodo yang tidak ingin memikirkan apa-apa.


"Ada apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa seakan ada misteri dan Tante Anggika juga tadi terlihat shock dan bingung yang menjelaskan jika dia juga tidak mengerti," batin Reya yang apapun yang di katakan Sean tetap membuat Reya penasaran dan merasa ada yang tidak beres.


"Kita kembali ke hotel ya," ucap Sean. Reya mengangguk kepalanya dengan wajahnya yang tampak masih penuh pikiran. Namun hanya sengaja di tutupi dan pura-pura dia tidak memikirkan apa-apa.


***********


Sementara Argantara berada di dalam ruangan kerjanya yang duduk di sofa dengan kepala menunduk dan ke-2 tangannya memegang kepalanya yang terasa berat dengan meremas rambutnya.


"Argggghhh!" umpat Argantara yang terlihat begitu frustasi.


"Kenapa semuanya seperti ini. Kenapa papa mengatakan itu. Sean tetap putraku dan apapun yang terjadi dia putraku," ucap Argantara yang terlihat panik. Namun perkataannya mengisyaratkan sesuatu.


Flashback.


Rumah sakit.


Argantara berada di depan ruang persalinan yang menunggu Anggika yang sedang bersalin. Argantara tidak sendiri dan ada papanya yang berusaha untuk menenangkannya.

__ADS_1


Tidak lama Dokter keluar dari ruangan tersebut dan Argantara langsung menghampirinya.


"Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya. Apa anak saya sudah lahir, tetapi kenapa saya tidak mendengar suaranya," ucap Argantara dengan wajah paniknya.


"Istri anda baik-baik saja. Tapi kami mohon maaf untuk bayinya kami tidak bisa menyelamatkannya," jawab Dokter yang membuat Argantara terkejut begitu juga dengan papanya.


"Apa kata Dokter?" tanya Sean yang benar-benar tidak percaya dan berharap salah dengar.


"Maaf tuan bayinya tidak tertolong," jelas Dokter menepuk bahu Argantara untuk menguatkan Argantara dan Dokter langsung pergi setelah itu.


"Tidak itu tidak mungkin," sahut Argantara yang bisa stres dengan hal itu. Papanya langsung mendekatinya dan memeluknya.


"Pah, anak ku tidak mungkin tiada pah, itu tidak mungkin pah. Bagaimana Anggika pah, dia pasti stress dengan semua ini. Itu anak pertama kami pah. Kami sudah menunggunya selama 3 tahun dan sekarang dia telah tiada. Itu tidak mungkin pah. Anggika tidak akan terima semua itu," ucap Argantara yang menangis di pelukan papanya.


Dia juga terluka dengan kematian bayinya yang tidak terselamatkan. Namun masih memikirkan perasaan istrinya yang pasti jauh lebih hancur dan Argantara tau bagaimana mengatakannya takut istrinya akan drop.


Di saat yang sama ternyata ada juga wanita yang melahirkan. Jika Anggika melahirkan sang anak tiada. Namun berbeda dengan kali ini yang mana wanita itu tiada dan bayi laki-laki yang tampan itu selamat.


Atas persetujuan Dokter dan Argantara mengurus surat-surat adopsi itu. Akhirnya bayi tampan itu di jadikan anak Argantara dan Anggika sebagai ganti anak mereka yang telah tiada.


Bayi tampan itu adalah Sean. Sean Argantara yang telah menjadi anak Argantara dan Anggika tanpa sepengetahuan Anggika. Pantesan kakek merestui pernikahan mereka yang ternyata Sean bukan anak kandung Argantara dan Anggika.


Flash on.


"Arghhh," umpat Argantara yang memejamkan matanya yang mengingat kembali apa yang terjadi 27 tahun lalu.


"Apa yang aku katakan pada Anggika dan bagaimana aku akan menghadapinya," batin Argantara yang bertambah frustasi dengan masalah yang bertambah.


Argantara pun berdiri dari duduknya dan langsung keluar dari ruangan itu dan sungguh mengagetkan bagi Argantara di mana Anggika berdiri di depan ruangan itu yang menatapnya dengan rasa ingin tau yang besar.

__ADS_1


Argantara rasanya ingin menghindar yang langsung pergi dari hadapan istrinya namun Anggika langsung menahannya.


"Kamu jangan pergi begitu saja sebelum mengatakan apa-apa kepadaku. Ada apa sebenarnya mas?" tanya Anggika dengan wajahnya yang penasaran.


"Aku harus kekantor Anggika!" ucap Argantara yang melepas tangan istrinya dari tangannya.


"Mas tunggu!" Anggika langsung mencegahnya, "jangan pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Apa yang di katakan papa. Kenapa papa mengatakan hal itu. Kenapa dia mengatakan cinta Sean dan Reya tidak salah dan tidak terlarang sama sekali," ucap Anggika yang benar-benar ingin tau.


"Jawab mas. Kamu jangan hanya diam saja. Katakan apa yang terjadi!" ucap Anggika yang mendesak suaminya, "apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan yang aku sama sekali tidak atau. Apa mas yang kamu sembunyikan!" Anggika terus mendesak sang suami untuk jujur kepadanya.


"Mas kamu jangan diam saja. Katakan!" desak Anggika.


"Tidak ada yang harus aku katakan Anggika," ucap Argantara.


"Lalu kenapa papa bicara seperti itu?" tanya Anggika.


"Papa mengatakan hal itu. Karena sudah merestui hubungan Reya dan Sean dan apapun itu papa akan berpihak pada mereka. Jadi biarkan saja pernikahan itu. Karena kita tidak bisa melarang atau bertindak lagi," ucap Argantara membuat Anggika mengkerutkan dahinya.


"Apa kamu juga merestui pernikahan mereka?" tanya Anggika.


"Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku pergi dulu," ucap Argantara yang akhirnya pergi dari hadapan Anggika yang jawabannya tidak ada di jawab sama sekali.


"Mas!" panggil Anggika.


"Apa ini sebenarnya!" umpat Anggika yang kesal sendiri.


Ternyata Citra juga mendengarkan papanya dan mamanya berbicara. Citra juga sangat ingin tau makanya Citra berusaha mendengarkan dan ingin mengetahui. Namun tidak ada yang di dapatkannya karena papanya tidak mengatakan apa-apa yang membuatnya penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku yakin ada sesuatu. Tetapi kenapa aku tidak mendapatkan apa-apa," batin Citra yang penasaran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2